Pilgrims on Christ’s Mission

Bersabar, Bertekun dalam Mendengarkan

Lokakarya Discernment in Spirit di Chiang Mai, Thailand

Kurang lebih dua belas peserta (enam di antaranya dari Indonesia) dan tujuh fasilitator terlibat secara intensif dalam lokakarya Discernment in Spirit. Bertempat di Rumah Retret Seven Fountains, Chiang Mai, Thailand, lokakarya yang berlangsung dari 10–15 Mei 2026 ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan dan memperbanyak fasilitator proses Discernment in Common. Ketujuh fasilitator merupakan orang-orang dari berbagai provinsi, regio, dan misi di JCAP, baik awam maupun Jesuit, yang pernah mengikuti lokakarya dan pelatihan serupa di Salamanca, Spanyol, dari 23 November–2 Desember 2025. Cuaca di Chiang Mai pada umumnya mulai memasuki musim hujan, seakan ikut mendukung suasana yang teduh dan segar untuk proses refleksi dan bermenung.

Lokakarya dibuka dengan mengingatkan peserta akan pesan Pater Jenderal Arturo Sosa pada pembukaan lokakarya di Salamanca. Discernment in Common merupakan sumbangan yang bisa diberikan oleh Serikat Jesus kepada Gereja, sejalan dengan visi Konsili Vatikan II. Paus Leo XIV melanjutkan visi Gereja yang sinodal, rendah hati, dan berziarah. Kita diajak untuk melakukan pembaruan dan pertobatan terus-menerus dengan saling mendengarkan secara tulus dan intentional. Saling mendengarkan adalah langkah penting untuk menemukan kebenaran dengan siap sedia dan besar hati melepaskan prasangka serta pendapat pribadi atau kelompok. Bersama-sama, Gereja diajak untuk mencari tuntunan dan arahan yang ditunjukkan oleh Roh Allah sendiri.

Gereja yang sinodal merupakan cita-cita bersama yang bertolak belakang dengan budaya dominan saat ini. Kehidupan sosial dan politik dunia dewasa ini ditandai oleh keterpisahan, keterputusan, dan upaya meniadakan keragaman. Keragaman tidak lagi dirayakan sebagai sumber rahmat yang menggembirakan dan memperkaya kehidupan bersama. Keragaman cenderung menjadi sumber pertikaian dan perpecahan dengan melegitimasi prasangka, ingatan, serta tradisi masa lalu.

 

Percakapan rohani kelompok kecil – peserta dari Provinsi Indonesia

 

Kelompok Studi 9, Sinode tentang Sinodalitas, menegaskan kembali pentingnya saling mendengarkan sebagai langkah untuk mencari kebenaran. Kelompok studi ini diminta melakukan proses discernment atas pertanyaan-pertanyaan doktrinal, pastoral, dan etis terkait isu-isu kontroversial seperti LGBTQ. Kelompok Studi ini, dalam proses discernment mereka, akhirnya membuat rumusan tentang tren-tren yang sedang muncul (emerging trends) dengan mengambil inspirasi dari Kisah Para Rasul bab 10 – 15. Perumusan ulang dari controversial issues menjadi emerging trends menandai pergeseran dari pendekatan yang berfokus pada penyelesaian masalah menjadi sebuah titik pada kualitas, disposisi, dan dialog yang perlu bagi “pertobatan relasi” bagi semua Umat Allah yang dipanggil untuk memeluk peziarahan sinodal.

Beberapa fasilitator lokakarya ini memiliki banyak pengalaman dalam melakukan fasilitasi Discernment in Common. Salah satu di antaranya bahkan menjadi fasilitator proses Sinode tentang Sinodalitas 2024. Mereka bercerita bahwa proses menemukan tuntutan Roh Kudus merupakan proses doa yang membutuhkan kepekaan dan kesadaran, baik pada diri peserta maupun pada fasilitator. Doa dan kesadaran diri ini menjadi penting agar setiap orang tidak menjadi penghalang bagi proses discernment dan tuntunan Roh Kudus. Percakapan tiga putaran, atau disebut juga percakapan dalam Roh, menjadi sarana penting untuk mengajak setiap orang yang terlibat agar bisa sungguh mendengarkan suaranya, suara orang lain, dan pada akhirnya suara Roh Kudus.

 

Para narasumber: Br Ian Cribb S.J., Fr Edward Quinnan S.J., Ms Sally Law, Ms Frances Tilly, dan Mr JP Villanueva.

 

Dalam lokakarya kali ini, peserta bukan hanya dilatih untuk menggunakan teknik, tetapi juga untuk melakukan proses discernment in common dan percakapan rohani bersama tiga orang. Refleksi pribadi dan doa dari pokok-pokok yang diberikan menjadi bagian integral dari proses lokakarya ini. Sebagai konferensi yang dipenuhi keragaman, tentu saja kontekstualisasi sosial dan budaya masing-masing menjadi sangat penting. Proses sinodal dengan discernment in common tidak dimaksudkan untuk menciptakan keseragaman, melainkan untuk memelihara keragaman yang merupakan karunia dari Allah sendiri.

Br. Ian Cribb, S.J., fasilitator dari Australia mengatakan bahwa agar Gereja bisa menjadi Gereja yang sinodal ini butuh waktu yang agak panjang. Lebih dari lima puluh tahun setelah Vatikan II, Gereja baru mulai menggemakan dan menggunakan cara ini. Kesabaran dengan proses merupakan rahmat yang dibutuhkan untuk proses seperti ini. Pater Jun Virai, S.J., Presiden JCAP, mengatakan bahwa dia semakin lama semakin menyadari bahwa bersabar dengan proses yang lambat dan mungkin memakan waktu lama ini merupakan rahmat yang perlu dimohon terus-menerus. Butuh bukan hanya ketahanan, tetapi juga ketekunan untuk menjalani semua ini karena persoalannya bukan hanya efisiensi dan efektivitas.

Get in Touch With Us

More News