Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026, pukul 12.09 WIB, telah dipanggil Tuhan di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta:
PATER BERNHARD KIESER, S.J.
dalam usia 88 tahun
Pater Kieser, seorang imam misionaris Jesuit dari Jerman, datang ke Indonesia pada tahun 1963 di Kolese Stanislaus, Girisonta.
Selama berkarya di Indonesia, ia tidak pernah tinggal di kota lain dalam waktu lama kecuali di Yogyakarta. Selain berkarya dalam bidang formasi skolastik dan kerasulan sosial, ia banyak berkiprah dalam bidang akademik perguruan tinggi, terutama sebagai dosen teologi moral di Fakultas Teologi Wedabhakti dan pustakawan di Kolese Santo Ignatius (Kolsani). Dengan keahliannya di bidang teologi moral dan pengembangan perpustakaan, tak heran jika perpustakaan Kolsani menjadi salah satu rujukan pencarian referensi ilmiah dari banyak kalangan, baik mahasiswa maupun peneliti.
Pater Kieser dilahirkan di Bruchsal pada 28 September 1938 dari pasangan suami-istri Josef Kieser dan Maria Jonitz Kieser. Dua hari setelah kelahirannya, ia dibaptis di Nofpfarrei, Bruchsal – Keuskupan Agung Freiburg, dan pada usia 11 tahun, ia menerima Sakramen Penguatan di Paroki Bruchsal. Pendidikan dasar dan menengah ia tempuh selama 13 tahun (1944-1957) di Bruchsal.
Karena tertarik menjadi Jesuit, setelah lulus dari Gymnasium, Pater Kieser mendaftarkan diri dan diterima. Ia kemudian secara resmi memulai masa novisiatnya di Novisiat Neuhausen pada 25 April 1957. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 27 April 1959, ia mengucapkan kaul pertama dan menjalani formasi filsafat selama tiga tahun (1957-1962) di Sekolah Tinggi Filsafat Munich, Jerman.
Tertarik menjadi misionaris di Indonesia, Pater Kieser kemudian diutus untuk belajar bahasa Indonesia dan Jawa di Novisiat St. Stanislaus, Girisonta selama kurang lebih satu tahun (1962-1963). Untuk semakin memantapkan penguasaan bahasa, ia ditugaskan menjalani masa orientasi kerasulan (TOK) di Paroki Muntilan (1963-1965). Kemudian selama empat tahun (1965-1969), ia menjalani formasi teologi di Yogyakarta dan Frankfurt.
Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah (17 Juni 1962) diterimanya di Berchmans Kolleg, Muenchen dari tangan Mgr. J. Neuhausler. Tahbisan diakon (23 Mei 1968) dari tangan Bapak Kardinal Darmajuwana, dan tahbisan imamat (5 Juli 1968) ia terima dari tangan Bapak Uskup Djajaseputra di Yogyakarta. Setahun setelah tahbisan imamat, Pater Kieser menjalani program tersiat di Pullach di bawah bimbingan P. Karl Fank, S.J. selama delapan bulan (15 Agustus 1969 – 30 April 1970). Pada 15 Agustus 1974, Pater Kieser mengucapkan kaul akhir sebagai profes di Yogyakarta dan diterima oleh Pater Vitus Seibel, S.J.
Riwayat Tugas Pater Kieser, S.J. setelah Tersiat:
| 1970 – 1973 | Studi doktoral bidang teologi moral di Frankfurt dan Innsbruck |
| 1973 – wafatnya | Dosen Teologi Moral di IFT (kini Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma) |
| 1975 – 1978 | Pendamping TOKer wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta |
| 2000 – 2003 | Koordinator Komisi Perdamaian dan Keadilan Sosial Provindo |
| 1994 – 2011 | Pustakawan Kolese Santo Ignatius |
| 2011 – wafatnya | Asisten Pustakawan Kolese Santo Ignatius |
Semasa hidupnya, Pater Kieser juga tidak pernah lelah mencurahkan perhatian bagi orang-orang miskin dan tersingkir. Baginya, menjadi murid Yesus berarti mengikuti Guru yang hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan. Semangat inilah yang ia tanamkan kepada para frater Kolsani, mendorong mereka untuk turun langsung ke tengah dinamika hidup masyarakat miskin di Yogyakarta, khususnya di Perkampungan Sosial Pingit. Lewat hidupnya, Pater Kieser memberikan kesaksian bahwa iman tanpa tindakan adalah hampa, dan bahwa berdampingan dengan yang miskin dan tersingkir adalah wujud cinta yang sejati.
Tak berhenti di situ, keterlibatan Pater Kieser terhadap mereka yang tersingkir juga nyata lewat kerasulan penjara. Dengan setia dan rutin, ia mengunjungi mereka yang ada di penjara sebagai saudara yang membawa terang pengharapan. Ia juga mengajak para frater untuk turut ambil bagian dalam misi mulia ini.
Kini, Pater Kieser telah berpulang dalam pelukan Sang Guru yang selalu ia ikuti. Teladannya akan terus bergema: bahwa mengasihi berarti hadir bagi mereka yang paling miskin dan disingkirkan.
Informasi misa requiem dan pemakaman sebagai berikut:
Misa Requiem
Tempat : Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta
Waktu : Minggu, 7 Juni 2026, pukul 17.00 WIB
Pemakaman
Tempat : Taman Maria Ratu Damai, Girisonta
Waktu : Senin, 8 Juni 2026, pukul 11.00 WIB


