Pilgrims on Christ’s Mission

Menemukan Sang Pencipta dalam Bulir Semesta

Menanamkan semangat Laudato Si’ kepada murid SMP Kanisius Kalasan

Misi pendidikan Jesuit tidak hanya berhenti pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada kepekaan hati untuk mendengar “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin.” Di SMP Kanisius Kalasan, semangat Laudato Si’ ini mewujud nyata melalui jemari kecil para murid kelas 7 dan 8 saat mereka memanen ekoenzim baru-baru ini.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rekoleksi ekologis bersama Sr. Agnes, FCJ dan Sr. Meta, FCJ. Setelah beberapa bulan lalu mereka menanam “benih” kepedulian melalui fermentasi sisa buah, kini tibalah saatnya mereka memanen buah dari kesabaran dan ketelatenan tersebut.

Melihat para murid memeras potongan buah hingga cairan enzimnya keluar, saya teringat konsep “Finding God in All Things“. Dalam setiap tetes cairan cokelat yang dihasilkan, terdapat proses perubahan (transformasi) dari sesuatu yang dianggap “sampah” menjadi sesuatu yang memberkati bumi, bahkan kehidupan.

Proses memeras dan menyaring ini menjadi semacam “liturgi kecil.” Anak-anak belajar bahwa merawat rumah bersama membutuhkan keterlibatan tangan yang bersedia kotor dan hati yang mau peduli. Cairan ekoenzim tersebut kemudian mereka gunakan untuk menyiram tanaman di sekitar sekolah, sebuah gerak pengabdian untuk mengembalikan nutrisi bagi bumi yang telah memberi kita kehidupan.

 

Para murid SMP Kanisius Kalasan mempraktikkan cara membuat cairan ekoenzim.

 

Semangat magis (memilih yang lebih demi kemuliaan Tuhan) juga tampak saat workshop pembuatan sabun cair untuk mencuci baju. Didampingi oleh para Suster FCJ, para murid diajak tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi kreator yang bertanggung jawab dan peduli lingkungan.

Mereka belajar bahwa sabun yang mereka buat bukan sekadar pembersih noda, melainkan simbol gaya hidup baru yang lebih ramah lingkungan. Saat sabun tersebut dibawa pulang ke rumah, mereka sebenarnya membawa “kabar baik” ekologis ke dalam keluarga mereka masing-masing.

Sebagai pendidik, saya merefleksikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk cura personalis yang utuh. Kami tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi pertumbuhan jiwa mereka agar selaras dengan ciptaan Allah.

Harapan kami, panen ekoenzim ini semakin membuka hati anak-anak untuk lebih berpihak pada lingkungan. Kami ingin memastikan bahwa identitas sebagai murid SMP Kanisius Kalasan adalah identitas seorang penjaga bumi yang tangguh. Melalui hal-hal sederhana seperti ekoenzim dan sabun ramah lingkungan, kita sedang menyemai harapan untuk masa depan “Rumah Kita Bersama” yang lebih hijau dan penuh kasih.

Get in Touch With Us

More News