Lomba mural dalam rangka HUT ke-110 Gereja Purbayan menghadirkan wajah baru bagi tembok utara gereja yang sebelumnya kerap dipenuhi coretan vandalisme.
Selama bertahun-tahun, tembok utara Gereja Katolik Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan, menjadi sasaran vandalisme dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Berbagai coretan, tulisan, hingga singkatan yang maknanya tidak jelas kerap menghiasi dinding di tepi jalan tersebut. Kondisi ini menjadi pemandangan yang kurang nyaman bagi masyarakat maupun umat yang beraktivitas di sekitar gereja.
Menariknya, tembok di seberang jalan yang merupakan aset Polisi Militer relatif bersih dari aksi vandalisme. Sementara itu, pihak Gereja Purbayan memilih merespons persoalan tersebut secara damai. Setiap kali tembok dipenuhi coretan, pastor paroki bersama pengurus gereja berinisiatif mengecat ulang dinding tersebut agar kembali bersih dan nyaman dipandang.
Salah satu peristiwa yang masih diingat adalah ketika Pater Teguh, S.J., sedang bersepeda di sekitar gereja dan mendapati seseorang melakukan vandalisme. Pater sempat menegur pelaku dengan bertanya, “Sedang apa kamu?” Namun, teguran tersebut tidak dihiraukan dan pelaku tetap melanjutkan aksinya. Peristiwa itu menjadi gambaran bahwa persoalan vandalisme di tembok utara gereja bukanlah masalah yang mudah diatasi.
Melihat kondisi yang terus berulang dari tahun ke tahun, muncul gagasan untuk mengubah tembok utara gereja menjadi media seni mural. Ide tersebut kemudian diakomodasi oleh Panitia HUT ke-110 Gereja Purbayan yang membentuk tim khusus untuk merancang konsep pemanfaatan tembok sebagai ruang ekspresi seni yang edukatif dan menarik.
Pada akhir Mei 2026, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta datang ke Sekretariat Gereja Purbayan untuk menjelaskan maksud baik mereka dalam penyelenggaraan lomba mural. Gagasan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani. Selanjutnya, panitia yang diwakili oleh Bu Selvy (Ketua Panitia HUT-110 Purbayan) bersama tim mengadakan pertemuan dengan Dinas Pariwisata Kota Surakarta untuk membahas konsep dan teknis pelaksanaan kegiatan.
Dari pertemuan tersebut disepakati bahwa sebagian area tembok akan digunakan sebagai lokasi lomba mural yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta, sementara sebagian lainnya akan dikerjakan oleh Tim HUT ke-110 Gereja Purbayan sesuai dengan rancangan yang telah disusun sebelumnya.
Lomba mural ini mengusung tema “Harmony of Solo” dengan subtema “Loro Blonyo”. Kompetisi dibuka secara gratis bagi masyarakat umum. Para peserta terlebih dahulu mengirimkan desain karya untuk diseleksi. Dari puluhan karya yang masuk, dipilih 10 finalis terbaik yang berhak menuangkan kreativitas mereka secara langsung di tembok utara Gereja Purbayan. Selanjutnya, dewan juri akan menentukan tiga karya terbaik sebagai pemenang.
Pembukaan lomba mural dilaksanakan pada 10 Juni 2026 di halaman Gereja Purbayan. Acara ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, bersama jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta.
Dalam sambutannya, Astrid menyampaikan harapannya agar kegiatan tersebut mampu melahirkan karya-karya yang dapat menjadi ikon visual baru bagi Kota Surakarta.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap lahir karya-karya yang dapat menjadi ikon visual baru, memperkuat citra Kota Surakarta sebagai kota budaya yang ramah, toleran, dan kreatif sekaligus menjadi tujuan wisatawan,” ujar Astrid Widayani.
Kehadiran Pemerintah Kota Surakarta menunjukkan dukungan terhadap pengembangan seni publik sekaligus upaya untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih tertib dan estetis. Astrid juga mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara Pemerintah Kota Surakarta dan Gereja Purbayan. Menurutnya, mural tidak hanya berfungsi memperindah ruang publik, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang keberagaman, kerukunan, dan semangat kebersamaan yang menjadi identitas Kota Surakarta.

Setelah pembukaan, para finalis diberikan waktu selama 2 hari, yaitu pada 10–11 Juni 2026, untuk menyelesaikan karya mereka. Sejak pagi hingga malam hari, para peserta tampak antusias mengerjakan mural yang telah mereka rancang. Dengan penuh ketelitian, mereka menuangkan ide dan kreativitas ke dinding, menghadirkan berbagai visual yang sarat makna dan merepresentasikan semangat tema “Harmony of Solo.”
Setiap karya yang dihasilkan tidak hanya menampilkan keindahan seni, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberagaman budaya, kerukunan antarwarga, serta pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Tembok yang sebelumnya kerap menjadi sasaran vandalisme perlahan berubah menjadi ruang ekspresi yang mempercantik lingkungan sekaligus memberi nilai edukatif bagi masyarakat.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi positif antara Pemerintah Kota Surakarta, Gereja Purbayan, dan para seniman muda. Selain memperindah salah satu sudut Kota Surakarta, lomba mural ini juga menunjukkan bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai media kreatif untuk menyampaikan pesan yang membangun.
Bagi Gereja Purbayan, kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk mengatasi persoalan vandalisme yang selama bertahun-tahun terjadi pada tembok utara gereja. Alih-alih terus-menerus menghapus dan mengecat ulang coretan, tembok tersebut kini memiliki fungsi baru sebagai media seni yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Melalui mural yang indah dan bermakna, tembok utara Gereja Purbayan kini tidak hanya menjadi lebih estetik, tetapi juga simbol kolaborasi, kreativitas, dan semangat menjaga keharmonisan Kota Surakarta.


