Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Pelayanan Spiritualitas

Syukur, Panggilan, dan Semangat Magis

Merayakan 17 Tahun Perjalanan MAGIS Indonesia: Sabtu, 23 Agustus 2025, suasana syukur dan sukacita memenuhi Aula Kolese Kanisius, Jakarta. Komunitas MAGIS Indonesia menggelar Misa Syukur 17 Tahun sebagai ungkapan terima kasih atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan komunitas ini sejak 2008, yang dihadiri oleh para alumni MAGIS Jakarta dan Yogyakarta. Perayaan ini menjadi momen istimewa, tidak hanya karena komunitas yang telah menapaki 17 tahun, tetapi juga mengucap syukur atas Misa Perdana Pater Leo Tanjung Perkasa, S.J.—pendamping MAGIS Jakarta tahun 2017–2018, Pater Septian Marhenanto, S.J.—alumnus MAGIS Jakarta 2011, serta ucapan syukur atas pengucapan Kaul Akhir Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J.—moderator MAGIS Indonesia.   Dalam homilinya, Pater Leo menyampaikan pemaknaan kata magis yang terus mengalami pengembangan. Dulu, kata magis dimaknai sebagai “lebih”—lebih aktif, lebih terlibat. Namun seiring perjalanan panggilannya, makna itu semakin mendalam menjadi, “Berjuang lebih untuk mengabdi Raja Abadi.” Kini, magis memiliki arti untuk, “Semakin menyerupai Kristus dalam kenyataan hidup sehari-hari.” Pater Leo mengajak agar setiap Magister perlu menjawab panggilan “Be More” sesuai konteks hidup masing-masing.   Pater Septian, dalam sharing panggilannya, turut menyampaikan rasa syukur karena MAGIS menjadi sarana di mana ia secara pribadi “menjumpai dan dijumpai Tuhan.” Ia menyampaikan, bahwa motivasi awalnya mengikuti MAGIS adalah keinginan untuk ikut World Youth Day. Namun, Tuhan justru membelokkan arah hidupnya menuju panggilan selibat.   Sementara itu, di akhir sesi homili, Pater Koko menekankan bahwa kerendahan hatilah yang membuka jalan menuju semangat magis. “MAGIS itu tidak mungkin menjadi magis tanpa magis. Artinya, Komunitas MAGIS itu tidak mungkin memiliki spirit magis tanpa semangat untuk menjadi “lebih.” Dan semua itu tidak bisa diwujudkan, jika tidak didasari oleh kerendahan hati Ignasian. Kerendahan hati yang melihat apakah setiap keputusan praktis maupun keputusan besar kita sudah selaras dengan kehendak Allah.” Sebagai penutup, seluruh umat bersama-bersama mendaraskan Doa Kerendahan Hati (Santo Ignatius Loyola), sebagai bentuk permohonan agar terus bertekun dalam kehendak Tuhan.   Setelah misa, acara dilanjutkan dengan sesi tumpengan sebagai simbol syukur, kebersamaan, sekaligus nostalgia. Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan angkatan pertama (MAGIS 2011) dan angkatan terbaru (MAGIS 2025). Perayaan ini ditutup dengan penuh khidmat dan sukacita. Harapannya, setiap pribadi yang hadir terus membawa semangat magis—semangat untuk terus bertumbuh, melayani, dan menjadi “lebih”, dalam kerendahan hati, seturut teladan Santo Ignatius Loyola.       Kontributor: Humas MAGIS Jakarta

Pelayanan Masyarakat

Oleh-Oleh dari Siem Riep, Kamboja

”Guru, kami sudah mempraktikkan ilmu pertanian yang sudah guru ajarkan. Baru kali ini, kami mengikuti kegiatan kursus pertanian yang terasa mudah, langsung ada kegiatan praktik dan menggunakan bahan-bahan murah dan mudah yang ada di sekitar kita. Maka, sesampai di sekolah kami masing-masing, kami langsung mempraktikkan apa yang guru ajarkan.” Demikianlah kesan singkat yang saya peroleh setelah memberikan kursus pertanian singkat di Reflection Center Midol Meta Karuna, Siem Reap, Kamboja.   Pada 4-5 Juli 2025, Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga hadir di Kamboja untuk memberikan pelatihan pertanian. Seperti di banyak tempat lain, bidang pertanian adalah sektor penting bagi kehidupan banyak masyarakat namun kurang diminati. Karena memang kurang diminati, ilmu dan teknologi pertanian pun menjadi kurang berkembang. Selain itu, faktor alam dan tanah yang kurang subur menambah daftar keengganan banyak orang untuk berkecimpung di bidang pertanian. Untungnya, keprihatinan tersebut ditangkap oleh Rm. Jihnyuk, S.J. (seorang Jesuit dari Korea Selatan yang menjadi misionaris di Kamboja). Karena alasan itulah, KPTT yang diwakili oleh F. Dieng, S.J., hadir ke Kamboja untuk memberikan pelatihan pertanian.   Lebih dari 30 peserta pelatihan yang terdiri atas para Jesuit, guru, staf JRS, karyawan, dan aktivis lingkungan antusias mengikuti kegiatan kursus pertanian tersebut. Dalam kegiatan kursus ini, kami mengangkat tema integrated and sustainable farming. Di dalam praktik pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan tersebut, terdapat beberapa kata kunci yang sangat penting, yaitu konektivitas, saling melayani, dan harmoni. Tiga poin ini menjadi penting, khususnya bagi orang Kamboja karena pada dasarnya leluhur mereka juga adalah petani. Namun, kecintaan terhadap bidang pertanian ini sempat mengalami tantangan yang berat, terutama saat kekuasaan Rezim Khmer, di mana banyak orang dipaksa bekerja sebagai petani, bahkan sebagian besar hingga mati. Ibu So Kheng, penerjemah dari kursus ini, adalah saksi hidup bagaimana ia berjuang untuk hidup sebagai petani yang dipaksa bekerja hingga beberapa saudaranya meninggal.   Dalam kursus ini, KPTT menyampaikan langkah-langkah menjadi manusia ekologis sebagai dasar utama membangun pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan. Selebihnya, dasar-dasar ilmu pertanian pun kami sampaikan, seperti media tanam, nutrisi tanaman, pengendalian hama, dan penyakit tanaman. Para peserta cukup bersemangat, khususnya saat mereka harus praktik untuk membuat media tanam, hugelkultur, dan meracik mikroorganisme lokal.   Di akhir kegiatan kursus, Pater Jihnyuk merasa tersentuh dan baru menyadari bahwa kita semua terhubung antara satu dengan yang lain. Diri kita dengan sesama, alam, dan juga Allah. Ia sangat terkesan dengan penggalan video how trees secretly talk to each other. Ia baru menyadari bahwa tanaman pun dapat berkomunikasi dengan tanaman lain melalui jamur dan mikroorganisme lain yang ada di dalam tanah.     Reconciliation with Creation (RWC) Meeting Kegiatan kursus pertanian di atas sejatinya masih dalam satu rangkaian dengan pertemuan delegasi RWC tingkat JCAP yang diadakan di tempat yang sama. Dalam pertemuan RWC ini, ada dua agenda yang diusung. Agenda pertama adalah mengundang dan meminta para pemenang program Creator of Hope untuk mempresentasikan proyek ekologis mereka. Mereka adalah orang-orang muda yang sudah lebih dari dua tahun bergerak di bidang ekologi yaitu melalui berbagai macam kegiatan penyelamatan lingkungan hidup. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pemenang dari Indonesia yang bergerak di bidang konservasi karang dan biota laut di Kepulauan Anambas. Bersama dengan Yayasan Anambas, Fauzan Maulana, pemenang Creator of Hope, bahu-membahu memperbaiki kondisi bawah laut di perairan Anambas. Kendati kelihatan terpencil, perairan laut tersebut ternyata mengalami kerusakan yang cukup parah akibat penggunaan bom dan pukat harimau dalam menangkap ikan.   Inti dari program Creator of Hope adalah pemberian dukungan dari RWC terhadap orang-orang muda yang selama ini sudah bergerak dan berjuang bagi lingkungan hidup di mana mereka berkarya. Dengan memberikan dana sebesar $2000, RWC berharap orang-orang muda tersebut sungguh-sungguh tetap bersemangat menjadi agen-agen lingkungan hidup di tempat mereka masing-masing dan menciptakan harapan bagi lingkungan hidup dan sesama.   Agenda kedua dari RWC meeting adalah presentasi dari masing-masing provinsi dan regio mengenai kegiatan-kegiatan ekologi yang dilakukan di tempat masing-masing. Dalam kesempatan ini, kami juga memberikan waktu bagi delegasi yang tidak bisa hadir secara fisik, yaitu Pater Paul Tu Ja, S.J. dari Myanmar, yang karena kondisi perang tidak bisa hadir secara offline di Kamboja. Hal yang menarik dari apa yang dilakukan oleh Pater Tu Ja adalah kesetiaannya untuk tetap bersama umat di parokinya kendati serangan militer banyak terjadi di parokinya. Ia memaparkan, ada kondisi ekologis yang memprihatinkan saat perang, ada banyak lahan pertanian yang terkena bom dan ranjau. Selebihnya, para petani juga takut dan tidak nyaman karena situasi perang membuat segalanya tidak pasti, sehingga kegiatan pertanian pun juga menjadi tidak menentu. Di akhir pemaparannya, kami semua berharap agar konflik dan situasi di Myanmar segera membaik.   Di penghujung pertemuan RWC, kami menggagas macam-macam kegiatan yang bisa kita lakukan secara bersama antarprovinsi dan regio, serta apa saja bentuk bantuan yang bisa diberikan atau disumbangkan. Agar menjadi jelas dan konkret, kami akhirnya membentuk anggota inti yang kemudian diminta untuk merumuskan visi, misi, serta langkah-langkah praktis pelaksanaan kegiatan RWC ke depan. Salah satu langkah praktis yang bagi saya menarik dari bagian akhir pertemuan ini adalah keinginan para delegasi untuk mempraktikkan Finding God in Farming. Jargon ini sendiri saya angkat dari praktik pertanian yang dilakukan di KPTT. Bagi para delegasi lain, hal tersebut adalah praktik yang bagus dan sejatinya hampir semua delegasi juga melakukan praktik yang sama. Maka, kegiatan bertani dan menemukan Tuhan di dalamnya patut terus dilakukan.       Kontributor: F. Antonius Dieng Karnedi, S.J.

Pelayanan Masyarakat

Merayakan Kemerdekaan Tanpa Perbedaan dalam Kebersamaan

TUJUHBELASAN TOGETHER Siang itu, 19 Agustus 2025, Kampung Kongsi di Cisarua menjadi lebih ramai dari biasanya. Sebuah lapangan sederhana di tengah permukiman dipenuhi warga dan para pengungsi yang berkumpul untuk merayakan hari kemerdekaan. Bendera merah putih dipasang tegak di tengah lapangan sebagai tanda dimulainya acara, sementara anak-anak berlarian kesana-kemari sambil tertawa riang. Orang dewasa duduk berkelompok, sebagian menyiapkan perlengkapan lomba, sebagian lagi sibuk menyapa satu sama lain. Suasana akrab itu menjadi awal dari sebuah perayaan tujuhbelasan yang berbeda dari biasanya.     Pada kesempatan ini, Jesuit Refugee Service (JRS) menggandeng Hope Learning Center (HLC) mengadakan perayaan kemerdekaan bersama dengan warga lokal kampung Kongsi. HLC sendiri telah lama menjadi rumah bagi anak-anak pengungsi di kawasan Cisarua. Di tengah keterbatasan hidup di negeri asing, HLC menghadirkan kesempatan untuk belajar, bermain, dan bertumbuh bersama. Bagi anak-anak yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran, HLC adalah ruang harapan, tempat mereka tetap bisa merasakan suasana pendidikan dan menatap masa depan dengan optimisme.     JRS dan HLC bersama dengan warga Kampung Kongsi berkolaborasi menggelar kegiatan bertajuk Tujuhbelasan Together. Perayaan ini bukan hanya sekadar rangkaian lomba kemerdekaan, melainkan sebuah kesempatan untuk mempertemukan warga lokal dan para pengungsi dari berbagai negara seperti Afghanistan, Sudan, Syria, Iraq, Ethiopia, Myanmar, hingga Yaman. Semua hadir dengan semangat yang sama yaitu merayakan kemerdekaan tanpa perbedaan dalam kebersamaan.     Sejak siang hari, aneka lomba khas tujuhbelasan mulai digelar satu per satu. Sorakan langsung pecah saat lomba makan kerupuk dimulai, ketika anak-anak berjuang dengan penuh semangat menggigit kerupuk yang bergoyang ditiup angin. Tidak lama kemudian, gelak tawa membahana saat lomba balap karung berlangsung, membuat peserta berloncatan dengan karung goni, jatuh, lalu bangkit kembali sambil tetap tertawa.     Lomba tarik tambang menghadirkan momen paling mendebarkan, mempertemukan tim warga lokal dan tim pengungsi yang saling beradu tenaga, sementara penonton bersorak dengan semangat luar biasa. Keriuhan semakin bertambah dengan lomba cerdas cermat yang membuat peserta berpikir keras, lomba meniup gelas plastik yang menguji kelincahan, serta lomba mengaitkan topi keranjang yang memancing sorak sorai riuh. Tidak kalah seru, lomba memindahkan karet dengan sedotan dan lomba menebak gambar juga menghadirkan kegembiraan tersendiri, membuat semua yang hadir larut dalam rasa kebersamaan yang hangat.     Di tengah keceriaan itu, Amira (nama samaran), salah satu peserta dari HLC, berbagi kesannya: “I enjoyed so much today’s event. We gathered and had a lot of fun, especially with all the games. We rarely have fun activities in HLC and this event became a good opportunity for us to get to know better with the local community. We should continue this.” Ungkapan itu menjadi cerminan bagaimana perayaan sederhana mampu membuka ruang perjumpaan dan mempererat ikatan antara warga lokal dan pengungsi.     Menjelang sore, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan. Ibu Novita Mulyasari, Ketua RW Kampung Kongsi, menyampaikan rasa bangganya melihat warganya dan para pengungsi bisa berkumpul, tertawa, dan merayakan kemerdekaan bersama. Dari pihak HLC, Ibu Shaima memberikan ucapan terima kasih yang hangat kepada JRS dan warga sekitar yang telah membuka ruang persaudaraan bagi para pengungsi dan anak-anak mereka. Sementara itu, Bapak Zainuddin mewakili JRS menegaskan pentingnya kolaborasi ini sebagai upaya nyata untuk merajut solidaritas lintas budaya dan bangsa, sejalan dengan misi JRS untuk menemani, melayani, dan membela mereka yang terpinggirkan.     Setelah sambutan, panggung perayaan diramaikan dengan berbagai persembahan. Koor dari warga Kampung Kongsi yang menyanyikan lagu religi membuat suasana terasa sangat khidmat, sementara anak-anak pengungsi menampilkan lagu tradisional Afganistan yang syahdu. Kejutan datang dari Harun Hussein, seorang pengungsi yang naik ke panggung dengan penuh percaya diri menirukan gaya menari Michael Jackson. Penampilannya membuat semua yang hadir bergoyang bersama, tertawa terbahak sekaligus berdecak kagum.     Acara kemudian berlanjut dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba. Sesi pembagian hadiah berlangsung hangat. Bu RW menyerahkan hadiah untuk pemenang lomba balap karung dan makan kerupuk. Perwakilan HLC memberikan hadiah untuk pemenang tarik tambang dan gantung caping, sementara perwakilan JRS menyerahkan hadiah untuk pemenang back drawing dan tiup gelas.     Puncaknya, suasana menjadi semakin mengharukan ketika Pak Topik Hidayat, Ketua RT, mendapat kejutan berupa sebuah lukisan indah bertemakan persaudaraan karya anak-anak HLC sebagai tanda terima kasih. Tak berhenti di situ, Pak Zainuddin dari JRS juga menerima sebuah lukisan yang menggambarkan perpaduan logo JRS dan HLC, sebuah simbol persaudaraan, kolaborasi, dan harapan yang tumbuh di antara dua komunitas.   Menjelang akhir acara, semua orang berkumpul untuk bernyanyi dan menari bersama. Lagu “Gemu Fa Mi Re” atau yang lebih dikenal dengan “Maumere” mengalun riang, mengajak warga lokal dan para pengungsi bergandengan tangan, melompat, dan bergerak dalam satu irama ke kiri dan ke kanan. Saat itu, tidak ada lagi sekat negara, bahasa, atau identitas, yang tersisa hanyalah tawa, peluh, dan rasa persaudaraan yang begitu nyata.     Salah seorang kader Puskesmas Cisarua dari Kampung Kongsi pun memberikan kesannya: “Senang sekali bisa ketemu sama pengungsi di sini. Dan acara seperti ini jarang ada. Saya sendiri jadi tahu sedikit tentang mereka. Saya berharap acara ini bisa diadakan kembali tahun depan. Sering-sering atuh main ke sini.” Ungkapan tersebut memperlihatkan bagaimana keterbukaan dan interaksi sederhana mampu menumbuhkan rasa saling mengenal dan menghargai.     Hari itu, kemerdekaan dirayakan bukan sekadar dengan kibaran bendera atau derai tawa dalam lomba, melainkan dengan hati yang terbuka. Di tengah perbedaan yang ada, warga lokal dan para pengungsi menunjukkan bahwa persatuan bukan hanya kata-kata indah di atas kertas, melainkan sebuah kenyataan yang hidup dalam keriangan anak-anak, dalam semangat lomba sederhana, hingga dalam pelukan hangat yang menutup perayaan. Tujuhbelasan Together menjadi kisah kecil dengan pesan besar, bahwa kemerdekaan Indonesia memberi arti mendalam, tidak hanya bagi mereka yang lahir di tanah air, tetapi juga bagi para pengungsi yang kini menaruh harapan di bumi Nusantara. Perayaan ini membuktikan bahwa merdeka bukanlah milik satu bangsa semata, melainkan sebuah perayaan kebebasan, persaudaraan, dan harapan yang universal. Di tengah keberagaman budaya dan bahasa, mereka bersama-sama merajut makna kemerdekaan yang sejati, yaitu hidup dalam damai, saling menghargai, dan berbagi sukacita tanpa batas.       Kontributor: Sch. Alfonsus Ignatius Franky Njoto, S.J.

Provindo

The Discerning Pope

KEJESUITAN JORGE MARIO BERGOGLIO (part 1) Bahwa Paus Fransiskus adalah seorang anggota Serikat Jesus, hampir semua orang tahu. Tetapi apa itu artinya, boleh jadi tidak setiap orang mengertinya sehingga mereka terkadang tidak memahami dan menyetujui preferensi-preferensi pastoralnya. Oleh karena itu, ketika Paus Fransiskus wafat pada Senin, 21 April 2025 dan hari itu juga Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam suratnya Death of Pope Francis yang ditujukan kepada seluruh anggota Serikat, saya merasa terbantu untuk memahami dan mensyukuri mengapa Jorge Mario Bergoglio, Paus Jesuit ini, dianugerahkan oleh Tuhan kepada Gereja dan dunia. Surat Jenderal mengenai wafatnya Paus ini pun saya cetak dan saya baca ulang. Waktu itu, saya bawa untuk sangu menunggu dan menemani jalan kaki masuk ke Pintu Suci (Porta Santa) Basilika St. Petrus pukul 15.00. Tidak jauh dari basilika ini terbaring jenazah Paus Fransiskus. Saya ingat, saya rasa-rasakan serta resapkan setidaknya tiga poin pertama yang dicatat oleh Pater Arturo Sosa, S.J. Kita berkabung atas kepergian seorang anggota Serikat yang ditempatkan di dalam pelayanan Gereja Universal dan menjalankan tugas pelayanan Petrus selama lebih dari 12 tahun. Namun demikian, pada saat yang sama, kita merasakan kepergian saudara kita yang kita cintai di dalam Serikat yang kecil dan dina ini (minima Compañía de Jesús), bahwa Jorge Mario Bergolio adalah anugerah Tuhan. Dalam Serikat, kita ambil bagian dari karisma rohani yang sama dan kita menghayati cara yang sama di dalam mengikuti Yesus Kristus Tuhan. Kita bersedih atas kepergiannya, tetapi pada saat yang sama merasakan syukur mendalam kepada Tuhan Bapa kita, karena kita telah menerima begitu banyak kebaikan dari Tuhan melalui seluruh hidup dan cara Paus Fransiskus membimbing Gereja selama masa pontifikalnya dalam kesatuan dan kesinambungan dengan para pendahulunya menerapkan praktik semangat dan arahan Konsili Vatikan II. Paus Fransiskus terus-menerus memperhatikan dengan jeli apa yang sedang terjadi di dunia ini untuk kemudian menawarkan pengharapan bagi semua. Dua ensiklik istimewa Laudato Si, dan Fratelli Tutti mengungkapkan bukan hanya analisis yang mencerahkan tentang situasi kemanusiaan, tetapi dalam terang Injil, dua ensiklik tersebut menawarkan cara-cara menghilangkan musabab ketidakadilan dan memajukan rekonsiliasi.    Tentu saja, tidak akan pernah dilewatkan untuk mengenal dan mensyukuri hal yang sudah menyebar, serta meresapi cara menggereja dua kunci pelayanannya, yaitu pentingnya berjalan bersama dan sentralitas doa. Keduanya membuat kita memahami bahwa Gereja sinodal adalah Gereja yang berjalan bersama, dan artinya Gereja yang berdiskresi dan ditopang oleh doa.     Poin-poin tersebut menyertai hari-hari saya saat Kamis malam, 24 April 2025, antre mengunjungi jenazahnya di Basilika St. Petrus, setelah sebelumnya bersama para Jesuit di Roma mengikuti Ekaristi dengan intensi untuk Paus Fransiskus juga. Ketika itu, pagi-pagi di hari Sabtu, 26 April 2025 berjalan kaki dari Gesù untuk ikut antre bergabung mengikuti misa pemakaman di Piazza St. Petrus, kemudian dilanjutkan dengan menanti mobil jenazah. Akhirnya mengesan juga, berkesempatan datang dan berdoa di makamnya, di Basilika Maria Maggiore pada pagi 30 April 2025, di mana di tempat tersebut St. Ignatius merayakan misa perdana 25 Desember 1538.   Dalam suratnya, Pater Jenderal Arturo Sosa juga mengajak untuk mengingat persetujuan dan peneguhan Universal Apostolic Preferences Serikat (2019). Menurut Pater Arturo Sosa, Paus Fransiskus menegaskan, bahwa preferensi pertama, yaitu menunjukkan jalan menuju Tuhan melalui Latihan Rohani dan diskresi merupakan hal yang krusial karena menjadi basis yang diandaikan bagi tiga preferensi yang lain. Preferensi ini juga mengandaikan relasi para anggota Serikat, relasi para Jesuit dengan Tuhan dalam doa pribadi, doa bersama dan dalam diskresi.   Rasa saya isi surat Jenderal Serikat, Pater Arturo Sosa berkenaan dengan wafat Paus Fransiskus itu demikian padat dan penuh. Oleh karena itu, kemudian saya menganjurkan kepada para frater yang bimbingan dengan saya untuk membaca berulang sebagai bacaan rohani dengan membayangkan bahwa di dalam Paus Frasiskus, kejesuitan itu demikian nyata dan menggerakkan hati banyak orang.   Gratia status Sementara itu Pater Federico Lombardi, S.J. (Federico Lomardi, S.J., Le riflessioni di padre Federico Lombardi su Papa Francesco, 30 April 2025), dalam refleksinya mengenai Paus Fransiskus menyebutkan bahwa Paus Fransiskus hidup di dalam semangat Ignatian dengan unsur-unsur yang ditunjukannya: Gereja yang berjalan, Gereja yang mencari dan menemukan kehendak Allah dalam segala, di dalam panggilan ke perutusan untuk mewartakan Injil hingga batas-batas bumi. Lebih rinci Pater menyebut unsur-unsur “spiritual” hidup pribadinya. Pertama, berkenaan dengan semangat dan kesehatan fisik dikatakan bahwa ini adalah gratia status – la grazia di stato; artinya itu rahmat yang diberikan Tuhan menyertai perutusan dan status hidupnya. Tentang hidup pribadinya, Pater Lombardi di waktu-waktu awal pontificalnya mengetahui bahwa di Santa Marta dia selalu melewatkan waktu hening doa di kapel. Kebiasaan dan cara hidupnya adalah dia pergi tidur cukup awal supaya bisa bangun segar berdoa di pagi hari, tanpa gangguan.    Kemudian, banyak orang juga disadarkan oleh surat apostolik Gaudete et Exultate tentang panggilan ke kekudusan untuk semua. Lalu di dalam ensilik Dilexit nos (24 April 2024), Paus mengungkapkan secara jelas devosinya terhadap Hati Kudus Yesus. Singkatnya, semua adalah buah doa-doanya serta relasi pribadinya dengan Tuhan. Di dalam relasi pastoral, Federico Lombardi mengatakan bahwa karisma Paus Fransiskus tampak di dalam kedekatannya dengan semua orang. Mereka merasa dekat, tidak ada jarak dan penghalang. Halnya konkret, sederhana dan langsung, serta ingin berdialog dengan siapapun. Pater Lombardi mengatakan bahwa dirinya diyakinkan kalau Paus Fransiskus memiliki anugerah istimewa dalam pendekatan personal yang sederhana, tulus, dan langsung dengan hati.     Kontributor: P. L. A. Sardi, S.J. 

Provindo

Menapaki Jalan Kekudusan dalam Serikat Jesus

Kaul Akhir Jumat, 15 Agustus 2025, pada Pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, merupakan hari yang penuh syukur bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Terdapat tujuh Pater Jesuit yang mengucapkan kaul akhir. Ketujuh Pater tersebut adalah Pater Thomas Septi Widhiyudana, S.J., Pater Christoforus Bayu Risanto, S.J., Pater Peter Benedicto Devantara, S.J., Pater Bernadus Dirgaprimawan, S.J., Pater Agustinus Winaryanta, S.J., Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J., dan Pater Christoforus Christiono Puspo, S.J. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Provincial, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta. Perayaan Ekaristi dihadiri oleh keluarga ketujuh kaules, umat, serta para Jesuit dari berbagai komunitas. Perayaan Ekaristi kaul akhir tersebut, juga ditayangkan secara live streaming di kanal Youtube Jesuit Indonesia.     Dalam homili yang disampaikan oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., umat diajak untuk melihat kembali sebuah momen penting dalam sejarah Gereja, yakni reformasi yang digagas oleh Paus Gregorius VII. Reformasi yang dikenal sebagai Reformasi Gregorian tersebut merupakan suatu upaya untuk membebaskan Gereja dari cengkeraman kekuasaan duniawi para raja. Di balik langkah-langkah keras dan strategis itu, tersimpan satu hal yang mendasar, yaitu upaya untuk menghidupi kekudusan. Bentuk konkret kekudusan yang dihidupi oleh Paus Gregorius VII yaitu suatu perjuangan untuk menjaga kemurnian Gereja sebagai Tubuh Kristus. Berangkat dari refleksi historis ini, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., kemudian menuntun perhatian umat, secara khusus para kaules; kepada makna Kaul Akhir dalam Serikat Jesus. Kaul ini bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan pengakuan dari Serikat bahwa seseorang telah diterima secara penuh sebagai anggota dalam tubuh Serikat Jesus. Dengan diterimanya seseorang secara penuh, ia tak hanya dipersatukan secara spiritual dan struktural, tetapi juga secara misi: terlibat aktif dalam membentuk wajah Serikat Jesus Universal.   Para kaules diundang untuk menghidupi kekudusan secara nyata, seperti yang dilakukan oleh Paus Gregorius VII; namun dalam konteks zaman serta medan perutusan mereka masing-masing. Kekudusan tersebut tidak bersifat abstrak, tetapi tampak nyata dalam cara mereka berpikir, berkata, dan bertindak. Semua ini dijalani dalam semangat Latihan Rohani dan Konstitusi Serikat Jesus, yang menjadi dasar pijakan hidup dan pelayanan setiap Jesuit.   Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. menambahkan, bahwa kehadiran mereka dalam Serikat merupakan suatu anugerah, sekaligus tanggung jawab. Serikat akan menerima warna baru lewat hidup dan kesaksian mereka. Namun, hal ini juga munculkan pertanyaan reflektif yang tajam: “Apakah Serikat menjadi semakin berwarna karena kehadiran mereka, atau justru menjadi pucat?”   Pertanyaan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan undangan untuk terus memperbarui diri sebab Kaul Akhir bukanlah garis akhir melainkan awal baru dalam keterlibatan total untuk misi Allah melalui Serikat Jesus. Seperti para kudus yang telah lebih dahulu berjuang, para Jesuit yang berkaul akhir hari ini dipanggil untuk menghidupi kekudusan itu dengan sepenuh hati dan segenap hidup mereka.   Di penghujung Ekaristi, Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J., mewakili ketujuh kaules memberikan sambutan. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak pantas untuk mengucapkan Kaul Akhir. Namun justru dalam ketidaksempurnaan itulah, mereka merasakan rahmat Allah yang bekerja secara nyata dalam hidup mereka; rahmat yang menopang, membentuk, dan menuntun mereka hingga hari pengucapan kaul akhir dalam Serikat Jesus.     Mereka bersyukur atas penyertaan Tuhan yang tak pernah berhenti, serta berterima kasih atas dukungan dari para formator, rekan-rekan seperjalanan, keluarga, dan umat yang telah menjadi bagian dari proses formasi mereka. Kaul Akhir, bagi mereka bukanlah puncak pencapaian, tetapi penegasan akan kesediaan untuk terus dibentuk, dan diutus. Pater Koko memohon doa agar beliau, dan rekan-rekannya dapat menghidupi panggilan sebagai Jesuit dengan kesetiaan dan kerendahan hati.   Kontributor: Sch. Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.

English

Rest In Peace Father Markus Yumartana, S. J.

On Thursday, August 7, 2025, at 11:02 PM, Father Markus Yumartana, S. J., passed away at St. Elisabeth Hospital in Semarang at the age of 60. He was a Jesuit who contributed significantly to youth formation and parish work. Born on April 27, 1965, in Kokap, Kulon Progo, he was the son of the late Mr. Yohanes Giran and the late Mrs. Margaretha Kemijah. He was baptized at the Church of Santa Maria Bunda Penasihat Baik, in Wates, Kulon Progo, and grew up in Sentolo. He did his primary and junior secondary schools in Sentolo (1972-1981) and senior secondary school at St. Peter Canisius Minor Seminary in Magelang (1981-1985).     Father Yumartana joined the Novitiate of St. Stanislaus, Girisonta, on July 7, 1985, where he made his first vows on July 8, 1987. He then studied philosophy at Driyarkara School of Philosophy in Jakarta for four years (1987-1991). Afterward, he served as a sub-moderator at the Minor Seminary of Mertoyudan during his one-year regency (1991-1992). He was then sent to the Gregorian University in Rome to study theology and obtained his undergraduate degree in theology (1992-1997). During his theological studies, he received diaconal ordination on April 18, 1995, at the hands of Cardinal Achile Silvestrini, and three months later, he was ordained into the priesthood on July 28, 1995, by Cardinal Julius Darmaatmadja at the Church of St. Anthony of Padua in Kotabaru, Yogyakarta.     Following his ordination and theological studies, Father Yumartana taught at Wedabhakti Pontifical Faculty of Theology of Sanata Dharma University and worked as a librarian at St. Ignatius College in Yogyakarta (1997-1999). He made his tertianship at St. Stanislaus College (January 15 to July 15, 1999) under the direction of Father Josephus Darminta, S. J. After completing the tertianship, he studied religious education at Ateneo de Manila University in the Philippines (1999-2005). On July 20, 2009, Father Yumartana pronounced his final vows as a professed Jesuit at the chapel of Sanata Dharma University, accepted by Father General Adolfo Nicolas, S.J.     Known for being friendly, open, and close to many people, especially the youth, Father Yumartana reflected on his 30th anniversary of his priestly ordination in late July. He expressed feelings of unworthiness about his role as a priest and emphasized that the priesthood is not for personal gain but for the good of all and as a means to channel God’s blessings.     His assignments after ordination included various teaching and leadership roles, such as a moderator for student ministries and serving as a priest in several locations, including Jakarta and Girisonta. In recent times, his health deteriorated, and he was hospitalized on August 5, 2025. After three days in the hospital and receiving the anointing sacrament for the sick, he passed away.     Father Yumartana’s body will be laid to rest at the Domus Patrum of Kolese Stanislaus, Girisonta, and a Requiem Mass on Saturday, August 9, 2025, at 10:00 AM, followed by burial at the Cemetery of Taman Maria Ratu Damai. All members of the Province are invited to celebrate a special Mass for his eternal peace.  

Obituary

Selamat Jalan Pater Markus Yumartana, S.J.

Pada hari Kamis, 7 Agustus 2025, pukul 23.02 WIB, telah dipanggil Tuhan di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Semarang: PATER MARKUS YUMARTANA, S.J. (dalam usia 60 tahun)     Pater Yumartana adalah seorang Jesuit yang banyak berkiprah dalam karya formasi, kerasulan orang muda, dan juga paroki. Lahir di Kokap, Kulon Progo, 27 April 1965, Pater Yumartana adalah putera dari pasangan suami-istri (Alm.) Bapak Yohanes Giran dan (Almh.) Ibu Margaretha Kemijah. Ia dibaptis di Gereja Santa Maria Bunda Penasihat Baik, Paroki Wates, Kulon Progo. Pater Yumartana menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, Sentolo. Pendidikan SD hingga SMP ia tempuh di Sentolo (1972-1981). Setamat SMP, Pater Yumartana melanjutkan pendidikan menengah atas di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Magelang (1981-1985).     Tertarik menjadi Jesuit, ia melamar ke Novisiat Santo Stanislaus, Girisonta dan diterima. Ia memulai formasi novisiat pada 7 Juli 1985 dan mengucapkan kaul pertamanya pada 8 Juli 1987. Setelah mengucapkan kaul pertama, ia diminta untuk melaksanakan formasi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta selama empat tahun (1987-1991).     Selesai filsafat, Frater Yumartana menjalani Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) sebagai Sub- pamong Seminari Menengah Mertoyudan selama satu tahun (1991-1992). Setelah selesai menjalani formasi TOK dan dirasa siap untuk formasi teologi, Frater Yumartana diutus ke Fakultas Teologi Universitas Gregoriana, Roma untuk studi teologi sekaligus mengambil lisensiat teologi (1992-1977).     Dalam masa studi teologi ini, Frater Yumartana menerima tahbisan diakon pada 18 April 1995 di Roma dari tangan Bapak Uskup Kardinal Achile Silvestrini. Tiga bulan setelah tahbisan diakon, ia menerima tahbisan imam dari tangan Bapak Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, pada 28 Juli 1995 di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta.     Setelah menerima tahbisan imamat dan studi teologi, Pater Yumartana ditugasi menjadi pengajar di Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta sekaligus pustakawan Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta (1997-1999). Setelah itu, ia diminta mempersiapkan diri untuk menjalani formasi tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta (15 Januari 1999 – 15 Juli 1999) di bawah bimbingan Pater Josephus Darminta, S.J. Setelah menjalani formasi tersiat, Pater Yumartana ditugasi untuk menjalani studi khusus bidang pendidikan agama di Ateneo de Manila University, Filipina (1999-2005). Pada 20 Juli 2009, Pater Yumartana mengucapkan kaul akhir sebagai profes di Kapel Kampus III Universitas Sanata Dharma, Paingan, Yogyakarta dan diterima oleh Pater Jenderal Adolfo Nicolas, S.J.     Pater Yumartana dikenal sebagai pribadi yang ramah, terbuka, dan dekat dengan banyak orang, khususnya orang muda. Dalam masa penyembuhan di Girisonta, sesekali ia menuliskan refleksi hidupnya, termasuk pada saat ulang tahun imamatnya yang ke-30 akhir Juli lalu. Ia merefleksikan bahwa kata “presbiter” memiliki makna “penatua” atau “mereka yang dituakan.” Tetapi mengapa justru banyak imam ditahbiskan saat mereka masih berusia 28 atau 30 tahun. Ia merasa takut karena melihat dirinya tidaklah pantas disebut sebagai orang yang dituakan. Demikian pula dengan istilah “sacerdos” yang baginya justru menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin seorang pendosa seperti dirinya dapat disebut “yang mendapat anugerah kesucian?” Pater Yumar secara sadar menyatakan bahwa imamat bukanlah untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk kebaikan seluruh umat dan sarana untuk menyalurkan berkat Allah.     Riwayat Tugas Pater Markus Yumartana, S.J. setelah Tahbisan Imam   Mengajar di Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 1997-1999 Tersiat di Kolese Stanislaus Girisonta 1999-1999 Studi Khusus bidang Pendidikan Agama Katolik Manila 1999-2005 Moderator Kerasulan Mahasiswa KAJ Unit Selatan dan pengajar bidang studi Agama di Universitas Indonesia Jakarta 2005-2014 Direktur Tahun Orientasi Rohani (TOR) Puruhita – KAJ Jakarta 2014-2018 Acting Superior Lokal Komunitas Apostolik Beato Miguel Pro Jakarta 2015-2018 Pastor Rekan Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta 2018-2019 Acting Superior Lokal Komunitas Apostolik Kolese Santo Stanislaus Kostka Girisonta 2019-2020 Superior Lokal Komunitas Apostolik Kolese Santo Stanislaus Kostka Girisonta 2020-2023 Ketua Pengurus Yayasan Stanislaus Girisonta 2021-2023 Direktur Rumah Retret Kristus Raja dan Pusat Spiritualitas Girisonta (Puspita) Girisonta 2021-2023 Superior Lokal Komunitas Apostolik Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan 2023-2024 Menjalani pemulihan kesehatan di Wisma Emmaus Girisonta 2024- wafatnya     Dalam satu tahun belakangan, kondisi kesehatan Pater Yumartana sering tidak stabil. Hari Selasa pagi, 5 Agustus 2025 yang lalu ia mengalami kondisi lemah dan kemudian dibawa ke RS St. Elisabeth untuk penanganan terbaik. Hari Rabu, 6 Agustus 2025, ia menerima Sakramen Perminyakan dan ketika itu ia masih bisa tertawa bersama Pater Provinsial. Namun setelah tiga hari opname di rumah sakit, kondisinya tidak kunjung membaik hingga akhirnya pada Kamis malam pukul 23.02 WIB, Pater Yumartana dipanggil menghadap Bapa di surga.     Jenazah Pater Yumartana disemayamkan di Domus Patrum Kolese Stanislaus, Girisonta mulai siang ini, Jumat, 8 Agustus 2025. Selanjutnya, Misa Requiem akan diadakan pada: hari, tanggal   : Sabtu, 9 Agustus 2025 pukul             : 10.00 WIB tempat           : Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran dan dilanjutkan dengan pemakaman. Seluruh anggota Provinsi dimohon merayakan Ekaristi khusus bagi kedamaian jiwa Pater Markus Yumartana, S.J.  

English

Behind Gedangan Church’s Old Wall: Reviving Nearly Forgotten Stories

Hi, I’m Lusia, though most of my friends call me Aisul. I am a member of the OMK (Catholic Youth Organization) of Gedangan Parish. I love traveling and history, especially when listening to stories about the past. Now, I want to share about Gedangan Church, the oldest Catholic church in Semarang. The OMK here has an exciting platform to get to know our church more deeply, called Jelajah Gedangan (exploring the Church of Gedangan). The purpose of this activity is to reintroduce the Church of Saint Joseph in Gedangan, particularly from a historical and faith point of view. The tour guides are also from us, the OMK Gedangan, where we gather, discuss, and uncover old stories about this church, and share them with those who are interested.   We started Jelajah Gedangan at the end of 2019 until early 2020, even though the Covid-19 pandemic had just begun. We took the initiative to replace the activity with virtual Jelajah Gedangan, which allowed us to reach people who wanted to know more about Gedangan. During that time, we shared stories about Gedangan’s history, the figures who had been part of Gedangan, and the ornaments typically seen during mass. The themes we discussed became increasingly diverse over time.     In 2025, Gedangan Church will celebrate the 150th anniversary of the consecration of its church building. A series of events will be held throughout the year, one of which is the Mini Talk Show Jelajah Gedangan, which took place last June. At this event, participants, who were usually taken on a tour of Gedangan, were able to sit down and listen to stories from several speakers related to Gedangan Church.   Three speakers participated in the talk show. First, Fr. Vincentius Suryatma Suryawiyata, S.J., shared fascinating stories about the figures who shaped Gedangan Church and emphasized the importance of the missionary spirit that originated here. In addition to Fr. Suryatma, there was also Fr. Ignatius Windar Santoso, S.J., who showed documentation of previous baptism records. From these records, we learned that Semarang was an important place in the history of Catholicism during the Dutch East Indies period, and Gedangan played a role as the first gateway for Catholic missions in Java.   Another narrative was shared by Mas Yogi, a historical observer. He shared surprising facts about Gedangan Church archives and his experience guiding Dutch people seeking to learn about their ancestors’ history. It turned out that one of their ancestors was a famous artist from the past. They also brought photos to compare the church as it was then and as it is now.   From the stories of the interviewees, I realized how important archives such as baptism records are in bridging generations. These records are not only historical evidence but also help people find their families and connect their life stories. The Jelajah Gedangan Mini Talk Show was a true meaningful experience, with each speaker bringing their own unique stories.   I am grateful to have been a tour guide at Jelajah Gedangan and to have participated in this 150th anniversary. We will continue to share and learn about history while reviving stories that are nearly forgotten. In November this year, we will organize the second Jelajah Gedangan Mini Talk Show with new stories and perspectives. Don’t forget to follow Instagram @gerejagedangan and @gedanganmuda for the latest updates!   See you around in Gedangan.     Contributor: Lusia Pamungkas – Gedangan Muda