Pilgrims on Christ’s Mission

Pertemuan Superior Lokal Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Bali 6-8 Mei 2026

Cuaca panas terik menyambut kehadiran para superior lokal SJ Provindo di Hotel The Patra Bali, yang hanya sepelempar batu dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Ada yang sudah datang sehari sebelumnya untuk mempersiapkan acara pertemuan, ada yang datang pagi sekali karena hanya ada penerbangan satu kali di pagi hari, dan ada yang datang siang hari menjelang pertemuan dimulai. Menjelang pukul lima sore, wajah-wajah segar para superior lokal mulai bermunculan di sekitar ruang pertemuan. Kami menikmati kopi senja dengan camilan dan buah-buahan segar, sambil memandang ke arah pantai, dan berharap masih bisa menikmati sunset di sela-sela pertemuan kami. Pertemuan dimulai sebelum sunset tiba. Kami memasuki Sunset Room, yang tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman untuk kami, 16 orang superior lokal bersama Pater Provincial dan Pater Provincial yang baru terpilih, untuk berbincang-bincang.

 

Tentang Superior Lokal, Relasi Superior dan Direktur Karya

Dalam pertemuan pertama ini, para superior membahas dua buku kecil, Pedoman untuk Superior Lokal dan Pedoman Relasi antara Superior dan Direktur Karya. Kedua buku ini tipis dan kecil, tetapi memiliki muatan yang besar dan berat. Kedua buku ini sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Kuria Roma pada tahun 1998, pada masa Pater Peter-Hans Kolvenbach, S.J. sebagai Superior Jenderal Serikat Jesus, dan kini buku ini sudah diterjemahkan dengan sangat baik oleh Pater Socius, Melkyor Pando, S.J. Dalam pengantarnya, Pater Kolvenbach mengatakan bahwa buku ini sebelumnya sudah diterbitkan pada zaman Pater Pedro Arrupe secara berturut-turut pada tahun 1975 dan 1976. Pater Kolvenbach sangat menekankan agar para jesuit membaca, merenungkan, dan mendiskusikan kedua buku ini, serta menjalankannya sesuai konteks lokal dengan discreta caritas (Peter-Hans Kolvenbach, 1 Desember 1998).

Para Superior Lokal dalam pertemuan Superior Lokal Serikat Jesus Provinsi Indonesia di Bali. (Foto: Penulis)

 

Buku pertama, Pedoman Untuk Superior Lokal, sangat menekankan bahwa gubernasi Serikat Jesus bersifat rohani dan rasuli. Gubernasi Serikat bukan hanya semata-mata manajemen organisasi yang teknis belaka, tetapi lebih sebagai gubernasi spiritual yang juga dibangun dengan sarana-sarana rohani melalui doa dan percakapan rohani, yang sangat membentuk dan menjadi ciri gubernasi Serikat. Dan tentu saja, gubernasi yang dibangun dengan sarana prasarana rohani ini juga harus menjadikan Serikat yang rasuli. Buku kedua, Pedoman Relasi Superior dan Direktur Karya, juga menjadi penting agar komunitas dan karya sungguh bersama-sama bisa menjadi rasuli, melayani orang-orang yang membutuhkan pelayanan kita. Ini semakin dirasa penting saat direktur karya adalah non-Jesuit, atau rekan-rekan awam, para kolaborator Serikat Jesus.

Yang paling menampar bagi kami para Superior lokal ini adalah klausul yang tertulis dalam buku tersebut, yaitu “Komunitas adalah cerminan Superiornya.” Para superior yang hadir tentu tertawa lebar ketika kutipan ini dibahas, tetapi di dalam hati mereka tersenyum kecut, sambil berefleksi, “Jika komunitas kita amburadul, berarti ini juga cerminan superiornya yang amburadul.” Superior lokal juga harus menjadi teladan dalam hal ketaatan. Bagaimana mungkin ketaatan sukarela bisa dituntutkan kepada anggota komunitas, sementara superiornya sendiri tidak menjadi contoh yang baik dalam hal ketaatan? Acara kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dan pembicaraan berlangsung semakin hangat hingga larut malam.

Para Superior Lokal dalam Pertemuan Superior Lokal Serikat Jesus Provinsi Indonesia di Bali. (Foto: Penulis)

 

Membangun Kesatuan Hati dan Budi

Dalam pertemuan superior kali ini, kami mendapat kesempatan untuk melakukan ekskursi ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). Rombongan Superior ini disambut oleh Ibu Rosa, direktris yang saat ini mengelola GWK. Kami disambut dengan welcome drink di Resto Jendela Bali, sehingga bisa melihat pemandangan Bali yang sangat luas dari ketinggian pelataran GWK. Selanjutnya, kami dibawa ke Bagungan GWK yang menjulang dan megah, setinggi 121 meter, dan merupakan patung tertinggi ke-4 di dunia. Patung ini berkisah tentang Dewa Wisnu yang mengendarai burung Garuda sebagai tunggangannya. Yang pertama, kami naik ke lantai 9. Meskipun sudah naik ke lantai 9, itu masih dasar tempat berdirinya Burung Garuda. Di lantai itu kami melihat sejarah berdirinya GWK yang diprakarsai oleh seniman Bali, I Nyoman Nuarta, bersama Menteri Pariwisata pada zaman Orde Baru, yaitu Joop Ave. GWK kemudian diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Selanjutnya, kami naik ke lantai tertinggi, lantai 23, setinggi pundak Dewa Wisnu. Lift hanya boleh sampai di ketinggian pundak Dewa Wisnu, karena kepercayaan di Bali, manusia tidak boleh lebih tinggi kedudukannya dari para Dewa. Di lantai 23 itu kami berkenalan dengan kisah Dewa Wisnu dan burung Garuda, tunggangan Dewa Wisnu, yang juga menjadi lambang negara Republik Indonesia. Bangunan GWK memang menjadi bangunan tertinggi dan termegah di Bali, dan bisa dilihat dari berbagai sudut di Pulau Bali. Bangunan ini juga menjadi wisata yang paling banyak dikunjungi, dengan sekitar 3.000 pengunjung setiap hari.

Jika para jesuit mengunjungi tempat wisata, tentu mereka tidak hanya bersenang-senang, jelong-jelong, atau jalan-jalan, seperti kata anak zaman sekarang, tetapi wisata semacam ini juga bisa menjadi studi yang mendalam tentang budaya, agama, dan seni. Dan pasti kesempatan untuk pergi bersama ini juga menjadi sarana untuk membangun kesatuan hati dan budi. Tampak beberapa Jesuit menjauh dari kelompok dan bercakap-cakap dengan serius, membicarakan masalah dan harapan bagi karya-karya mereka ke depan. Ada juga yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan percakapan rohani dengan Pater Provincial, dan ada juga yang mulai melobi provincial yang baru terpilih. Sungguh sebuah wisata yang bermakna dan membangun kesatuan hati dan budi dengan saudara-saudara seperutusan.

Pater Provincial terpilih yang baru, Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., menulis catatan dalam pertemuan superior lokal Serikat Jesus Provinsi Indonesia. (Foto: Penulis)

 

Wawan-Hati dengan Pater Provincial

Acara yang paling ditunggu-tunggu setiap kali pertemuan para superior adalah acara wawan-hati para superior lokal bersama Pater Provincial sebagai Superior Mayor SJ Provindo. Pertemuan kali ini menjadi sangat istimewa, karena Pater Provincial terpilih yang baru, yaitu Pater Albertus Bagus Laksana, S.J. juga hadir dalam pertemuan ini. Tentu, acara penting ini tidak bisa diceritakan dalam forum ini karena bersifat confidential. Ada banyak keprihatinan, tetapi juga lebih banyak harapan untuk komunitas dan karya-karya kita ke depan. Para Superior mewakili komunitas masing-masing sangat berterima kasih kepada Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. yang akan menyelesaikan tugasnya sebagai provincial. Kami sangat berterima kasih atas ketekunan dan kesabaran Pater Beni dalam memimpin dan mendampingi kami semua. Pada hari terakhir, kami para superior memiliki kesempatan untuk menyampaikan harapan-harapan komunitas kepada Pater Provincial yang baru, dan pertemuan ditutup dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Provincial yang baru sembari menyampaikan harapan-harapannya untuk kami para superior lokal. Kami sempat makan siang di hotel The Patra Bali, dan dalam sekejap, para superior sudah menghilang, kembali ke tempat perutusan masing-masing. Selamat Berkarya. Tuhan memberkati, Ad Maiorem Dei Gloriam.

 

 

Get in Touch With Us

More News