JCAP Flagship Project
Setiap pagi di Kantor Provinsialat SJ Provinsi Indonesia (Provindo) Semarang saat staf mulai bekerja, sesuatu terjadi diam-diam di atap kantor mereka. Panel surya yang dipasang di gedung tersebut menyerap sinar matahari pagi dan mengisi baterai yang memasok listrik sepanjang hari. Lampu, penyejuk udara, dan komputer beroperasi tanpa listrik dari PLN.
Sekilas mungkin tampak seperti perubahan kecil terkait penggunaan listrik di rumah, yaitu saat mulai beralih ke energi yang lebih bersih. Namun, dalam konteks di mana hal itu terjadi, signifikansinya jauh melampaui satu atap.
Beban Batu Bara di Indonesia dan Asia Tenggara
Untuk memahami mengapa hal ini penting, kita perlu melihat lanskap energi di kawasan ini. Asia Tenggara masih sangat bergantung pada batu bara dan batu bara ini menjadi sumber utama pembangkit listrik sejak 2017. Pada tahun 2022, batu bara menyumbang 42% dari total produksi listrik Asia Tenggara dan tetap menjadi sumber emisi gas rumah kaca terbesar di kawasan ini.¹
Indonesia berada di pusat gambaran ini. Berdasarkan data energi regional, Indonesia menyumbang 91,7% dari seluruh tambang batubara yang beroperasi di Asia Tenggara.¹ Menurut angka yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, yang mengutip produksi listrik PLN saat sidang parlemen pada November tahun 2025, pasokan listrik Indonesia tahun 2025 sekitar 66,54% masih berasal dari batu bara.² Bersama dengan empat negara Asia-Pasifik lainnya, Indonesia menyumbang hampir 8% produksi batu bara global pada tahun 2023, sementara Indonesia sendiri menyumbang 38,32% dari emisi metana ASEAN.

Realitas ini memang sangat kompleks dan batu bara tetap menjadi penggerak utama ekonomi. Di Indonesia saja, industri ini mendukung sekitar 290.000 lapangan kerja, yang mewakili lebih dari 74% seluruh lapangan kerja terkait batu bara di ASEAN. Listrik yang dihasilkan dari batu bara juga tetap terjangkau melalui kebijakan pemerintah, termasuk Kewajiban Pasar Domestik Indonesia, yang membatasi harga batu bara untuk pembangkit listrik. Bagi negara yang masih memperluas infrastruktur energinya untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, beralih dari batu bara bukanlah transisi yang dapat terjadi dalam semalam.
Konsekuensi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil tidak lagi bersifat abstrak. Pada tahun 2024, suhu global melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah.³ Para ilmuwan iklim telah lama memperingatkan bahwa melampaui ambang batas ini akan meningkatkan risiko yang terkait dengan perubahan iklim, yang sebagian besar didorong oleh emisi gas rumah kaca.
Meskipun kenaikan 1 tahun di atas 1,5°C tidak secara otomatis berarti tujuan Perjanjian Paris telah gagal, hal itu berfungsi sebagai peringatan bahwa tindakan yang lebih kuat diperlukan untuk menurunkan suhu kembali di bawah ambang batas tersebut. Bahkan peningkatan kecil dalam suhu global dapat berdampak signifikan pada ekosistem, masyarakat, dan perekonomian. Oleh karena itu, gerakan aksi iklim yang bermakna sangat penting, dan dalam konteks yang lebih luas inilah proyek Rumah Provinsialat SJ menemukan signifikansinya.

Asal Mula Ide
Seruan untuk beralih ke energi yang lebih bersih menemukan titik awal yang semakin dekat dengan tujuan utamanya. Provincial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., ingat bahwa inspirasi awalnya berasal dari paroki Botong, Kalimantan yang dipercayakan kepada Jesuit. Terletak di luar jangkauan jaringan listrik PLN, paroki tersebut menghasilkan listrik sendiri melalui panel surya yang beroperasi secara berkelanjutan.
Paroki tersebut menunjukkan bahwa kemandirian energi bukan sekadar aspirasi, melainkan realitas yang dapat diwujudkan. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan yang jelas di Rumah Provinsialat, “Jika sebuah paroki terpencil tanpa akses jaringan listrik berhasil mengandalkan tenaga surya, lalu apa yang menghalangi Rumah Provinsialat untuk melakukan hal yang sama? Ternyata, halangannya sangat sedikit!”

Cara Kerja
Salah satu dari dua bangunan di kompleks Rumah Provinsialat SJ Semarang kini beroperasi menggunakan sistem panel surya yang dilengkapi dengan penyimpanan baterai. Sepanjang pagi, panel surya mengisi baterai, yang biasanya mencapai kapasitas penuh pada siang hari. Selama jam kerja, bangunan tersebut sepenuhnya bergantung pada energi yang tersimpan dalam baterai.
Setelah baterai habis pada malam hari, bangunan tersebut beralih ke listrik PLN selama separuh malam. Tidak seperti sistem tenaga surya yang terhubung ke jaringan listrik dan memasok kelebihan energi, instalasi ini menyimpan listrik yang dihasilkan ke dalam baterai dan menggunakannya secara internal saat dibutuhkan.
Selain manfaat lingkungan, sistem ini juga telah mengurangi biaya listrik. Dibandingkan dengan bangunan kedua yang terus bergantung pada listrik PLN, indikasi realistis terkait peralihan energi saat ini semakin jelas. Namun demikian, proyek ini merupakan awal, dan sama sekali bukanlah tujuan akhir.

Bagian dari Gerakan yang Lebih Besar
Proyek tenaga surya di Rumah Provinsialat merupakan bagian dari inisiatif yang lebih besar yang digerakkan oleh Konferensi Jesuit Asia Pasifik (JCAP).
Pada tahun 2022, Konferensi Jesuit Asia Pasifik (Jesuit Conference of Asia Pacific (JCAP)) meluncurkan Caring for Communities and Creation (CCC), sebuah inisiatif utama yang mendorong provinsi dan regio di seluruh Asia Pasifik untuk mengambil langkah konkret menuju tanggung jawab ekologis. Salah satu dari tiga pilar berfokus pada transisi ke energi yang lebih bersih dengan mengurangi konsumsi energi dan secara sengaja beralih dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.⁴
Provindo termasuk yang pertama menerjemahkan visi tersebut ke dalam tindakan nyata. Proyek ini memiliki arti penting di negara yang menyumbang sebagian besar aktivitas penambangan batubara di Asia Tenggara.
Upaya ini tidak terbatas pada Gedung Provinsi. Lembaga dan kerasulan Jesuit lainnya juga mulai mengadopsi solusi energi terbarukan sebagai bagian dari komitmen bersama dalam pengelolaan lingkungan. Di antaranya Gereja Katedral Jakarta dan Politeknik ATMI Surakarta.
Waktu pelaksanaannya patut diperhatikan. Analis di Pusat Energi ASEAN memproyeksikan bahwa pada tahun 2028, membangun kapasitas energi surya baru di Indonesia akan lebih murah daripada terus mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah ada.¹ Titik balik ekonomi ini diharapkan dapat mempercepat secara signifikan adopsi energi terbarukan di berbagai sektor.
Proyek listrik Rumah Provinsialat tiba sebelum ambang batas itu tercapai. Ini bukan karena diwajibkan, melainkan karena pertanyaan itu telah diajukan dan akhirnya keputusan diambil.

menggunakan drone. Foto: William Hartono
Selangkah Lebih Maju
Batu bara memainkan peran penting dalam membentuk Asia Tenggara modern. Batu bara menggerakkan pabrik, menerangi kota dan juga pelosok, serta menyediakan energi terjangkau bagi ratusan juta orang di seluruh kawasan tersebut. Kontribusinya terhadap lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat disangkal.
Pada saat yang sama, para ahli energi semakin keras memperingatkan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil berisiko signifikan bagi iklim, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi regional dalam jangka panjang.
Proyek panel surya di Rumah Provinsialat memang tidak akan mengubah masa depan energi di Asia Tenggara. Ini hanyalah satu dari ribuan bangunan di sebuah kota yang ditenagai oleh sinar matahari yang dipanen dan disimpan selama hari kerja.
Begitulah, setiap perubahan di banyak lokasi memang selalu diawali dari satu tempat.
—
Artikel ini disertai video dokumenter yang dapat diakses melalui YouTube Jesuit Conference of Asia Pacific yang berjudul Indonesian Jesuit Provincialate Goes Solar, yang mengeksplorasi instalasi dan manfaat panel surya di Rumah Provinsialat SJ Indonesia di Semarang.
Sumber:
- ASEAN Centre for Energy, The Past, Present, and Future Role of Coal in the ASEAN Energy Landscape, Oktober 2025.
- Tim Editorial, PLN and IPP Electricity Production Reaches 290 TWh, the Majority of Coal, VOI, 13 November 2025.
- World Meteorological Organization (WMO), WMO Confirms 2024 as Warmest Year on Record at About 1.55°C Above Pre-Industrial Level, Press Release, 10 Januari 2025.
- Jesuit Conference of Asia Pacific, JCAP Launches Flagship Project, 10 Maret 2022.


