Pilgrims on Christ’s Mission

Menemukan Tuhan dalam Segala

Date

Pater Bayu Risanto dan Kerasulan Ilmiah Jesuit

Awal tahun 2026 ini, media sosial ramai dengan berita mengenai Pater Bayu Risanto, seorang imam Jesuit asal Indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama asteroid. Warganet merayakan pencapaian ini dan komentar yang beragam pun muncul. Banyak orang Katolik yang merasa bangga, bukan hanya karena ada pemuka agamanya yang berprestasi di bidang sains, tetapi juga karena merasa bahwa agama Katolik itu sendiri adalah agama yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan tidak mempertentangkannya dengan iman. Namun, ada juga yang bertanya kok seorang imam bisa jadi ilmuwan ya? Perutusannya apa?

 

P. Christoforus Bayu Risanto, S.J. Ahli Meteorologi di Observatorium Vatikan dan Rekan Peneliti di Universitas Arizona yang namanya resmi menjadi nama salah satu asteroid. Dokumentasi: ikadriyarkara.org

 

Atas dua poin terakhir itu, iman dan sains serta perutusan, saya akan membahas sedikit dari perspektif sejarah ilmu pengetahuan dan bagaimana Gereja Katolik—terutama para Jesuit—terlibat di dalamnya.

 

Society of Jesus, atau Serikat Jesus, adalah sebuah ordo yang sejak awal memang didirikan untuk excel in all things, mungkin singkatnya bisa dibilang begitu. Ignatius Loyola, yang mendirikan ordo ini pada tahun 1540, memiliki visi bahwa para pengikutnya akan menjadi less monastic dan bahwa they will set no limits on the place or circumstances of their ministries, so long as these are ordered to the greater glory of God (O’Malley 2013, 147). Ignasius sangat konsisten dalam idenya dan ini nampak dari tulisannya, misalnya dalam Constitutions (dicetak pada 1558) dan Spiritual Exercises (1548), semua mengandung pesan bahwa para Jesuit harus mampu finding God in all things, atau menemukan Tuhan dalam segala.

 

Bagi para lulusan sekolah Jesuit seperti saya, jargon-jargon ini sangat akrab di telinga. Kata-kata itu sudah menjadi bagian dari identitas anak Kolese sebagai didikan para Jesuit. Menariknya, dalam dunia history of science, Jesuit sendiri sudah menjadi semacam tradisi dalam produksi pengetahuan, atau bahkan semacam genre. Ia sudah tidak lagi dianggap sebagai ordo religius saja. Tidak jarang, misalnya, dalam diskusi terlontar “that’s very Jesuit” atau “that’s Jesuit science.

 

Sepertinya mustahil untuk membahas sejarah pengetahuan Barat tanpa membahas Jesuit. Di perpustakaan Max Planck Institute for the History of Science sendiri, di mana saya sekarang sedang menempuh studi doktoral, misalnya, dari seluruh judul buku bertema religion and science, mungkin 50% berkaitan dengan ordo ini. Membicarakan mengenai sejarah ilmu astronomi dan kalkulasi di Cina, kita tidak bisa lepas dari Matteo Ricci (1552–1610), seorang Jesuit yang pada abad ke-16 duduk di kalangan terpelajar Dinasti Ming; membahas sejarah museum, pasti tersebutlah nama Athanasius Kircher (1602–1680) dengan Wunderkammer-nya. Walaupun sekarang, tentu saja, we have to see it with a more critical lens.

 

The Jesuits were everywhere, dan ini juga menyebabkan mereka tidak disukai oleh komunitas sains atau the Republic of Letters. Timbul perasaan di kalangan mereka apa yang sekarang kita kenal dengan mixed feelings, antara kagum tapi juga antipati, cemburu dan benci. Misalnya, pada tahun 1769, Maximilian Hell (1720–1792) — seorang Jesuit pendahulu Bayu Risanto dalam dunia astronomi — yang saat itu adalah direktur Vienna Observatory, dianggap tidak mumpuni dalam melaporkan perlintasan Venus karena ia tidak segera menerbitkan karya ilmiah mengenai kejadian tersebut. Lawan-lawannya menuduhnya tidak kompeten dan hanya mau mencontoh karya lain yang akan terbit lebih dulu (Feingold 2003, 2). Namun tetap saja, selama 200 tahun sejak dibentuk, murid Ignatius tetap berkarya, menerbitkan lebih dari 5.000 judul karya tulis touching on every branch of sciences, mulai dari bidang astronomi, filosofi, matematika, hingga ilmu yang sekarang kita sebut sebagai cultural anthropology.

 

Semua ini terjadi karena Ignatius menginginkan murid dan pengikutnya untuk be out there in the world. Para penasihatnya kemudian menyarankan bahwa untuk memahami apa yang menjadi aspirasi dan kebutuhan orang banyak dan Serikat (the society and the Society), mereka harus fokus pada dua hal: yang pertama adalah pendidikan dan yang kedua adalah overseas mission. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa mau bagaimanapun juga, tujuan akhirnya adalah confession-building alias membuat orang mengimani Katolik. Apalagi ketika itu sedang ramai counter-reformation juga. Ini yang disebut oleh Steven J. Harris sebagai an up-scale strategy of proselytizing, yang artinya mengkatolikkan orang dengan cara yang berkelas. Harris menulis dalam Confession-building, Long-distance Networks, and the Organization of Jesuit Science (1996) analisisnya mengenai bagaimana Jesuit menggunakan sains untuk mendukung misi religius mereka. Pembahasan di bawah ini sebagian besar diambil dari tulisan tersebut.

Para siswa dari Nativity Preparatory School of Boston, Massachusetts menyimak penjelasan. Dokumentasi: Jesuit.​Media ​|​ ​General ​Curia ​Communications ​Office

 

Kembali lagi pada dua fokus itu, pendidikan dan overseas mission. Dua hal ini sangat berkaitan dan mewujud dalam apa yang disebut long-distance networks (konsep yang ditawarkan oleh social scientists Bruno Latour dan John Law) yang pada akhirnya menjadi kunci keberhasilan Jesuit. Pertama, fokus pada pendidikan ini menciptakan apa yang disebut sebagai learned ministries, yang mungkin terjemahannya adalah kerasulan/perutusan berorientasi ilmiah. Learned ministries ini punya tiga target pasar utama: studiosi, virtuosi, dan cognoscenti. Studiosi adalah orang-orang muda baik awam maupun rohaniwan yang masuk sekolah yang didirikan Jesuit (termasuk seminari dan universitas). Virtuosi adalah para patron dari kalangan bangsawan yang suka mengoleksi benda-benda antik dan langka serta punya rasa penasaran terhadap ilmu baru, dan cognoscenti adalah sebuah istilah untuk kalangan terpelajar, golongan Republic of Letters itu tadi, para penulis dan pembaca yang memiliki keahlian dan ilmu tertentu. Mungkin kalau sekarang disebut kalangan akademik. Jesuit melihat mereka ini sebagai klien, dan Jesuit juga punya publikasi yang ditujukan untuk masing-masing dari kelompok itu.

 

Pengikut Ignatius paham betul bahwa virtuosi dan cognoscenti ini haus akan pengetahuan baru and the Jesuits provide just that. Ignasius menyebutnya sebagai curiosity that is not evil dan bahwa pengikutnya harus berupaya bagaimana caranya memperkuat persahabatan antara Jesuit dengan orang-orang yang dianggap sebagai persons of great quality. Oleh karena itu, para misionaris yang ditempatkan di India dan Amerika Selatan, misalnya, diminta untuk mengirimkan segala macam informasi mulai dari catatan perjalanan, reportase mengenai kondisi alam, budaya, dan juga mengenai fenomena lain yang mereka temukan. Dalam suratnya kepada Gaspar Berze, Superior Jesuit di Goa, 24 Februari 1554, Ignatius menulis,

 

…They want to know, for instance, how long the days of summer and of winter are; when summer begins; whether the shadows move towards the left or towards the right. Finally, if there are things that may seem extraordinary, let them be noted, for instance, details about animals and plants that are either not known at all, or not of such a size…

 

Semua informasi ini kemudian diolah di center of calculation yang saat itu adalah Eropa, terutama di Roma. Ini semua terjadi dalam sebuah siklus, yaitu informasi dikirim dari tanah misi, diolah, menciptakan tulisan baru, kemudian mengirim misionaris lagi, informasi baru datang, diolah lagi, dan seterusnya. Dan ini juga yang menciptakan sistem yang kemudian tidak hanya membuat Jesuit menjadi organisasi yang sangat efisien, tetapi juga mengakumulasi ilmu pengetahuan yang sangat banyak. Para Jesuit scholars kemudian mem-persembahkan karya mereka untuk para patron, yang kemudian tentu saja diharapkan dibalas dengan komitmen mereka untuk keep funding the mission.

 

Kembali lagi ke konsep long-distance networks. Menurut Latour dan Law, long-distance networks ini akan berhasil kalau ada tiga hal: devices atau peralatan, drilled-people atau manusia yang berdedikasi (ideologinya semacam sudah tertanam, untuk Jesuit ini berarti iman), dan juga document atau catatan. Dan di sinilah kunci keberhasilan Serikat Jesus. Mereka memiliki orang yang berdedikasi karena imannya sehingga menghasilkan catatan ilmiah yang dari sana kemudian bisa dipersembahkan kepada para patron dan menyukseskan misi (penyebaran agama) mereka.

 

Kumpulan asteroid yang diberi nama tokoh-tokoh Jesuit. Dokumentasi: Vatican Observatory

 

Perlu diingat bahwa pada zaman itu, abad ke-16–17, imperialisme dan kolonialisme dalam pengertian modern itu sedang mulai terbentuk. European enterprises sedang merintis aparatus birokrasi, logistik, dan pengetahuan yang mapan untuk mengelola wilayah lintas samudra secara sistematis. Dalam konteks inilah misi Jesuit bisa dibilang termasuk aktor awal yang mampu mengoperasikan hubungan jarak jauh dengan efektif (padahal mereka bukan negara atau kerajaan). Pada akhir tulisannya, Harris mengatakan bahwa nature (karena dalam konteks natural science) itu seperti direkrut oleh Jesuit untuk mensukseskan misi. Sehingga pertanyaannya bukan lagi pada paradoks agama dan sains, tapi pada bagaimana sains itu bisa menjadi bagian dari strategi Serikat Jesus. Pada akhirnya jawabannya mengenai perutusan menjadi jelas: sains atau dunia ilmiah memang sejak awal merupakan salah satu jalan kerasulan mereka.

 

Selamat buat Pater Bayu!

 

Ad Maiorem Dei Gloriam!

 

Sumber:

Feingold, Mordechai, ed. Jesuit science and the republic of letters. MIT Press, 2003.

Harris, Steven J. “Confession-building, long-distance networks, and the organization of Jesuit science.” Early Science and Medicine 1.3 (1996): 287–318.

O’Malley, John W. Saints or devils incarnate?: Studies in Jesuit history. Vol. 1. Brill, 2013.

 

 

Kontributor: Dwirahmi Suryandari – Kandidat doktor, Max Planck Institute for the History of Science, Berlin

More
articles