Sedikit Ketersingkapan atas Kompleksitas Papua
Liburan semester teologi tahun pertama ini membawa perutusan yang tak terduga untukku: program Immersion ke luar Pulau Jawa. Karena jumlah skolastik tingkat satu teologi di Kolsani (Kolese St. Ignatius, Yogyakarta) hanya tiga orang, program yang sedianya baru diterapkan pada tahun 2027 ini pun dimajukan sebagai ganti Bulan Imamat. Awalnya, sejujur-jujurnya, ada rasa gentar di hati. Kabar angin tentang Papua yang tidak aman sempat membuatku enggan. Kontras rasanya melihat dua rekanku yang begitu gembira berbelanja perlengkapan tourney untuk masuk ke pedalaman Kalimantan. Alih-alih antusias, aku lebih sering menyendiri, memohon rahmat agar dikaruniai semangat misionaris seperti Fransiskus Xaverius.
Di penghujung tenggat pengumpulan tugas akhir yang kuunggah ke surel dosen, aku akhirnya bisa berserah. Sabtu, 3 Januari 2026, perjalananku dimulai. Rentetan penundaan penerbangan di Yogyakarta dan Makassar seolah menguji kesabaranku. Namun, tempaan probatio sejak masa novisiat membantuku mengubah keluhan menjadi momen eksplorasi: mencicipi Coto Makassar hingga perjumpaan tak terduga dengan Pater Sudriyanto, S.J., dan seorang guru SMA Adhi Luhur di bandara.

Setibanya di Nabire, Gereja kebetulan sedang merayakan Epifani. Momen ini menjadi sangat mengena bagiku. Epifani mengisahkan kedatangan para Majus dari Timur yang mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Namun, esensi terdalam dari perayaan ini adalah sebuah ketersingkapan. Allah yang adalah Sang Raja dan Penguasa semesta ternyata menyingkapkan diri-Nya dengan menjelma menjadi manusia yang rentan.
Di tanah ini, aku pun mengalami ‘epifani’-ku sendiri. Papua yang selama ini hanya berputar di awang-awang kepalaku sebagai konsep wilayah yang jauh dan rawan, seketika tersingkap menjadi sebuah realitas yang begitu manusiawi dan nyata. Ketersingkapan realitas itu diawali oleh hangatnya persaudaraan dalam Serikat Jesus. Aku disambut dan dijemput oleh Pater Purwantoro, S.J., Pater Adi Bangkit, S.J., serta para Jesuit senior di Wisma SJ. Aku juga mengunjungi Paroki Kristus Sahabat Kita dan SMA Adhi Luhur. Menyaksikan karya para Jesuit perintis di tempat ini, aku berkontemplasi betapa gigihnya mereka dalam menanamkan benih iman, harapan, dan kasih.
Perjalanan sesungguhnya berlanjut lewat jalur darat selama delapan jam menuju Waghete di ketinggian 2.000 mdpl dekat Danau Tigi. Aku tidak sendiri menuju Waghete, melainkan ditemani volunteer baru yang bersemangat belajar, seorang umat, dan driver handal dari Toraja. Di pastoran Paroki Yohanes Pemandi, Pater Peter Devantara, S.J., dan dua volunteer menyambut kami. Tugas di Waghete membawaku pada keseharian yang sangat praktis, jauh dari teori ilmu teologi. Di asrama, aku menjadi ‘bapak asrama’.’ Ada sukacita tersendiri saat menemani anak-anak memotong rumput ilalang, hingga mereka dengan bangga menuliskan namaku di buku examen harian mereka.
Tantangan terbesarku adalah mengutak-atik mesin filter air Reverse Osmosis (RO) dan membenahi jalur pipa tandon yang pecah. Ketika air kembali mengalir jernih, sorak gembira anak-anak menjadi penghiburan rohani yang tak ternilai. Allah sungguh tersingkap dalam hal-hal harian yang sederhana.
Selain urusan rumah, aku juga mengajar di SD Stasi Yaba, Yagu, dan Kigou. Berbekal teriakan “Mei Sekolah!” (Ayo Sekolah!), kami mengajak anak-anak belajar calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sederhana. Di bilik kelas inilah aku terbentur pada realitas struktural. Jika para Majus mempersembahkan emas kepada Sang Raja, di sini aku melihat ironi yang menyesakkan: anak-anak Papua ini berdiri di atas tanah yang kaya akan emas, namun mereka berjalan tanpa alas kaki. Absennya tenaga pendidik membuatku sadar bahwa pendidikan di sini bukan tertinggal, melainkan ditinggalkan.

Merujuk pada ulasan “The failure of education in Papua’s highlands” di situs Inside Indonesia, hancurnya sistem pendidikan di pedalaman Papua justru terjadi ketika kebijakan otonomi khusus menyerahkan wewenang kepada pejabat daerah, yang memicu pemekaran wilayah administratif tak terkendali tanpa diimbangi dengan kapasitas manajemen lokal. Akibatnya, sistem sekolah yang dahulunya sempat berjalan baik secara swadaya di bawah naungan gereja dan misionaris perlahan terfragmentasi hingga akhirnya terbengkalai dan ditinggalkan. Meskipun demikian, sebagai sebuah kemungkinan alternatif lain, barangkali pendidikan formal memang belum menjadi prioritas di Papua untuk saat ini.
Dalam situasi yang serba kompleks ini, Gereja Waghete hadir bukan untuk memaksakan perubahan instan atau menggantikan peran guru seutuhnya. Kehadiran ini merupakan wujud nyata Gereja yang menghidupi preferential option for the poor—memihak kepada mereka yang rentan dan dirampas hak-haknya.
Tiga minggu berlalu teramat cepat. Perpisahan diwarnai rasa haru yang mendalam. Di Stasi Meyepa, seorang bapak bahkan memberiku seekor ayam sebagai wujud terima kasih. Aku kembali ke Jawa pada tanggal 28 Januari, tepat ketika Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Thomas Aquinas, pelindung para teolog dan pelajar Katolik. Sebuah penutup yang begitu puitis bagi langkahku berikutnya. Pengalaman immersion di Waghete pada akhirnya bukan sekadar jeda studi, melainkan bentuk latihan berteologi kontekstual secara nyata.
Sumber:
Bobby Anderson. (2013, 29 September). “The failure of education in Papua’s highlands”. dari https://www.insideindonesia.org/archive/articles/the-failure-of-education-in-papua-s-highlands.
Kontributor: Sch. Y.K. Septian Kurniawan, S.J.

