Pilgrims on Christ’s Mission

Belajar Imamat di Pedalaman

Date

Immersion Para Frater Skolastik Kolese Santo Ignatius (KOLSANI)

Pada 3-31 Januari 2026, kami, tiga teologan tingkat 1 Kolsani (SS. Alfred, Kefas, dan Septian K.) menjalani program Immersion di Paroki Santa Maria – Botong, Kalimantan Barat dan Paroki Santo Yohanes Pemandi – Waghete, Papua Tengah. Program Immersion Kolsani adalah bagian dari program formasi yang baru untuk mendukung pemantapan pilihan hidup imamat Jesuit bagi para frater di Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta, salah satu rumah formasi bagi para calon imam Serikat Jesus sebelum mereka menerima tahbisan kelak. Seperti namanya (immersion = mencelupkan), tujuan utama dari program ini adalah agar para frater dapat masuk dan mengalami langsung kehidupan imam Jesuit yang khas secara lebih mendalam di tempat mereka berkarya, terutama dalam konteks pelayanan pastoral paroki di luar Jawa.

 

Pada umumnya, bulan Imamat (Arrupe Month) menjadi kegiatan rutin di bulan Januari bagi para frater teologan tahun pertama di Kolsani. Akan tetapi, tahun ini bulan Imamat akan ditunda hingga tahun depan, sehingga kami mendapat kesempatan untuk menjalani immersion terlebih dahulu sebelum tahun depan menjalani bulan Imamat. Penundaan itu kiranya membuat pengalaman ini menjadi lebih menarik karena sebelum belajar tentang kekhasan imamat Jesuit secara teoretis, kami justru mendapat kesempatan untuk mengalaminya secara langsung di tempat immersion kami masing-masing.

 

Penampakan depan bangunan Gereja Paroki Santa Maria Botong, Kalimantan Barat. Dokumentasi: Penulis

 

Tantangan dan warna pengalaman yang berbeda menyambut kami di tempat immersion masing-masing. Di Paroki Botong, saya dan Sch. Alfred merasakan perjalanan ke stasi sebagai salah satu tantangan terbesar. Jarak dari paroki yang berada di Desa Kualan Hulu ke stasi yang berada di Desa Kualan Tengah memang tidak sangat jauh untuk ukuran pada umumnya. Namun, medan yang sebagian besar berupa jalan tanah yang berlumpur dan tidak rata menjadikan perjalanan yang normalnya ditempuh selama satu jam pada praktiknya kami tempuh dalam durasi dua hingga tiga kali lebih lama. Kami bahkan pernah menghabiskan waktu hampir enam jam hanya untuk pulang dari stasi karena kondisi jalan yang semakin licin akibat diguyur hujan semalaman. Kami merasa tenaga imam atau pelayan pastoral di sana sebagian besar habis di jalan karena kondisi medan yang demikian. Tentunya, anggaran perbaikan kendaraan juga menguras keuangan cukup banyak.

 

Pater Advent, S.J. bersama Pak Maja dan Pak Natus dalam perjalanan ke Stasi Simbal. Dokumentasi: Penulis

 

Pater Dhimas, S.J. menyebrang jembatan kecil dalam perjalanan ke paroki Botong. Dokumentasi: Penulis

 

Berbeda dengan tantangan di Kalimantan, Sch. Septian di Paroki Waghete menemukan variasi tantangan, salah satunya adalah pendidikan formal yang tidak berjalan dengan baik. Guru yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta sering tidak hadir sehingga mengakibatkan anak-anak tidak mendapat akses pendidikan dengan semestinya. Anak-anak juga tidak mengenal cara untuk merawat diri. Untuk itu, Paroki Waghete mendatangkan guru sukarelawan untuk membantu mengajar membaca, menulis, dan berhitung serta menyediakan makanan bergizi seperti telur rebus maupun susu di sekolah yang berada di keempat stasi, yakni Yaba, Kigo, Yagu, dan Meyepa. Paroki juga menyediakan asrama bagi anak-anak SMP yang berasal dari pedalaman. Selain itu, faktor keamanan juga menjadi tantangan bagi para guru sukarelawan ketika hendak mengajar di stasi-stasi.

 

Para Volunteer bersama anak-anak sekolah di Stasi Yaba. Dokumentasi: Penulis

 

Di tengah berbagai tantangan yang ada, kami di Botong ataupun Waghete juga menjumpai semangat para pastor paroki yang terus berusaha mencari cara untuk melayani umatnya dengan maksimal. Di Botong, kami berjumpa dengan pastor paroki yang terus berusaha melampaui batas-batas fisiknya untuk bisa berkeliling dan mengunjungi umat di stasi-stasi setiap bulan. Di Waghete, kami berjumpa dengan pastor paroki yang juga memperjuangkan pendidikan umatnya selain juga menjalankan tugas pelayanan sakramental di stasi-stasi.

 

Pada akhirnya, kami kembali ke komunitas kami di Kolsani, Yogyakarta, dengan konsolasi. Immersion di tempat-tempat pedalaman ini mengajak kami untuk berefleksi tentang kekhasan imamat Jesuit melalui pengalaman hidup bersama para imam dengan segala perjuangan mereka di tempat-tempat sulit.

 

Sch. Septian, S.J. bersama anak-anak sekolah di Stasi Yagu. Dokumentasi: Penulis

 

Dari satu bulan hidup bersama mereka, kami belajar bahwa setidaknya dari pengalaman terbatas ini, kekhasan imamat Jesuit tetap berakar pada semangat Latihan Rohani. Kami berjumpa dengan para imam yang mendengar dan sedang menjawab panggilan Raja abadi untuk bersusah payah bersama-Nya dalam konteks yang berbeda di dua tempat yang berbeda pula. Bagi kami, pengalaman ini juga menjadi undangan untuk terus berusaha mendengarkan panggilan Raja Abadi itu dan terus berjuang untuk menjawab panggilan-Nya.

 

 

Kontributor: Sch. Daud Kefas Raditya, S.J.

More
articles