Tiga Skolastik Baru Serikat Jesus

IMG_6181

Tepat pada Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis, tiga orang Novis “lahir kembali” dengan mengikrarkan Kaul Pertama dalam Serikat. Mereka adalah fr. Lanang SJ (Agustinus Lanang Panji Cahyo), fr. Klaus SJ (Klaus Heinrich Raditio), dan fr. Pungkas SJ (Leonardo Ardhani Escriva Pamungkas). Misa Kaul Pertama dalam Serikat Jesus yang dirayakan di Kapel St. Ignatius Girisonta ini dihadiri oleh seluruh anggota komunitas Girisonta (Novisiat, Patres, Wisma Emmaus, dan Tersiat). Tepat pukul 11.00 perayaan Ekaristi dimulai dengan diiringi lagu pembukaan “Dengan Gembira” (MB 601). Dengan gembira pula seluruh anggota komunitas mematuhi protokol Covid-19 dengan duduk mengambil jarak di dalam kapel kecil ini.

Ekaristi yang sederhana dan khusyuk ini dipimpin oleh Rm. Markus Yumartana, SJ (Rektor Komunitas Girisonta) sebagai Konselebran Utama, didampingi oleh Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (Magister Novisiat) dan Rm. Yulius Eko Sulistyo, SJ (Socius Novisiat dan Minister Komunitas Girisonta). Homili yang disampaikan oleh Rm. Yumartana dibuka dengan kata-kata Yesus dalam Injil hari ini, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Rm. Yumartana pun melanjutkan dengan sebuah pertanyaan, “Lalu, apa yang menjadi semangat atau dasar St. Ignatius dan para sahabat pertama dalam mengabdi Allah?” Dan jawabannya adalah “Latihan Rohani!” Latihan Rohani yang mempersatukan Ignatius dan para sahabat pertama dalam mengabdi Allah di bawah panji-Nya. Kemudian, Rm. Yumartana menyampaikan tiga tantangan yang dapat dihadapi oleh seseorang dalam mengikuti Yesus, yaitu: (1) narsisme, (2) viktimisme, dan (3) pesimisme. Ketiganya sejalan dengan pesan Paus Fransiskus pada waktu Hari Raya Pentakosta yang lalu. Tiga hal ini yang perlu dihindari, “Jangan-jangan kita tidak mengabdi Allah, justru hanya membawa ‘cermin’ (berpusat pada diri sendiri), melihat diriku sebagai korban dari kesalahan orang lain, dan selalu pesimis tanpa harapan dalam hidup ini.”

Perayaan Ekaristi Kaul Pertama oleh Rm. Markus Yumartana, Rm. Setyadarmono, dan Rm. Eko Sulistyo

Selain itu, fr. Klaus – mewakili para frater yang berkaul – menyampaikan sambutannya di akhir misa. “Masih segar dalam ingatan kami homili Romo Magister saat Misa penutupan Retret Agung tahun 2018 tentang 5 ibu dalam hidup kita: Ibu Maria, Ibu Kandung, Ibu Pertiwi, Ibu Gereja, dan Ibu Serikat. Setelah meninggalkan Girisonta ini, mungkin kami harus menambahkan satu lagi, yaitu: Ibu-Kota. Berbeda dengan 5 Ibu yang disampaikan oleh Romo Magister, Ibu-Kota bukanlah figur yang bersahabat. Orang bilang, ‘Sekejam-kejamnya Ibu Tiri, jauh lebih kejam Ibu-Kota. Maka jelaslah bahwa bagi kami, Jakarta adalah sungguh-sungguh medan perang. […] Ibu Serikat melepas kami berjuang sambil membawakan setumpuk bekal: kasih sayang, perhatian, pengolahan hidup, doa-doa, dan yang terpenting adalah Latihan Rohani dan Konstitusi. Dengan bekal-bekal ini kami akan maju bertempur berdarah-darah di Ibu-Kota.”

Sesudah komuni, lagu Ndherek Dewi Mariyah pun terdengar diiringi oleh iringan musik oleh fr. Dennis untuk mengantar ketiga frater yang berkaul, bersujud dan berdoa di hadapan Patung Bunda Maria di Kapel St. Ignatius ini. Ada yang pernah mengatakan, “Kecantikan dan keanggunan Patung Maria di kapel ini rasanya belum ada yang bisa menandinginya. Sejak saya masuk Novisiat hingga saat ini, tidak pernah berubah.” Maksudnya adalah patung bunda maria ini tidak termakan oleh usia karena sejak dulu hingga sekarang, patung ini selalu saja cantik dan anggun. Di hadapan Bunda Maria inilah, ketiga frater kita ini ikut serta dalam pengabdian pada Ibu Gereja dan Ibu Serikat. Marilah kita doakan perjalanan mereka selanjutnya. Berkah Dalem.     

Nikolas Kristiyanto, SJ

Kaul Pertama Fr. Lanang, SJ, Fr. Pungkas, SJ dan Fr. Klaus, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *