Pilgrims on Christ’s Mission

Menata Harapan di Tengah Krisis Ekologi

Date

Dari Dili untuk Bumi:

“Kami memang negara kecil di Asia Pasifik, namun hanya menyumbang sedikit emisi karbon. Meskipun demikian, kami merasakan dampak yang besar atas ketidakstabilan iklim yang akhir-akhir ini terjadi,” ungkap Bapak Ego Lemos, seorang penggerak permaculture di Timor-Leste. Ungkapan tersebut dapat dijadikan gambaran umum yang terjadi di banyak tempat. Interconnectedness tidak hanya terjadi pada karya-karya sosial JCAP, tetapi juga pada penyebab dan kerusakan ekologi yang terjadi di negara-negara Asia Pasifik. Kerusakan ekologi di suatu negara tertentu tidak hanya berdampak pada negara itu saja, tetapi juga berdampak pada negara-negara lain di sekitarnya.

 

Lantas apa yang dapat dilakukan oleh para delegasi sosial JCAP untuk menanggapi persoalan sosial ekologi ini? Pertanyaan inilah yang dijadikan salah satu topik pokok yang dibahas oleh para delegasi karya sosial JCAP dalam pertemuan internasional di Dili, Timor-Leste pada 6-9 Maret 2026. Sebagai sebuah tanggapan terhadap persoalan ekologi, core group kerasulan sosial JCAP mengajukan tiga pertanyaan pokok tentang apa yang bisa dilakukan pada level grounded, interconnected, dan integrated.

 

Foto para delegasi kerasulan sosial yang mewakili provinsi dan regio di JCAP. Foto: Penulis

 

Grounded Level

Karya sosial memiliki relasi yang sangat dekat dengan karya di bidang ekologi: sama-sama memperjuangkan “orang kecil.” Laudato si’ dengan rangkuman cita-citanya menekankan pentingnya membangun harapan bagi bumi dan orang miskin. Mengapa bumi? Karena planet kita ini adalah satu-satunya rumah kita. Mengapa orang miskin? Karena terjadinya kerusakan lingkungan hidup, orang miskinlah yang paling akan menderita. Maka, dalam pertemuan delegasi sosial ini, kami pun diajak untuk bermenung, berefleksi, dan mengevaluasi diri untuk melihat apa yang bisa kita lakukan pada level dasar dalam karya pelayanan kita masing-masing.

 

Pada level ini, banyak delegasi membagikan cerita tentang usaha-usaha dari masing-masing karya sosial untuk menanggapi persoalan krisis lingkungan hidup. Provinsi Australia tampak paling kokoh dalam memperhatikan soal-soal ekologi. Tidak heran, mereka memiliki 400 sumber daya yang bekerja di karya sosial dan melalui divisi-divisinya, memiliki perhatian yang lebih pada bidang ekologi. Jesuit Social Service Timor-Leste memilih karya pemberdayaan di bidang pertanian, ketahanan pangan, dan proyek air bersih. Sementara itu, Provinsi Indonesia membagikan tentang karya di Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) yang secara langsung memang melayani di bidang ekologi. Melalui kursus pertanian dan peternakan, KPTT mencoba mewartakan perhatian yang mendalam terkait persoalan-persoalan ekologi.

 

Environment Experiment. Foto: Jesuit.​Media ​|​ ​Miguel Carvalho

 

Interconnected Level

Pada level ini, para delegasi sosial hendak diajak untuk melihat sejauh mana kolaborasi antarkarya sosial terjadi, khususnya terkait dengan persoalan-persoalan ekologi. Jika menggunakan analogi dari tumbuhan, di sebuah hutan ada banyak tanaman yang saling terhubung antara satu dengan yang lain. Tidak ada satu tanaman yang sungguh-sungguh hidup sendiri. Semua jenis tanaman saling terhubung satu dengan yang lain. Apakah dan bagaimana karya-karya provinsi dan regio di JCAP terkoneksi antara satu dengan yang lain? Saat menimbang hal ini, kami merasa bahwa keterhubungan ini belum sungguh-sungguh terbentuk secara kokoh. Masing-masing karya masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal, jika terhubung antara satu dengan yang lain, maka pekerjaan masing-masing karya itu bisa dipermudah dan memiliki dampak yang lebih luas.

 

Saat membahas soal interconnected level ini, ada banyak delegasi yang merasa bahwa kami belum sungguh-sungguh terhubung antara satu dengan yang lain, bahkan merasa berjalan sendiri. Namun, ada juga peserta yang merasa tidak berjalan sendirian. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kami mewujudkan keterhubungan antara satu dengan yang lain? Pada akhir sesi, pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi masing-masing delegasi untuk membangun koneksi lebih dalam dengan karya kerasulan lain dalam lingkup JCAP. Kami juga mendapatkan tugas untuk membangun keterhubungan itu secara mandiri. Artinya, satu kerasulan bisa secara proaktif membangun kerja sama dengan karya kerasulan sosial dari provinsi atau regio lain dalam JCAP.

 

Julie Edwards menjelaskan tentang 3 level walking together
toward integral healing and reconsilitation. Foto: Penulis

 

Integrated Level

Banyak delegasi merasa terperangah pada level ini karena merasa belum sungguh-sungguh mencapai level integrasi sebagaimana diharapkan. Kondisi alam ini akan bagus jika diibaratkan dengan ekosistem hutan alami. Saat ini banyak yang merasa bahwa kondisi “hutan” kita masih sangat memprihatinkan. Perjuangan para aktivis lingkungan hidup untuk menyelamatkan Bumi masih jauh dari kata cukup. Beberapa tokoh seperti Pedro Walpole, S.J. dan Roberto Jaramillo, S.J. masih mengharapkan dukungan kita semua untuk menyuarakan soal krisis ekologi dan bagaimana tanggapan nyata kita.

 

Dalam sesi diskusi, banyak delegasi dari berbagai pihak, khususnya kelompok-kelompok indigenous people, yang mengikuti kegiatan COP 30 di Brasil terus menyuarakan keprihatinan mereka. Yang menarik, mereka tidak butuh bantuan untuk menyuarakan “suara” mereka sebab mereka sudah memiliki suara mereka sendiri. Suara mereka adalah suara yang selaras dengan alam yang lestari. Yang perlu dilakukan oleh para pemangku kepentingan adalah mengembalikan suara dan realita hidup yang memang sungguh-sungguh selaras dengan alam.

 

Foto para delegasi kerasulan sosial yang mewakili provinsi dan regio di JCAP. Foto: Penulis

 

 

Suara Ekologi di Provindo

Mewakili karya sosial Provinsi Indonesia (Provindo) dan berbicara soal ekologi di tingkat JCAP, secara jujur, saya merasa ragu-ragu. Saya bertanya dalam hati, seberapa besar perhatian karya sosial dan karya-karya Provindo yang lain terhadap persoalan ekologi? Adakah tokoh atau karya di Provindo yang sungguh-sungguh lantang dan antusias mengupayakan perjuangan ekologi sebagaimana diharapkan oleh Laudato si’ dan UAP? Terus terang saya sendiri merasa resah.

 

 

 

Kontributor: F. Antonius Dieng Karnedi, S.J.

More
articles