Pilgrims on Christ’s Mission

Menemukan Tuhan di Pinggir Jalan Tol

Refleksi Pendampingan LDK OSIS SMP Kanisius Kalasan

Sebagai seorang pendidik di SMP Kanisius Kalasan, saya sering merenungkan cara terbaik untuk menghidupkan semangat St. Ignatius Loyola di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Jawaban itu muncul secara tidak terduga dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Kanisius Kalasan, Yogyakarta, yang mengambil tema “Pemimpin Penggerak Perubahan”.

Bukan di dalam ruangan yang tenang, dinamika justru dimulai di samping jalan tol yang bising dan terik. Di sana, para murid berdiri membentuk lingkaran, menyerukan tagline sekolah dan yel-yel kelompok di tengah deru mesin kendaraan yang melintas. Sebagai pendamping, saya melihat momen ini sebagai retret singkat di “pasar dunia.” Mereka belajar untuk tetap fokus pada suara hati dan identitas mereka sebagai pemimpin Kanisius meski lingkungan di sekitar sangat bising dan menantang.

Kolaborasi dalam Semangat Persaudaraan
Kehadiran narasumber, Bapak Danang, Bapak Didit, dan Bapak Yoga dari SMA Kolese de Britto menjadi wujud nyata jejaring persaudaraan Jesuit. Turut hadir pula Mas Dito dan Mas Febri sebagai alumni SMP Kanisius Kalasan yang saat ini belajar di SMA Kolese de Britto untuk berbagi pengalaman belajar. Kolaborasi ini bukan sekadar transfer ilmu kepemimpinan, melainkan sebuah proses berbagi hidup. Melalui permainan sederhana seperti “tukar sepatu” dan tantangan mengibarkan bendera dengan peralatan terbatas, para murid diajak untuk mempraktikkan diskresi: bagaimana mengambil keputusan yang tepat di tengah keterbatasan.

Kelompok kecil peserta Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Kanisius Kalasan, Yogyakarta yang sedang melaksanakan Examen dan Percakapan Rohani Tiga Putaran. Percakapan Rohani Tiga Putaran dilakukan dalam tiga putaran, yaitu: sharing pengalaman, menanggapi secara singkat, dan ditutup dengan doa. (Foto: Penulis)

 

Examen: Melihat Jejak Tuhan dalam Dinamika
Salah satu momen paling berkesan bagi saya adalah saat memasuki sesi Examen dan Percakapan Rohani Tiga Putaran. Dalam keheningan yang kontras dengan kebisingan jalan tol tadi pagi, para murid diajak menoleh ke dalam diri melalui metode Jendela Johari.

Dalam kelompok kecil yang kami dampingi, saya menyaksikan kerapuhan sekaligus kekuatan luar biasa para kaum muda ini. Mereka belajar mendengarkan sesama dengan hati, sebuah praktik cura personalis yang nyata. Di sinilah saya merasakan kehadiran Roh Kudus bekerja: saat seorang murid mampu mengungkapkan refleksinya dengan jujur dan murid lain mendengarkannya tanpa menghakimi.

Menjadi Pemimpin yang Berbelas Kasih
LDK ini ditutup tidak hanya dengan kecakapan public speaking atau kemampuan berorganisasi, tetapi juga dengan komitmen untuk menjadi pemimpin yang melayani. Melalui orasi mandiri dan teater mini, mereka sedang belajar mewartakan kabar baik melalui tindakan nyata di sekolah.

Bagi saya, mendampingi 25 pengurus OSIS ini adalah sebuah perjalanan rohani. Saya diingatkan kembali bahwa tugas kita sebagai pendidik bukan hanya mencetak murid yang cerdas (competence), tetapi juga pribadi yang memiliki hati untuk sesama (compassion) dan iman yang mewujud dalam keadilan (conscience) sehingga pada akhirnya pembadanan atau internalisasi nilai-nilai Kanisius semakin berakar kuat dalam diri para murid.

Dari debu jalan tol hingga keheningan ibadat penutup, kami belajar satu hal: bahwa pemimpin penggerak perubahan adalah mereka yang mampu menemukan Tuhan dalam segala hal (Finding God in All Things).

Get in Touch With Us

More News