Menggali Kelanjutan Kisah: Misi Para Jesuit di Luar Jawa Abad ke-19

Date

Serikat Jesus Provinsi Indonesia tahun ini merayakan 50 tahun pendiriannya sebagai provinsi. S Kurang lebih seabad sebelumnya para misionaris dari Provinsi Belanda sudah mendahului hadir di Indonesia. Selama dasawarsa-dasawarsa tersebut, sejarah kehadiran para Jesuit di Nusantara berkelindan dengan sejarah perkembangan Gereja Indonesia sendiri.  Atas undangan Vikaris Apostolik Batavia Mgr. P. Vrancken, dua Jesuit Belanda pertama menjejakan kaki di Batavia pada tanggal 9 Juli 1859. Setelah mereka, datanglah menyusul para misionaris Jesuit lain yang tak sampai sepuluh tahun kemudian telah menyebar ke berbagai penjuru nusantara. Menariknya, sebelum awal abad XX, Jawa bukanlah fokus misi Jesuit. Para misionaris Jesuit ini justru membanting tulang di wilayah nusantara yaitu dari Sumatera sampai Kei dan dari Sulawesi sampai Flores Mereka mewartakan Yesus Kristus kepada masyarakat dari beragam suku dan bahasa. Masa inilah yang ditilik oleh Fr. Kefas, Fr. Tete, Pater Dam, dan Pater Hasto sebagai sebuah masa yang jarang diketahui oleh khalayak umum mengingat sudah begitu melekatnya identitas SJ sebagai “Serikat Jawa”. Tilikan tersebut dituangkan dalam webinar “Menggali Kisah: Misi Para Jesuit di Luar Jawa Abad ke-19” pada 12 Juni 2022 kemarin yang dipandu oleh Ketua Museum KAJ Ibu Susyana Suwadie. 

Luasnya wilayah misi membentangkan luasnya ragam kisah para Jesuit pula. Di Sumatra, perhatian khusus diberikan pada para buruh migran pada waktu itu yang banyak berasal dari India (di Medan) dan Tionghoa (di Sungai Selan, Bangka). Di pucuk Sumatra, yaitu Aceh yang sedang dilanda perang, para Jesuit memberikan reksa rohani sebagai pastor-tentara. Di Kalimantan, para Jesuit berkarya di antara masyarakat Dayak dengan membangun gereja dan mengajarkan cara-cara pertanian. Di wilayah Minahasa, tantangan terbesar yang dihadapi para Jesuit adalah relasi dengan pemerintah kolonial yang tidak mudah dan gesekan dengan misi Protestan yang sudah hadir terlebih dahulu. Sebaliknya, di Kendari dan Kei, kegiatan misi justru sangat didukung oleh pemerintah kolonial tetapi mendapat tantangan dari raja-raja setempat yang sudah memeluk Islam. Di wilayah Flores dan Timor para Jesuit menikmati hasil manis dari misi yaitu banyaknya jumlah baptisan. Akan tetapi, pada akhirnya Serikat Jesus justru berani melepaskan wilayah tersebut pada saat “buah telah siap dipanen” dan dengan besar hati menyerahkannya pada para pater SVD untuk melanjutkan karya baik di sana. Para Jesuit menyadari bahwa mereka hanyalah para pekerja dan bukannya pemilik kebun anggur. Walau beragam, kisah-kisah para Jesuit ini menunjukkan dedikasi dan perjuangan yang luar biasa bagi perkembangan Gereja di Nusantara dan turut membentuk wajah Gereja Indonesia saat ini. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk memusatkan diri di Jawa yang waktu itu jauh dari gambaran zona nyaman dan sama artinya dengan memasuki ketidakpastian. 

Peserta yang antusias mengikuti webinar sampai akhir.
Dokumentasi : Arsip Provindo

Narasi tersebut ditanggapi oleh Sdr. Frangky Wullur, jurnalis Berita Manado yang punya minat pada sejarah Gereja di Minahasa dan Pater A. Eddy Kristianto, OFM, dosen Sejarah Gereja di STF Driyarkara. Pater Eddy, selain memberikan berbagai catatan kritis secara akademik, juga melihat bahwa presentasi tersebut mengambil sikap kesejarahan yang tepat, yaitu tidak hanya mengagungkan masa lalu tetapi menjadi bagian dari cara merumuskan diri untuk langkah laku selanjutnya. Tanggapan Pater Provinsial juga semakin membadankan refleksi keberlanjutan kisah dengan menjelaskan arah perutusan Provindo. 

Dengan kembali menilik kisah-kisah mereka, terutama pada peringatan lima puluh tahun sebagai provinsi, Provinsi Indonesia Serikat Jesus di zaman ini masih terus dapat menimba semangat pada para pendahulu. Dengan permohonan agar para Jesuit Indonesia sekarang kembali diminta kehadirannya di tempat-tempat yang dulu telah ditinggalkan, kiranya kisah para pendahulu ini dapat memberi inspirasi ketika kembali ke wilayah yang sama. Kisah di masa lalu masih belum selesai dan sekarang masih akan berlanjut. Akhir kata, dengan bahasa Pater Eddy, kita bisa memandang para Jesuit pendahulu kita tersebut sebagai mereka yang telah menunjukkan “kegigihan, keuletan, pengerahan daya-daya manusiawi setinggi mungkin yang dibalut dengan idealitas, dan mimpi-mimpi luhur mulia tentang totalitas melayani Gereja dengan menyebarkan Injil…”

Kontributor : Daud Kefas Raditya, S.J. dan Teilhard A. Soesilo, S.J.

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.