Pilgrims on Christ’s Mission

Tahun 2027 menjadi tahun yang istimewa bagi Kolese Kanisius, Jakarta. Sekolah yang didirikan oleh Pater Kuris, S.J. pada tahun 1927 ini akan mencapai usia seabad pada tahun 2027. Selama 100 tahun keberadaannya, Kolese Kanisius telah membangun identitas, karakter, kultur, komunitas, jaringan, dan reputasinya.

Perjalanan 100 tahun ini tidak hanya menjadi tanda keberlangsungan lembaga, tetapi juga komitmen kesetiaan terhadap nilai-nilai pendidikan Jesuit dalam mendidik generasi muda menjadi pribadi yang utuh dan berkontribusi bagi nusa-bangsa dan dunia.

Seabad Keberadaan
Provincial SJ Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., menegaskan bahwa usia 100 tahun atau satu abad sebuah lembaga itu berarti satu hal: tradisi. Menurut Pater Beni, Kolese Kanisius dibangun atas dasar warisan nilai-nilai dan pengalaman pendidikan Jesuit yang sudah dimulai sejak abad ke-16.

Menurutnya, sekolah ini sudah menerima siswa ketika keindonesiaan masih berupa cita-cita, ketika pendidikan formal masih terbatas hanya bagi segelintir orang. Pengalaman panjang ini berbuah menjadi praktik-praktik pendidikan yang telah teruji oleh waktu.

Melanjutkan permenungan terkait perjalanan panjang tersebut, Pater Leonardus E.B. Winandoko, S.J., Rektor Kolese Kanisius, mengatakan bahwa selama seabad, sekolah ini telah menjadi rumah pembentukan bagi banyak generasi muda yang bertumbuh dalam iman, karakter, dan keunggulan. Warisan ini lahir dari dedikasi para Pater Jesuit, guru, karyawan, orang tua, siswa, dan alumni yang setia menghidupi nilai-nilai pendidikan Jesuit.

Pater Winandoko juga menggarisbawahi bahwa Kolese Kanisius bertumbuh karena semangat kolaborasi berbagai pihak yang peduli terhadap masa depan kaum muda, serta terus berdiri sebagai komunitas hidup yang memadukan tradisi dan inovasi, dan berusaha menghadirkan pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan. Dalam semangat itulah, pesan Santo Petrus Kanisius tetap relevan: pendidikan sejati harus dijalankan dengan kerendahan hati, kelembutan, dan kasih yang tulus, sehingga dapat membangun dialog, merangkul perbedaan, dan bekerja sama demi kebaikan yang lebih besar.

Refleksi atas perjalanan seabad ini juga disampaikan oleh Direktur Campus Ministry, Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J. Baginya, perjalanan panjang ini mengingatkannya pada sabda Injil tentang orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu. Para Jesuit telah meletakkan dasar dan fondasi dengan mendengarkan apa yang diinspirasikan oleh Roh Kudus kepada mereka sehingga fondasi dan batu awal itu sedemikian kokoh. Hingga saat ini, Kolese Kanisius mampu terus bertumbuh menuju 100 tahun.

Salah satu kegiatan menyongsong 100 tahun Kolese Kanisius (Napak Tilas Jesuit Sites di Wisma Emaus Girisonta) yang dilaksanakan pada tahun 2025. (Foto: Penulis)

 

Tantangan
Sekalipun Kolese Kanisius memiliki tradisi yang begitu kuat, menurut Pater Beni, kolese ini tidak dapat bergantung pada kejayaan masa lalu. Masa lalu yang gemilang bukan jaminan untuk masa depan yang cerah.

Dunia yang berubah ini menuntut respon yang cepat, dan Kolese Kanisius harus kembali menimbang langkah-langkahnya. Pendidikan berbasis iman Kristiani, pembentukan karakter, dan keunggulan akademik tetap menjadi kekuatan Kolese Kanisius. Kekuatan ini harus diterjemahkan ke dalam pedagogi, kurikulum, dan kebiasaan-kebiasaan baru yang relevan dengan zaman.

Bapak Gunawan Wibowo, M.Ed., Direktur Kolese Kanisius, melihat tantangan yang ada saat ini dari sudut pandang fenomena disrupsi sebagai dampak pesatnya perkembangan teknologi.

Disrupsi mengguncang peran dan eksistensi sekolah pada masa kini dan akan semakin deras pada masa mendatang. Fenomena itu telah menggerus pertumbuhan dan keotentikan pribadi kaum muda yang sedang berproses dalam tahapan esensial hidup mereka, yakni mengolah jati diri dan kedalaman hidup.

Fenomena sekuler itu muncul dalam beragam bentuk, seperti lompatan perkembangan teknologi smartphone, pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI), dahsyatnya big data, dan pemakaian media sosial.

Identitas dan kepribadian para siswa seolah-olah ditentukan oleh tataran sekuler tersebut. Kecemerlangan seolah sama dengan seberapa canggih “mobile phone” yang digunakan. Kepandaian dan keterampilan dianggap sejalan dengan kemampuan manipulatif AI. Follower dan subscriber di media sosial menjadi tolak ukur diri seseorang. Celakanya, segala sesuatu yang instrumental itu seolah bisa menggantikan kedalaman dan relasi personal seseorang dengan Sang Pencipta.

Dalam situasi seperti ini, sekolah dipanggil untuk menentukan perannya sebagai tempat pembentukan siswa yang integral.

Pembaruan
Pater Provincial mengingatkan bahwa pendidikan di Kolese Kanisius harus terus diperbarui. Untuk mewujudkan pembaruan, sekolah perlu mengingat bahwa pendidikan merupakan tindakan kolektif yang melibatkan banyak pihak. Pengetahuan akan terus berkembang dalam komunitas yang aktif. Dengan penuh syukur kepada Allah atas penyelenggaraan-Nya selama ini, Perayaan 100 tahun Kolese Kanisius harus menjadi kesempatan untuk bersama-sama menata masa depan pendidikan generasi muda.

Sementara itu, Pater Winandoko menegaskan bahwa arah pembaruan dalam memasuki abad kedua pelayanan Kolese Kanisius adalah komitmen yang terus-menerus untuk melahirkan pribadi-pribadi muda yang kompeten, berhati nurani, peduli, dan berkomitmen, yang kelak memberi sumbangan nyata bagi nusa dan bangsa, Gereja, dan dunia.

Dalam perjalanan menuju satu abad, pembaruan, menurut Pak Gunawan, harus diarahkan pada pengembangan pengalaman belajar yang autentik. Semua pengalaman pembelajaran perlu dirancang untuk semakin mengantar para Kanisian dalam proses formasi mereka yang lebih utuh dan makin penuh (magis).

Di tengah arus disrupsi yang mengoyak perjalanan para siswa bertumbuh, cinta Tuhan yang tanpa batas akan tetap menggerakkan Kanisian untuk terus bertumbuh sebagai pribadi yang utuh dan mengembangkan keunggulan kemanusiaan (human excellence), sekaligus kehidupan spiritual mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas. Semangat ini sejalan dengan tema Compassion Year 2026, yang mengajak para Kanisian untuk berjalan bersama mereka dengan pribadi yang lain, terutama mereka yang paling membutuhkan.

Tema
Perayaan 100 tahun Kolese Kanisius mengambil tema
Canisius College Centennials: Towards a Global Mission.

Tema ini mengajak seluruh Keluarga Besar Kolese Kanisius, teristimewa para Kanisian, agar semakin berakar dalam nilai-nilai dan tradisi Ignatian, bertumbuh dalam solidaritas sejati, berjejaring dengan masyarakat global, dan semakin berdampak bagi sesama. Ibarat sebuah kapal, para Kanisian harus berani mengambil risiko dan mengambil bagian dalam misi Tuhan sendiri, seperti yang Ia katakan: “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam” (Luk. 5:4).

Program Kegiatan
Perayaan 100 tahun Kolese Kanisius tidak dirancang hanya sebagai sebuah peringatan belaka, tetapi sebagai sebuah perayaan kolaboratif berbasis aksi nyata yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan sekolah, baik siswa, guru, administrator, karyawan, orang tua murid, maupun alumni.

Secara garis besar, kegiatan dibagi menjadi 3 tahap dengan cakupan sebagai berikut.

Kepanitiaan 2025 bertanggung jawab atas 6 kegiatan pokok.

  1. Misa Pembukaan Rangkaian Perayaan 100 Tahun Kolese Kanisius
  2. Napak Tilas Jesuit Sites Provindo
  3. Napak Tilas Ignatius dalam karyanya di Eropa
  4. Penulisan Buku Penelusuran Sejarah Kolese Kanisius
  5. Alumni Global Gathering
  6. Forum Pendidikan Jesuit

Kepanitiaan 2026 akan menyelenggarakan 4 kegiatan pokok.

  1. Charity Concert: Children of Hope
  2. Global Collaboration: Ignatian Leadership Summit
  3. Jesuit & Alumni Business and Leadership Forum
  4. Parade Budaya yang melibatkan 100 sekolah SMP dan SMA di Jakarta dalam Ragamuda

Kepanitiaan 2027 bertugas dalam menyelenggarakan 3 kegiatan pokok

  1. Simposium Pendidikan Jesuit Abad ke-21
  2. Drama Musikal
  3. Acara Puncak: Gala Dinner
Charity Concert: Children of Hope, salah satu kegiatan pokok yang diselenggarakan kepanitiaan 2026 untuk menyongsong 100 tahun Kolese Kanisius. Acara berlagsung di Jakarta Concert Hall, pada Sabtu, 21 Februari 2026. (Foto: Penulis)

 

Selain kegiatan pokok di atas, Kolese Kanisius juga mengundang seluruh keluarga besar, baik guru, staf, Kanisian, orang tua murid, para Pater di komunitas sekolah, maupun alumni, untuk terlibat secara kolaboratif dalam merayakan 100 tahun CC.

Seratus aksi untuk 100 tahun Kolese Kanisius merupakan langkah konkret untuk mewujudkan nilai yang dijunjung tinggi oleh seluruh stakeholders komunitas: man for and with others.

Kolese Kanisius, dalam rangka merayakan 100 tahun perannya dalam dunia pendidikan, memanggil seluruh anggota keluarga besar Kolese Kanisius untuk melakukan aksi nyata dan mendaftarkan aksi tersebut melalui web 100 tahun – https://kanisius100tahun.id/ – subdomain 100 aksi yang mulai bisa diakses pada tanggal 6 Januari 2026.

AMDG.

Get in Touch With Us

More News