Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma Gereja St. Antonius Purbayan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma Gereja St Antonius Purbayan dilaksanakan pada hari Minggu, 25 April 2021, dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko sebagai selebran dan didampingi konselebran Romo Clemens Budiarta, S.J. dan Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi, S.J.. Perayaan Ekaristi ini diikuti oleh 76 penerima Sakramen Krisma dan sejumlah umat juga turut hadir.

Dalam homilinya Mgr Rubiyatmoko menyatakan bahwa penerimaan sakramen penguatan merupakan anugerah yang luar biasa. Beberapa tahun sebelumnya, jumlah penerima sakramen krisma bisa mencapai 533 orang yang sebagian besar terdiri atas anak sekolah. Hari ini sejumlah 76 orang dan semuanya berasal dari Paroki Purbayan.

“Kita syukuri rahmat Tuhan yang berlimpah. Kita semua telah mendengarkan sabda Tuhan. Bacaan II, Rasul Yohanes tegas sekali mengatakan siapa Kita? Kita semua adalah anak-anak Allah. Kita disebut anak-anak Allah. Kapan kita dinyatakan secara resmi sebagai anak-anak Allah? Waktu dibaptis, kita dinyatakan secara publik, kita adalah anak anak Allah. Saat dibaptis, kita mendapat anugerah Roh Kudus sebagai anak-anak Allah. Pengampunan atas segala dosa kita,” ujar Mgr Rubiyatmoko.

Mgr Rubiyatmoko melanjutkan, dengan dibaptis kita semua dianugerahi panggilan, menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini Roh kudus yang satu dan sama dicurahkan kepada kita untuk meneguhkan kembali kita sebagai anak-anak Allah yang dewasa, memiliki tanggung jawab yang penuh. Roh memampukan kita menjadi anggota Gereja yang penuh. Penuh dalam hak dan lengkap sebagai orang Katolik. Tanggung jawab kita penuh, menjadi saksi-saksi Tuhan di tengah masyarakat.

Mgr. Rubi mengajak umat untuk mengingat masa kecil, saat masih kanak-kanak. “Mari kita ingat masa kecil, masa kanak-kanak kita. Anak ketika ditanya, kamu anake sapa? Biasanya anak kecil memiliki kebanggaan terhadap ayah atau bapak mereka. Ia akan menirukan dan menceritakan dengan penuh kebanggaan, entah pekerjaan atau kebaikan bapaknya. Mereka juga biasanya mulai meniru apa yang dilakukan orang tua mereka. Bapaknya membersihkan motor, anak ikut membersihkan. Mereka ingin meniru apa yang dikerjakan oleh bapaknya,” kata Mgr Rubiyatmoko.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko bersama Romo Clemens Budiarta, S.J. dan Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi, S.J. memimpin perayaan ekaristi penerimaan Krisma.

Menurut Mgr. Rubi, ada tiga hal utama tentang kaitan anak dengan bapak mereka. Pertama bangga bapaknya siapa. Kedua menirukan apa yang dikerjakan sang bapak. Dan ketiga, ikut terlibat dalam pekerjaan orang tua mereka.

“Anak-anak Allah mengembangkan tiga keutamaan ini. Pertama disebutkan bangga akan iman kepada Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Merasa semakin dekat dan semakin lengket dengan berbagai cara yang kita lakukan,” ucap Mgr Rubi.

Mgr. Rubiyatmoko menjelaskan, diharapkan agar kita semakin bertumbuh dan Yesus menjadi orientasi utama, bukan yang lain-lain. Termasuk bagaimana supaya semakin dekat dengan Yesus, rutin, tekun, sregep. Siapa yang rajin berdoa setiap hari? Saya yakin Anda semua berdoa. Ini kita kembangkan terus-menerus sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan.

“Saya ajak Anda semua semakin aktif dalam menggereja, terutama dalam peribadatan. Terus terang, saya akhir-akhir ini prihatin, orang muda, remaja dan OMK, yang ikut Ekaristi offline di Gereja sangat kecil. Maka saya ajak menanggapi kesempatan ini sebaik mungkin dekat dengan Tuhan, dekat dengan Gereja. Tekun Ekaristi bersama? Sanggup? Yakin? Yakin nggih, tenan ini,” ucap Mgr Rubiyatmoko meminta kesanggupan seluruh umat yang hadir.

Mgr. Rubi melanjutkan, Anda semua harus dianggap Katolik dewasa, militan, berikan contoh, tekun Ekaristi. Yang kedua, mewartakan kabar suka cita kepada orang lain, memberi contoh teladan yang baik. Hal ini dilakukan Paroki St Antonius Purbayan, dengan beraksi, memberi teladan tebar ikan nila, 500 ekor, kita tebarkan di sungai. Contoh teladan, bagaimana cintai lingkungan dan nguri-uri kebudayan kita. Ambyur dengan masyarakat, srawung, mudah-mudahan nanti beranak-pinak menjadi semakin banyak. Masyarakat sepanjang sungai bisa mancing, dapat lauk kemudian dimakan. Ini salah satu cara mencintai lingkungan. Mewartakan iman secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, tiru-tiru apa yang dikerjakan Tuhan. Kita aktif di Gereja, aktif di masyarakat, ada yang menanggapi panggilan Tuhan menjadi bruder, suster, dan romo.

Berkarya di kebun anggur Tuhan. Siapa yang ingin jadi romo? Minimal tadi ada misdinar yang ingin jadi Romo. Kita doakan ya, yang muda-muda ada yang ingin menjadi Romo. Audi, dari kata audio, mendengar dengan baik. Nanti ajak teman-teman. Bapak-bapak mendidik menanggapi panggilan anak-anaknya. Siapa ingin jadi suster? Anak-anak, tidak apa-apa, nanti didampingi supaya ada yang jadi bruder dan suster. Aja alasan anake mung siji. Gawe meneh (disambut tawa umat).

Saudara-saudara terkasih, ini cara mendampingi anak-anak,membuka hati terhadap panggilan Tuhan. Gereja-Nya semakin hari semakin luas, Romo-romo yang bekerja semakin sedikit. Gereja membutuhkan banyak romo. Anak-anak kita harus didampingi dari waktu ke waktu.

Setelah selesai perayaan Ekaristi Mgr. Rubiyatmoko menebar benih ikan di sungai Pepe.

Usai homili, Romo Tino dan Romo Budi menyanyikan lagu dan diikuti oleh umat yang hadir. Setelah perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma selesai, acara dilanjutkan dengan menebar benih ikan di sungai.

Kontributor: Cosmas – KOMSOS Purbayan