Dari Manila, Filipina, program Tersiat Jesuit Conference of Asia Pacific (7 September 2025 – 6 Maret 2026) mempertemukan para Jesuit dari berbagai provinsi. Dua di antaranya berasal dari Provinsi Indonesia: Pater Martinus Juprianto Bulu Toding, S.J. dan Pater Harry Setianto Sunaryo, S.J. Dari pengalaman immersion-nya di Bukidnon, Mindanao, Pater Harry menuangkan refleksinya dalam tulisan berikut.
Panggilan Untuk Hadir
Stasi Tikalaan resmi dibuka pada 25 Mei 2025 sebagai misi Jesuit baru di Paroki Talakag, perbukitan Bukidnon, Mindanao. Di balik keindahan alamnya, wilayah ini mempunyai persoalan ekologis: luka ekologis akibat deforestasi besar-besaran antara 1930–1990 dan ekspansi pertanian jagung serta tebu yang membuat tanah keras dan miskin unsur hara. Kini hanya tanaman tertentu seperti jagung, pisang, dan tebu yang dapat tumbuh. Ekspansi monokultur nanas dan pisang oleh perusahaan swasta juga mempersempit ruang hidup masyarakat adat di wilayah Bukidnon, dan secara khusus di wilayah Talakag.

Sebagian besar wilayah perbukitan Talakag merupakan reservasi militer, sehingga status lahan tidak pasti dan petani tidak memiliki hak milik tetap. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kesejahteraan masyarakat, berbeda dengan situasi di utara Filipina yang lebih stabil. Sebagai bagian dari Paroki St. Yoseph Talakag, Keuskupan Malaybalay, Stasi Tikalaan hadir menjawab undangan Uskup Pedregosa (2023). Kehadiran Jesuit bertujuan berjalan bersama umat, khususnya masyarakat adat yang rentan secara sosial, ekonomi, dan ekologis. Namun, kehadiran itu tidak datang tanpa harga yang harus dibayar.
Harga Sebuah Kehadiran
Menjawab permintaan Uskup Malaybalay bukan keputusan mudah bagi Jesuit Filipina. Jesuit Filipina harus menutup karya di Kabanglasan dan mengembalikannya kepada keuskupan agar bisa mengutus seorang Jesuit ke Tikalaan. Saat ini hanya satu imam, Pater Jereme, yang berkarya di Stasi San Francisco Javier, sesekali dibantu Jesuit dari Stasi Miarayon (30 menit waktu tempuh dengan kendaraan). Stasi ini melayani 18 kapel yang tersebar di berbagai barangay (setingkat desa atau kelurahan di Indonesia) dan sitio (dusun), dengan umat dari masyarakat adat Higaonon dan para pendatang. Pelayanan seluas itu harus dimulai dari keterbatasan yang nyata.

Memulai Dari Keterbatasan
Pada awal misi, Stasi Tikalaan belum memiliki pastoran dan kantor tetap. Jesuit menyewa rumah warga sederhana sebagai pastoran sekaligus kantor. Rumah ini memiliki tiga kamar tidur: satu untuk Pater Jereme, satu untuk frater diakon Jesuit (yang tinggal sementara saat masa diakonat), dan satu untuk sopir. Selama dua minggu di sana, saya tinggal di rumah umat. Saat ini, sedang dibangun kantor sekretariat sebagai pusat perencanaan dan koordinasi pastoral. Setelah itu, rencana berikutnya adalah pembangunan pastoran dan gereja yang lebih besar. Sementara pembangunan itu berproses, misi tetap harus menjangkau umat di perbukitan dan sekolah-sekolah.
Misi yang Menjangkau Perbukitan dan Sekolah
Saya berkesempatan mengunjungi kapel yang paling jauh yang terletak di Sitio Overlooking. Perjalanan dimulai dengan mobil ke Sitio Malantao, dilanjutkan berjalan kaki sekitar satu jam melewati bukit dan sungai kecil. Perjalanan ditemani OMK sebagai misdinar dan pengiring lagu, serta pengurus stasi yang menunjukkan jalan. Sekitar 30 umat hadir dalam perayaan Ekaristi. Setelah itu, misa dilanjutkan di Sitio Malantao, yang belum memiliki kapel, dengan perayaan di lapangan terbuka dan tenda sederhana. Seusai misa, Pater Jereme bersama umat meninjau lokasi rencana pembangunan kapel di Sitio Malantao.

Selain melayani kapel-kapel, Pater Jereme rutin mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah stasi. Misa di SD menggunakan bahasa Cebuano, sedangkan di SMP dan SMA menggunakan bahasa Inggris. Pelayanan ini menunjukkan misi tidak hanya hadir di kapel terpencil, tetapi juga menjangkau generasi muda.
Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh orang-orang di Bukidnon adalah Cebuano (bukan Tagalog). Selama saya melayani di Stasi Tikalaan, Pater Jereme mengatur agar misa di kapel utama pada hari Kamis, Sabtu, dan Minggu menggunakan bahasa Inggris. Itu merupakan pertama kalinya umat setempat merayakan misa dalam bahasa Inggris. Pada hari-hari lain, serta di kapel-kapel lingkungan, misa tetap menggunakan bahasa Cebuano. Umat tidak pernah merayakan misa dalam bahasa Tagalog.
Dalam misa berbahasa Cebuano, saya bertugas membacakan Injil. Cara pengucapannya mirip dengan bahasa Indonesia, sehingga saya dapat membacanya dengan cukup lancar meskipun belum memahami seluruh artinya, dan umat tetap dapat menangkap pesannya dengan baik. Saat itu, homili disampaikan oleh Frater Diakon James Romero Santos, S.J., dalam bahasa Tagalog karena beliau tidak berbahasa Cebuano. Umat di Bukidnon lebih mudah memahami bahasa Tagalog dibandingkan bahasa Inggris. Di tengah keragaman bahasa itulah, saya belajar arti kehadiran yang sesungguhnya: bukan tentang kesempurnaan komunikasi, tetapi tentang kesediaan untuk berjalan bersama.

Berjalan Bersama Umat
Dalam kunjungan ke wilayah tertentu, kami bertemu para tetua adat untuk meminta izin mengadakan misa bulanan. Dengan sikap hormat, Datu (kepala adat) setempat memberi izin. Ia
menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya institusi yang selama ini menghargai adat dan tradisi mereka. Kepercayaan ini menjadi penghiburan sekaligus tanggung jawab: Gereja dipanggil untuk merawat, bukan merusak, kearifan lokal.
Ritme pelayanan di Tikalaan menantang. Setiap Minggu ada lima misa di lokasi berbeda. Sering kali Pater Jereme harus melayani semuanya sendiri. Empat misa dalam sehari sudah melelahkan, apalagi dengan jarak antar kapel yang berjauhan. Pater Jereme menggunakan waktu perjalanan antar kapel untuk hening, menghemat tenaga, dan menata hati agar setiap umat menerima perhatian dan energi yang sama. Bagi Pater Jereme, itu adalah misa keempat atau kelima pada hari itu, namun bagi umat, itu adalah misa pertama mereka dalam sebulan.

Kesetiaan para misdinar dan OMK yang menemani perjalanan panjang menjadi kekuatan tambahan. Pengalaman di Tikalaan memperlihatkan Gereja yang berjalan bersama masyarakat: bersama umat, para tetua adat, OMK, dan katekis. Menjadi imam di sana bukan sekadar memimpin sakramen, tetapi mengelola diri, menjaga semangat, dan setia hadir bagi setiap komunitas dengan kasih yang sama.

