Refleksi atas studi Latihan Rohani, Discretio, dan Bimbingan Rohani dalam Pengalaman St. Ignatius Loyola
Di tengah keheningan rumah retret Girisonta, di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kami mengalami sukacita persahabatan lintas batas. Perasaan sebagai sahabat seperjalanan menembus sekat-sekat perbedaan di antara kami, para peserta studi Latihan Rohani, Diskresi, dan Bimbingan Rohani dalam Pengalaman St. Ignatius Loyola.
Berjumpa Diri Sendiri dan Membangun Persahabatan Komunitas
Peserta studi spiritualitas ini berasal dari berbagai latar belakang. Kami yang awam punya latar belakang bermacam-macam profesi: ada dokter, pengusaha, konsultan pendidikan, aktivis sosial, profesional pajak dan keuangan, katekis, dan ibu rumah tangga. Kami juga belajar bersama para religius, pastor, bruder, dan suster dari berbagai ordo dan kongregasi. Di antara kami ada Pater SJ, Projo, CDD, MSC; Bruder BM; Suster CB, SDP, ADM, OP, MISC, SPC, FCJ. Empat puluh orang peserta studi ini sangat bervariasi dari segi latar belakang dan kebiasaan hidup yang dijalani, tetapi digerakkan oleh semangat yang sama, yaitu untuk bertekun dalam latihan rohani, melatih diri berdiscernment, dan memahami makna bimbingan rohani berdasarkan pengalaman St. Ignatius Loyola.
Banyak momen silentium selama studi pada 1–7 Juli 2026. Namun justru dalam keheningan itu, terasa ada sesuatu yang terus menggetarkan hati. Gerak batin terasa lebih dinamis dalam sepi yang secara intens mempertemukan diri dengan diri sendiri. Dalam keseharian, gerak batin seperti ini sering kali tidak dapat dirasakan karena kepadatan kerja dan aktivitas lain yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu.
Perjumpaan studi ini sekaligus menjadi jeda bagi para pesertanya, memberi ruang untuk berjumpa dengan diri sendiri, dan secara perlahan mendorong mereka untuk membuka diri serta saling berelasi dalam persahabatan di komunitas. Sebelum berjumpa langsung di Girisonta, selama satu tahun sebelumnya para peserta studi sudah rutin bertemu dan belajar bersama secara daring melalui Zoom. Perjumpaan daring dua kali dalam sebulan telah memberi bekal, bukan saja berupa materi pembelajaran, melainkan juga kerinduan untuk perjumpaan fisik sesama pemelajar.
Sepanjang tujuh hari waktu studi, Pater Leo Agung Sardi, S.J., membimbing kami menapaki jejak peziarahan St. Ignatius. Tentu saja, latar belakang kami yang beragam menjadikan titik pijak pembelajaran sangat beragam. Dapat dibayangkan realitas bahwa titik pijak maupun cara pandang para pemelajar awam jelas berbeda dari para religius. Demikian pula, kemampuan menyerap materi pembelajaran dipengaruhi oleh perbedaan waktu belajar para peserta studi.

Situasi ini sangat menantang bagi pembimbing. Dia harus “maju mundur” mengikuti dinamika personal masing-masing peserta. Beruntung Pater Sardi S.J. mempunyai kesabaran luar biasa untuk menyertai perjalanan belajar para peserta studi yang sangat beragam. Beruntung pula ada Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J., yang memperkaya wawasan tentang pengalaman formasi, cura personalis, dan gubernasi, serta Pater Dominico Savio Octariano Widiantoro, S.J., yang memperkenalkan lebih jauh dua bacaan inspirasi pertobatan St. Ignatius, Vita Christi dan Flos Sanctorum. Kekayaan wawasan tiga pembimbing belajar ini sungguh terasa signifikan dalam memperkaya pengetahuan para peserta studi.
Selang-seling antara pembelajaran pribadi, kelompok kecil, dan kelas besar menjadi kekayaan dalam proses yang menghindarkan peserta studi dari kebosanan. Banyak realitas menarik ditemukan dalam percakapan rohani di kelompok-kelompok kecil, dengan campuran anggota antara peserta awam dan kaum religius. Misalnya, di dalam hidup membiara terdapat juga peristiwa-peristiwa manusiawi seperti konflik pribadi, kehadiran orang yang sulit, atau relasi kuasa antara senior dan yunior. Di sisi lain, dalam kehidupan duniawi, para awam di profesi memiliki beragam pengalaman rohani.
Sebegitu kaya materi dalam studi ini, hingga pada waktu-waktu tertentu selama proses studi, saya merasa seperti tergulung gelombang informasi yang mengalir deras, memenuhi pikiran, benak, dan hati saya, seolah membuat saya tenggelam dan sulit bernapas. Namun demikian, setelah perasaan tenggelam itu, berangsur-angsur saya menemukan poin-poin mengesan yang perlahan menjadi makin jelas. Karena keterbatasan kemampuan dalam menyerap materi pembelajaran, poin-poin yang saya temukan mungkin tidak banyak. Tetapi saya yakin poin-poin itu tertanam di area paling strategis di benak saya, sehingga saya dapat menyebutnya sebagai buah-buah pembelajaran. Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan buah-buah itu secara sederhana, sesederhana kemampuan saya menyerapnya.
Latihan Rohani: Sekolah Doa dan Sekolah Discernment
Latihan rohani adalah bagian penting dari perjalanan rohani St. Ignatius sejak jauh sebelum dia ditahbiskan sebagai imam. Karena itulah, metode dan dinamikanya terasa mudah dipahami oleh kaum awam seperti saya. Seluruh perjalanan hidup St. Ignatius sejak masih dikenal dengan nama Inigo secara bertahap telah membentuk unsur-unsur identitas diri dan warna spiritualitasnya. Melalui banyak peristiwa di berbagai lokasi dalam perjalanan hidupnya, St. Ignatius memetik pelajaran rohani. Sama seperti St. Ignatius, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang khas. Karena itu, bagaimanapun bentuk lika-liku perjalanan hidup, jika dihayati dalam doa dan refleksi, niscaya akan membentuk identitas diri serta memberi corak pada spiritualitas.
Latihan Rohani St. Ignatius membantu mengenali kehendak Tuhan dalam realitas hidup sehari-hari. Di sisi lain, Latihan Rohani membantu mengembangkan relasi intim dengan Tuhan melalui doa. Dengan demikian, Latihan Rohani sebagai sekolah doa sekaligus sekolah diskresi membantu kita merasakan intimitas dengan Tuhan dalam realitas hidup yang tampak biasa-biasa saja dan kita jalani secara rutin hari demi hari. Latihan Rohani menuntun dalam cara merasa, menalar, mengambil keputusan atau membuat pilihan. Tuhan dapat ditemukan dalam segala hal. Segala hal dapat ditemukan dalam Tuhan. Latihan Rohani menjadikan Tuhan terasa lebih dekat.

Discernment: Kepastian yang Harus Selalu Dicari
Latihan Rohani, sebagai bagian penting dari tradisi Ignatian, berpuncak pada eleksi. Pengambilan keputusan merupakan puncak kepenuhan rohani. Pada kenyataannya, dalam proses diskresi semuanya serba tidak pasti. Semuanya hanya berupa kecenderungan-kecenderungan hati yang kerap kali membingungkan. Dalam diskresi, kepastian harus terus dicari tanpa henti. Namun, justru di situlah Tuhan memberikan kemerdekaan kepada kita untuk memilih yang terbaik dari banyak pilihan yang baik. Ironisnya, dalam pergumulan menjatuhkan pilihan, saat kita merasa mulai memperoleh kecenderungan yang agak pasti, hasilnya sering kali justru berbeda dari yang kita bayangkan.
Karena itu, Spiritualitas Ignatian dengan inti diskresi dan eleksinya disebut oleh David L. Fleming, S.J. sebagai “spiritualitas pencari,” yang menekankan perlunya kebiasaan untuk merenungkan pengalaman hidup untuk mencari kehendak Tuhan dari setiap pengalaman tersebut. Inilah spiritualitas peziarahan yang mengandalkan rahmat Tuhan dan bimbingan Roh Kudus dalam proses pemilihan.
Bimbingan Rohani: Mengembangkan Intimasi dengan Tuhan
Jauh sebelum saya mempelajari bimbingan rohani dalam studi ini, saya pernah mengalami bimbingan awal untuk mengenal spiritualitas Ignatian dari Pater Agustinus Setyodarmono, S.J. Studi ini membantu saya memetakan peran pembimbing dan terbimbing dalam mengembangkan intimasi dengan Tuhan, Sang Pencipta, melalui proses bimbingan rohani. Sekalipun secara fisik tampak dua pribadi yang berelasi dalam bimbingan rohani, sejatinya terdapat tiga pribadi dalam relasi tersebut, yaitu Tuhan, pihak yang membimbing, dan pihak yang dibimbing. Dalam pola hubungan tiga pihak ini, Tuhan menjadi pusatnya.
Studi ini memberi pencerahan tentang relasi unik tiga pihak yang pernah saya alami di waktu lampau, serta memberi inspirasi mengenai kesatuan antara alam batin dan dunia nyata hidup ini beserta buah-buahnya, sebagai pengalaman rohani yang lahir dari proses bimbingan. Saya mensyukuri adanya dinamika hubungan tiga pihak ini, serta menyadari bahwa relasi tersebut tidak pernah berhenti, bahkan semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Merawat persahabatan dari Dapur Inigo
Studi Latihan Rohani, Discretio, dan Bimbingan Rohani yang saya ceritakan di atas terselenggara dengan bantuan teman-teman di Dapur Inigo, sebuah kelompok beranggotakan Jesuit dan awam yang saling mendukung untuk mewujudkan iklim belajar. Dapur ini merupakan wujud kerja sama Jesuit-awam dalam mengolah dan memasak gagasan-gagasan pembelajaran Spiritualitas Ignatian berbasis teks-teks referensi. Meski bagi saya mempelajari teks-teks referensi Ignatian merupakan tantangan, energi pertemanan di antara para pekerja dapur menjadi api penyemangat untuk ‘memaksa’ diri membaca.
Persahabatan di dapur terjalin melalui upaya berkelanjutan untuk membaca teks-teks sulit yang ditulis dan dipilih oleh Pater Sardi, S.J., untuk kami nikmati bersama. Ini terasa seperti ‘perjuangan’ yang mendorong untuk terus bekerja mengepulkan asap dapur, memasak aneka bahan, agar dapat disajikan kepada lebih banyak teman di lingkaran-lingkaran yang lebih luas.
Berdinamika kerja di Dapur Inigo tidaklah mudah bagi saya yang masih seorang pemelajar awal. Namun, aura positif tiap-tiap pribadi tukang masak di sini yang saya rasakan saling menyemangati satu sama lain untuk terus belajar. Saya senang bisa ikut bekerja di dapur ini, bersama Pater Sardi S.J., Pater Azismardopo S.J., Pak Emon, Bu Nancy, pasutri Mas Budi-Mbak Dina, Bu Diana, Mbak Tanti Ninik, dan Pak Hendra, mengolah sajian-sajian menu yang semoga dapat merawat dan mempererat persahabatan di lingkaran-lingkaran yang makin meluas.
Dari kehangatan diskusi daring di dapur Inigo, saya menemukan pintu terbuka bagi persahabatan yang tulus, yang menembus sekat-sekat perbedaan, dan senantiasa menyemangati untuk terus berjalan bersama, menyusuri jalan-jalan pembelajaran sepanjang waktu.


