KAUL AKHIR

Ignasius dan keenam sahabatnya  mengucapkan kaul pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 1534, di kapel kecil Bunda Perawan Kudus, di bukit Montmartre, tempat kemartiran Santo Dionisius dan rekan-rekannya.

Kaul yang diucapkan para Yesuit mengidentifikasikan mereka dekat dengan tradisi konventual dan monastik. Kaul Yesuit mempunyai makna spesifik sesuai dengan determinasi tertentu yang terkandung dalam dokumen resmi ordonya, yakni Formula Institusi dan Konstitusi. Pada bagian mukadimah Formula Institusi dan Konstitusi Serikat tertulis sebagai berikut: “Barangsiapa ingin berjuang sebagai prajurit Allah di bawah panji Salib dalam Serikat kami yang ingin kami tandai dengan nama Yesus, dan melulu melayani Tuhan dan Sri Paus di Roma, WakilNya di dunia, mengikrarkan kaul…..”

Identitas kita sebagai pengikut Yesus ditentukan setiap kali kita merayakan ekaristi. Hal itu sudah dihayati oleh gereja perdana yang mempunyai corak hidup: bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan, segala sesuatu menjadi milik bersama dengan sebelumnya menjual segala kepunyaannya, dan berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Dalam draft penulisan Konstitusi Serikat, Ignasius berbicara tentang kaul sebagai ‘nuestro principio y principal fundamento’. Hal ini bergema dalam ‘Azas dan Dasar Latihan Rohani. 

Totalitas nampak dalam ‘kontemplasi mendapatkan cinta’ pada Latihan Rohani yang berbunyi: “Ambillah, Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaanku, ingatanku dan segenap kehendakku, segala kepunyaan dan milikku. Engkaulah yang memberikan, padaMu Tuhan, kukembalikan. Semuanya milikMu, pergunakan sekehendaMu. Beriah aku cinta dan rahmatMu, cukup itu bagiku”.l adalah jaminan mobilitas dan totalitas demi kebaikan jiwa-jiwa yang lebih besar sebagai tujuan Serikat didirikan.

Dengan kaul kemiskinan, kita merdeka untuk berbagi hidup dengan orang miskin dan menggunakan semua sumber daya dan tenaga; dengan kaul kemurnian, kita merdeka untuk menjadi ‘man for others’ dengan semua orang terutama yang sepengabdian; dan dengan kaul ketaatan, kita merdeka untuk menanggapi tugas melalui pemimpin Gereja dan Serikat.

Marilah kita hantar diri kita, doa dan persembahan kita dengan segala suka-duka dan perjuangannya. Kita bawa ke altarNya yang luhur, ke hadapan keagungan ilahi agar kita dipenuhi dengan segala berkat dan rahmat surgawi.

Ambillah dan trimalah s’luruh kemerdekaanku, ingatanku dan pekertiku, dan seluruh kehendakku. S’luruh hidupku dan s’gala milikku yang Kau berikan padaku, kuserahkan padaMu seturut kehendakMu. Tuhan kumohon berikanlah cinta kasih dan berkatMu. Maka cukuplah bagiku, tiada lain yang kuinginkan, oh Tuhan.

 

DITERIMA DALAM SERIKAT

Pada hari meriah tertanggal 15 Agustus 1534 itu, Petrus Faber, satu-satunya imam di antara mereka mempersembahkan misa. Tepat sebelum saat komuni, selebran berbalik menghadap rekan-rekannya, memegang hosti, mendengarkan enam orang itu masing-masing mendaraskan kaulnya, dan memberikan komuni suci kepada mereka.

“Mereka yang sudah cukup dicoba dalam Serikat sebegitu lama, sehingga dari kedua belah pihak telah menjadi jelas, bahwa mereka dapat hidup terus di dalamnya demi pengabdian dan kemuliaan Allah yang lebih besar, selayaknya diterima, bukan lagi untuk percobaan seperti dahulu, melainkan diterima secara lebih mendalam menjadi anggota tubuh Serikat yang satu dan sama”.

Dalam ‘Kaul Akhir’-nya seorang Yesuit mengucapkan kaul yang sama dengan ‘Kaul Pertama’ yang dilakukan sesudah masa novisiat 2 tahun. Perbedaan paling penting keduanya terletak pada hal praktis, yakni bahwa kaul itu tidak akan begitu mudah ditiadakan atas permintaan individu, dan Serikat tidak dapat dengan mudah mengeluarkan mereka yang dianggap tidak memuaskan.

Kaul itu mengikat, menyatukan, seperti Tubuh dan Darah Kristus mengikat dan menyatukan.

Dengan mengucapkan kaul seorang Yesuit sadar bahwa dirinya adalah anggota Serikat yang didirikan terutama dengan tujuan memajukan jiwa-jiwa dalam kehidupan dan ajaran kristiani dan merambatkan iman melalui kotbah dan segala bentuk pelayanan Sabda Allah, dengan memberikan Latihan Rohani, dan karya amal kasih, khususnya mengajar agama kristiani kepada anak-anak dan orang-orang sederhana, serta memberikan penghiburan rohani kepada umat beriman dengan mendengarkan pengakuan.

Kita semua yang hadir dalam perayaan syukur ini juga diutus. Seperti kedua murid Emaus diutus mengisahkan perjumpaan mereka dengan Yesus, kita diutus membagikan pengalaman rohani ekaristi ini. Berbagai bentuk pengutusan kita dengan segala keunikannya berasal dari Dia dan akan kembali kepadaNya.

Di penghujung perayaan ini marilah dengan rendah hati kita mohon rahmat dan berkat agar kita diberi kekuatan dan penghiburan untuk melaksanakan pengutusan Tuhan dengan sukacita.