Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Sosial

Realino SPM

Menjadi Sahabat: Pendengar dan Utusan Kasih

Saya dan teman seangkatan memilih pengabdian sosial (pengabsos) di Yayasan Realino, pendampingan anak-anak Komunitas Belajar Realino (KBR) Bongsuwung dan Jombor. Pengalaman sebagai volunteer di Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (Realino SPM) membawa saya pada refleksi mendalam tentang hidup. Sebagai volunteer, saya tidak hanya bertindak sebagai pendidik, tetapi juga teman, pendengar, dan pemberi kasih tulus. Pengalaman ini mengingatkan saya pada semangat dan dedikasi pendiri kongregasi saya, Pater Leo John Dehon. Dia memperjuangkan kehidupan kaum buruh dan orang miskin. Pater Dehon merupakan teladan bagi kami, para Dehonian dalam memperhatikan dan menyelesaikan masalah sosial. Saya berusaha meneladan semangatnya, terutama dalam mengabdi masyarakat dan Gereja.   Mengajar anak-anak di KBR Bongsuwung dan Jombor bukanlah tugas mudah. Di tengah keceriaan dan semangat mereka, saya sering menemukan tantangan. Banyak anak-anak terpengaruh budaya toxic yang menjauhkan mereka dari nilai kesopanan dan penghormatan pada sesama. Saya menyaksikan antara mereka berperilaku kurang sopan, kadang-kadang dengan kata-kata menyakitkan. Di sisi lain, ada pula kebahagiaan selama pengabsos. Saya bangga dan bahagia bisa berbagi, mendapat pengalaman baru, menjalin relasi dengan sesama volunteer dan anak-anak KBR. Kerja sama mengajar dan mendampingi anak-anak menyatukan komunitas volunteer dan membangun solidaritas satu sama lain. Kami saling mendukung untuk terus berkomitmen memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Momen-momen lucu penuh tawa bersama menciptakan kenangan tak terlupakan. Saya merasa terhormat jadi bagian hidup mereka.   Anak-anak KBR Bongsuwung dan Jombor sangat aktif dan periang. Mereka punya semangat luar biasa dan imajinasi tak terbatas ketika saya mengajak membuat handycraft bahan-bahan alam, seperti terrascape tumbuhan hidup atau kapal pesiar daun pisang kering (klaras). Mereka antusias mengerjakan dan memberikan ide-ide kreatif. Saya menyadari mereka membutuhkan bimbingan, perhatian, dan kasih sayang. Banyak dari mereka kurang diperhatikan orang tua yang mungkin terjebak kesibukan tuntutan hidup harian. Saya terpanggil memberikan dukungan sebagai sahabat. Saya belajar jadi pendengar, memberikan perhatian penuh saat mereka berbicara, menciptakan lingkungan aman tempat mereka merasa diterima, dihargai dan dicintai.   Sebagai mahasiswa Teologi, saya belajar bahwa Teologi pun bersuara tentang bagaimana saya menciptakan dampak positif di masyarakat, khususnya bagi yang terpinggirkan. KBR Bongsuwung dan Jombor jadi ruang penghayatan nilai-nilai teologis dan manusiawi, aneka pengalaman perjumpaan kesedihan dan kebahagiaan yang kerap berjalan beriringan. Ada masa saya merasa sedih dan lelah karena terik panas dan habis energi. Namun, ada saat pula ketika saya merasa terinspirasi semangat anak-anak. Saya mensyukuri setiap pengalaman, suka maupun duka. Saya berkomitmen terus berjuang menghargai setiap pribadi dan perhatian pada mereka yang kecil. Sebagai frater SCJ, lewat semangat Pater Dehon, saya berniat memperjuangkan kehidupan lebih baik bagi mereka yang terpinggirkan dan memberikan suara kepada mereka yang tidak terdengar. Saya belajar tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga sahabat yang dapat dipercaya.    Pengalaman menjadi volunteer di Realino SPM telah menjadikan saya lebih peka pada kebutuhan sosial di sekitar saya. Saya lebih sadar akan berbagai isu yang dihadapi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Ini mendorong saya berpikir lebih kritis bagaimana saya bisa berkontribusi menciptakan perubahan positif. Saya berefleksi bahwa pengalaman ini bukan hanya tentang memberikan, melainkan juga tentang menerima. Setiap interaksi dengan anak-anak dan relasi sesama volunteer telah memberikan pelajaran berharga tentang kebersamaan, kasih, dan harapan. Saya belajar lebih bersyukur atas setiap momen saya jalani. Pun saya menyadari bahwa setiap usaha kecil saya lakukan bisa berdampak besar bagi hidup sesama. Dengan semangat kasih, saya siap menjadi utusan kasih di tengah masyarakat dan Gereja. Setiap hari adalah kesempatan menciptakan perubahan berarti dalam hidup pribadi yang kita jumpai, terlebih mereka yang terpinggirkan.   Kontributor: Fr Faustinus Trias Windu Aji, SCJ – Volunteer Realino SPM

Realino SPM

Hadir dan Berbagi Kasih-Nya

Dalam tradisi iman Kristiani, pengabdian sosial bukan hanya sebuah tugas atau kewajiban moral, melainkan bentuk perwujudan nyata kasih Allah kepada sesama. Yesus Kristus sendiri memberikan teladan dalam pelayanan-Nya kepada mereka yang lemah, tersisih, dan termarjinalkan. Setiap kali saya berinteraksi dengan anak-anak dampingan, saya diingatkan akan panggilan saya sebagai umat beriman. Pun saya diingatkan sebagai seorang suster CB yang digerakkan oleh kasih tanpa syarat Yesus Yang Tersalib. Dia memberikan teladan untuk melayani mereka yang berkesusahan dengan kerendahan hati. Ini tercermin dalam sabda Yesus: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).   Tentu dalam proses berdinamika di Komunitas Belajar Realino (KBR), saya juga mengalami tantangan. Salah satunya adalah ketika saya harus berhadapan dengan anak-anak yang dalam konteks tertentu ‘haus perhatian.’ Bisa jadi mereka kurang mendapat pendidikan atau perhatian dari orang tua. Hal ini sungguh menguras tidak hanya tenaga tetapi juga perasaan. Meskipun demikian, tantangan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menghayati kesabaran, keterbukaan hati, dan pengertian.    Tuhan sendiri hadir dalam kerapuhan anak-anak ini. Mereka mengajarkan kepada saya tentang makna pelayanan tanpa syarat, sebagaimana Allah melayani dan mencintai saya secara total, tak bersyarat. Tuhan tidak pernah  memandang kelemahan saya dalam hal mencintai. Karena itu, atas dasar cinta Tuhan ini saya dimampukan memberi hati dengan penuh dalam pelayanan di Komunitas Belajar Realino di Bongsuwung dan Jombor.   Hal menarik lain adalah ketika saya melihat anak-anak mengembangkan potensi mereka dan mengekspresikan kreativitas dalam hasil karya yang mereka bawa pulang. Saya menyadari betapa penting kehadiran dan pendampingan ini bagi mereka. Setiap pertemuan dan interaksi bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan dengan wajah-wajah Allah yang hidup dalam diri setiap anak. Dalam mereka, saya belajar bahwa pengabdian sosial ini adalah bentuk persekutuan dengan Tuhan. Dia memanggil saya untuk hadir dan berbagi kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan ini.   Lewat refleksi ini, saya semakin menyadari bahwa tugas saya sebagai umat beriman bukan hanya melayani, melainkan juga memberikan diri, pikiran dan hati untuk belajar dari mereka yang saya layani. Allah bekerja dan hadir melalui setiap pengalaman. Dia memberikan saya kesempatan untuk mengasihi dan bertumbuh dalam iman melalui tindakan konkret pengabdian sosial ini. Saya merefleksikan dan memahami bahwa kegiatan pengabdian sosial ini menjadi sebuah jalan menuju transformasi pribadi dan spiritual. Dalam pengalaman ini saya merasa semakin dipersatukan dengan misi kasih Allah bagi dunia.   Kontributor: Sr. Rafaela, CB – Volunteer Realino SPM

Feature

Dalam Bayang-Bayang Gempa: Mengabdi, Menginspirasi, dan Membangun Kesiapsiagaan

Semburat matahari pagi lengkap ditambah raut antusias dan senyum cerah anak-anak Pingit. Momen itu seolah menjadi sambutan hangat kala kami menginjakkan kaki di Perkampungan Sosial Pingit (PSP). Di tengah kebisingan kendaraan, kami merasakan energi positif menyelimuti mereka. Raut penasaran dan tatapan mereka mewarnai kegiatan pagi itu. Kami merasakan keingintahuan anak—anak akan hal baru, tentang apa yang akan mereka dapatkan. Mengabdi dan berbagi di Kampung Pingit pada 29 September 2024 adalah perjalanan bermakna yang tak terlupakan. Kegiatan sosial mengajar ini dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi (HMSaIG). Ini merupakan bagian program kerja Departemen Sosial Masyarakat, hasil kolaborasi dengan Realino SPM. Tema yang diangkat “Kenali Gempa: Tetap Tenang dan Siap Siaga.” Bahasan ini ingin memberikan edukasi penting tentang mitigasi bencana gempa bumi kepada masyarakat, khususnya anak-anak di daerah Yogyakarta yang memiliki risiko gempa bumi.   Seiring kami memulai sesi pertama, rasa cemas yang sempat menghinggapi digantikan kegembiraan. Dalam sesi belajar, kami bukan hanya mengajarkan teori-teori dasar gempa bumi dan langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak paham akan apa yang sedang terjadi di bumi ini ketika gempa berlangsung. Simulasi dilakukan untuk mengetahui dan memperdalam pengetahuan mereka bahwa gempa bumi dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya pergerakan lempeng tektonik. Melalui video dan alat peraga simulasi gempa bumi yang menarik dan edukatif, materi disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Setiap sesi pun menjadi interaktif dan bermakna. Anak-anak juga diajak untuk mencoba menggerakkan alat peraga supaya merasakan dampak yang gempa bumi. Selain menyampaikan materi, kami mengadakan games, kuis sederhana, dan makan bersama sebagai jembatan membangun kedekatan dengan anak-anak Pingit. Setiap tawa dan tanya yang terlontar dari anak-anak menyalakan semangat kami untuk berbagi. Kegiatan ini mengingatkan kami pada ungkapan Mahatma Gandhi, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Ungkapan tersebut menekankan pentingnya mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kepentingan pribadi. Melalui tindakan pelayanan, kami tidak hanya membantu orang lain melainkan juga menemukan tujuan dan identitas kami sendiri. Sebagai fasilitator, kami datang dengan niat berbagi ilmu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kami belajar banyak dari anak-anak Pingit, tentang ketekunan, semangat belajar, dan kemampuan beradaptasi di tengah keterbatasan. Mereka mengajarkan bahwa harapan tetap tumbuh meskipun dalam kondisi sulit, dan pendidikan adalah jembatan menuju masa depan lebih baik.   Dalam interaksi dengan masyarakat Pingit, dirasakan bahwa kehadiran kami sebagai mahasiswa bukan sekadar membawa materi akademik, tetapi juga membawa harapan baru. Anak-anak di sini, dengan keterbatasan mereka, menunjukkan rasa ingin tahu sangat besar. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menghadapi gempa, melainkan juga belajar bahwa di luar sana ada banyak kesempatan bisa mereka raih lewat pendidikan. Selain memberikan edukasi gempa, kegiatan ini menjadi kesempatan mendekatkan diri dengan Volunteer Komunitas Belajar Pingit. Kami berbagi cerita, mendengarkan aspirasi, dan memahami permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Hal ini memperkuat kesadaran kami akan pentingnya kepedulian sosial dan solidaritas. Pengabdian ini mengajarkan perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti kata Malala Yousafzai bahwa “One child, one teacher, one pen, and one book can change the world.” Setiap usaha kami meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana dapat berdampak besar pada keselamatan mereka di masa depan. Kampung Pingit mengajarkan kami bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang bisa kami berikan, tetapi juga tentang bagaimana kami menerima. Setiap tindakan kecil dengan ketulusan akan memberi dampak lebih besar daripada yang kami bayangkan. Kami belajar bahwa melayani adalah sebuah panggilan, yang ketika dijalankan dengan sepenuh hati, akan membawa kebahagiaan mendalam baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Kampung Pingit akan selalu menjadi tempat kami menemukan makna pada setiap langkah pelayanan.   Kontributor: Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi – Universitas Gajah Mada

Feature

Kebersamaan Dalam Keceriaan

Refleksi HUT ke-58 Perkampungan Sosial Pingit Pada 19-26 Oktober 2024, Perkampungan Sosial Pingit (PSP) mengadakan rangkaian kegiatan untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-58 Pingit. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Kebersamaan dalam Keceriaan.” Para pengurus dan volunteer Pingit merefleksikan sukacita yang dialami selama mengadakan kegiatan belajar dan mengajar di PSP. Semangat tema tersebut dituangkan dalam tiga kegiatan utama: (1) cek kesehatan gratis; (2) perlombaan rakyat; dan (3) malam tirakatan.   Cek Kesehatan Gratis Pada Sabtu, 19 Oktober2024, para volunteer bekerja sama dengan Klinik Pratama Realino menyelenggarakan cek kesehatan gratis bagi lansia dan warga di sekitar Pingit. Layanan kesehatan yang diberikan mencakup pemeriksaan asam urat, gula darah, kolesterol, serta tekanan darah. Pemeriksaan dilanjutkan dengan konsultasi personal oleh para dokter Klinik Pratama Realino. Setelah pemeriksaan, resep yang didapatkan dari dokter dapat ditukarkan dengan obat-obatan yang sudah disediakan.   Antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan ini menunjukkan tingginya kebutuhan akan kesehatan diri. Acara ini menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap masyarakat jangan hanya terfokus pada usia produktif, melainkan juga pada warga lansia yang kerap terabaikan. Seperti yang tercermin dalam doa penutup acara, “[…] melayani mereka, lansia di sekitar kita, yang jarang diperhatikan oleh masyarakat,” acara ini membawa pesan tentang pentingnya memperhatikan kesejahteraan lansia sebagai bagian penting dari masyarakat.     Perlombaan Rakyat Selain cek kesehatan gratis, HUT ke-58 Pingit juga dimeriahkan dengan perlombaan rakyat untuk anak-anak para warga pada Minggu, 20 Oktober 2024. Acara sempat tertunda karena hujan. Syukurlah Semangat semua yang hadir tidak pudar begitu saja. Setelah cuaca agak terang, para volunteer segera mempersiapkan sejumlah perlombaan sesuai dengan kategori usia. Anak TK berlomba makan kerupuk dan sedotan warna. Anak SD kecil bermain estafet sedotan dan paku botol. Anak SD besar bermain kocok kardus dan estafet koran dalam barisan.   Saat cuaca sudah terang, semangat anak-anak dan warga semakin membara hingga perlombaan dapat selesai dengan lancar. Kegiatan diakhiri dengan seru-seruan bermain voli air. Rasa bahagia yang terpancar dari anak-anak dan warga merupakan sebuah kenangan yang mengesan bagi volunteer. Tidak lupa, anak-anak dan warga mendapat snack yang sudah disiapkan oleh panitia. Walau lelah, para volunteer bersyukur karena dapat menjalankan tugas dengan baik hingga menciptakan sebuah pengalaman yang mengesan dan tidak terlupakan.     Malam Tirakatan  Puncak rangkaian kegiatan HUT ke-58 Pingit dirayakan dengan malam tirakatan pada Sabtu, 26 Oktober 2024. Kami sangat terkesan dengan semangat para volunteer yang memberikan waktunya selama satu bulan untuk mempersiapkan tampilan dari anak-anak. Latihan tampilan bersama anak-anak menjadi tantangan tersendiri yang berhasil kami lalui dengan baik. Pada hari H, para volunteer dan warga pingit saling membantu untuk menyiapkan panggung dan tenda malam tirakatan. Hal ini menjadi pengalaman berharga di mana semua pihak saling peduli untuk saling membantu dalam menyukseskan serangkaian acara HUT ke-58 Pingit. Keceriaan itu berpuncak pada malam tirakatan. Kebersamaan adalah salah satu hal yang kami dapatkan selama berkegiatan di Pingit. Setelah kurang lebih satu tahun bertemu dengan warga serta anak-anak, kami merasakan adanya kedekatan dan keakraban dengan mereka. Di awal kami menjadi volunteer Pingit, kami selalu melihat antusiasme anak-anak yang kami dampingi. Setelah lama mendampingi mereka, kami mulai mengetahui beragam cerita anak-anak Pingit mulai dari kondisi keluarganya hingga hingga pergulatan mereka. Selain berjumpa dengan ragam cerita anak-anak, kami juga berjumpa dengan warga Pingit yang ramah dan peka untuk terlibat dalam kegiatan di Pingit. Selain anak-anak dan warga Pingit, kami juga merasa nyaman berada bersama para pengurus dan volunteer Pingit. Kami sering berbagi cerita dan pengalaman yang tak jarang membawa keceriaan. Kami sangat bersyukur karena setiap volunteer juga memiliki kepekaan untuk saling membantu. Salah satu buah kepekaan itu adalah suksesnya rangkaian kegiatan HUT ke 58 Pingit.   Kontributor: Adelia Dwi Maharani, Alessandra Josephine Lie Saragih dan Lidwina Paskarylia Shinta – Volunteer Pingit

Pelayanan Masyarakat

Akankah Terus Menjadi Mitra Terpercaya Dana Hari Tua?

Lima Dekade Yadapen Mitra Terpercaya Dana Hari Tua. Tagline ini resmi disandang oleh Dana Pensiun Lembaga Katolik Yadapen sejak 2017. Penggunaan tagline tersebut mengiringi migrasi Yadapen dari Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) ke Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP). Ini adalah momen “kelahiran kedua” dan perkembangan Yadapen sebagai Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK).   Walaupun baru mulai digunakan pada 2017, “Mitra Terpercaya Dana Hari Tua” sejatinya telah diperjuangkan Yadapen sejak resmi disahkan pada 1 Januari 1974. Yadapen lahir berkat kemitraan Pater Georgius Kester, S.J. dan Pater Gustavus Oosthout, S.J. bersama dengan Bruder Leonardo Scrijnemakers, FIC dan suster-suster kepala yayasan pendidikan yang mengupayakan kesejahteraan masa tua para pegawai. Untuk mengupayakan dana hari tua, para pendiri ini juga membangun hubungan saling percaya dengan para donatur, khususnya di Belanda. Sejak awal, “Mitra Terpercaya Dana Hari Tua” secara nyata dihidupkan dalam semangat dan tindakan para pendiri walaupun tidak dirumuskan sebagai sebuah tagline.   Oleh karena itu, acara puncak Pesta Emas Yadapen yang diselenggarakan pada 14-15 Oktober 2024 lalu pada dasarnya merupakan upaya menyegarkan kembali ingatan pada semangat pendiri. Kemitraan dan sinergi menjadi semangat pendiri yang sangat ditonjolkan dalam perayaan ini. Tamu-tamu yang diundang datang dari berbagai lembaga pemberi kerja dengan beragam tempat dan bidang, mulai dari yayasan pendidikan di Sumatera, perusahaan manajer investasi di Jakarta, sampai karya sosial di timur Indonesia. Amat disyukuri pula dukungan Nostri yang hadir mewakili beragam karya, mulai dari Provinsialat, PT Kanisius, hingga lembaga pendidikan seperti Unika Soegijapranata dan Yayasan Kanisius. Para penampil pun berasal dari sekolah-sekolah yang dinaungi beberapa yayasan perintis Yadapen, yaitu Yayasan Kanisius, Pangudi Luhur, dan Marsudirini.     Bukan hanya dalam kehadiran dan penampilan, semangat kemitraan dan saling percaya juga disegarkan melalui momen presentasi pengawas dan pengurus Yadapen, serta diskusi bersama. Apresiasi diberikan atas perkembangan dan berbagai hal baik yang dipaparkan oleh pengawas dan pengurus. Berbagai masukan dan tawaran solusi ditemukan bersama serta dibagikan di antara para hadirin supaya Yadapen sungguh-sungguh dapat menjadi mitra terpercaya.   Pergumulan lembaga dan peserta pun secara jujur dibuka dalam forum. Beberapa contoh dapat disebutkan dalam tulisan ini. Dampak dari kasus Jiwasraya terhadap Yadapen, misalnya, masih disinggung sebagai luka batin yang belum sembuh bagi sebagian orang, lengkap dengan semua kesalah-pahamannya. Ada juga cerita tentang tarik ulur lembaga dalam memutuskan bertahan di Yadapen ketika ada kewajiban mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan. Muncul pula pengakuan akan adanya ketertarikan pada tawaran dana pensiun lain, khususnya Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Yang juga terlontar dalam diskusi adalah kesepadanan nilai uang yang diperoleh para pensiunan dibandingkan kebutuhan mereka jika mengikuti program Manfaat Pensiun Berkala yang ditawarkan Yadapen.   Segala bentuk keterbukaan dan saling percaya tersebut pun layak disyukuri sebagai rahmat pesta emas. Alih-alih resistensi terhadap segala hal yang telah, sedang, dan akan diupayakan Yadapen, momen sharing justru menunjukkan rasa saling memiliki antara Yadapen, lembaga pemberi kerja, dan orang-orang yang menjadi peserta dana pensiun. Tersirat keinginan lembaga-lembaga pemberi kerja dan peserta untuk tetap mempercayai Yadapen sebagai mitra dana hari tua mereka. Akan tetapi, keinginan tersebut tentu saja harus Yadapen imbangi dengan inovasi dan tata kelola yang semakin sesuai zaman.     Lepas dari fakta jatuh bangun Yadapen, kesempatan menjadi “Mitra Terpercaya Dana Hari Tua” berbuah dalam hasil yang terukur dalam data: audit dengan predikat “Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)”, dana kelolaan sebesar Rp 1,2 triliun, dan hasil investasi (Return on Investment/ROI) tahun 2023 yang mencapai 6,58% (melampaui pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG sebesar 6,16%). Digitalisasi laporan dan upaya paperless juga terus dikembangkan Yadapen melalui aplikasi Klik Yadapen. Setelah beberapa waktu berjalan dengan aplikasi untuk peserta, acara puncak Pesta Emas Yadapen menjadi kesempatan soft launching aplikasi untuk lembaga.   Bentuk lainnya adalah berupa kesediaan beberapa lembaga dana pensiun untuk memilih Yadapen sebagai rekan belajar, mulai dari Dana Pensiun (DP) KWI, DP PGI, DP Gereja Baptis, DP LAI, Pupuk Kaltim, dan Astra. Yadapen pun masih dianugerahi mitra baru, yaitu PT. Focus Data dan tarekat SJMJ Provinsi Manado. Yang akan menyusul menjadi mitra Yadapen adalah Yayasan Satunama, Yogyakarta dan Akademi Maritim Nusantara, Cilacap. Rangkaian data itu semata-mata ingin menunjukkan bahwa kemitraan yang terus diperjuangkan antara Yadapen, pemberi kerja, dan peserta sungguh-sungguh dapat berbuah baik. Hasil konkret kemitraan ini pun dirayakan dalam Pesta Emas Yadapen sebagai apresiasi atas kesediaan berbagai pihak untuk tetap percaya pada Yadapen.   Pertanyaan “Akankah Yadapen terus menjadi ‘Mitra Terpercaya Dana Hari Tua’?” mungkin saja akan terus dilontarkan oleh berbagai pihak. Pertanyaan tersebut akan dijawab oleh waktu dan kinerja Yadapen saat ini hingga ke depannya. Yadapen sendiri hanya dapat mengusahakan sembari memohon rahmat Tuhan agar spirit “Mitra Terpercaya Dana Hari Tua” terus mengalir dalam nafas hidup dan gerak langkahnya. Selain itu, dukungan semua pihak tetaplah dibutuhkan dalam karya kemitraan ini. Setelah lima dekade, semoga karya ini terus menjadi berkat bagi banyak orang.   Kontributor: Rafael Mathando Hinganaday, S.J.

Pelayanan Masyarakat

Memelihara Bumi itu Menyenangkan

Laudato Si Kids Eco Camp Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa bumi, rumah kita bersama bagaikan seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita. Saudari kita ini menjerit karena segala kerusakan yang kita timpakan padanya. Oleh karena itu, Bapa Paus Fransiskus dalam ensikliknya yang berjudul Laudato Si mengajak setiap orang untuk menjaga Saudari Bumi, rumah kita Bersama. Ensiklik ini sudah dipublikasikan sejak 18 Juni 2015, namun gaungnya masih kurang mengena bagi sebagian besar umat Katolik; terutama anak-anak dan orang muda. Oleh karena itu, KPTT Salatiga bekerjasama dengan Komunitas Bhumi Svarga menyelenggarakan sebuah Kids Eco Camp pada tanggal 8-9 Juli 2023 yang bertempat di Pusat Pastoral Pendidikan Ekologis KPTT, Salatiga. Laudato Si Kids Eco Camp dikemas dengan acara yang menyenangkan melalui berbagai macam permainan dan penugasan yang sesuai dengan tema serta dunia anak & remaja. Kemah ini diikuti oleh 37 anak dan remaja yang berasal dari beragam paroki, antara lain: Paroki Antonius Padua Purbayan, Paroki Stanislaus Kostka Girisonta, Paroki St. Yusup Ambarawa, Paroki Paulus Miki Salatiga, dan Paroki Kristus Raja Semesta Alam Tegalrejo. Dalam kemah hari pertama, anak-anak diajak untuk lebih mengenal ensiklik Laudato Si. Dengan lebih mengenal ensiklik ini, terbersit harapan supaya anak-anak ini bisa menjadi perpanjangan tangan Allah dalam memelihara bumi, melalui tindakan nyata sederhana yang bisa dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Ensiklik Laudato Si memang harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan nyata. Pada hari berikutnya, anak-anak diajak untuk membuka mata terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Anak-anak ini berkeliling di lingkungan sekitar Area 3 Pusat Pastoral KPTT untuk melihat masalah sampah yang mencemari daratan, sampah yang mencemari saluran air di dekat KPTT; serta masalah polusi dari industri besar yang ada di sekitarnya. Ada satu hal yang menarik: ketika sekelompok anak memunguti sampah di sungai, secara kebetulan mereka bertemu dengan salah satu pegiat lingkungan disana. Beliau bercerita bahwa pada tahun 2020 lalu; ada sekitar 3-4 ton sampah yang masuk ke saluran air itu setiap harinya. Sekelompok anak yang lain merasakan langsung polusi udara yang ditimbulkan oleh pabrik karena limbah yang berbau tidak sedap serta polusi suara yang ditimbulkan dari dampak aktivitas pabrik. Kelompok yang lain menemukan begitu banyak sampah plastik yang susah sekali terurai di tanah dan mengakibatkan pemandangan yang tidak sedap. Di penghujung kemah, anak-anak ini berkomitmen untuk menciptakan surga surga bagi semua makhluk hidup yang hidup di bumi. Tujuan ialah agar melalui keberadaannya, setiap makhluk di bumi bisa memuliakan nama Tuhan dengan caranya masing-masing dan menciptakan bumi yang baik seperti ketika Allah menciptakannya. Komitmen ini ditegaskan oleh Pater Agustinus Wahyu, S.J. dalam Misa Alam sebagai puncak perutusan dari keseluruhan acara ini. Pada akhirnya, Alam – Manusia dan Tuhan adalah satu kesatuan utuh yang saling terkoneksi. Melalui ensiklik ini, kita diajak untuk hidup lebih bijaksana, berpikir lebih mendalam dan mencintai dengan tulus hati. Santo Fransiskus dari Assisi menunjukkan kepada kita betapa tak terpisahkan ikatan antara kepedulian akan alam, keadilan bagi kaum miskin, komitmen kepada masyarakat, dan kedamaian batin. Kontributor: Rosalia Devi – Boemi Svarga

Feature

Pingit!

Yogyakarta, apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika mendengar kota ini? Kota Pendidikan? Barang serba murah? Universitas bergengsi? Malioboro? Atau kota metropolitan? Nggak salah sih, tapi tahukah kalian, dengan sebuah perkampungan yang bernama Pingit? Bagi kalian yang sering menuju ke arah Malioboro atau menuju AMPLAS, mungkin sudah tidak asing dengan Pasar Pingit di Jalan Kyai Mojo. Ya, itu pasarnya bukan kampungnya. Untuk mengetahui lokasi kampungnya, kita berjalan sedikit ke arah Jalan Tentara Rakyat Mataram. Di sana kalian akan melihat beberapa bangunan perkantoran dan Universitas Janabadra. Namun tahukah kalian, kalau sebenarnya ada sebuah perkampungan padat penduduk di belakang gedung gedung itu? Yap, betul sekali, itulah Perkampungan Pingit. Kalau dilihat dari sejarahnya, daerah itu awalnya digunakan oleh salah seorang Jesuit dengan tujuan untuk menampung orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dan keluarganya terutama akibat peristiwa pembersihan yang dilakukan pasca G30S. Oleh karena itu wajar bila kita melihat banyak sekali orang tua atau sepuh yang tinggal di daerah sini. Peran dari Serikat Jesus tak lepas begitu saja setelah “membangun” perkampungan ini. Mereka bekerja sama dengan beberapa mahasiswa sering melakukan kunjungan dan pemantauan rutin ke kampung ini. Bahkan para mahasiswa yang ikut dalam program ini juga selalu mengadakan kegiatan les rutin yang diadakan setiap hari Senin sore. Kegiatan les ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan para anak-anak Pingit. Hebatnya lagi, kegiatan ini gratis dan bebas diikuti oleh semua warga Pingit dari usia TK – SMP. Warga-warga di sini sangat ramah, mereka masih sering terlihat berkumpul bersama. Ya, walaupun hanya sekedar ngumpul untuk saling berbincang, namun ini merupakan sebuah pemandangan yang langka apalagi ini berada di kota Yogyakarta yang mana merupakan kota yang besar. Para warga di sini selalu saling menyapa bila bertemu, bahkan mereka tak segan berbagi jajan atau makanan yang mereka punya. SMA Van Lith Muntilan mengadakan sebuah kegiatan bernama RKKS (Retret Kepekaan Kepedulian Sosial) yang bertujuan agar para siswa menjadi lebih peka dan lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar terutama kepada kaum KLMT dan berkebutuhan khusus. Dalam kegiatan ini, saya bersama beberapa teman ditempatkan di Perkampungan Pingit ini untuk merasakan dan menjalankan kegiatan di kampung ini. Kampung Pingit merupakan kampung yang bisa dibilang cukup padat. Kampung ini dihuni warga dengan berbagai macam latar belakang dan usia. Pekerjaan warga di sini sangat beragam. Mulai dari pengangkut sampah, tukang bersih makam, pedagang, angkringan, tukang bumbu dapur, sampai pegawai di kantor depan kampung Pingit. Selama RKKS ini, saya dan teman teman sangat menikmati dinamika di sini. Mulai dari ikut keluarga asuh kami bekerja, berbincang dengan keluarga, bahkan sampai ikut mengajar les untuk anak-anak Pingit. Dalam kegiatan RKKS ini kami mendapat banyak sekali pengetahuan baru, dan bahkan membuka pandangan baru bagi kami tentang kaum KLMT dan berkebutuhan khusus. Selama RKKS, saya menyadari bahwa untuk bahagia itu, caranya sederhana sekali. Hanya dengan berbincang-bincang, bercanda, bahkan melihat pemandangan langit sore dan malam hari, sudah bisa membuat bahagia. Orang-orang Pingit bisa dilihat sangat bersyukur dan bahagia dengan apa yang mereka punya. Walaupun beberapa dari mereka bisa dibilang kekurangan dalam materi atau finansial, tapi mereka terlihat sangat berkelimpahan dalam hal keramahan, rasa syukur, dan kebahagiaan. Selama berdinamika di Pingit, saya sangat bersyukur dan bahagia karena saya disambut dengan sangat hangat oleh masyarakat. Saya juga mendapat orang tua asuh yang sangat baik dan perhatian kepada saya. Bahkan, ketika saya hendak kembali ke van Lith pun, orang tua asuh saya masih meminta saya untuk datang lagi ke sana. Ketika kami pulang pun, ada beberapa warga yang berkumpul di titik kumpul kami untuk sekedar menyampaikan ucapan perpisahan dan lambaian perpisahan kepada kami. Hal ini benar-benar sangat berkesan bagi saya dan saya sangat menghargai itu. Satu hal yang terus saya ingat dari pesan ibu asuh saya ketika berbincang dengan saya, “Kerja itu harus konsisten, harus terus dijalankan. Tapi, jalankan dengan sepenuh hati, dengan ikhlas, nikmati pekerjaanmu, maka kamu akan senang melakukan pekerjaanmu itu”. Ya… intinya sih yang saya dapat banyak hal tersembunyi di dunia ini. Penampilan dan pendidikan seseorang tidak menjamin karakternya yang sebenarnya. Bahkan seseorang yang terlihat galak pun, sebenarnya punya hati yang sangat baik. Bahkan di sebuah kota yang sangat maju dan ramai pun, masih terdapat kampung yang tersembunyi oleh gedung kantor yang tinggi. Sepertinya cukup ya… cerita dariku tentang pengalamanku di Pingit. Terima kasih telah membaca, kalau kalian ingin berkunjung, warga Pingit akan sangat terbuka untuk kalian. Sampai jumpa! Kontributor: Kelvin Lie – Siswa Kelas XI-IPA SMA PL van Lith Muntilan

Pelayanan Masyarakat

Peduli Bencana Siklon Tropis Seroja di NTT

Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (Realino SPM), karya sosial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, mengadakan aksi penggalangan dana untuk disalurkan bagi korban bencana Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penggalangan ini dimulai sejak tanggal 7 April hingga 17 April 2021. Jumlah donasi yang terkumpul sebesar 82 juta rupiah. Dana ini sudah disalurkan ke Adonara melalui Dekenat Adonara, Keuskupan Larantuka. Pribadi yang menjadi jembatan komunikasi di sana adalah RD Lasarus Laga Koten, Pr (Pastor Dekenat Adonara). Selama proses penggalangan dana, lebih kurang 10 hari, Realino SPM sempat diundang kolaborasi bersama Canon Indonesia dan DOSS. Kerja sama yang dilakukan ketiganya berbentuk kegiatan lelang amal dua buah kamera yang dilaksanakan pada 12-15 April 2021 di akun media sosial @doss.jogja. Total lelang donasi yang terkumpul melalui kerja sama ini sebesar 15 juta rupiah dan semuanya didonasikan untuk bantuan ke NTT. Ada banyak pribadi yang turut peduli dan berbagi kebaikan dalam penggalangan dana ini. Realino SPM bersyukur dan berterima kasih atas kemurahan hati 38orang dan komunitas/lembaga yang ikut berdonasi dan memiliki kepedulian pada situasi pasca bencana Siklon Seroja di NTT. Selain menyalurkan bantuan dana, Realino SPM mengusahakan pula bantuan pakaian layak pakai. Total baju layak pakai yang berhasil dikumpulkan sampai penulisan berita ini sebanyak delapan kardus. Kardus-kardus ini berisi pakaian perempuan, laki-laki, dan perlengkapan sanitasi seperti handuk. Rencananya, bekerja sama dengan Paroki St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta, pengiriman donasi pakaian layak pakai ke NTT ini akan dibantu oleh TNI AU menggunakan pesawat kargo lewat Landasan Udara Adisucipto. Kontributor: Absherina Olivia Agatha & Pieter Dolle, SJ – SPM Realino