Jumat, 31 Juli 2026 Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. memimpin upacara peletakan batu pertama pembangunan Wisma Emmaus yang didedikasikan bagi para Jesuit senior di Girisonta. Acara tersebut menandai dimulainya proyek pembangunan 15 bulan yang akan menyediakan fasilitas kesehatan dan perawatan bagi para Jesuit sepuh di Provinsi Indonesia.
Mereka telah melayani Gereja, Serikat, dan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Mereka telah menjadi pendidik, pastor, misionaris, dan pembimbing spiritual. Kini, saat memasuki usia senja, para Jesuit senior dari Provinsi Indonesia diberi rumah baru yang mencerminkan martabat dan kepedulian yang sama yang telah mereka berikan dengan begitu murah hati kepada banyak orang lain.

Keputusan untuk membangun Wisma Emmaus baru tidaklah muncul tiba-tiba. Keputusan itu lahir dari kenyataan yang mendesak. Hingga tahun 2023, Provinsi Indonesia mencatat 77 anggota Jesuit berusia lebih dari 65 tahun, sebagian besar dari keanggotaan provinsi yang terus bertambah setiap tahunnya. Rumah Emmaus yang ada, diresmikan pada 7 Agustus 1973 oleh Pater Antonius Soenarja, S.J., yang saat itu menjabat sebagai Superior Provinsi, telah melayani komunitas selama lebih dari lima dekade. Namun, dengan hanya 18 kamar dan infrastruktur yang sudah tua, rumah tersebut tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan anggota senior provinsi. Saat ini, usia rata-rata dari sembilan penghuni di Emmaus adalah 79 tahun. Di antara mereka adalah Yang Mulia Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J., Uskup Agung Emeritus Jakarta, yang berusia 92 tahun dan merupakan penghuni tertua. Penghuni termuda berusia 75 tahun. Mereka adalah orang-orang yang telah mengabdikan seluruh hidup mereka untuk misi, mulai dari pekerjaan pastoral di paroki hingga kepemimpinan dalam pendidikan dan tata kelola Gereja.

Fasilitas Emmaus yang baru akan dibangun di atas lahan seluas 2.500-meter persegi, dengan 25 hingga 30 kamar yang dirancang dengan mengutamakan aksesibilitas dan kenyamanan. Para arsitek telah mengambil pelajaran dari pengalaman praktis bertahun-tahun di rumah yang ada, di mana para penghuni dan staf mengidentifikasi tantangan utama. Salah satu masalah signifikan pada bangunan lama adalah pintu kamar mandi pada bagian aslinya terlalu sempit untuk mengakomodasi penggunaan kursi roda. Pelajaran ini telah diterapkan: kamar-kamar baru akan memiliki pintu yang lebih lebar, dan kamar mandi akan memiliki dua pintu masuk, satu dari dalam dan satu dari luar, untuk memastikan bahwa pengasuh dapat membantu penghuni jika terjadi keadaan darurat.
Selain aksesibilitas, Wisma Emmaus yang baru akan mencakup fasilitas kesehatan, seperti kolam hidroterapi yang dirancang khusus untuk pasien hernia (HNP), serta ruang olahraga khusus. Penambahan ini mencerminkan komitmen Jesuit untuk merawat seluruh pribadi, cura personalis, bahkan hingga dekade terakhir kehidupan.

Saat ini, para residen Emmaus didukung oleh tim yang berdedikasi yang terdiri atas dua perawat, lima asisten perawat, dua staf kebersihan, dan seorang biarawati OSF dengan latar belakang keperawatan. Komunitas ini juga mendapat manfaat dari kemitraan dengan Rumah Sakit St. Elisabeth di Semarang, yang menyediakan layanan perawatan di rumah dan pemeriksaan darah rutin setiap tiga bulan. Minister dan Asisten Minister turut membantu mendampingi para residen Wisma Emmaus, saudara mereka.
Upacara peletakan batu pertama bukan hanya acara bagi para residen dan staf Emmaus. Ini adalah momen bagi seluruh provinsi untuk merenungkan warisan para senior ini. Para Jesuit yang sekarang tinggal di Girisonta telah melayani lintas generasi dan lintas wilayah, dari dunia akademis hingga tempat-tempat terpencil dalam karya Jesuit. Mereka telah menjadi pilar Gereja dan saksi iman di negeri yang terus berubah.
Kehadiran Pater Sosa pada peletakan batu pertama menggarisbawahi pentingnya proyek ini. Kunjungannya ke Indonesia, yang juga mencakup kunjungan ke beberapa karya dan komunitas Jesuit, menyoroti komitmen ganda Serikat Jesus, yaitu menjangkau dan melayani sesama sekaligus memperhatikan anggotanya sendiri.

Bangunan baru ini tidak akan sepenuhnya menggantikan bangunan lama. Ruangan yang ada akan tetap tersedia untuk tamu atau Jesuit yang mencari tempat istirahat yang tenang, memastikan bahwa Wisma Emmaus terus melayani komunitas yang lebih luas. Jaringan kepedulian ini merupakan bukti semangat kekeluargaan yang telah lama menjadi ciri khas Serikat Jesus di Indonesia. Saat pembangunan dimulai, Provinsi Indonesia menatap masa depan dengan penuh harapan. Rumah Emmaus yang baru tidak hanya akan menyediakan ruang fisik bagi para Jesuit senior; tetapi juga akan menjadi simbol rasa syukur atas hidup pelayanan dan memastikan bahwa tak akan pernah seorang pun ditinggalkan dalam Serikat Jesus.


