Virtual Talk with Julius Kardinal Darmaatmadja: Apa itu Sehat yang Apostolis?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Kesehatan menjadi salah satu isu paling dicari kebanyakan orang saat ini. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab orang di seluruh dunia lebih memperhatikan kesehatan. Dalam kesempatan wawancara virtual bersama tim Komunikator SJ akhir Januari 2021, Bapak Julius Kardinal Darmaatmadja membagikan beberapa tips hidup sehat selama masa pandemi serta pesannya untuk para Nostri dan umat Katolik.

Tips Hidup Sehat ala Kardinal Julius

Menurut Bapak Kardinal, ada tiga tanda-tanda sederhana bahwa kita memiliki hidup yang sehat, yaitu: bisa makan enak, tidur enak, dan badan merasa segar. Tiga tanda tersebut dibuat oleh Bapak Kardinal jika beliau ingin memprediksi bahwa dirinya sehat atau tidak. Dalam kesehariannya, Bapak Kardinal mencoba untuk teratur menjaga waktu istirahatnya dengan tidur pukul 10 malam dan bangun 4 pagi serta siesta pukul 2 sampai 4 sore. Dengan istirahat yang cukup, beliau dapat memelihara kesehatan dengan baik.

Pola makan juga ia usahakan untuk dapat diatur dengan baik. Pada pagi dan siang hari, Bapak Kardinal makan nasi seperti biasa. Sedangkan pada sore hari, beliau membiasakan makan kentang. Beliau juga mulai menghindari makan yang mengandung gluten seperti roti dan gandum karena dapat mempengaruhi kesehatan prostatnya. 

Selain menjaga pola makan dan waktu istirahat, Bapak Kardinal juga rutin memeriksakan kondisi kesehatannya ke dokter setiap 2 bulan sekali. Kebiasaan kontrol kesehatan ini sudah beliau lakukan secara rutin sejak menjadi Provinsial SJ Provindo pada tahun 1981. Beliau merasakan manfaat cek kesehatan ini untuk mengetahui riwayat penyakit yang perlu di antisipasi lebih lanjut seperti kondisi kesehatan retina matanya yang sudah menurun.

Wisma Emmaus bekerja sama dengan Klinik Pramita Salatiga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan  kepada para Jesuit sepuh secara rutin. Mereka mengirimkan perawat untuk mengambil sampel darah semua romo yang ada di Emmaus. Dengan demikian, para romo dapat mengetahui kondisi terbaru kesehatan mereka secara rutin.

Bapak Kardinal juga merasakan bahwa para Romo sepuh sangat dilindungi oleh Serikat melalui komunitas, sehingga Wisma Emmaus dibuat menjadi steril. Setiap orang yang bekerja dan melayani di Emmaus ikut di karantina bersama para para penghuninya. Mereka diminta untuk tinggal selama 2-3 pekan dan tidak diperkenankan pulang ke rumah. “Kami semua yang ada di Emmaus itu sehat. Dengan demikian tidak ada pengaruh Covid-19 meskipun ada juga yang meninggal (Romo Theo Wolf, SJ) karena serangan jantung,” ungkap Bapak Kardinal.

Pengalaman Menghadapi Pandemi

Pada masa kemerdekaan, Bapak Kardinal pernah mengalami wabah pes. Beliau mengatakan pandemi pada zaman tersebut berbeda seperti sekarang. Pandemi yang dialami pada saat itu bisa berlalu dengan cepat. Paling lama 6 bulanan sudah selesai. Namun, pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ternyata masih berlarut-larut dan belum menunjukkan penurunan. Namun, Bapak Kardinal juga melihat pandemi Covid-19 sebagai kesempatan untuk merefleksikan kehidupan kita, terlebih kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup terutama isu pemanasan bumi. Kecuali pandemi Covid-19, Bapak Kardinal merasa ada yang lebih mengancam dan sama kritisnya untuk kita sadari, yaitu pemanasan bumi yang harus diatasi oleh semua bangsa dan umat manusia saat ini.

Bapak Kardinal juga mensyukuri bahwa Gereja Katolik solider dan ikut mempromosikan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah dengan sebaik-baiknya. Gereja-Gereja ditutup dan perayaan
Ekaristi juga dilaksanakan secara daring. “Dengan tidak mengikuti perayaan ekaristi seperti pada biasanya, saya merasakan iman umat tetap terjaga dengan baik. Penghayatan iman mereka lebih personal terhadap pribadi Tuhan Yesus Kristus, meskipun tanpa sarana ekaristi dan lainnya. (Penghayatan iman mereka) dapat berjalan dengan baik, ini suatu keuntungan,” ungkap Bapak Kardinal. 

Beliau tidak mengkhawatirkan apapun bahwa iman umat karena pandemi ini menjadi surut. Bahkan, umat juga bekerjasama dan berkolaborasi membuat usaha-usaha bantuan bagi mereka yang terdampak pandemi. Bapak Kardinal memberi contoh gerakan Caritas Christmas Cross Challenge (4C) yang dilaksanakan Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia (AAJI) bersama LDD KAJ dan KARINA KWI sebagai bentuk solidaritas umat pada mereka yang membutuhkan bantuan di masa pandemi. Gerakan ini menjadi salah satu bukti iman umat terus berkembang dan tidak berhenti pada memikirkan keselamatan diri sendiri.

Pesan untuk Jesuit dan Umat Katolik

Pada akhir wawancara virtual, Bapak Kardinal menyampaikan pesan untuk para Nostri dan umat katolik di luar sana. Kita diminta untuk terus menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya, karena Tuhan masih ingin memakai kita melalui pekerjaan dan kerasulan yang kita jalani saat ini. Menurut Bapak Kardinal, dengan menjaga kesehatan berarti secara tidak langsung kita telah membantu Tuhan agar hasil pekerjaan kita tetap baik dan tidak terganggu. Semoga kita juga dapat terus berusaha untuk menjaga kesehatan di tengah pandemi seperti yang dilakukan oleh Bapak Kardinal dengan istirahat cukup, makan makanan yang bergizi, dan rutin memeriksakan kesehatan ke dokter. (SEP)

Kontributor: Tim Komunikator SJ

Video Wawancara bersama Julius Kardinal Darmaatmadja