MEWUJUDKAN SOLIDARITAS DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Bapak Kardinal, Bapak Uskup, para Rama, Bruder, dan Frater, serta semua rekan berkarya Serikat Jesus Provinsi Indonesia yang terkasih, semoga damai Tuhan senantiasa menjadi sumber kekuatan kita semua.
aid help

Bapak Kardinal, Bapak Uskup, para Rama, Bruder, dan Frater, serta semua rekan berkarya Serikat Jesus Provinsi Indonesia yang terkasih, semoga damai Tuhan senantiasa menjadi sumber kekuatan kita semua.

Situasi penuh ketidakpastian yang kita hadapi akibat pandemi COVID-19 terus berlanjut. Kita tidak bisa menebak kapan situasi ini akan berakhir. Laporan dari Pemerintah Pusat Indonesia, Pemerintah Daerah, dan Badan Kesehatan Dunia memperlihatkan bahwa jumlah kasus positif dan korban jiwa akibat COVID-19 terus meningkat tanpa kejelasan kapan situasi akan mulai membaik. Jumlah korban meninggal dunia terbanyak saat ini bukan lagi berada di Tiongkok, melainkan di Italia dan Spanyol. Jumlah korban di banyak negara lain pun terus bertambah. Situasi ini sungguh menunjukkan bahwa seluruh dunia sedang berduka akibat pandemi ini.
Situasi krisis mengakibatkan kebingungan, ketaku tan, dan pilihan-pilihan yang sulit bagi para pengambil kebijakan di mana-mana. Orang-orang biasa seperti kita juga mengalami rasa-perasaan dan situasi yang serupa. Situasi menjadi jauh lebih rumit lagi bagi saudari-saudara kita yang kehilangan sumber pemasukan harian untuk menopang perekonomian keluarga mereka.

Tidak ada seorang pun yang bisa lari dari kenyataan ini. Satu per satu dari kita mendengar bahwa orang-orang yang kita kenal, saudara dan relasi kita, diberitakan positif terkena COVID-19, meninggal dunia, atau diduga terpapar virus ini.

Kita digiring memasuki macam-macam situasi yang sama sekali baru. Para Rama di paroki-paroki kini terpaksa mengadakan Perayaan Ekaristi sec.ara online. Umat yang biasa mengalami Sakramen Ekaristi sebagai sumber kekuatan setelah satu minggu bekerja juga mau tidak mau harus menerima situasi ini. Proses adaptasi juga terpaksa dilakukan oleh para guru dan dosen yang berkarya di sekolah, kolese, dan perguruan tinggi kita, beserta semua murid dan mahasiswa mereka, karena proses pembelajara n berubah menjadi online. Karya-karya sosial kita mengalami kegelisahan serupa karena memikirkan cara memberikan perhatian nyata kepada mereka yang kehilangan pendapatan akibat penurunan aktivitas yang dilakukan sebagian besar warga masyarakat.

Di tengah macam-macam ketidakpastian ini, kecemasan dan rasa taku t bisa dengan mudah menjadikan batin kita sesak dan melemahkan semangat kita, sehingga kita tidak lagi memikirkan kepentingan dan kesejahteraan umum yang lebih besar.
Dalam pesannya kepada semua Jesuit di seluruh dunia, Pater Jenderal Serikat Jesus, Arturo Sosa, mengajak kita untuk melihat bahwa situasi kelam seperti ini pun tetap merupakan saat untuk berdiskresi mengenali jalan Tuhan. Salah satu jalan yang diungkapkan oleh Pater Sosa ialah dengan memandang bagaimana situasi sekarang ini menunjukkan kesatuan bangsa manusia dan kesalingtergantungan antara satu dengan yang lain.

Kita sebagai pribadi diajak berubah untuk menjadi semakin bertanggung jawab terhadap kepentingan umum dan kesejahteraan generasi masa depan. Dalam perubahan-perubahan itu, saya mengundang semua Jesuit dan kolaborator Serikat Jesus di berbagai institusi untuk pertama-tama bertekun dalam doa dan berharap dalam iman akan kemunculan terang dalam saat-saat susah dan gelap ini. Kita, dalam komunitas dan bersama rekan berkarya, perlu terus mencari dan merefleksikan jalan kita bersama menuju Tuhan di tengah situasi ini lewat Latihan Rohani, diskresi, dan percakapan rohani.

Kedua, dengan keheningan hati dan kejernihan pikiran, saya mengajak setiap dari kita untuk ikut serta dan bekerja sama dalam langkah-langkah antisipasi dan pencegahan yang ditetapkan pemerintah dan otoritas Gereja. Kita perlu menjaga kesehatan dan menerapkan physical distancing, sedapat mungkin tinggal dan bekerja di rumah, tidak bepergian terutama di daerah-daerah yang dikatakan zona merah. Berdiam di rumah adalah upaya dan bagian dari tanggung jawab pribadi kita masing-masing untuk kepentingan umum yang lebih besar. Bagi para Jesuit dari luar negeri yang sedang berada di Indonesia, sementara ini mungkin baik untuk tetap di Indonesia dan tidak terburu-buru pulang ke negara tempat bertugas.
Hendaknya kita juga menahan diri dan menunda untuk bepergian ke luar kota jika memang tidak mendesak.

Ketiga, saya mengajak kita mendukung berbagai inisiatif yang muncul untuk menanggulangi bencana ini. Kita patut menghargai dan mendukung inisiatif Jaringan Katolik Melawan COVID-19 yang merupakan upaya mewujudkan solidaritas dalam krisis ini. Kita dukung para tenaga medis yang bekerja tanpa henti di garis depan pandemi ini, bahkan ketika mereka hanya memiliki peralatan seadanya. Kita dukung usaha mereka yang mewujudkan solidaritas dengan menyebarkan informasi yang berguna bagi semua orang. Saya menganjurkan agar komunitas-komunitas dan institusi-institusi kita mendukung gerakan yang berkoordinasi dengan pemerintah dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini. Ini adalah wujud solidaritas dan persaudaraan yang nyata dalam kehidupan bersama. Mereka yang mewujudkan solidaritas menampakkan ibadat yang sesungguhnya lewat tindakan nyata.

Kita juga ingin terlibat, menjadi lebih dekat dengan realitas kita, lebih dekat dengan dunia, dan akhirnya, lebih dekat dengan Kristus sendiri. Dalam kerangka solidaritas dan upaya menjadi lebih dekat itu, saya menghargai tanggapan dari individu Jesuit, komunitas maupun institusi Jesuit untuk mau terlibat dalam menanggapi dan mewujudkan solidaritas di tengah krisis ini.

Sebagai tubuh apostolis Serikat Jesus Provinsi Indonesia, saya menunjuk JRS Indonesia dengan P. Peter Devantara (e-mail: peterdevantara@jrs.or.id dan Telp­ WA: +62-817-0314-3555) sebagai koordinator gerak solidaritas dan bela rasa Provindo menghadapi wabah COVID-19. Dia akan dibantu oleh P. Maswan Susinto dari SPM Realino, P. Kristiono Puspo dari LDD-KAJ, P. Adrianus Suyadi, dan P. Bambang Sipayung dari Kuria Provinsialat. Tugas tim Gerak Solidaritas Provindo COVID-1 9 ini ialah meneruskan tanggapan di lapangan dalam koordinasi bersama Gereja dan Pemerintah, serta mengumpulkan informasi tentang respons lapangan, inisiatif, dan keinginan menjadi relawan yang muncul dari antara para Jesuit dan kolaborator Jesuit di komunitas maupun institusi kita. Tim ini menjadi pusat koordinasi Provindo untuk merespons.dan mencari bentuk baru respons kita dalam situasi wabah COVID-19. Bagi semua yang terlibat, terutama yang terlibat secara langsung, protokol kesehatan yang ketat sesuai instruksi otoritas kesehatan perlu diikuti dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, seturut ciri imamat rasuli Serikat Jesus, saya meminta para Imam di paroki dan komunitas kita untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi umat dan rekan berkarya yang ingin menyampaikan intensi-intensi khusus untuk didoakan pada saat Perayaan Ekaristi. Keterbukaan kita menerima intensi umat dalam situasi ini adalah ungkapan nyata solidaritas kita terhadap mereka yang begitu merindukan kesempatan berdoa dalam Perayaan Ekaristi.

Lebih jauh lagi, Provinsi melalui Provinsialat juga mempunyai komitmen untuk mengalokasikan dana dalam Gerak Solidaritas Provindo COVID-19. Saya meminta dan menginstruksikan karya-karya kita dan komunitas-komunitas kita yang memiliki dana sosial atau unit sosial untuk secara aktif terlibat dalam gerak bersama Provindo ini. Saya juga meminta komunitas dan institusi kita untuk mengkaji inisiatif-inisiatif baru dengan tetap berkoordina si dengan pihak-pihak terkait. Salah satu kemungkinan yang saya lihat ialah membuka Rumah Retret Panti Seme.di, Klaten untuk menampung pasien-pasien non COVID-19 dari Rumah Sakit, sehingga Rumah Sakit bisa berkonsentrasi menangani korban pandemi. Berbagai kemungkinan lainnya tentunya akan kita pertimbangkan seturut perkembangan situasi.

Peristiwa ini adalah saat dalam sejarah dunia yang sungguh menantang kesatuan kita sebagai bangsa manusia. Sebagai pribadi, kita tentu diwarnai macam-macam kecemasan. Namun, seturut semangat Preferensi Apostolik Universal, kita dipanggil untuk terus mencari dan mewujudnyatakan “jawaban Tuhan terhadap tangisan dunia yang terluka” (UAP 2019). Jalan .kerasulan di tengah ketidakpastian wabah ini pernah ditapaki oleh St. Aloysius Gonzaga. Maka, di akhir surat ini, saya mengundang Anda semua untuk berdoa dengan pengantaraan St. Aloysius
Gonzaga yang menunjukkan solidaritas penuh pada waktu epidemi pes di Eropa.

Doa kepada St. Aloysius Gonzaga pada Wabah – St. Pelindung saat Wabah

St. Aloysius Gonzaga, Engkau dengan penuh semangat memperhatikan saudara dan saudari yang menderita dalam Kristus, di tengah-tengah wabah yang menakutkan. Engkau gigih meminta izin untuk merawat yang sakit meskipun sadar akan bahaya dan risikonya bagi kesehatanmu. Engkau tentu merasakan ketidaksukaan terhadap realitas yang tidak menyenangkan saat melihat penyakit yang berada di sekitarmu. Namun, dengan sepenuh hati engkau menceburkan dirimu dalam tugas untuk merawat mereka yang sakit dan menderita.
Kami berdoa dengan perantaraanmu yang bagi semua orang yang terpapar wabah ini. Semoga Tuhan membawa kesembuhan bagi yang sakit, kebijaksanaan dan kekuatan bagi para tenaga medis, kebijaksanaan bagi para pemimpin kami, dan kasih bagi semua orang dan harapan bagi orang yang semangatnya patah.

St Aloysius Gonzaga, doakanlah kami
Bapa kami ….
Salam Maria…
Kemulian …..

P. Petrus Sunu Hardiyanta, SJ
Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *