PERTOBATAN SEJATI MEMERDEKAKANKU

Mengapa kita perlu bertobat? Apa untungnya pertobatan bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita perlu mengacu pada Asas dan Dasar St. Ignatius. Beliau merumuskan secara jelas bahwa manusia itu diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan dan itulah yang menyelamatkannya. Maka dengan pertobatan kita diajak untuk kembali pada asas dan dasar kita diciptakan. Jadi, kita semua memiliki hakekat yang sama untuk bertobat dan kembali kepada Allah.
IMG-20200226-WA0036

Mengapa kita perlu bertobat? Apa untungnya pertobatan bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita perlu mengacu pada Asas dan Dasar St. Ignatius. Beliau merumuskan secara jelas bahwa manusia itu diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan dan itulah yang menyelamatkannya. Maka dengan pertobatan kita diajak untuk kembali pada asas dan dasar kita diciptakan. Jadi, kita semua memiliki hakekat yang sama untuk bertobat dan kembali kepada Allah.
Dimana pun kita berada, di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di masyarakat, seluruh kegiatan kita harus menampakkan pertobatan yang menunjukkan bahwa kita makin memuji, menghormati, dan mengabdi Allah. Karena dengan begitu, usaha dan kerja keras kita akan menunjukkan bagaimana kita benar-benar bertobat. Seseorang yang memang bertobat dan mengarahkan dirinya kepada masa depan tentu saja bukan seseorang yang selalu membuat sesamanya menderita. Ia harus bisa membangun suasana positif dan kondusif di rumah, di tempat kerja maupun dalam hidup bermasyarakat.

Prodiakon memberikan abu kepada karyawan ATMI


Bacaan injil hari Rabu Abu menunjukkan sebuah contoh bagaimana tindakan manusia itu bisa tidak sesuai dengan martabatnya, seperti bagaimana seseorang itu selalu pamer agar dipuji dan diwongke orang lain yaitu dengan menunjukkan dirinya kalau berpuasa dengan keras atau memperlihatkan dirinya kalau ia memberi sedekah yang besar. Kiranya kita di sini tidak seperti itu. Kita berpuasa dengan memperlihatkan hidup kita seperti biasanya, tanpa harus menutup warung-warung yang ada atau kemudian melarang seseorang untuk makan daging sepuasnya. Persoalannya bukan pada makanannya melainkan pada diri kita ini. Apakah diri kita ini telah secara tulus menempatkan Allah dalam hati kita. Jangan-jangan Allah tidak masuk ke dalam hati kita karena kita telah dikuasai oleh nafsu seksual atau kebiasaan buruk yang merugikan orang lain sehingga Allah tidak dapat masuk dan menggerakkan hidup kita.
Untuk itu kita memerlukan pertobatan dan kita perlu rendah hati bertobat dan mengakui kesalahan maupun kegagalan kita. Bapa Suci telah menunjukkan bagaimana kita harus rendah hati, artinya bagaimana dalam hidup sehari-hari kita siap untuk dihina, dilecehkan, tidak digubris atau memang tidak dianggap sama sekali. Maka kita perlu sikap rendah hati agar kita sadar bahwa kita ini memiliki dosa dan kelemahan. Namun fokus kita bukan pada dosa dan kelemahan tersebut melainkan pada Allah yang memberikan kita nasib buruk walaupun kita ini penuh dosa. Allah harus kita sadari sebagai pribadi yang maharahim yang masih memberikan kita waktu untuk hidup dan memberikan berbagai rahmat-Nya. Maka dalam kesempatan yang diberikan Allah ini kita perlu membangun keutamaan yang diawali dengan pertobatan.
Pertobatan harus dimulai dari diri saya sendiri, yaitu saya yang sadar bahwa saya berdosa, saya telah gagal, seperti gagal menjalankan tugas, gagal belajar, gagal produksi, gagal membangun keluarga dan lainnya. Kegagalan ini bukan untuk kita nikmati dan kita tangisi melainkan kita jadikan pelajaran agar kita sadar diri sudah sejauh mana kita mengikuti Kristus yang hidup. Apakah kegiatan kita sehari-hari sudah serupa dengan apa yang dilakukan oleh Kristus sewaktu Ia masih hidup.

Prodiakon memberikan abu kepada siswa


Kalau kita melihat berita di hari-hari ini, banyak orang tidak terlalu sadar akan kegagalan yang mereka lakukan seperti berita kematian 10 siswa SMP 1 Turi atau usaha mengatasi banjir yang banyak dikorupsi ataupun upaya mengatasi virus mematikan Corona. Jangan kita meremehkan hal ini melainkan kita diajak untuk semakin maksimal memperbaiki hidup dengan semakin berjerih payah seperti Kristus itu pula. Jangan kita berpuas dengan apa yang telah kita capai saat ini maka hal itu akan menjadi kesombongan baru bagi kita. Kita harus sadar Allah telah murah hati memberikan kita hidup dan tetap menyertai kita dengan rahmat-Nya.
Kita sendiri telah mengupayakan diri kita untuk berubah yaitu sewaktu kita mengundang seorang ahli sampah. Kita disadarkan untuk mau merawat bumi ini. Bumi yang kita hidupi ini bukan milik kita seorang melainkan juga milik generasi berikutnya. Maka kita perlu merawat bumi ini dan perlu mengolah sampah. Namun untuk itu kita diajak untuk berproses yaitu memilah-milah sampah dengan penuh upaya. Pertobatan harus kita arahkan pada bagaimana kita menjadi instrumen Tuhan yang peduli pada banyak orang.
Dalam masa prapaskah yang diawali dnegan Rabu Abu ini, simbol yang digunakan yaitu tanda abu di dahi kita. Imam akan mengatakan ‘bertobatlah dan percayalah kepada Injil’. Untuk itu, kita diajak untuk tidak kemaki di hadapan Tuhan. Manusia asal mulanya adalah dari debu yang diberi nafas oleh Tuhan. Maka, kita harus berani bertobat karena Allah adalah penguasa atas hidup kita. Pertobatan sejati harus memerdekakan kita. Tuhan yang kita ikuti adalah Tuhan yang menderita, sengsara dan wafat. Kita diajari untuk menemukan apa yang Tuhan inginkan lewat sengsara yang kita alami. Lewat kegagalan yang kita alami, kita perlu berubah dan semakin magis dalam berjerih payah dalam kegiatan-kegiatan kita karena kita ingin tetap senafas dengan Allah yang mahabaik kepada kita.

Ditulis ulang dari
Homili Rm Agus Sriyono saat Ekaristi Rabu Abu di Kolese Mikael.

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *