Wajah Migrasi di Tengah Krisis Iklim
DILI, TIMOR-LESTE. Ketika laut perlahan menelan garis pantai dan tanah yang dulu subur berubah menjadi kering dan retak, sebuah pertanyaan mendasar muncul bagi banyak komunitas di kawasan Asia Pasifik: bertahan atau pergi? Bagi sebagian orang, perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana global, melainkan kenyataan pahit yang memaksa mereka meninggalkan rumah. Kesadaran inilah yang membawa para delegasi dari Thailand, Myanmar, Korea, Jepang, Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Australia, hingga Timor-Leste berkumpul di Dili dalam pertemuan JCAP Migrants and Refugees Network (MRN) pada 3–6 Maret 2026. Kami semua berkumpul di Dili untuk membedah realitas pahit bertajuk “Situasi Migran di Timor Timur dan Perpindahan Paksa Akibat Perubahan Iklim.”
Krisis ini tidak lagi dapat dipahami hanya melalui angka dan laporan. Ms. Dircia Sarmento Belo, Penasihat Diplomasi Iklim sekaligus salah satu suara penting dari generasi muda Timor-Leste, menunjukkan bagaimana kaum muda kini mengambil peran aktif dalam merawat Bumi Lorosae. Di tengah tantangan yang semakin besar, generasi baru ini tidak memilih diam, melainkan bergerak sebagai agen perubahan. Semangat transformasi ini pun terpancar nyata dari kisah Apolinária Inês Teixeira Maia dan Mariano da Costa. Sebagai mantan pekerja migran musiman dari Timor-Leste, mereka bukan sekadar “pengelana ekonomi” yang mencari nafkah di negeri orang, tetapi mereka juga pulang membawa harapan. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang didapat dari luar negeri, mereka kini membuka usaha mandiri yang tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga memajukan ekonomi lokal Timor-Leste.

Akar masalah “Perpindahan Paksa Akibat Perubahan Iklim” ini dibedah dalam sesi kolaborasi intensif dengan Jaringan Ekologi yang dipandu oleh Louie Bacomo, Climate Forced Displacement Director JRS Asia Pacific. Ia menegaskan bahwa krisis ekologis dan krisis kemanusiaan adalah dua sisi dari koin yang sama. Ketika Bumi rusak, manusia pun dipaksa pergi. Sesi dikemas secara hidup melalui role play emosional yang mempertemukan suara kepala desa, perempuan, pemuda, NGO, hingga donor, yang memaksa peserta menyadari bahwa krisis iklim adalah ancaman nyata yang harus menjadi fokus utama.
Dalam pertemuan ini, setiap negara juga diberi kesempatan untuk membagikan perkembangan action plan yang telah mereka jalankan sesuai dengan perencanaan tahun 2025. JRS Indonesia turut mengambil bagian dalam membagikan berbagai karya pelayanan yang berfokus pada isu perpindahan paksa akibat krisis iklim. Bekerja sama dengan PRAKSIS dan LDD KAJ, JRS Indonesia memprakarsai proyek Participatory Action Research bersama masyarakat Muara Bungin, Bekasi, sebuah wilayah yang telah kehilangan lebih dari 100 rumah akibat tenggelam oleh abrasi pantai.
Melalui proyek ini, pendekatan yang diambil jauh melampaui sekadar pemberian bantuan. Masyarakat didampingi untuk melakukan penelitian mandiri yang hasilnya akan menjadi senjata mereka dalam menanggulangi bencana abrasi di masa depan. Tak hanya itu, JRS Indonesia juga membagikan pengalaman nyata dalam respon darurat saat membantu lebih dari 9.000 keluarga yang terdampak bencana banjir di Aceh dan Sumatera, serta keberhasilan menanam 8.000 pohon sebagai bagian dari proyek Care for Communities and Creation di Tambak Mulyo, Semarang, dan Desa Penadaran, Grobogan.

Pertemuan JCAP MRN berlanjut dengan mengunjungi pusat-pusat misi Jesuit yang menjadi tulang punggung perubahan. Para delegasi mengawali kunjungan dengan berinteraksi bersama mahasiswa di ISJB (Instituto São João de Brito). Perjalanan diteruskan ke Colegio de Santo Inácio de Loyola (CSIL), sekolah yang mendidik pemimpin masa depan, serta meninjau pelayanan kemanusiaan di Klinik Jesuit Social Service (JSS) Timor-Leste. Sebagai penutup yang reflektif, peserta mengunjungi Centro Nacional Chega (CNC), sebuah museum resistensi yang mendokumentasikan sejarah perjuangan dan rekonsiliasi masyarakat Timor-Leste menuju kemerdekaan.
Pertemuan ini ditutup dengan sesi puncak yang sangat inspiratif dari dua tokoh besar Timor-Leste. Mr. Ego Lemos, seorang praktisi permakultur dan penyanyi-penulis lagu dari Timor-Leste, hadir membawa energi baru melalui gerakan ekologi yang ia gerakkan khusus untuk masyarakat Timor-Leste, terutama kaum mudanya. Ia tidak hanya memaparkan dampak nyata perubahan iklim di perdesaan, tetapi juga menunjukkan cara kreatif menggerakkan anak muda, salah satunya melalui pembuatan seedball, benih yang dibungkus tanah untuk dilemparkan ke lahan-lahan gersang menjelang musim hujan. Mr. Ego tidak hanya memberikan presentasi yang menginspirasi, tetapi juga mengajak seluruh peserta bernyanyi bersama lagu ciptaannya tentang misi menyelamatkan dunia.
Melengkapi inspirasi tersebut, Dr. Rui Maria de Araujo, seorang politikus Timor-Leste yang menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 2015 hingga 2017 dan juga seorang dokter, memimpin dialog tajam mengenai tantangan migrasi massal kaum muda ke luar negeri. Beliau membedah fenomena kompleks ini sebagai ancaman bagi struktur sosial bangsa, sekaligus realitas pahit yang menjadi penopang ekonomi melalui remitansi.

Pertemuan ini ditutup dengan sebuah pesan singkat tetapi nyata: “The Joy of Service” bukan sekadar motto, melainkan komitmen untuk tetap hadir di tengah mereka yang terpinggirkan, terutama mereka yang terkena dampak krisis iklim dan ketidakadilan ekonomi. Di tanah Timor-Leste ini, kita belajar bahwa mencintai sesama berarti merawat bumi yang kita pijak. Pertemuan JCAP MRN di Dili telah berakhir, namun misi untuk hadir, berpihak, dan bergerak “menjembatani kesenjangan” baru saja dimulai.

