Imlek 2577 di Kanisius Pati
Hembusan angin pagi membawa aroma kue keranjang dan jeruk mandarin, berpadu dengan tawa riang anak-anak yang memenuhi halaman SMP Kanisius Pati, Jawa Tengah. Jumat, 13 Februari 2026 lalu, keluarga besar Kanisius Pati merayakan Tahun Baru Imlek 2577—Tahun Kuda Api—dalam suasana hangat, semarak, dan penuh makna.
Perayaan ini menyatukan siswa-siswi dari KB-TK Kanisius Pati, SD Kanisius Pati, SMP Kanisius Juwana, SMP Kanisius Kudus, serta SMA Kanisius Yos Soedarso Pati. Dengan mengusung tema “Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri”, acara ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan perjumpaan lintas usia dan tradisi yang memperkuat nilai-nilai pendidikan Ignasian: magis, cura personalis, dan men for others.
Hadir pula perwakilan utusan Plt. Bupati Pati dan Kodim Pati membuka kegiatan dengan pesan tentang toleransi dan persatuan. Sch. Viktor Daki, S.J., serta Pak Petrus Marjono selaku perwakilan Yayasan Kanisius Cabang Semarang turut memberikan sambutan yang meneguhkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Pawai Harmoni: Merah, Emas, dan Gamelan Jawa
Tepat pukul 08.00 WIB, suara genderang dan sorak semangat menandai dimulainya pawai pembuka. Gelombang warna merah dan emas mengalir indah di sepanjang barisan. Spanduk bertuliskan “Gong Xi Fa Cai” dan tema perayaan dibawa dengan bangga oleh perwakilan siswa SMA Kanisius Yos Soedarso Pati.
Anak-anak KB-TK, didampingi kakak-kakak siswa/i SMA yang penuh perhatian, tampil menggemaskan dalam balutan kostum bernuansa Imlek. Marching band dari SMP Kanisius Juwana tampil energik dengan irama dinamis, disusul barisan siswa SD dan SMP yang melangkah percaya diri. Pawai ditutup dengan alunan gamelan dari SMP Kanisius Pati, sentuhan khas budaya Jawa yang menyatu harmonis dengan nuansa Tionghoa.
Perpaduan lentera merah dan suara gong menciptakan perpaduan budaya yang memikat. Simbol-simbol Imlek—warna merah sebagai lambang keberuntungan dan api sebagai energi pembaruan—berpadu dengan filosofi harmoni dalam tradisi Jawa. Rute pawai mengitari Jalan P. Sudirman, Jalan Kamandowo, Jalan K.H. Wachid Hasyim, hingga Jalan Dr. Sutomo sebelum kembali ke kompleks sekolah. Di akhir perjalanan, para siswa menerima angpao simbolis berisi pesan motivasi untuk giat belajar di Tahun Cerdas.
Seperti ungkapan salah satu peserta, “Pawai ini seperti perjalanan bersama, di mana kami belajar menghargai perbedaan dan menemukan kegembiraan dalam setiap langkah.”

Harmoni Musik dan Barongsai yang Menggetarkan
Kemegahan berlanjut saat marching band SMP Kanisius Juwana mengambil alih panggung. Dengan seragam biru yang mencolok dan formasi rapi, mereka membawakan medley lagu Imlek seperti “Gong Xi Gong Xi” dalam aransemen modern. Dentuman drum mengingatkan pada petasan tradisional yang melambangkan pengusiran energi negatif dan penyambutan keberuntungan baru.
Suasana semakin memuncak ketika barongsai dari SMP Kanisius Kudus tampil memukau. Gerakan akrobatik yang lincah, iringan genderang yang menggelegar, serta interaksi hangat dengan anak-anak kecil menciptakan atmosfer penuh kegembiraan. Tradisi pembagian angpao kepada barongsai pun menjadi momen yang dinanti—simbol rasa syukur dan harapan baik di tahun yang baru.
Penampilan band dari berbagai unit sekolah, mulai dari SD-SMA Kanisius, turut menambah warna. Lagu-lagu yang dibawakan menghadirkan harmoni yang menyatukan hati, memperlihatkan bahwa seni adalah bahasa universal yang melampaui sekat budaya.
Fashion Show Cici-Koko: Tradisi Bertemu Kreativitas
Puncak acara hadir dalam fashion show cici-koko yang memikat perhatian. Para perwakilan siswa berjalan percaya diri di atas karpet merah, mengenakan busana tradisional Tionghoa yang dipadukan dengan sentuhan batik Nusantara.
Anak-anak KB-TK tampil ceria dalam kostum mini merah-emas yang melambangkan kelimpahan dan kebahagiaan. Siswa/i SD tampil anggun dengan aksesori bak putri kerajaan. Remaja SMP menghadirkan desain dinamis penuh energi, sementara siswa/i SMA menampilkan sentuhan elegan dengan syal sutra dan detail modern yang berkelas.
Sorot mata guru, orang tua, dan tamu undangan tak lepas dari panggung. Di sekitar panggung, bazar makanan dan kerajinan tangan siswa menambah semarak. Aroma kue keranjang yang lengket—simbol rezeki yang “melekat”—bercampur dengan semangat kewirausahaan dan kreativitas anak-anak.
Fashion show ini menjadi jendela pembelajaran budaya yang menyenangkan. Para pelajar tidak hanya mengenakan busana tradisi, tetapi juga memahami makna dan sejarah di baliknya.

Menemukan Tuhan dalam Kebudayaan
Menjelang siang, acara ditutup dengan doa bersama yang mengingatkan seluruh peserta untuk finding God in all things—menemukan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam keberagaman budaya. Perayaan ini menjadi ruang refleksi bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan warna yang memperindah kehidupan bersama.
Simbolisme Imlek tentang kebersamaan, harapan, dan rasa syukur selaras dengan semangat pendidikan Kanisius: membentuk pribadi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.
Perayaan Imlek 2577 ini berakhir dengan sukses. Namun, lebih dari itu, perayaan kebudayaan ini meninggalkan jejak hangat di hati setiap peserta, seperti benang emas yang mempererat keluarga besar Kanisius. Dalam kebersamaan yang tulus, kisah pun menyatu dan berkah benar-benar menghampiri.
Kontributor: Arianti Novitasari – Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia


