Pilgrims on Christ’s Mission

Secangkir Cerita Penuh Cinta

Refleksi atas Kunjungan ke Wisma Emaus Girisonta pada Hari Pendidikan Nasional

Girisonta – Pagi, 2 Mei 2026. Semua orang menyebutnya Hari Pendidikan Nasional. Tanggal yang setiap tahun datang dengan cara yang sama: spanduk ucapan, poster seremonial, dan twibbon dengan caption penuh harapan.

Hari Pendidikan Nasional 2026 ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran pendidikan dalam membentuk generasi unggul, berkarakter, dan berdaya saing global. “Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga fondasi dalam membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan. Peringatan ini juga menjadi bentuk penghormatan atas jasa Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pendidikan nasional,” sedikit cuplikan dari amanat yang disampaikan oleh Ibu Arum sebagai pembina upacara bendera pagi ini.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, atas ide sederhana dari Ibu Kepala Sekolah, seusai upacara bendera, saya dan rekan-rekan guru serta karyawan SD Girisonta melangkah menuju ke Wisma Emaus Girisonta yang letaknya bersebelahan dengan sekolah kami. Wisma ini merupakan tempat berkarya bagi para imam dan bruder Jesuit yang telah memasuki masa purnakarya. Purnakarya bukan berarti mereka lalu diam. Tugas berat yang harus dilakukan saat ini adalah mendoakan kita semua yang masih harus berkarya.

Di Wisma Emaus kami bertemu dan berbincang-bincang dengan lima orang romo dan seorang bruder, diantaranya Pater M. Suhartomo, S.J., Pater Mardi Widayat, S.J., Pater Darminta, S.J., Pater Suryawasita, S.J., Pater Dibyawiyata, S.J., dan Bruder Hadi Prayitna, S.J. Kami sangat kagum dengan para pater sepuh dan bruder yang berada di Wisma Emaus. Meski berbalut tubuh yang kian renta, tetap bersemangat melayani. Mereka menjalani perutusan purnakarya dalam hidup doa. Setiap hari, semua pater dan bruder memulai hari dengan doa.

Banyak sharing, cerita, dan pengalaman hidup yang saya dapatkan melalui pertemuan ini. Salah satunya adalah pengalaman Pater Dibya dengan latar belakang orang tua dan keluarga guru. Beliau sangat terkesan dengan kehidupan keluarga guru yang diceritakan. Selain itu, ada suasana keakraban di antara para guru. Hal itu semakin menguatkan kebersamaan dan menimbulkan semangat belajar bagi masing-masing pribadi.

Pater Dibya juga menyampaikan bahwa mengajar dan mengamati perkembangan anak sangat menarik karena setiap anak unik dengan karakter yang berbeda-beda. Pater Suryawasita pun menambahkan bahwa sebagai seorang guru harus memiliki sikap keibuan untuk melayani anak-anak; bahkan guru laki-laki pun juga harus memiliki sikap keibuan, bukan seperti singa betina. Spontan kami semua tertawa dan suasana menjadi hangat kembali.
Di dalam sesi tanya jawab, salah satu dari kami menanyakan hal ini: jika ada tantangan dalam melaksanakan tugas, padahal kita sudah berusaha melakukannya dengan baik, tetapi terkadang hasilnya tidak sesuai dengan harapan orang lain, bagaimana menyikapinya?

 

Para Jesuit di Wisma Emaus Girisonta berbagi pengalaman hidup kepada guru dan karyawan SD Kanisius Girisonta. (Foto: Penulis)

 

 

Dari pertanyaan tersebut, ada beberapa jawaban berbeda yang disampaikan oleh para pater. Ada yang mengatakan bahwa kita harus punya selera humor, jangan terlalu serius, karena belajar dari pengalaman, dan tidak semua orang sama. Jawaban lain disampaikan oleh Pater Suhartomo, yaitu bahwa kunci utamanya adalah doa. Karena doa memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Pater Suhartomo juga berbagi pengalamannya bahwa setiap malam selalu melakukan “syukur pitulikur”, di mana pitulikur artinya dua puluh tujuh, yaitu dengan mensyukuri dua puluh tujuh hal baik dalam hidup kita setiap hari. Sebab, energi yang dihasilkan jauh lebih tinggi ketika kita bersyukur.

Namun di balik tawa dan cerita yang mengalir hangat, saya menangkap sesuatu yang tak terucapkan. Meskipun para pater bercerita dengan senyum cerah dan semangat, saya menangkap adanya rasa kesepian. Ada kerinduan yang ditahan, ada kisah-kisah masa lalu yang ingin diulang. Refleksi ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai orang tua, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.Melihat fisik yang mulai melemah, tangan yang gemetar, dan ingatan yang mulai memudar, saya belajar tentang kerapuhan manusia. Namun, di sisi lain, saya melihat bahwa penuaan bukanlah masa muda yang hilang, melainkan tahap penuh peluang dan kekuatan, yang ditandai dengan refleksi mendalam, penerimaan diri, dan ketenangan hati.

Mereka mengajarkan kepada saya keikhlasan untuk menerima perubahan usia, rasa syukur yang mendalam, dan tetap membawa segala hal yang terjadi di dalam doa. Seperti lirik lagu, “Tuhan selalu menolongku, selalu menjagaku, sehelai rambutku tak akan terjatuh tanpa seizin-Mu.”

Begitu pula yang disampaikan oleh Pater Suryawasita, S.J. bahwa Tuhan tidak hanya melindungi hal-hal besar, tetapi juga menjaga detail terkecil dalam hidup (sehelai rambut), dan tidak ada satu hal pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.

Kunjungan ini membuat saya bersyukur atas kesehatan dan kesempatan yang masih saya miliki. Lebih dari itu, ini adalah pengingat keras tentang tanggung jawab. Banyak cerita dan pesan yang saya terima dari pertemuan singkat ini. Saya harus sungguh-sungguh tekun dalam keadaan apa pun, jangan mudah tergoda, dan selalu membawa doa dalam setiap langkah perjalanan hidup.

Di penghujung kegiatan ini, saya dan rekan-rekan berdoa bersama agar para pater dan bruder selalu dicurahi rahmat kesehatan. Kami juga mohon doa dan berkat agar dapat melayani anak-anak dengan sepenuh hati.

Sebelum berpamitan pulang, tak lupa kami mengabadikan momen dengan berfoto bersama para pater dan bruder. Ucap syukur karena kami sudah diterima dan disambut dengan kesederhanaan, senyuman, dan tawa bahagia. Terima kasih atas pertemuan singkat tetapi penuh makna ini. Saya boleh menimba inspirasi dari kisah hidup serta kebijaksanaan mereka.

Tuhan Yesus memberkati.

Get in Touch With Us

More News