Pilgrims on Christ’s Mission

Pendidikan Nurani, Empati, dan Kepemimpinan dalam Hidup Nyata

SMA Kolese de Britto, Yogyakarta, kembali menegaskan komitmennya sebagai lembaga pendidikan Katolik Jesuit yang berorientasi pada pembentukan karakter melalui penyelenggaraan Kegiatan Formasi Live In Sosial 2026 bagi seluruh murid kelas XI. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan visi dan misi sekolah dalam mendidik murid menjadi pemimpin pengabdi yang cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa.

Sebagai sekolah yang menghidupi visi pendidikan unggul berbasis nilai-nilai Ignatian, SMA Kolese de Britto merancang berbagai kegiatan formatif yang disesuaikan dengan tahap perkembangan murid. Setiap jenjang memiliki fokus pembinaan yang berbeda. Kelas X diarahkan pada tahap adaptasi, kelas XI pada tahap sosialisasi, dan kelas XII pada tahap internalisasi. Pada jenjang kelas XI inilah murid diajak untuk keluar dari zona nyaman dan terlibat secara nyata dalam realitas masyarakat yang majemuk.

Salah satu kegiatan wajib pada tahap sosialisasi tersebut adalah Live In Sosial yang pada tahun 2026 diikuti oleh 307 murid kelas XI. Kegiatan ini dirancang untuk mengolah dan mengembangkan profil lulusan SMA Kolese de Britto yang dikenal dengan 1L + 5C, yakni Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Consistency. Melalui pengalaman hidup bersama masyarakat, murid tidak hanya belajar secara kognitif, tetapi juga diajak mengasah kepekaan hati, empati sosial, serta tanggung jawab sebagai warga bangsa. Harapannya kelak mereka menjadi pemimpin pelayanan (leader of service), memiliki komitmen untuk berbelas kasih (compassionate commitment), dan menjadi pejuang-pejuang keadilan.

Pada tahun ini, Live In Sosial 2026 secara khusus mengolah tiga isu utama, yakni “kemiskinan kota, kemiskinan mental, dan isu toleransi.” Ketiga isu tersebut dipilih agar siswa semakin peka terhadap realitas sosial bangsa Indonesia yang kompleks dan beragam. Melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan keagamaan yang berbeda, siswa diharapkan mampu menumbuhkan sikap empati, bela rasa, dan keterbukaan.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin–Kamis, 12–15 Januari 2026, di berbagai wilayah 5 kota besar di Pulau Jawa dan Madura. Selama empat hari, siswa tinggal dan menginap di keluarga (induk semang) atau komunitas masyarakat, termasuk perkampungan kumuh, keluarga marjinal, panti penyandang disabilitas ganda, serta pondok pesantren. Dalam prosesnya, siswa terlibat langsung dalam aktivitas harian di masing-masing tempat, sehingga mengalami secara nyata dinamika kehidupan sosial yang berbeda dari keseharian mereka.

Koordinator Live In Sosial, Nova Tri Utomo, S.Pd. menegaskan bahwa fase sosialisasi di kelas XI merupakan tahap yang sangat penting dalam proses pendidikan karakter murid. “Fase sosialisasi di kelas XI menjadi momentum strategis bagi murid untuk belajar keluar dari dirinya sendiri dan berjumpa dengan realitas masyarakat yang sesungguhnya. Di tahap ini, nilai-nilai seperti empati, kepedulian, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan mulai diuji dan dibentuk melalui pengalaman nyata, bukan sekadar teori di kelas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Nova, panggilan akrabnya, menekankan bahwa kegiatan Live In Sosial merupakan sarana konkret untuk menghidupi nilai-nilai yang selama ini ditanamkan di sekolah. “Kami ingin murid tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan nurani dan keberanian untuk terlibat. Sosialisasi bukan hanya soal bergaul, tetapi juga tentang belajar memahami, menghargai perbedaan, dan mengambil peran sebagai pemimpin pengabdi di tengah masyarakat,” tambahnya.

 

Murid kelas XI yang mendapatkan pengalaman nyata sebagi buruh dalam Kegiatan Formasi Live In Sosial 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan visi dan misi sekolah dalam mendidik murid menjadi pemimpin pengabdi yang cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa. (Foto: Penulis)

 

Selanjutnya, Kepala SMA Kolese de Britto Yogyakarta, R. Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd, menyampaikan spirit yang menjiwai formasi ini. “Dengan formasi Live In ini, para murid tidak hanya dijejali teori sosiologi dan definisi berempati, tetapi juga mengalami langsung dengan segenap panca indera, hidup bersama pribadi-pribadi yang berkekurangan. Bukan untuk membandingkan dirinya sebagai yang lebih beruntung, melainkan untuk menumbuhkan cara bertindak yang lebih memahami, mencintai, dan membantu mereka. Membangun dimensi perjumpaan dengan pribadi lain yang memiliki keyakinan berbeda juga akan melahirkan cara bertindak yang toleran dan saling menghargai.”

Lebih lanjut, Arifin menyampaikan bahwa proses formasi yang dihidupi di sekolah membutuhkan dimensi perjumpaan tersebut. Dimensi perjumpaan tidak sekadar melibatkan relasi murid dan guru, tetapi juga lingkungannya. “Dimensi perjumpaan akan membuka mata murid terhadap kebutuhan manusia tanpa membeda-bedakan.

Dimensi budaya perjumpaan memungkinkan mereka untuk lepas dari keterasingan, kesendirian, dan kesepian yang akut. Dimensi perjumpaan melatih cara bertindak untuk merawat diri dan budaya lain yang terluka. Dimensi ini memungkinkan kemampuan untuk merangkul mereka dan menawarkan berbagai cara untuk menyembuhkan luka, membangun jembatan, serta memupuk persaudaraan. Inilah roh pendidikan yang sejati.

Murid kelas XI yang mendapatkan pengalaman nyata bekerja sebagi pengamen dalam Kegiatan Formasi Live In Sosial 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan visi dan misi sekolah dalam mendidik murid menjadi pemimpin pengabdi yang cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa. (Foto: Penulis)

Pelaksanaan Live In Sosial 2026 juga selaras dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan pengembangan manusia Indonesia seutuhnya: beriman, berakhlak mulia, cakap, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Selain itu, kegiatan ini berakar kuat pada Universal Apostolic Preference (UAP) Serikat Jesus, khususnya dalam semangat menunjukkan jalan kepada Tuhan dan berjalan bersama mereka yang tersingkir.

Live In Sosial 2026 menjadi cermin nyata dari pendidikan bebas dan humanis a la Jesuit yang dihidupi di SMA Kolese de Britto. Pendidikan bebas dimaknai bukan sebagai ketiadaan aturan, melainkan sebagai proses pembebasan batin yang membimbing murid agar mampu bertindak berdasarkan kesadaran, kebebasan hati nurani, dan tanggung jawab pribadi. Dalam tradisi Jesuit, kebebasan selalu berjalan seiring dengan kepekaan nurani dan keberanian untuk memilih yang lebih baik (magis), terutama bagi sesama yang kecil, lemah, dan tersingkir.

Pengalaman hidup bersama masyarakat dalam Live In Sosial menjadi ruang kontemplasi dalam aksi (contemplatio in actione). Murid tidak hanya diajak untuk melihat dan mengalami realitas sosial, tetapi juga untuk merefleksikan kehadiran Allah yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Perjumpaan dengan kemiskinan, keterbatasan, serta perbedaan iman dan budaya menjadi medan rohani tempat murid belajar menemukan Tuhan yang hadir dalam wajah sesama dan lingkungannya (finding God in all things). Praktik baik dari formasi live-in sosial ini juga mendapatkan apresiasi dan testimoni dari berbagai pihak, seperti local leaders, induk semang, murid, dan orang tua.

Menurut salah satu local leader Live In di Atmabrata bernama Petrus Partono, kegiatan Live In di Atmabrata bukan sekadar pengalaman tinggal bersama masyarakat, melainkan perjumpaan yang mengubah cara murid memandang hidup. Justru melalui hujan, banjir, dan keterbatasan, para murid belajar memahami martabat orang kecil, menemukan rasa syukur, serta menumbuhkan empati yang lahir dari keterlibatan nyata. Di sanalah pendidikan menjadi sungguh manusiawi untuk membentuk hati, mengasah nurani, dan menuntun murid menjadi pribadi De Britto yang peka, berbelarasa, dan siap menghadirkan harapan bagi sesama. Live In adalah ruang perjumpaan yang memanusiakan manusia. Dalam keterbatasan dan penderitaan, murid diajak keluar dari kenyamanan diri untuk mengenali martabat sesama, sehingga pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan menjelm menjadi proses pembentukan hati dan nurani. Di sanalah empati dan bela rasa tumbuh, menuntun murid menjadi pribadi yang hidup untuk sesama dan menghadirkan harapan bagi dunia.

Selanjutnya, salah satu murid peserta Live In Sosial bernama Phan Christian Kevin Ezekiel Yohanes dari kelas XI-3 menyampaikan, “Selama live in, saya yang terbiasa hidup di ruko dan jarang berinteraksi, justru belajar arti kebersamaan di perkampungan yang sederhana. Di kampung, orang-orang mudah menyapa, ramah, dan peduli. Kehangatan yang saya terima, terutama dari Bu Nani, membuat saya merasa diterima seperti keluarga. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa cinta kasih hadir lewat hal-hal kecil yang tulus dan nyata dalam kehidupan sehari-hari.”

Berdasarkan pengalaman yang didapatkan ini, Kevin menulis dalam refleksinya bahwa ia merasakan Tuhan hadir lewat perubahan hati, dari yang tertutup menjadi lebih terbuka. Perpindahan dari kehidupan yang individual menuju lingkungan yang penuh kebersamaan mengajarkannya untuk lebih bersyukur, lebih peduli, dan lebih berani membangun relasi. Baginya, pengalaman live in ini bukan hanya kenangan, tetapi juga panggilan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli’.

Murid kelas XI yang murid mendapatkan pengalaman nyata membantu pendampingan di panti asuhan cacat ganda dalam Kegiatan Formasi Live In Sosial 2026. (Foto: Penulis)

 

Salah satu orang tua, Bapak Yohanes Ekoyono dan Ibu Hertauly Purba juga menyampaikan tentang formasi Live In Sosial ini. “Sebagai orang tua, kami melihat perubahan positif dalam diri anak kami setelah mengikuti kegiatan Live In Sosial. Ia menjadi lebih terbuka dalam bercerita, lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya, dan tidak lagi terlalu cuek seperti sebelumnya. Ia juga mulai menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab dan lebih menghargai usaha orang lain, terutama ketika menceritakan pengalamannya membantu Bu Nani dan hidup di lingkungan perkampungan.” Lanjutnya, “Kami bersyukur karena pengalaman Live In Sosial ini tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi benar-benar membentuk sikap dan karakter. Kami melihat ia menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih peduli, dan lebih mudah bersyukur. Perubahan ini membuat kami yakin bahwa kegiatan live in memberi dampak yang baik bagi perkembangan pribadinya dan spiritualnya.”

Melalui Live In Sosial 2026, SMA Kolese de Britto menegaskan kembali jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya membentuk murid menjadi pribadi unggul secara akademik, tetapi juga menjadi manusia yang merdeka secara batin, berbelas rasa, dan berkomitmen pada keadilan sosial. Inilah wajah pendidikan Jesuit, pendidikan yang menggerakkan hati, mencerahkan akal budi, dan mendorong tindakan nyata demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan (Ad Maiorem Dei Gloriam) serta kesejahteraan sesama.

Get in Touch With Us

More News