Pada awal bulan Februari 2026, Politeknik Industri ATMI Cikarang (Polin ATMI) mengambil jeda yang bermakna melalui rekoleksi Our Identity bagi mahasiswa Tingkat II dan III. Rekoleksi yang diadakan sehari ini menjadi yang pertama bagi jenjang tersebut sekaligus menandai komitmen pendampingan manusia yang berkelanjutan dalam tradisi pendidikan Jesuit. Setelah pekan ujian dan di tengah rutinitas perkuliahan yang padat, mahasiswa diajak berhenti sejenak (not to escape, but to go deeper). Rekoleksi ini menjadi ruang refleksi untuk menyadari siapa mereka, bagaimana mereka bertindak, dan ke mana mereka hendak melangkah. Dalam hal ini, pendidikan vokasi tidak hanya berbicara soal kompetensi teknis, tetapi juga soal pembentukan manusia yang utuh.
Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi berbasis Jesuit school, Polin ATMI memandang refleksi-rekoleksi sebagai cara hidup. Mahasiswa dari tingkat I telah dibiasakan dengan ritme refleksi harian dan rekoleksi bulanan selama tinggal di dormitory, dengan fokus pada “Who am I?” dan “The Seven Habits” dari Stephen Covey. Namun, perjalanan pembentukan manusia tidak berhenti di tahun pertama. Oleh karena itu, Campus Ministry bersama Tim Kemahasiswaan menggagas rekoleksi bagi tingkat II dan III sebagai kelanjutan dari formasi batin. Tema Our Identity dipilih untuk menegaskan bahwa identitas tidak berhenti pada pemahaman diri, tetapi terwujud dalam cara bertindak. Rekoleksi ini secara khusus menggarisbawahi nilai 4C 1L (competence, conscience, compassion, commitment, and leadership). Bagi mahasiswa tingkat III, rekoleksi juga diarahkan pada semangat Man on Mission sebagai persiapan memasuki masa perutusan magang di industri.

Rekoleksi ini melibatkan mahasiswa dari tiga kelas, yakni Tingkat II Mesin Industri, Tingkat II Manajemen Industri, Teknologi Rekayasa Mekatronika (TRM), dan Tingkat III TRM. Mereka didampingi oleh Pater Ch. Kristiono Puspo, S.J. dan Pater Vincentius Doni Erlangga Satriawan, S.J. beserta tim Campus Ministry dan Kemahasiswaan. Seluruh rangkaian disusun menggunakan kerangka appreciative inquiry (discover, dream, design, destiny) yang dihadirkan secara implisit melalui pengalaman, bukan sebagai teori. Pendekatan ini diharapkan menolong mahasiswa untuk melihat hidupnya dari kekuatan dan pengalaman bermakna, bukan dari kekurangan semata. Setiap sesi dirancang agar refleksi lahir dari pengalaman personal dan relasi dengan sesama. Dengan demikian, rekoleksi menjadi proses yang hidup, bukan sekadar agenda formal.
Sesi pertama menjadi pintu masuk refleksi melalui pembacaan teks berjudul “Aku Dikasihi–Dicintai,” sebuah refleksi yang terinspirasi dari The Art of Loving karya Erich Fromm. Teks ini dibaca dalam suasana ‘silentium terbatas’, menyerupai praktik Lectio Divina. Mahasiswa diajak membaca perlahan, berhenti pada kalimat yang menyentuh-menempel, dan memberi ruang bagi gerak batin yang hadir. Tema-tema seperti trauma of birth, pengalaman dicintai, dan cinta sebagai seni membuka kesadaran baru bagi banyak peserta. Tidak sedikit mahasiswa yang merasakan bacaan tersebut sangat dekat dengan pengalaman hidupnya, baik yang telah berlalu maupun yang sedang dijalani. Refleksi tertulis setelah pembacaan menjadi ruang dialog batin yang jujur.
Sesi kedua mengajak mahasiswa mengenali diri lebih dalam melalui sejarah hidupnya. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, mahasiswa mengekspresikan pengenalan diri melalui My Mindmap, dengan memetakan figur berpengaruh, talenta, dan gambaran diri secara visual dan simbolik. Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, sesi Life Investigation mengajak mahasiswa menelusuri pola hidup dan pengalaman penting dengan sudut pandang syukur. Sementara itu, mahasiswa TRM Tingkat III diajak membangun relasi terlebih dahulu melalui dinamika perkenalan sebelum masuk ke refleksi teks. Beragam metode ini membantu mahasiswa menyadari bahwa identitas dibentuk oleh pengalaman, relasi, dan cara memaknainya.

Sesi ketiga dan keempat mengarahkan refleksi pada praksis hidup. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, mahasiswa mengikuti Peer Walk, sebuah latihan kontemplasi empatik berpasangan. Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, kontemplasi empatik dilakukan dalam kelompok kecil dengan peran bergantian sebagai pencerita dan pendengar. Prinsip we listen, we don’t judge menjadi latihan konkret belas kasih. Di kelas TRM Tingkat III, mahasiswa memetakan perjalanan hidupnya melalui Life Graph dan menemukan kembali jejak Tuhan dalam setiap fase hidup. Refleksi kemudian dirumuskan dalam kaitannya dengan Latihan Rohani 23 dan self-concept (psikologi), dengan menautkannya pada nilai 4C 1L.
Rekoleksi ditutup dengan penulisan jurnal reflektif untuk mengenali gerak batin, mensyukuri pengalaman, menemukan makna, dan merumuskan kehendak ke depan. Proses ini menegaskan bahwa rekoleksi bukan akhir, melainkan awal dari cara hidup reflektif. Melalui rekoleksi ini, Polin ATMI menegaskan kembali misinya untuk mendampingi mahasiswa menjadi manusia yang utuh, reflektif, dan siap diutus. Rekoleksi dipakai sebagai sebuah ruang jeda yang menumbuhkan daya hidup, sejalan dengan semangat cura personalis dan discernment. Ad maiorem Dei gloriam.
