Serikat Jesus Provinsi Indonesia

Money Is COINED FREEDOM

de britto ekskursi

Terlepas dari dinamika jatuh-bangun memenuhi tuntutan profesionalitas bekerja dan susah payah mengembangkan karya kerasulan, formasi TOK  adalah  masa yang menyenangkan. Mengapa? Dari segi tuntutan objektif lembaga, kami bukanlah penanggung jawab utama. Kami hanya membantu dan berpartisipasi dalam tugas seorang direktur karya. Tanggung jawab penuh tetap ada pada mereka. Namun, di sisi lain, sejumlah wewenang (otoritas) di unit kerja memberi perasaan berkuasa/powerful. Kami punya rekan kerja, asisten kerja, maupun siswa/umat dampingan yang posisinya sub-ordinatif dengan kami.

Misalnya, sebagai sub pamong Kolese (asisten wakil kepala sekolah bidang kesiswaan), saya punya wewenang untuk memberi perlakuan/ proses formatif bagi siswa yang melanggar tata tertib. Saya punya wewenang untuk memberi persetujuan atau tidak pada permohonan siswa untuk siswa tidak  masuk sekolah atau kegiatan seputar persekolahan lainnya. Setiap jam istirahat atau pulang sekolah para siswa antre mencari saya. Ini memberi rasa dibutuhkan.  Sering kali mereka datang dengan gesture tubuh yang merunduk, memelas, dan memohon-mohon. Itulah momen-momen konkret ketika saya merasakan bahwa ditaati itu sungguh menyenangkan. Ya… sebagai manusia, hal-hal semacam itu memberi rasa berkuasa dan dihormati. 

Hal menyenangkan lain, yang kadang malu-malu kami akui, adalah memegang uang dan mendapat gaji. Ya…bagi  saya yang berasal dari seminari, masa TOK adalah pengalaman pertama mendapat gaji dan uang  jajan yang relatif besar (setidak-tidaknya tiga kali lipat dibandingkan uang saku ketika masih dalam masa studi filsafat). Selain uang jajan itu, kami juga mendapat upah dari jabatan struktural kami di karya kerasulan. Jumlahnya tentu saja ditentukan dengan standar penggajian sesuai ijazah kesarjanaan yang saya miliki. 

Memang, sebagai seorang Jesuit, gaji profesional yang kami peroleh tidak pernah langsung masuk dompet kami. Kami juga tidak mengelola (baca: menggunakan) gaji tersebut secara mandiri. Gaji langsung diserahkan atau otomatis ditransfer oleh Yayasan kepada bendahara/ekonom komunitas untuk menunjang kehidupan bersama sebagai komunitas Jesuit. Meskipun demikian, setiap bulan kami menerima slip gaji yang menunjukkan digit-digit nominal. Pundi-pundi rupiah itu memunculkan perasaan senang, karena merasa diri berkontribusi dan menghasilkan sesuatu untuk Serikat/komunitas. Ada bagian dari diri yang serasa teraktualisasikan. Ada kepuasan ketika jerih keringat selama sebulan dihargai.

Bagi sebagian besar orang, tentu hal semacam itu  sudah terasa sangat biasa. Tetapi, sekali lagi, bagi orang-orang seperti saya, ini adalah pengalaman pertama yang membawa serta sensasi unik. Saya rasa sensasi unik ini secara tepat terbahasakan dalam ungkapan tentang uang oleh Fyodor Dostoevsky. Money is coined freedom. Secara jeli, novelis asal Rusia ini menyingkapkan relasi erat uang dan kebebasan, Pengalaman menunjukkan pada kita bahwa bebas adalah suatu sifat umum dari hal-hal yang dapat didatangkan dengan uang.

Rasanya sulit menyangkal Dostoevsky. Ada kebebasan tertentu yang kita rasakan ketika kita mempunyai uang. Dengan uang saku saat ini,  saya tidak lagi terburu-buru menekan tombol skip untuk setiap iklan aneka perlengkapan hobi dari toko daring yang melintas di layar gawai. Posting-an teman di IG tentang tongkrongan baru, tidak lagi sekadar menimbulkan rasa iri atau kepingin, tetapi juga merangsang otak merancang  ke mana weekend ini pergi. Aneka pernak-pernik elektronika tampak ada dalam jangkauan untuk dibeli sebagai “pendamping” bagi buku-buku yang mulai kusam karena jarang dibelai di sudut-sudut kamar. Youtube bukan lagi satu-satunya pelipur diri. Netflix dan Spotify premium ada dalam genggaman. Dengan kekuatan finansial saat ini, kami bisa sungguh merealisasikan sebagian keinginan untuk memiliki atau melakukan itu dan itu –sesuatu yang ketika masa studi filsafat relatif terbatas, tak terjangkau. 

***

Magis: Etos Keunggulan

Iya… beginilah nuansa khas dari formasi TOK. Ada suatu keleluasaan yang kami peroleh melalui uang dan kenikmatan yang inheren dalam otoritas (meskipun tentu saja kebebasan tidaklah identik dengan uang dan otoritas)[1].  Namun, pada saat yang sama, sebenarnya persis tergelar di depan mata suatu gelanggang latihan olah diri, yang disebut oleh Ignatius; “discernment”. Di hadapkan keleluasaan ini, apakah aku  menggunakannya untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang penuh cinta? Apakah kewenangan dan jabatan ini aku pakai untuk semakin menjadi sahabat dan pelayan bagi sesama? Apakah hari ini aku bergairah bekerja atas alasan-alasan yang melampau uang dan status? Atau sebaliknya, keleluasaan (otoritas, uang, anugerah diri) ini justru semakin menjadi pusat hidupku dan menggusur pelayanan dan menghalangiku untuk bertumbuh sesuai tujuan hidupku, AMDG? Kerap kali permenungan a la meditasi Asas dan Dasar dalam Latihan Rohani St. Ignatius semacam itu berdering nyaring di sela-sela euforia bekerja. Idealisme magister Ignatius Loyola menantang saya, dan para skolastik TOK lain, untuk mampu menjawab iya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Selain gelanggang olah hidup rohani dalam konteks yang real, masa TOK juga digariskan oleh pihak Serikat Jesus sebagai tahap kami belajar bekerja sebagai seorang Jesuit. Sebelum menjalani masa TOK, frase “belajar bekerja” ini memberi penghiburan tersendiri. Namanya juga fase belajar, tentu tidak serius-serius amat. Akan tetapi, belakangan ini, saya menyadari bahwa sebenarnya frase yang lebih mau ditekankan pada tahap formasi ini adalah bekerja sebagai Jesuit yang ditandai dengan semangat magis (etos keunggulan). Hal ini saya tangkap dalam suatu percakapan rohani saya dengan Pater Provinsial.

 “Saat ini bukanlah saat belajar bekerja, tetapi ini memang saatnya kamu bekerja sebagai Jesuit!” tegas Pater Provinsial. Lebih lanjut, Pater Provinsial menantang kami, para Toker untuk mewujudkan semangat kerja keras dengan bercermin pada tahap pencobaan bagi staf funding officer baru suatu bank. Sebagai ilustrasi, setiap pegawai baru divisi funding officer bank pada tahap awal karier diberi target mencari dan mengumpulkan dana sekian kali dari gajinya. Etos kerja yang sama dapat menjadi bingkai masa TOK-mu. “Sebagai pegawai baru Serikat Jesus, kamu saya undang untuk bekerja hingga menghasilkan suatu mutu pelayanan yang bernilai secara nominal setidak-tidaknya 4 sampai 5 kali gaji profesionalmu di Kolese”   

Pembicaraan ini begitu terngiang dalam hati saya. Dalam percakapan waktu itu, pemahamanku dikoreksi. Sejak saat itu, setiap Sabtu, akhir pekan, saya selalu mengevaluasi kinerja mingguanku sebagai sub pamong di Kolese De Britto dan ekonom komunitas Pastoran De Britto. Bagaimana mutu pelayananku minggu ini? Apakah mutu kerjaku bulan ini sudah cukup layak untuk dihargai 5 kali lipat gaji yang kuterima? Inilah hal yang membuat masa TOK tidak serta-merta hora-hore karena punya uang dan status.

Ada saat-saat di mana, bekerja dengan tuntutan mutu tinggi seperti itu terasa bagai beban. Ada saat-saat bangun pagi terasa begitu berat. Ada saat di mana seluruh tanggal di kalender berwarna hitam.  Ada saat aku mencecap dalam-dalam sabda Yesus “tidak ada tempat untuk meletakkan kepala bagi anak manusia” (baca: tidak nyenyak tidur terpikir kerjaan). Ada saat mata ini berkaca-kaca (sekaligus bangga) merasakan tuntutan Serikat yang begitu lugas dan tinggi untuk anggotanya. Ada saat di mana kesuksesan kecil di unit kerja harus dirayakan dalam kesepian.  Dihadapkan pada cermin idealisme magis tersebut, kadang saya merasa begitu payah, ambyar, hingga perlahan menyadari jati diri seorang Jesuit sebagai kolaborator Missio Dei. Menyelenggarakan pendidikan Kolese yang bermutu adalah juga pekerjaan Tuhan, bukan hanya tugas saya. Dan… toh… rahmat dan kasih Tuhan cukup membantu saya.

***

Ya.. dengan itu semua, Serikat mencintai saya, mendorong saya berkembang, membentuk saya, dan semua anggotanya yang lain menjadi manusia latihan rohani yang tersedia bagi pelayanan Gereja dan sesama yang paling membutuhkan. Dalam bahasa psikolog achievement, Angela Duckworth, pola formasi Serikat ini secara seimbang memberikan tuntutan standar tinggi dan support yang serius. Pola inilah yang dikatakannya wise parenting, pengasuhan yang bijak[2]. Semuanya membawa saya pada perasaan yang mendalam, I am in a good hand. Terima kasih Serikat.  AMDG.

oleh Adi Bangkit SJ

[1] Di kalangan Jesuit, perutusan menjadi minister/formator di rumah formasi teologi (setelah masa TOK) dianggap menantang. Rumor yang beredar: tidak banyak Jesuit yang serta-merta bersedia menjadi minister Kolsani, karena sikap para frater yang tidak mudah dibimbing. Menurut beberapa Jesuit  senior, dinamika tersebut boleh jadi terkait sindrom post-power syndrome para frater teologan. Para frater ini tidak sungguh lepas-bebas pada otoritas dan keleluasaan yang diperoleh pada masa TOK. [2] Dalam bukunya yang berjudul Grit, Angela Duckworth  memaparkan hasil studi psikolog Larry Steinberg  tentang kekuatan gaya pengasuhan menuntut-mendukung. Studi tentang anak muda yang lakukan selama empat puluh tahun  di Amerika ini menemukan bahwa anak-anak dari orang tua yang bijak secara psikologis (gaya pengasuhan yang menuntut dan mendukung) berprestasi lebih baik daripada anak-anak yang dibesarkan di jenis rumah tangga lain, misalnya gaya pengasuhan permisif (memberi dukungan, namun tidak menuntut), gaya pengasuhan lalai (tidak mendukung dan tidak menuntut) maupun gaya pengasuhan otoriter (menuntut namun tidak memberi dukungan).

Found something interesting? share to friends....

1 thought on “Money Is COINED FREEDOM”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *