Pilgrims on Christ’s Mission

Laboratorium Eksistensial Anak Muda dalam Semangat: Serve, Share, Shine

Parmas Cup 2026 merupakan perhelatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pastoral Mahasiswa Surakarta (Parmas) sebagai wadah bagi kaum muda Katolik untuk mengembangkan potensi diri, menjalin persaudaraan, dan mengasah sportivitas. Bukan sekadar turnamen olahraga atau e-sports biasa, Parmas Cup 2026 menjadi ruang perjumpaan tempat kaum muda diajak untuk merefleksikan nilai-nilai pelayanan melalui semangat “Serve, Share, Shine.” Tagline ini bukan sekadar kata-kata.

Serve berarti hadir untuk melayani dengan hati, saling membantu, dan memberi dampak positif bagi sesama. Share bermakna berbagi kebersamaan, pengalaman, dan semangat agar dapat bertumbuh bersama. Sementara itu, shine berarti berani menunjukkan potensi terbaik dan menjadi terang yang menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Melalui semangat ini, kami ingin membangun kebersamaan yang penuh kepedulian, inspirasi, dan berdampak positif.

Rangkaian perhelatan ini diawali dengan Opening Ceremony sebagai pembuka semangat kompetisi bagi para peserta dan panitia. Dalam sambutannya, Pater Kristino Mari Asisi, S.J. memberikan refleksi mendalam yang menjadi jantung dari semangat Parmas Cup tahun ini. Beliau mengutip pemikiran filosofis dari Driyarkara, “Bermainlah dalam permainan, tetapi janganlah main-main.” Pater Tino menjelaskan bahwa Driyarkara menggunakan permainan sebagai cermin tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap dalam menghadapi realitas kehidupan. Permainan bukanlah sekadar kegiatan untuk mengusir kebosanan, melainkan sebuah laboratorium eksistensial tempat manusia belajar seni menjalani hidup. Di lapangan, setiap peserta diajak untuk disiplin, jujur, dan menghormati lawan—sebuah latihan nyata untuk menghadapi realitas kehidupan sesungguhnya dengan integritas dan tanggung jawab.

Dua orang peserta lomba badminton dalam Parmas Cup 2026

 

Bagi panitia, terlibat dalam kepanitiaan ini memberikan perspektif baru tentang arti kerja keras. Selama dua bulan persiapan, kami tidak selalu berjalan lancar. Sempat muncul konflik dan perbedaan pendapat yang cukup menguras energi di antara panitia terkait teknis pelaksanaan. Namun, dari gesekan itulah kami belajar untuk menjadi dewasa. Kami memilih untuk tidak menyerah pada ego, melainkan duduk bersama untuk mencari solusi melalui dialog yang terbuka. Konflik yang terjadi akhirnya menjadi katalis yang mempererat kekompakan kami; kami menyadari bahwa perbedaan sudut pandang adalah bagian dari seni kolaborasi untuk melayani (serve) sesama dengan lebih baik.

Suasana di lapangan selama pertandingan berlangsung sangat hidup, disertai antusiasme luar biasa dari para peserta. Pada cabang Mobile Legends, terdapat 65 peserta yang terbagi dalam 13 tim, di mana strategi dan kerja sama tim yang solid menjadi kunci kemenangan. Sementara itu, pada cabang badminton, sebanyak 32 peserta atau 16 tim menunjukkan semangat smash yang mencerminkan energi kaum muda yang berapi-api. Begitu pula pada cabang eFootball (PES), dengan 13 peserta yang saling menguji ketegangan adu taktik di lapangan virtual. Seluruh partisipan menunjukkan bahwa kompetisi adalah sarana untuk bertumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan.

Puncak rangkaian kegiatan ini adalah perayaan Ekaristi dan acara Awarding Ceremony. Momen ini bukan sekadar memberikan piala kepada pemenang, melainkan bentuk apresiasi atas perjuangan, dedikasi, dan sportivitas yang telah ditunjukkan oleh seluruh peserta. Banyak hal yang bisa dipetik dalam kehidupan kaum muda Katolik dari perjalanan Parmas Cup ini. Ketika menyaksikan para peserta saling berpelukan dan saling mengapresiasi setelah pertandingan usai, atau tertawa bersama saat rehat, kami menyadari bahwa tujuan utama kami untuk menjalin persaudaraan telah tercapai.

Pemenang Lomba Mobile Legend dan Para Panitia Parmas Cup 2026.

 

Pengalaman Parmas Cup 2026 ini menyadarkan kita bahwa sebagai insan muda, tantangan hidup ke depan tidaklah mudah—baik di ranah profesional, lingkungan sosial, maupun perjalanan iman pribadi. Namun, kompetisi ini membuktikan bahwa beban tersebut akan terasa lebih ringan jika kita mau membuka diri untuk terhubung dengan sesama. Kita belajar bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak trofi yang dikumpulkan, melainkan dari sejauh mana kita mampu menghadirkan kehangatan kasih Kristus dalam interaksi sehari-hari. Karena itulah kemenangan yang sejati.

Menutup lembaran kegiatan ini, kami diingatkan bahwa panggilan menjadi kaum muda Katolik bukan sekadar menjalani rutinitas iman, melainkan sebuah gerakan untuk membawa perubahan. Melalui semangat serve, share, shine, kita diutus untuk menjadi agen pembawa damai yang tangguh. Semoga api yang telah dinyalakan dalam Parmas Cup ini tidak padam setelah turnamen usai, melainkan menyala dalam karya nyata, dedikasi, dan sikap peduli kita terhadap dunia yang lebih luas.

Get in Touch With Us

More News