Pilgrims on Christ’s Mission

Kepemimpinan Jesuit di Indonesia

Sejak resmi menjadi provinsi mandiri pada 8 September 1971 oleh Pater Jenderal Pedro Arrupe, Serikat Jesus (SJ) Provinsi Indonesia telah mengarungi sejarah panjang dengan 12 kali pergantian kepemimpinan. Dalam tradisi Jesuit, seorang Provincial dipilih secara unik melalui sistem terna—pengajuan tiga nama kandidat kepada Pater Jenderal untuk ditunjuk salah satunya. Berdasarkan wawancara dengan para Jesuit serta riset dokumen dari Domus Historiae, Universitas Sanata Dharma, dan lainnya, berikut adalah daftar 12 Provincial SJ Indonesia dari masa ke masa.

 

Pater Antonius Soenarja, S.J. (1971-1975)

Pater Soenarja adalah provincial pertama Serikat Jesus Indonesia setelah diresmikan oleh Pater Pedro Arrupe. Kakak kandung almarhum Mgr. Leo Soekoto, S.J., ini berasal dari Klaten, Jawa Tengah, dan sempat mengalami masa internir Jepang saat menjalani formasi. Selama berkarya, ia pernah mengemban tugas sebagai Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Pembimbing Tersiat di Girisonta, serta menerjemahkan buku populer Doa Sang Katak karya Anthony de Mello. Pater Soenarja wafat pada 30 September 1988.

Pater Paulus Suradibrata, S.J. (1975-1981)

Pater Paulus Suradibrata atau Pater Sura berasal dari Bantul, Yogyakarta, dan menjabat sebagai provincial pada periode 1975–1981. Ia mencatat sejarah sebagai orang Asia pertama yang ditunjuk sebagai Asisten Jenderal untuk Wilayah Asia Timur dan Oseania dan tinggal di Roma. Setelah menempuh formasi filsafat di Pune, India, ia mengemban berbagai tugas penting, termasuk menjadi Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, serta berkarya selama lebih dari 15 tahun sebagai Pastor Paroki dan Vikaris Parokial di Paroki Gedangan, Semarang, sebelum akhirnya bertugas di Paroki St. Antonius Padua, Purbayan. Pater Suradibrata wafat pada 1 Januari 2018.

 

Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J. (1981-1983)

Pater Julius Darmaatmadja berasal dari Muntilan, Jawa Tengah, dan menjabat sebagai provincial pada periode 1981–1983. Alumnus Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan ini menempuh studi filsafat di Pune, India, hingga meraih gelar licentiate, di mana karisma kepemimpinannya sudah tampak sejak menjadi bidel (ketua komunitas skolastikat). Sebelum menjadi provincial, ia pernah diutus sebagai Pastor Paroki Girisonta, Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, dan Socius (wakil) Provincial. Pada tahun 1983, Paus Yohanes Paulus II menunjuknya sebagai Uskup Agung Semarang, disusul penugasan sebagai Uskup Umat Katolik di lingkungan TNI/Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia) pada 1986. Ia diangkat menjadi kardinal pada 1994 dan Uskup Agung Jakarta pada 1996.

Pater Josephus Darminta, S.J. (1984-1989)

Pater Josephus Darminta, atau biasa dipanggil Pater Darminta, berasal dari Kalasan, Yogyakarta, dan berkarya sebagai provincial pada tahun 1984–1989. Pater Darminta yang memiliki latar belakang teologi spiritualitas pernah bekerja sebagai pengajar di Universitas Sanata Dharma, instruktur tersiat di Girisonta, dan menulis berbagai buku mengenai spiritualitas Ignasian.

Pater Franciscus Xaverius Danuwinata, S.J. (1989-1990)

Pater Franciscus Xaverius Danuwinata atau biasa dipanggil Pater Danu berasal dari Purwodadi dan berkarya sebagai provincial pada tahun 1989-1990. Pater Danu ini pernah tinggal satu komunitas dengan teolog besar Karl Rahner di Wina saat studi teologi di Innsbruck, Austria. Pater Danu adalah tokoh pendidikan Jesuit yang banyak berkarya di dunia pendidikan tinggi, antara lain sebagai rektor Unika Atma Jaya, rektor IKIP Sanata Dharma, dan Ketua Yayasan STF Driyarkara. Pater Danu berpulang pada 26 Agustus 2016.

Pater Carolus Putranto, S.J. (1990-1996)

Pater Carolus Putranto berasal dari Sukabumi dan menjabat sebagai provincial periode 1990–1996 saat ia berusia sangat muda, yaitu 39 tahun. Alumnus Universitas Gregoriana, Roma ini merupakan seorang teolog dogmatik yang lama berkarya sebagai dosen di IPPAK (dahulu Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya) serta instruktur formasi tersiat di Girisonta. Selain aktif menulis berbagai buku bertema katekese, teologi, dan spiritualitas, Pater Putranto memiliki kenangan mendalam saat berjumpa langsung dengan Pater Jenderal Pedro Arrupe pada tahun 1971 ketika ia menjadi novis tahun pertama (novis primi) di Girisonta.

Pater Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J. (1996-2002)

Pater Paulus Wiryono Priyotamtama (Pater Wir) berasal dari Madiun dan menjabat sebagai provincial periode 1996–2002. Sosok humoris ini menakhodai Provinsi SJ Indonesia di tengah masa krusial transisi Reformasi 1998. Memiliki latar belakang ilmu pertanian dari Universitas Gadjah Mada dan Oklahoma State University, Amerika Serikat, ia aktif menulis buku seputar pangan serta banyak berkarya di dunia pendidikan, termasuk menjabat sebagai rektor Unika Soegijapranata dan Universitas Sanata Dharma. Ia juga pernah melayani Paroki Santa Theresia, Jakarta sebagai Pastor Paroki. Saat ini Pater Wir bekerja sebagai ko-instruktur tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta.

Pater Agustinus Priyono Marwan, S.J. (2002-2008)

Pater Agustinus Priyono Marwan, atau yang biasa dikenal sebagai Pater Pri Marwan, berasal dari Surakarta dan melayani sebagai provincial pada tahun 2002-2008. Sosok yang memiliki latar belakang psikologi ini pernah berkarya sebagai dosen psikologi di Universitas Sanata Dharma dan Ateneo de Manila serta sebagai dekan di FKIP Sanata Dharma. Pater Priyono Marwan sekarang mendampingi para Tersiaris di Filipina dan menjadi fasilitator retret di Pusat Spiritualitas Girisonta (Puspita).

Pater Robertus Bellarminus Rijo Moersanto, S.J. (2008-2014)

Pater Robertus Bellarminus Rijo Moersanto, atau Pater Riyo, berasal dari Magelang dan menjabat sebagai provincial pada periode 2008–2014. Lulusan studi filsafat di Jerman ini sangat lekat dengan lingkungan Kolese Kanisius, Jakarta, setelah sekian lama mengabdi sebagai pamong, kepala sekolah, hingga rektor. Ia juga pernah bekerja di Kolese Loyola, Semarang selama dua tahun sebelum akhirnya terpilih sebagai Provincial. Di ranah internasional, ia memiliki kedekatan khusus dengan mantan Superior Jenderal Serikat Jesus, Pater Adolfo Nicolás, S.J., setelah sempat mendampinginya di Manila sebagai socius (companion) Presiden Konferensi Jesuit Asia Pasifik (JCAP) serta menjadi rektor Arrupe International Residence di Manila. Kini, Pater Riyo mengemban perutusan sebagai superior Misi Pakistan.

Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. (2014-2020)

Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J., atau yang biasa dikenal sebagai Pater Sunu, berasal dari Medari, Yogyakarta, dan melayani sebagai provincial tahun 2014–2020. Pater Sunu, yang dikenal murah senyum, memiliki latar belakang biologi, pernah menjalani masa teologi di Australia, dan menyelesaikan studi magister dan doktoral di Vrije Universiteit Amsterdam. Pater Sunu pernah berkarya sebagai dosen di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Magister Novisiat Girisonta, dan sekarang bertugas sebagai instruktur Tersiat di Girisonta.

Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. (2020-2026)

Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. (Pater Benny) berasal dari Ambarawa, Jawa Tengah, dan menjabat sebagai provincial periode 2020–2026. Aktivis 98 ini memiliki latar belakang akademis yang kuat, dengan gelar master dan doktor dalam Development Studies dari Oxford University, serta aktif menulis tentang isu-isu perburuhan dan pekerja. Di awal masa imamatnya, ia pernah bertugas di Paroki Tangerang, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Superior Komunitas Apotolik Kolese St. Robertus Bellarminus, Yogyakarta, serta dosen pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma, sebelum ditunjuk sebagai provincial.

Pater Albertus Bagus Laksana, S.J. (2026-2032)

Pater Albertus Bagus Laksana, S.J. terpilih sebagai provincial untuk periode 2026-2032. Saat terpilih sebagai provincial, ia adalah rektor Universitas Sanata Dharma. Pater Bagus berasal dari Bantul, Yogyakarta, dan merupakan teolog komparatif lulusan Weston School of Theology di Boston. Pater Bagus memiliki kiprah panjang sebagai dosen dan pernah menjadi dekan Fakultas Teologi Wedabhakti. Pater Bagus Laksana pernah merasakan masa-masa yang menengangkan dan sulit di Timor-Leste saat menjalani formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK).

Get in Touch With Us

More News