Landasan dan Pilar Seorang Jesuit Muda dalam Masa Formasi
Pada Rabu, 29 Juli 2026, para novis dan skolastik merasa sangat terberkati karena menerima kunjungan Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. Kunjungannya ke Indonesia, dari 28 Juli hingga 2 Agustus, termasuk pertemuan dengan komunitas Jesuit dan karya kerasulan Provindo, serta partisipasi dalam Kongres XI WUJA (World Union Jesuit Alumni) di Yogyakarta. Bagi kami yang masih dalam masa formasi, kesempatan untuk bertemu dengan penerus Santo Ignatius merupakan pengalaman yang berkesan dan menggembirakan.
Selama pertemuannya dengan para novis dan skolastik, Pater Sosa menyampaikan beberapa refleksi penting tentang hidup dan panggilan Jesuit. Kata-katanya menginspirasi sekaligus menantang, mengingatkan kita bahwa panggilan adalah anugerah yang harus dijalani dengan kesetiaan, kemurahan hati, dan sukacita. Ia mendorong kita untuk tetap setia dan gembira dalam komitmen kepada Kristus, serta untuk terus membedakan kehendak Allah dengan hati yang terbuka dan berani. Inti dari pesannya adalah bahwa Pater Sosa mengajak kita merenungkan tiga dimensi kunci dari panggilan sebagai Jesuit, yaitu persahabatan, kebebasan, dan garis depan. Ia mengingatkan kita bahwa persahabatan sejati dengan Kristus adalah dasar dari semua keberhasilan kerasulan, persahabatan yang tumbuh melalui doa sehari-hari, Ekaristi, dan kehidupan persaudaraan dalam komunitas.

Pater Sosa juga menyampaikan apresiasinya terhadap Provinsi Indonesia, sebuah provinsi dengan jumlah Jesuit muda yang signifikan dibandingkan dengan banyak provinsi lainnya. Ini adalah berkat sekaligus tanggung jawab. Kehadiran banyak orang muda yang menanggapi panggilan Tuhan seharusnya tidak membuat kita berpuas diri, tetapi justru menginspirasi kita untuk memperdalam komitmen dan mempersiapkan diri untuk melayani di mana pun kita diutus. Dalam konteks ini, ia berbicara tentang kebebasan, yaitu kebebasan batin yang dibahas Ignatius dalam Latihan Rohani, sebagai kemampuan untuk memilih kehendak Tuhan di atas segalanya. Ia mendorong kita untuk mengembangkan kebebasan ini dengan melepaskan diri dari kenyamanan dan keduniawian, sehingga kita benar-benar siap untuk perutusan tersebut.
Ia juga menggarisbawahi ajakan Paus Leo XIV baru-baru ini kepada Serikat Jesus. Dalam suratnya kepada para Superior Mayor, Bapa Suci mengingatkan para Jesuit untuk tetap hadir di garis depan, tempat kebutuhan Gereja dan dunia sering kali paling besar. Sebagai Jesuit muda dalam formasi, kita dipanggil untuk mengembangkan kebajikan, kedalaman spiritual, dan pembentukan intelektual yang diperlukan untuk melayani Kristus dengan setia di dunia yang kompleks saat ini. Formasi kita bukan hanya untuk pertumbuhan pribadi, tetapi untuk mempersiapkan kita melayani perutusan di mana pun. Pater Sosa dengan kuat menghubungkan panggilan ini dengan dimensi ketiga: garis depan. Ia mendesak kita untuk tidak takut akan garis depan, baik geografis, budaya, intelektual, maupun spiritual, karena justru di garis tepi itulah kita bertemu dengan wajah Kristus yang paling jelas dan di mana Serikat dipanggil untuk hadir saat ini.

Sebagai seorang calon imam Jesuit, mendengarkan Pater Sosa mengingatkan saya bahwa panggilan Jesuit bukan hanya tentang menjadi bagian dari ordo religius, tetapi tentang terus bertumbuh dalam kasih kepada Kristus dan dalam kesiapan untuk melayani umat-Nya. Tiga kata yang ia sampaikan—persahabatan, kebebasan, dan garis depan—tetap melekat dalam diri saya sebagai kerangka untuk memahami perjalanan formasi diri saya. Kunjungannya memperkuat keinginan saya untuk merangkul proses formasi dengan lebih murah hati, percaya bahwa Tuhan terus membimbing Serikat melalui inspirasi Santo Ignatius dan kepemimpinan mereka yang dipercaya untuk mengembannya. Dan semoga refleksi ini juga mendorong para pembaca, terutama para Jesuit muda dalam masa formasi.


