Pilgrims on Christ’s Mission

Indonesia Menyambut Dunia untuk Kongres XI WUJA

Date

Dari Malam Jejaring di Jakarta Menuju Perjumpaan Global Alumni Jesuit di Yogyakarta

Pada 4 Maret 2026, sebuah langkah penting dalam perjalanan menuju Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026 diambil melalui penyelenggaraan Indonesia Jesuit Alumni Networking Dinner & Music Night di Fairmont Jakarta. Malam itu bukan sekadar pertemuan sosial, melainkan sebuah momentum peneguhan bahwa alumni Jesuit Indonesia telah memasuki “Road to WUJA 2026” dengan semangat baru, visi bersama, dan kesadaran akan panggilan yang lebih besar.

 

Kongres WUJA 2026 di Yogyakarta memiliki makna yang istimewa. Selain menandai 70 tahun perjalanan WUJA (World Union of Jesuit Alumni), perhelatan ini juga menjadi kesempatan penting bagi Indonesia untuk kembali menghadirkan Asia sebagai ruang perjumpaan global para alumni Jesuit. Dalam konteks dunia yang ditandai oleh polarisasi, krisis ekologis, ketimpangan sosial, dan tantangan kemanusiaan yang terus berkembang, kongres ini diharapkan menjadi forum refleksi dan aksi bersama yang berakar pada nilai-nilai Ignasian.

 

Dalam malam jejaring tersebut, sejumlah tokoh menyampaikan pandangan yang memperlihatkan arah, harapan, dan tanggung jawab yang menyertai persiapan kongres ini.

 

Hendra Hudiono, Ketua Umum Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit (PAKJ) menegaskan bahwa persiapan menuju WUJA 2026 tidak dapat direduksi hanya pada kebutuhan teknis atau finansial. Menurutnya, yang dibutuhkan bukan semata sponsor, melainkan “partners in civilization,” mitra dalam peradaban yang mau bersama-sama menjawab tantangan global. Gagasan ini menempatkan WUJA bukan hanya sebagai sebuah acara, tetapi sebagai ruang kolaborasi lintas sektor bagi mereka yang dibentuk oleh tradisi pendidikan Jesuit dan dipanggil untuk memberi dampak bagi dunia.

 

Pandangan yang disampaikan oleh Bapak Purnomo Yusgiantoro,
Ketua Dewan Pengawas PAKJ. Foto: Penulis

 

Nada serupa muncul dalam seruan Bapak Purnomo Yusgiantoro, Ketua Dewan Pengawas PAKJ, yang menekankan pentingnya collective ownership dari seluruh institusi Jesuit di Indonesia. Ajakan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan WUJA 2026 bukan hanya tugas panitia, melainkan buah dari keterlibatan bersama seluruh komunitas, alumni, karya-karya pendidikan, Serikat Jesus, dan para mitra yang merasa memiliki misi yang sama. Kongres ini hanya akan menjadi kuat bila dibangun di atas rasa ikut memiliki dan kerelaan untuk mengambil bagian.

 

Dimensi spiritual dan identitas semakin diperdalam oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provincial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, yang kembali menegaskan pentingnya “Ignatian Point of View” sebagai tulang punggung jejaring alumni Jesuit sedunia. Perspektif Ignasian ini relevan bukan hanya sebagai identitas historis, melainkan sebagai cara memandang realitas: dengan kepekaan rohani, keberanian intelektual, dan komitmen pada rekonsiliasi serta keadilan. Dalam terang ini, WUJA menjadi lebih dari forum alumni; ia adalah wadah perutusan bersama yang menghubungkan pengalaman pendidikan Jesuit dengan tantangan dunia kontemporer.

 

Pandangan yang disampaikan oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Foto: Penulis

 

Sementara itu, Elman Sunarlio, Ketua Steering Committee, melihat kongres mendatang sebagai kesempatan bagi dunia untuk menyaksikan multikulturalisme Indonesia dalam praksis. Indonesia, dengan kekayaan suku, budaya, agama, dan tradisinya, memiliki pengalaman hidup bersama dalam keberagaman yang layak dibagikan kepada komunitas global. Yogyakarta sebagai tuan rumah bukan dipilih semata karena nilai sejarah dan budayanya, melainkan juga karena kemampuannya menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat, inklusif, dan sarat makna.

 

Gambaran yang lebih konkret mengenai pengalaman para peserta disampaikan oleh James W. Prakasa, Ketua Organizing Committee. Ia melukiskan WUJA 2026 sebagai sebuah perjalanan lima hari yang tidak hanya berisi konferensi dan diskusi, tetapi juga pengalaman rohani dan budaya. Dari Gereja Ganjuran yang memperlihatkan inkulturasi iman Katolik dalam budaya Jawa, hingga Borobudur dan Prambanan sebagai simbol keluhuran warisan peradaban, para delegasi dunia akan diajak menyelami Indonesia bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai pengalaman. Di sana, percakapan intelektual dan jejaring global diharapkan bertemu dengan keheningan, keindahan, dan refleksi.

 

Ajakan yang penuh daya juga datang dari Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J., anggota Steering Committee yang menyatakan bahwa inilah saatnya alumni Jesuit Indonesia bertransformasi dari “sleeping giant” menjadi “walking giant.” Ungkapan ini mengandung makna yang dalam. Potensi alumni Jesuit Indonesia sesungguhnya sangat besar, tersebar di berbagai bidang seperti pendidikan, pemerintahan, bisnis, pelayanan sosial, budaya, dan Gereja. Namun, potensi itu perlu terus diolah menjadi gerakan bersama yang nyata, terarah, dan berdaya guna. WUJA 2026 menjadi salah satu momentum penting untuk menghidupkan kembali kesadaran akan kekuatan jejaring tersebut.

 

Pada akhirnya, perjalanan menuju Yogyakarta 2026 bertumpu pada semangat yang dapat disebut sebagai semangat Manresa, yaitu semangat refleksi yang melahirkan pertobatan, pembaruan, dan tindakan. Keberhasilan WUJA 2026 akan sangat ditentukan oleh kesediaan banyak pihak untuk terlibat, melalui dukungan, jejaring profesional, kontribusi sumber daya, maupun partisipasi aktif dalam proses persiapan dan pelaksanaannya.

 

Committee Networking Nights. Foto: Penulis

 

Bagi keluarga besar Jesuit dan para alumninya, WUJA 2026 bukan hanya sebuah agenda internasional. Ia adalah kesempatan untuk memperbarui ikatan antara pendidikan Jesuit, panggilan awam, dan tanggung jawab global. Ia adalah undangan untuk menunjukkan bahwa formasi Ignasian tetap relevan dalam membentuk pribadi-pribadi yang siap berdialog, membangun jembatan, dan menghadirkan harapan di tengah dunia yang rapuh.

 

Jalan menuju WUJA 2026 telah dimulai. Dari Jakarta, langkah itu kini mengarah ke Yogyakarta dan dari Yogyakarta, semoga lahir kembali semangat global alumni Jesuit yang semakin bersatu dalam roh, teguh dalam misi, dan siap memimpin dengan tujuan yang lebih luhur.

 

 

 

Kontributor: F.X. Krishna “Macin” Juwono

More
articles