Pilgrims on Christ’s Mission

misionaris Jesuit

Provindo

New Gamaliel Award untuk P James Bharataputra, S.J.

Pada Sabtu, 13 Desember yang lalu, Pater James Bharataputra, S.J. menerima penghargaan sebagai New Gamaliel atas usahanya dalam melayani umat di Indonesia, khususnya dengan membangun Taman Doa Maria Annai Velangkanni di Medan.   Seperti yang sudah dikenal secara luas bahwa taman doa ini menggambarkan kehadiran semua agama di Indonesia yang saling membantu dan menolong. Taman doa ini adalah simbol toleransi. Pater James mengatakan bahwa tujuan ia membangun taman doa ini adalah untuk menarik peziarah dari semua lapisan masyarakat. Ada dua hal beliau lakukan, yaitu membantu peziarah untuk berjumpa dengan Tuhan dan pada saat yang sama, mengingatkan semua peziarah bahwa mereka adalah anak-anak dari satu Tuhan, apa pun keyakinan agama mereka. Hal ini mengajarkan sikap saling menghormati dan mengasihi sebagai saudara laki-laki dan perempuan karena semua manusia adalah anak-anak dari Bapa yang sama di Surga. Pater James ingin mewujudkan doa seorang pemazmur, “Betapa indahnya hidup sebagai saudara laki-laki dan perempuan di rumah Tuhan di bumi!”   Penghargaan kepada Pater James Bharataputra, S.J. sebagai “Gamaliel Tamil Nadu Masa Kini” ini diberikan oleh Asian Centre for Cross Cultural Studies. Upacara pemberian penghargaan ini dilakukan di Basilika Vailankanni, India. Pater James terkejut atas apresiasi yang luar biasa dari Uskup Tanjavur dan juga Kardinal Bo dari Myanmar ini.   Apa sebenarnya maksud dari penghargaan ini? Gamaliel adalah seorang guru atau rabi yang sangat dihormati karena pengetahuan mendalam tentang hukum Taurat dan kebijaksanaannya. Kebijaksanaannya terlihat jelas dalam nasihatnya kepada kelompok Sanhedrin, di mana dia menyarankan untuk tidak menghukum para rasul karena jika pekerjaan mereka berasal dari Tuhan, itu tidak bisa dihalangi. Karena pengetahuan, kebijaksanaan, pengaruh, dan peran pentingnya dalam pendidikan, Gamaliel dianggap sebagai salah satu guru terkemuka dan dihormati dalam sejarah Yahudi dan Kristen. Para panitia Asian Centre for Cross Cultural Studies melihat bahwa apa yang dikerjakan oleh Pater James merupakan karya Tuhan. Ia menyelenggarakan sebuah katekese iman lewat gambaran-gambaran visual yang ada di Taman Doa Maria Velangkani Medan agar setiap orang, terutama umat di Medan, dapat melihat Allah secara lebih konkret secara visual.   Pater James menambahkan bahwa pembangunan taman doa ini berawal dari mimpinya untuk mengajak semua orang bertemu Tuhan. “Saya percaya Tuhan memberi tahu saya perincian tersebut melalui mimpi saya. Kadang-kadang saya terbangun dari mimpi saya dan menuliskan beberapa perincian mimpi saya agar saya tidak lupa. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan pengalaman spiritual yang luar biasa ini, seperti Tuhanlah yang mendiktekan rencana-Nya untuk Taman Doa ini secara terperinci saat saya melanjutkan pembangunannya.”   Baginya, seluruh desain arsitekturnya merupakan hasil dari mimpinya ketika merenungkan misteri Inkarnasi di Minggu Kedua Latihan Rohani. Semua direpresentasikan secara artistik melalui lukisan dan patung bergaya Indo-Saracenic. Taman doa ini menggabungkan sisi kebutuhan dasar manusia yang tergambar dalam ruang bagian bawah. Ruang ibadah dan doa berada di lantai tengah. Bagian tentang misteri ilahi atau surga terletak di atas. Ada tujuh tingkatan yang menggambar-kan tujuh tingkatan surga atau tujuh sakramen. Pater James Bharataputra telah memberikan kontribusinya terhadap keragaman religio-budaya dan pariwisata di Medan karena Tempat Suci ini menarik peziarah dari semua agama. Hidupnya telah menjadi berkat bagi banyak orang.   Mari kita berbahagia atas inspirasi dari mimpi-mimpi Pater James yang luar biasa dan telah diapresiasi oleh banyak orang, terutama para umat katolik di Tamil Nadu, India. Pater Sindhunata juga memberikan apresiasinya yang tertuang dalam buku autobiografi Pater James. Ia menulis: “Keagungan dan keindahan tempat suci ini merupakan perwujudan proses inkulturasi antara tanah kelahirannya, Tamil Nadu, dan tanah Sumatera. Tempat suci ini telah menjadi tempat pertemuan surga dan bumi – tempat yang ilahi dan manusia saling berpelukan – tempat Tuhan ingin bertemu umat-Nya, tanpa memandang ras, kepercayaan, dan bahasa.”   Momen yang luar biasa ini menjadi tanda bagi Pater James untuk kembali ke tanah airnya. Dengan momen ini, ia siap meninggalkan Taman Doa Maria Velangkanni yang mengembangkan iman umat di Indonesia dan siap juga mengakhiri masa misionarisnya di Indonesia. Ia telah menjadi misionaris di Indonesia selama 50 tahun dan telah memberikan banyak kontribusi untuk umat dari berbagai agama di Indonesia. Kini, Taman doa ini dikelola oleh RD Gundo Franci Saragih. Semoga impian Pater James untuk membangun iman umat di tanah Medan tetap lestari bersama RD Gundo.   Terima kasih dan Selamat Pater James atas karya luar biasa dari Allah ini di tanah Indonesia. Selamat kembali menghirup udara segar di Tamil Nadu.   Kontributor: P Ignatius Windar Santoso, S.J.

Obituary

Selamat Jalan P. Karl-Edmund Prier, S.J.

Pater Prier lahir di Weinheim, Jerman, 18 September 1937, dari pasangan suami-istri (Alm) Bapak Georg Prier dan (Alm) Ibu Else Prier. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai dan memiliki pengetahuan luas dalam bidang musik, terutama musik Gereja. Beberapa hari setelah kelahirannya, ia dibaptis di Paroki Weinhem, tepatnya pada 27 September 1937. Ia menghabiskan masa kecil dan mudanya di tanah kelahirannya bersama ayah yang berprofesi sebagai pedagang dan ibunya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pendidikan dasar ia selesaikan di Weinheim (1943- 1948) dan pendidikan menengah ia tempuh di sebuah gimnasium di Viernheim, Jerman (1948-1957). Masuk Serikat Jesus di Neuhausen, Jerman pada 26 April 1957, Frater Prier mengucapkan kaul pertama dalam Serikat Jesus pada 27 April 1959 di novisiat tempat ia masuk. Setelah itu, oleh pembesarnya ia diutus untuk menempuh formasi filsafat di Neuhausen (1959-1962). Kemudian ia berkarya sebagai guru musik di Feldkirch (1962- 1963) sebagai bagian dari tahun pertama Tahap Orientasi Kerasulan (TOK). Selesai TOK tahun pertama di Jerman, ia diutus sebagai misionaris ke Indonesia. Untuk semakin mematangkan orientasi karya di Indonesia, Frater Prier belajar Bahasa Indonesia di Girisonta, Wonosari, dan Semarang selama setahun dan kemudian berkarya sebagai Asisten Pamong Kolese de Britto, Yogyakarta (1965-1966). Seusai menjalani TOK, Frater Prier diutus untuk menjalani formasi teologi di Yogyakarta (1967-1970). Tahbisan diakon ia terima pada 2 September 1969 di Yogyakarta dari tangan Justinus Kardinal Darmoyuwono. Tahbisan sebagai imam ia terima pada 18 Desember 1969 di Yogyakarta, juga dari tangan Kardinal Darmoyuwono. Lima tahun kemudian, Pater Prier menjalani program formasi tersiat di Girisonta selama 10 bulan (31 Januari – 31 Oktober 1974) di bawah bimbingan P A. Soenarja, S.J. Dan pada 2 Januari 1975, ia mengucapkan kaul akhir di Yogyakarta dan diterima oleh Pater A. Setyakarjana, S.J. dengan gradus profes empat kaul. Pater Prier sangat mencintai musik. Oleh karena itu oleh Serikat, ia diberi kepercayaan untuk menggarap banyak lagu inkulturasi untuk nyanyian Gereja. Salah satu karya monumentalnya bersama beberapa musisi Gereja Indonesia adalah Madah Bakti yang diterbitkan oleh Pusat Musik Liturgi (PML). Sebagai seorang imam yang berkecimpung dalam musik Gereja, selain mengerjakan komposisi musik, Pater Prier juga telah menulis beberapa buku dan bermacam artikel mengenai musik liturgi di majalah Umat Baru. Buku yang telah ditulisnya antara lain Sejarah Musik jilid I-III (1991), Menjadi Dirigen (1975), dan Ilmu Harmoni (1973). Selain menulis, ia juga bergiat di kelompok paduan suara Vocalista Sonora berama Paul Widyawan, mengadakan berbagai lokakarya komposisi musik Gereja, memberi pelatihan-pelatihan, dan aneka kegiatan lainnya. Riwayat Tugas Pater Karl-Edmund Prier, S.J. Direktur Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta 1971-2023 Dosen Liturgi IPPAK Sanata Dharma Yogyakarta 1971-2016 Dosen Musik ISI Yogyakarta 1971-2004 Dosen Musik Gereja FTW Yogyakarta 1971-2013 Konsultor Rumah SJ, Bener Yogyakarta 1985-2024 Ekonom Rumah SJ, Bener Yogyakarta 2007-2022 Bagi Pater Prier, iman itu hidup dalam keragaman budaya-budaya yang ada termasuk di Indonesia. Upaya inkulturasi musik liturgi yang dilakukannya ialah untuk memperkaya penghayatan iman di dalam Gereja. Dan dalam menghayati imannya sebagai imam dalam Serikat Jesus, Pater Prier rela berhadapan dengan maut ketika seorang tidak dikenal menyerangnya saat merayakan Ekaristi di Gereja St. Lidwina, Kali Bedong, Yogyakarta pada 11 Februari 2018. Sebagai gembala, ia tetap memimpin perayaan ekaristi dan tidak lari meninggalkan umat yang dilayaninya. Tiba bulan belakangan kondisi kesehatannya tidak stabil. Beberapa kali ia masuk dan keluar RS Panti Rapih untuk perawatan. Sabtu 20 Januari 2024 pagi, Pater Prier kembali harus dibawa ke RS Panti Rapih. Sejak saat itu, kondisinya memburuk dan akhirnya menghadap Bapa di surga. Ekaristi dan Pemakaman Perayaan Ekaristi penghormatan diadakan Hari : Minggu, 21 Januari 2024 Waktu : 18,00 WIB Tempat : Kapel STKat – Yogyakarta Perayaan Ekaristi Requiem diadakan Hari : Senin, 22 Januari 2024 Waktu : 10.00 WIB Tempat : Kapel STKat – Yogyakarta Setelah Misa Requiem, jenazah akan diberangkat untuk pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Kab. Semarang.

Feature

Antara Kesetiaan dan Harapan

Menemani Orang Muda Thailand Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan para misionaris Indonesia yang berkarya di Thailand. Regio Dependen Thailand merupakan bagian dari Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Dua nostri Indonesia yang pertama kali dikirim ke Thailand yaitu Pater Macarius Maharsono Probho, S.J. dan seorang skolastik lain ketika mereka masih dalam formasi TOK (Tahap Orientasi Kerasulan) pada tahun 1985. Hal ini dilakukan karena jumlah SDM di Thailand masih sedikit. Ada dua nostri Indonesia yang hingga saat ini masih berkarya di Thailand, yaitu Pater Beda Yassao, S.J. dan Pater Yohanes Sigit Setyo Wibowo, S.J. Pater Beda Yassao, S.J. atau biasa dipanggil Pater Beda sudah berkarya sejak tahun 2000 dan saat ini tinggal di The Seven Fountains Retreat House, Chiang Mai sebagai pembimbing retret. Sebelumnya, selama sembilan tahun Pater Beda bertugas sebagai Pastor Mahasiswa dan Pastor Pembantu sebuah paroki di Provinsi Chon Buri, Thailand. Pater Yohanes Sigit Setyo Wibowo, S.J. atau biasa dipanggil Pater Bowo, sudah berkarya di Thailand semenjak ia masih sebagai skolastik/frater TOK (Tahap Orientasi Kerasulan) tahun 2007 hingga sekarang sebagai Socius Regional Superior Thailand. Saat ini ia tinggal di Xavier Hall Jesuit Residence. Ia juga bertugas sebagai Direktur Christian Ministry, Jesuit Social Services (JESS), dan anggota tim Safeguarding sambil menyelesaikan studi doktoral bidang Filsafat dan Agama di Assumption University, Bangkok. Umat Katolik di Thailand merupakan minoritas. Hanya terdapat kurang lebih 300.000 orang dari 75 juta penduduk dan dengan jumlah stagnan. Mengapa demikian? Penduduk di sana masih menganggap agama Katolik sebagai ibu tiri karena berasal dari penjajah Eropa dan agama Buddha merupakan agama ibu. Selain itu, ada tradisi di sana bahwa jika kakek atau nenek meninggal maka cucu laki-lakinya diminta menjadi biksu sementara selama 3-4 hari. Apabila cucu laki-lakinya sudah dibaptis maka tidak bisa lagi melakukan tradisi ini. Dengan kata lain, menjadi katolik memerlukan keberanian untuk “keluar” dari tradisi yang ada. Pendidikan atau sekolah Katolik di Thailand begitu diakui dan terkenal, bahkan sering menjadi incaran untuk mengenyam pendidikan yang baik. Pater Beda dan Pater Bowo mendampingi para mahasiswa Katolik yang tersebar di 150 kampus Thailand. Ternyata mendampingi mahasiswa Katolik di sana bukan hal yang mudah karena biasanya mereka sudah merasa jenuh dengan kegiatan keagamaan yang sedari SMP/SMA Katolik diwajibkan. Pater Beda dan Pater Bowo pun memahami bagaimana kondisi mahasiswa yang sudah jenuh oleh beragam kegiatan Katolik dan diperlukan usaha lebih untuk menarik minat para mahasiswa. Pantang menyerah. Kegiatan-kegiatan yang tidak melulu liturgis namun juga sosial (work camp, live in) dan spiritualitas terus diusahakan. Uniknya, tidak hanya mahasiswa Katolik, namun juga para mahasiswa beragama Buddha dan Islam yang tertarik dengan aneka kegiatan yang diadakan dalam perkumpulan mahasiswa Katolik ini. Karakter orang muda di Thailand sangat berbeda dengan di Indonesia. Para mahasiswa Thailand sangat bergantung dengan orang yang mereka kenal. Ketika ada kegiatan, biasanya mereka bukan tertarik karena kegiatannya itu sendiri namun lebih kepada siapa saja teman-teman yang ikut bergabung. Oleh karena itu, pendekatan personal dan relasi (jejaring) menjadi kunci untuk menarik mereka mengikuti kegiatan-kegiatan ini. Selain itu, jaringan para pastor paroki juga menjadi kunci karena para mahasiswa ini juga masih menjadi bagian dari orang muda katolik di paroki tertentu. Di balik semua tantangan yang dihadapi, Pater Beda merasa senang bisa menemani para mahasiswa karena dapat memotivasi dan melibatkan mereka dalam proses pendampingan. Para mahasiswa diajak untuk memikirkan pengalaman apa yang sebenarnya mereka butuhkan, salah satunya ketika akan live in. Mereka memilih, yang merupakan ide mereka sendiri, untuk melakukan live in di tempat yang minim listrik dan sinyal. Pater Beda memberikan ruang kebebasan untuk berekspresi dan mengungkapkan ide sambil mengajak mereka mempertanggungjawabkan pilihan yang telah ditetapkan. Hal yang kurang lebih sama diungkapkan oleh Pater Bowo ketika menemani orang muda. Bekerja dengan orang muda membuatnya semakin aktif dan kreatif dalam memenuhi apa yang mereka inginkan walaupun butuh tenaga ekstra. Para mahasiswa diajak untuk mengalami perjumpaan dengan orang miskin, misalnya melalui work camp. Kegiatan ini dilaksanakan di pedesaan. Setiap mahasiswa diajak untuk membantu masyarakat di desa itu, misalnya dengan memperbaiki rumah penduduk atau bekerja di ladang. Pengalaman perjumpaan ini penting agar mereka bisa lebih memahami tujuan menjadi men or women for others. Di Thailand saat ini banyak orang muda yang mengalami depresi karena berbagai faktor. Banyak mahasiswa bunuh diri dan dosen mengalami depresi. Pendampingan mahasiswa dengan aneka kegiatan yang diselenggarakan ini adalah upaya untuk menemani mereka dalam masa kering atau desolasi. Bagi Pater Beda dan Pater Bowo, menemani orang muda adalah menemani mereka yang bersemangat muda untuk mampu menentukan identitas dirinya sendiri sehingga kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan kreativitasnya dan mampu menjadi men or women for others. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator

Provindo

Iman yang Tumbuh dan Berkembang di Timor

Dalam perjalanan dari Kupang menuju Atapupu, saya berjumpa dengan alam Nusa Tenggara Timur yang sarat dengan teriknya sinar matahari, tanah gersang, sungai kering, pohon meranggas, bukit terjal dan berbatu. Siang terasa begitu panas tetapi malam bisa dingin sekali. Mungkin saja banyak misionaris 140 tahun yang lalu sakit atau meninggal karena kondisi iklim yang ekstrem dan tidak menentu di sana. Kedatangan saya dan Pater Bambang Sipayung, S.J. ke Atapupu untuk memenuhi undangan dari Pastor Paroki Atapupu, Pater Gorys Sainudin Dudy, Pr. Pada kesempatan ini Paroki Maris Stella Atapupu akan memberkati makam dua misionaris Jesuit yang pernah bertugas di stasi Atapupu dan merayakan 140 tahun berdirinya stasi Atapupu. Pater Jacobus Kraayvanger, S.J. dan Pater Augustinus de Kuijper, S.J. adalah dua misionaris Belanda yang dimakamkan di sana. Sebelum ke Atapupu, Pater Jacobus Kraayvanger, S.J. bertugas di Larantuka. Beliau paling setia mengunjungi umat-umat yang ada di daerah Timor sejak tahun 1879. Terkadang, dalam perjalanannya ke Timor, beliau menghadapi angin topan dan angin badai yang ganas. Pater Kraayvanger, S.J. inilah yang meneruskan Pater Dyckman, S.J. dalam mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk memulai stasi baru di Atapupu. Setiap kali melakukan kunjungan, beliau menuliskan surat mengenai kondisi di Atapupu serta meminta ijin untuk membuka stasi ke Uskup Jakarta. Dalam salah satu suratnya kepada Uskup Jakarta pada tanggal 29 Januari 1883, ia mengungkapkan, “Biarpun perut saya masih tetap bengkak dan penyakit liver saya belum sembuh betul, saya merasa sudah agak baik. Saya tidak berkeberatan untuk memulai karya misi di stasi baru, di Atapupu itu. Malah saya rindu untuk kembali ke sana. Untuk memulai karya misi di Timor, saya terpaksa mengorbankan gaji saya. Itu tidak menjadi soal. Semuanya ini saya serahkan kepada Tuhan.” Gubernur Batavia saat itu akhirnya menyetujui didirikannya stasi di Atapupu untuk melayani umat yang ada di Timor terutama di wilayah Jenilu dan Fialaran (Lahurus). Persetujuan pendirian diberikan per 1 Agustus 1883. Pater Kraayvanger, S.J. bersama Br Vermeulen, S.J. memulai misi di Timor dengan membeli sebuah rumah dari orang Tionghoa yang digunakan sebagai kapel dan juga rumah pastoran. Kemudian Br Vermeulen, S.J. mulai membongkar rumah yang dibeli untuk dibangun menjadi gereja. Pater Kraayvanger, S.J. menjadi pastor stasi pertama dan pelopor misi Timor. Akhir tahun 1886, datang Pater Augustinus de Kuijper, S.J. sebagai pastor pembantu paroki Atapupu. Kehadiran Pater Kuijper, S.J. memperingan tugas-tugas Pater Kraayvanger, S.J., terlebih ketika penyakit yang dideritanya kambuh. Beliau dikenal sebagai “baja” karena kesehatannya yang sangat baik. Akan tetapi, setelah mengunjungi Lahurus pada tahun 1888, Pater Kuijper, S.J. jatuh sakit cukup parah. Tak lama setelah itu beliau meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di dekat situ yang kemudian dikenal sebagai bukit Kalvari. Beberapa imam baru pun datang untuk membantu, yaitu Pater Willem Vogel, S.J. dan Hendrik Jansen, S.J. Setelah kepergian Pater Kuijper, S.J. kesehatan Pater Kraayvanger mulai memburuk dan beliau meninggal pada 6 Februari 1889, sebulan setelah diresmikannya gedung gereja stasi Atapupu yang baru. Beliau dimakamkan tepat di sebelah makam Pater Kuijper, S.J. Gedung gereja Atapupu sempat pindah tempat beberapa kali karena kondisi iklim yang tidak bersahabat, yaitu di Ularo lalu kembali lagi ke Atapupu. Para misionaris yang datang dan bertugas di sana pun banyak yang akhirnya kembali ke Jawa untuk pemulihan kesehatan karena sakit akibat iklim dan penyakit malaria yang ganas. Kurangnya tenaga, iklim yang tidak menentu, dan umat yang semakin banyak, membuat Serikat Jesus memutuskan untuk menyerahkan misi Timor ini ke Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1913. Selama 30 tahun Jesuit melayani di Timor sampai saat diserahkan kepada tarekat SVD, umat berkembang menjadi 2500 jiwa. Di Atapupu kami juga bertemu dengan Suku Bunda’o, salah satu suku asli Nusa Tenggara Timur yang tinggal di kawasan Atapupu. Suku inilah yang menerima para misionaris ketika mereka datang dari laut pada waktu itu. Leluhur suku ini berjanji bahwa suatu saat akan membangunkan rumah untuk makam misionaris. Kondisi makam yang sebelumnya dengan salib kayunya yang mulai keropos, cukup memprihatinkan dibandingkan dengan makam-makan di sekelilingnya. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menepati janji ini. Berbagai pergulatan pun mereka hadapi dari desain bangunan yang sulit, dana, dan SDM-nya. Hingga akhirnya tahun ini mereka bisa membangun rumah untuk makam misionaris ini dari hasil swadaya anak suku Bunda’o. Kerinduan yang begitu besar untuk memahami warisan leluhurnya tentang para misionaris ini, juga bisa dirasakan ketika bertemu dengan mereka. Mereka sangat ingin melihat foto kedua misionaris ini. Mereka mencari foto kedua misionaris ini selama bertahun-tahun dan akhirnya mendapatkannya setelah menghubungi media sosial Jesuit Indonesia. Begitu bahagianya mereka bisa mendapatkan foto itu sehingga kedua wajah missionaris tersebut bisa langsung dilukiskan di rumah itu. Mereka juga sangat merindukan kehadiran perwakilan Jesuit ke Atapupu. Mereka juga bercerita bahwa mereka ingin sekali ada Jesuit yang datang ke sana ketika ulang tahun yang ke 100. Setelah 40 tahun berselang, akhirnya ada Jesuit yang datang kemari untuk menengok makam leluhurnya. Salah seorang umat berkata, “Terima kasih Pater, dari Jesuit kami mengenal Yesus”. Ketika mendengar hal ini saya langsung terdiam dan terharu. Terasa sekali bagaimana rindunya mereka akan kehadiran Jesuit di tanah Timor ini. Pada 31 Juli 2023, Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J. bersama dengan Romo Yosef Tae Bria, Pr memberkati makam misionaris ini. Hari itu bertepatan dengan pesta Santo Ignatius Loyola dan datangnya Pater Kraayvanger, S.J. atau sehari sebelum misi Timor dimulai. Sehari setelahnya umat merayakan 140 tahun Stasi Atapupu dan pusat misi Timor. Perayaan ini diselenggarakan secara konselebran di Gereja Stella Maris, Atapupu dan dipimpin oleh Mgr Dominikus Saku, Pr, Uskup Keuskupan Atambua, Pater Gorys Sainudin Dudy, Pr, pastor Paroki Stella Maris Atapupu, Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J. sebagai perwakilan Provindo serta beberapa romo lain yang pernah berkarya atau berasal dari Atapupu. Dalam kotbahnya Mgr. Dominikus Saku, Pr mengatakan bahwa Pater Kraayvanger dan Kuijper melalui banyak sekali tantangan selama menjalankan misi mereka di sini. Kecewa, gagal, senang, sedih, marah dilalui namun mereka tidak menyerah. Mereka tetap setia. Kesetiaan mereka ini berasal dari cinta mereka untuk umat Atapupu. Pater Kraayvanger, S.J. dan Pater Kuijper, S.J. sungguh dicintai oleh umatnya karena mereka melihat bahwa kedua Pater ini sangat mencintai mereka. Cinta yang mereka tanamkan di Timor menumbuhkan iman yang semakin berkembang dan tumbuh. Setelah 140 tahun berlalu