Pilgrims on Christ’s Mission

Sebuah Catatan Perjalanan Volunteer Realino

Date

Dari Rasa Takut ke Tanggung Jawab:

Di tengah dunia yang semakin pragmatis, kegiatan volunteer seringkali dipandang sebelah mata. Banyak yang beranggapan menjadi relawan adalah aktivitas ringan tanpa komitmen serius—sekadar mengisi waktu luang, bersenang-senang, atau pelengkap resume. Tidak sedikit yang berpikir, “Toh, ini cuma kerja sukarela, nggak usah terlalu effort.” Akibatnya, tidak jarang kita melihat relawan perlahan menghilang di tengah jalan, lelah, bosan, atau merasa tak memiliki keterikatan. Realitas inilah yang justru saya temukan jawabannya ketika bergabung dalam Komunitas Volunteer Realino.

 

Ketertarikan saya sudah tumbuh sejak SMA, lewat perkenalan dari Pater Pieter Dolle yang beberapa kali datang ke sekolah untuk memperkenalkan program pengabdian sosial. Saat memasuki semester pertama perkuliahan, saya langsung mendaftar dan mulai mengikuti kegiatan Komunitas Belajar Realino (KBR).

 

Pengalaman pertama menjadi volunteer di komunitas Bongsuwung dan Jombor bukanlah sesuatu yang mudah. Rasa takut dan bingung menyelimuti karena saya belum terbiasa berinteraksi dengan anak-anak dalam suasana belajar. Namun perlahan, saya belajar membuka diri, membangun relasi, dan menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi mereka. Di sini saya memahami, pelayanan itu ternyata bukan hanya tentang memberi, tetapi lebih tentang ruang untuk tumbuh dan belajar bersama.

 

Para Volunteer Realino. (Dokumentasi: Penulis)

 

Memasuki semester kedua, babak baru terbuka. Saya mendapat kesempatan tak terduga untuk menjadi Wakil Koordinator Volunteer, melalui ajakan Mbak Luci dan Pater Pieter. Awalnya, keraguan menghampiri. Namun, panggilan ini justru menjadi titik balik refleksi terdalam saya sebagai relawan. Saya menyadari bahwa menjadi pemimpin dalam komunitas volunteer bukanlah sekadar posisi, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab pribadi yang lebih luhur.

 

Ada anggapan keliru di kalangan mahasiswa, bahwa menjadi koordinator hanyalah soal memberi instruksi dan mengatur. Kenyataannya, sangat jauh dari itu. Menjadi koordinator, terutama dalam konteks komunitas volunteer, bukan soal siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling siap menjadi garda terdepan ketika terjadi dinamika dalam komunitas. Kita menjadi otak yang berpikir dan jantung yang terus mengalirkan semangat ke seluruh bagian kelompok.

 

Bagi saya, kepemimpinan dalam pelayanan ini tak terpisahkan dari semangat Santo Ignasius dari Loyola: “pemimpin pelayan”. Seorang pemimpin bukan hanya hadir untuk mengarahkan, melainkan terlebih dahulu hadir untuk melayani. Ia memprioritaskan kebutuhan kelompok di atas kenyamanan pribadi. Ia mendengarkan, mengayomi, dan menciptakan suasana kolaboratif yang memperkuat rasa tanggung jawab bersama. Kepemimpinan seperti ini tidak hanya efektif secara organisasi, tetapi juga membentuk dan memelihara jiwa kebersamaan komunitas.

 

Dalam proses ini, saya belajar bahwa kedekatan antar volunteer adalah kunci yang menjaga semangat. Bukan paksaan yang membuat seseorang bertahan, melainkan rasa memiliki, rasa dibutuhkan, dan rasa dicintai. Ketika kehangatan itu hadir, tanggung jawab berubah bukan lagi menjadi beban, melainkan sebuah kerinduan. Kerinduan untuk hadir, untuk melayani, dan untuk bertumbuh bersama.

 

Selain itu, bagi saya, menjadi volunteer juga merupakan wujud syukur yang paling nyata. Tuhan telah memberikan kehidupan yang baik, penuh kesempatan dan kecukupan. Saya percaya, pelayanan adalah salah satu cara untuk mengembalikan kasih itu kepada sesama. Lewat hal-hal sederhana, Tuhan mengajar kita untuk melihat yang kecil dan tersembunyi sebagai tempat karya-Nya dinyatakan.

 

Para Volunteer Realino. (Dokumentasi: Penulis)

 

Saya teringat akan ayat dalam 1 Korintus 1:27–28 (TB): “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.”

 

Pelayanan yang terlihat kecil dan tak dianggap oleh banyak orang, justru kerap menjadi saluran kasih Allah yang paling jernih. Kita mungkin tidak menerima sorotan, tetapi kita sedang menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dalam rencana kasih karunia-Nya.

 

Santo Ignatius dari Loyola pernah berkata, “Cinta harus ditaruh lebih dalam pada tindakan daripada pada kata-kata.” Menjadi volunteer dan koordinator bukan tentang status, namun tentang kesediaan untuk hadir dan bertindak. Ini adalah panggilan untuk menghidupi komitmen secara utuh. Bukan lahir dari kewajiban, tetapi bersumber dari kesadaran bahwa pelayanan adalah bentuk kasih paling nyata.

 

Pada akhirnya, saya belajar bahwa komitmen dalam komunitas volunteer bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Ini adalah tanggung jawab yang lahir dari rasa syukur, cinta, dan kesediaan bertumbuh bersama orang-orang yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. AMDG.

 

Kontributor: Oddie Christian Tamzil – Volunteer Realino 2024/2025

More
articles