Refleksi Hari Pengungsi Sedunia 2026
Peringatan Hari Pengungsi Sedunia yang diselenggarakan pada 20 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya sekaligus menggugah perjalanan kemanusiaan saya dalam menemani dan membela hak-hak teman-teman pengungsi. Acara ini berkolaborasi dengan beberapa organisasi seperti UNHCR, Refuture, JRS Indonesia, SUAKA, YCWS, Bridges for Hope, dan Islamic Relief Indonesia. Ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang perjumpaan yang mengingatkan saya akan nilai dasar kemanusiaan bahwa setiap manusia, tanpa memandang asal negara, suku, agama, maupun status sosialnya, memiliki hak yang sama untuk hidup dengan aman, bermartabat, dan penuh harapan.
Tema tahun ini, One Goal: Safety for All, terasa sangat relevan dan mendalam. Keselamatan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang sederhana dan mudah diperoleh. Namun, bagi jutaan pengungsi di berbagai belahan dunia, keselamatan adalah sebuah perjuangan panjang yang harus dibayar dengan kehilangan rumah, keluarga, pekerjaan, bahkan indentitas yang selama ini melekat dalam kehidupan mereka. Kesadaran inilah yang semakin saya rasakan selama mengikuti rangkaian kegiatan hari pengungsi sedunia.
Dalam event tersebut saya mendapatkan tugas sebagai among tamu yang mendata peserta yang hadir. Sekilas tugas ini terlihat sederhana, namun justru melalui peran tersebut saya berkesempatan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Saya menemukan bahwa masih banyak orang yang belum memahami siapa sebenarnya pengungsi dari luar negeri dan mengapa mereka berada di Indonesia. Sebagian masih menyamakan pengungsi dengan imigran biasa, sementara yang lain belum mengetahui bahwa para pengungsi terpaksa meninggalkan negaranya karena perang, konflik bersenjata, situasi politik, penganiayaan, pelanggaran hak asasi manusia, maupun situasi yang mengancam keselamatan mereka.
Setiap kali saya mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan kondisi para pengungsi, saya merasa bahagia karena dapat membantu memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran. Masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya membangun solidaritas. Empati tidak lahir begitu saja; empati tumbuh ketika seseorang mengenal, memahami, dan melihat realitas kehidupan orang lain. Melalui percakapan-percakapan sederhana tersebut saya berharap semakin banyak orang yang memandang pengungsi luar negeri sebagai sesama manusia yang memiliki hak untuk dihormati dan diterima.

Kehadiran pengungsi dari berbagai negara seperti Afghanistan, Somalia, Sudan, Myanmar, Eritrea, Ethiopia, dan negara lain memberikan gambaran nyata tentang keberagaman dunia yang berkumpul dalam satu ruang. Saya melihat bagaimana perbedaan bahasa, budaya, warna kulit dan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk saling berjumpa dan merayakan kemanusiaan, justru keberagaman tersebut menjadi kekuatan yang memperkaya pengalaman bersama.
Berbagai kegiatan yang ditampilkan, mulai dari pertunjukan seni, tarian tradisional, olahraga, pameran karya seni, talk show, hingga kuliner khas dari negara asal pengungsi, memperlihatkan bahwa teman-teman pengungsi bukan hanya individu yang membutuhkan bantuan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki bakat, kreativitas, budaya, dan mimpi yang terus mereka perjuangkan meskipun berada dalam situasi yang tidak pasti. Saya belajar bahwa di balik status pengungsi terdapat identitas manusia yang jauh lebih besar: seorang ayah, ibu, anak, pelajar, seniman, guru, atau individu yang memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik.
Namun, di antara berbagai momen yang penuh sukacita tersebut, ada pengalaman yang membekas di hati saya. Saya bertemu kembali dengan beberapa teman pengungsi yang pernah didampingi oleh JRS INDONESIA. Pertemuan itu menghadirkan perasaan haru sekaligus keprihatinan yang mendalam. Saya mendengarkan kisah mereka tentang kehidupan yang masih dipenuhi ketidakpastian, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, dan berkurangnya bantuan yang mereka terima.

Percakapan saya dengan Ibu Khadra dan Halimah menjadi salah satu momen paling menyentuh selama acara berlangsung. Ketika mereka menyampaikan harapan agar JRS INDONESIA dapat kembali memberikan bantuan keuangan, saya merasakan pergulatan batin yang tidak mudah. Sebagai manusia, hati saya terdorong untuk membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan. Saya dapat merasakan kecemasan dan kelelahan yang mereka alami setiap hari. Namun di sisi lain, saya juga memahami bahwa JRS INDONESIA, tempat saya berkarya, memiliki keterbatasan sumber daya dan tidak selalu mampu memenuhi semua kebutuhan yang ada.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa belas kasih memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memberi bantuan materi. Belas kasih juga hadir dalam kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi, menemani tanpa meninggalkan dan memberikan perhatian meskipun tidak selalu mampu menawarkan solusi yang diharapkan. Terkadang kehadiran yang tulus menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
Pengalaman ini juga menyadarkan saya bahwa perjuangan para pengungsi belum berakhir. Di balik kemeriahan peringatan Hari Pengungsi Sedunia, masih terdapat kenyataan yang tidak selalu terlihat oleh publik. Banyak pengungsi hidup dalam ketidakpastian tentang masa depan mereka. Ada yang telah bertahun-tahun menunggu proses penempatan ke negara ketiga. Ada yang harus bertahan dengan bantuan yang semakin terbatas. Ada pula yang berjuang menjaga kesehatan mental mereka di tengah situasi yang tidak kunjung memberikan kepastian.
Peringatan Hari Pengungsi Sedunia mengingatkan saya bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Solidaritas harus diwujudkan dalam tindakan nyata, baik melalui advokasi, edukasi, pendampingan, maupun upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif dan ramah bagi mereka yang terpaksa mengungsi. Dukungan terhadap pengungsi bukan hanya tanggung jawab organisasi kemanusiaan, melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai sesama manusia.

Saya semakin percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil. Ketika seseorang bersedia mendengar cerita seorang pengungsi, ketika masyarakat mulai membuka ruang penerimaan, ketika anak-anak pengungsi mendapat kesempatan belajar, atau ketika ada individu yang tergerak untuk membantu sesuai kemampuannya, pada saat itulah harapan mulai dibangun. Harapan mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi harapan memberi kekuatan untuk terus bertahan dan melangkah
Harapan saya, Hari Pengungsi Sedunia tidak hanya dikenang sebagai sebuah acara tahunan, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus membangun budaya kepedulian dan solidaritas. Semoga semakin banyak individu, komunitas, organisasi, yang tergerak untuk memperjuangkan hak-hak para pengungsi. Semoga mereka yang saat ini hidup dalam ketidakpastian dapat menemukan kembali rasa aman, harapan, dan masa depan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, keselamatan bukanlah hak istimewa bagi sebagian orang, melainkan hak dasar bagi setiap manusia. One Goal: Safety for All bukan hanya sebuah tema peringatan, tetapi sebuah panggilan moral yang mengajak kita untuk menjadi pembawa harapan, menghadirkan kepedulian, dan menjaga martabat sesama manusia di manapun mereka berada.
Adi Priyanto
JRS Indonesia


