Pertemuan Jesuit yang berkarya di Paroki
Dalam merespons dinamika zaman dan perkembangan tantangan pastoral modern, Gugus Pelayanan Gerejawi Serikat Jesus Provinsi Indonesia menggelar Pertemuan Pastor Paroki Jesuit 2026. Agar pelayanan paroki tetap berjalan, pertemuan ini diselenggarakan dalam dua gelombang, yakni pada 1–3 September 2026 di Griya Asisi, Bandungan, yang dihadiri oleh 19 Jesuit, serta pada 15–17 September 2026 di Griya Paseban, Semarang, yang dihadiri oleh 20 Jesuit. Para pater yang hadir terdiri dari pastor kepala dan vikaris paroki dari paroki yang dikelola Serikat Jesus di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) serta Keuskupan Agung Semarang (KAS).
Rangkaian kegiatan diawali dengan sharing awal, kemudian dilanjutkan dengan sesi aktualia yang disampaikan oleh Provincial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Albertus Bagus Laksana, S.J. Dalam pengarahannya, Pater Provincial menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa sukacita atas dedikasi para Jesuit yang berkarya di gugus pastoral paroki. Dibandingkan dengan provinsi Jesuit di negara-negara lain, Provinsi Indonesia (Provindo) memiliki proporsi nostri yang cukup besar yang diutus bertugas melayani paroki mulai di Jawa, Kalimantan, dan Papua.
Melihat potensi besar tersebut, Pater Provincial mendorong hadirnya kolaborasi yang makin erat dan terstruktur melalui semacam jejaring ‘asosiasi’ para pastor paroki Jesuit Indonesia. Dengan kesatuan arah dan ciri khas yang solid, Gereja lokal dapat mencecap kontribusi positif dari keberadaan paroki-paroki Jesuit. Keleluasaan yang dipercayakan oleh Keuskupan hendaknya dimanfaatkan secara optimal agar keunikan spiritualitas Ignasian semakin memancar di tengah umat.
Melalui kolaborasi pastoral yang erat, Preferensi Apostolik Universal (UAP) diharapkan mewujud secara eksplisit, menjadikan rekan-rekan awam, Dewan Paroki, anggota Tim Pelayanan, bukan sekadar pembantu karya, melainkan mitra sejati dalam misi (partners in mission).
Menghadapi pesatnya kemajuan teknologi, khususnya akal imitasi (AI), Pater Bagus Laksana mengajak para pastor paroki untuk semakin peka dan waspada terhadap pergeseran konsep serta nilai-nilai keluarga di masa depan. Di tengah arus perubahan gaya hidup modern, Gereja melalui paroki dan lembaga pendidikan mengemban tugas penting untuk mewujudkan teologi persekutuan (communio). Dalam konteks ini, para pastor-paroki memegang peran strategis sebagai garda terdepan pelayan pastoral yang menghubungkan Gereja dengan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.
Guna memperkaya wawasan serta membekali para pastor dalam merespons krisis keluarga secara komprehensif, panitia menghadirkan pembicara dari Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University (SCU). Materi bertajuk “Seni Mendampingi Keluarga Menghadapi Tantangan Zaman” dibawakan oleh Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira. Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi SCU, Dr. Kristiana Haryanti, M.Si., memaparkan konsep psikologi bahwa keluarga merupakan sebuah ‘sistem bejana berhubungan.’ Dalam prinsip ini, gangguan atau krisis psikologis yang dialami oleh salah satu anggota keluarga akan mengguncang dan memengaruhi stabilitas seluruh sistem keluarga.

Para narasumber menekankan pentingnya bagi pastor paroki untuk mengenali batas ambang pendampingan pastoral dan segera melakukan rujukan kepada tenaga profesional apabila menemukan indikasi persoalan psikologis yang menetap, kondisi gangguan kesehatan jiwa yang membutuhkan penanganan medis/psikiatris, konflik perkawinan berat dengan kekerasan fisik dan psikis, gejala kecemasan dan gangguan emosional yang berat, serta adanya potensi bahaya atau ancaman terhadap keselamatan jiwa anggota keluarga.
Ibu Indira menyatakan bahwa seorang pastor tidak harus langsung menyelesaikan masalah keluarga. Pastor membantu keluarga menemukan jalan untuk menghadapi masalah mereka. Prinsip ini menegaskan bahwa tugas utama pendamping pastoral bukanlah menjadi pahlawan, melainkan memfasilitasi keluarga agar mampu mengurai persoalannya secara mandiri. Pendampingan pastoral masa kini hendaknya membuka ruang aman serta membantu keluarga-keluarga mengenali potensi diri, sehingga keluarga-keluarga tersebut berdaya menemukan jalan keluar terbaik atas tantangan yang dihadapi.
Sesi dilanjutkan dengan dinamika saling berbagi di antara para pater dalam kelompok campuran. Para pater membagikan tanggapan atas materi yang disampaikan narasumber, pengalaman suka duka, aneka reksa pastoral keluarga, serta refleksi pribadi mengenai kerasulan yang dipercayakan kepada mereka.
Perjumpaan para pastor paroki Jesuit ini mengambil semangat dari Dekret 19 Kongregasi Jenderal 34 Serikat Jesus, yang menyebutkan bahwa sebuah Paroki Jesuit dijiwai oleh spiritualitas Ignasian, melalui semangat Latihan Rohani, dan dibimbing oleh discernment pribadi maupun bersama. Paroki Jesuit dipanggil untuk menyediakan program pembinaan dan katekese yang matang bagi individu maupun keluarga, serta memfasilitasi bimbingan rohani dan konseling pastoral.
Dari hasil pertukaran ide dan refleksi bersama, tercetus beberapa catatan kunci bagi arah pastoral ke depan, antara lain menjadikan penampingan orang muda sebagai prioritas pastoral, mengintegrasikan nilai-nilai Ignasian ke dalam karya pastoral, dan terus mengembangkan kepemimpinan kaum awam.

