Refleksi atas kunjungan ke Ereveld Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat
Pada 15 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II, saya bersama dengan Pater Ignatius Windar Santoso, S.J., Frater Maran Seng Du Aung, S.J., dan Frater Antonius Vinsensius Egwin, S.J. berkunjung ke Ereveld Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.
Ereveld adalah taman makam kehormatan bagi tentara dan masyarakat sipil yang menjadi korban selama Perang Dunia II yang dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda. Terdapat tujuh ereveld di Indonesia yang tersebar di Jakarta, Semarang, Bandung, Cimahi, dan Surabaya. Ereveld Leuwigajah merupakan yang terbesar dengan jumlah korban yang dimakamkan mencapai lebih dari 5.200 orang.
Mengapa kami mengunjungi tempat ini?
Perjalanan ini berawal dari upaya Pater Windar dan Tim Arsiparis Serikat Jesus Provinsi Indonesia yang mencoba melacak makam para Jesuit yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di wilayah yang kini menjadi Provinsi Jawa Barat. Beberapa Jesuit tercatat pernah berkarya di Bogor hingga tahun 1937, serta di Cimahi, Bandung, dan Cirebon hingga tahun 1927.

Namun para Jesuit yang dimakamkan di Ereveld ini memiliki kisah yang berbeda. Ketika Jepang menduduki Indonesia tahun 1942 hingga 1945, orang-orang Belanda dijadikan tahanan di kamp-kamp interniran, tak terkecuali para imam, biarawan, dan biarawati. Para tahanan mengalami kelaparan, kekurangan obat-obatan, serta hidup dalam fasilitas yang amat memprihatinkan. Kondisi tersebut mengakibatkan tingginya angka kematian. Dari total 120 Jesuit Eropa yang berkarya di Jawa kala itu, 12 orang (10%) meninggal di kamp internir.
Kami kemudian mencoba mencocokkan data arsip Serikat Jesus dengan database korban perang Belanda. Dari penelusuran tersebut, kami menemukan empat imam yang dimakamkan di Ereveld ini, yaitu:
- Pater Joannes Josephus Hubertus Maria van Rijckevorsel, S.J.
- Pater Josephus Wilhelmius Maria Wubbe, S.J.
- Pater Theodorus Cocx, S.J.
- Pater Joannes Berndsen, S.J.

Ketika tiba di Ereveld, kami disambut oleh dua petugas yang membantu mencarikan posisi makam dari para imam tersebut pada buku besar. Ketika menyebut nama Pater Rijckevorsel dan Pater Wubbe, mereka sontak berseru, “Ah, ini Pater yang dari Strada ya?” Menurut mereka, selama ini perwakilan Perkumpulan Strada rutin berkunjung ke makam kedua Pater ini. Puji Tuhan!
Perkumpulan Strada didirikan pada tahun 1924 oleh tiga serangkai Pater Josephus Wilhelmius Maria Wubbe, S.J., Pater Antonius Theodorus van Hoof, S.J. dan Pastor Johannes Josephus Hubertus Maria van Ricjkevorsel, S.J. Ketika Jepang menguasai Jawa, ketiga Pater berkebangsaan Belanda ini tak luput dari penangkapan dan dimasukkan ke kamp interniran. Pater Wubbe, yang bertugas di Bidaracina dimasukkan ke Kamp Kramat dan Grogol, lalu pada tahun 1944 dipindahkan lagi ke Kamp Baros 6. Sementara itu Pater Rijckevorsel ditangkap di Yogyakarta oleh polisi rahasia Jepang pada 19 Juli 1942 atas tuduhan pengkhianatan terhadap pemerintah Jepang. Beliau dibebaskan setelah sepuluh hari ditahan. Sayangnya pada awal September 1943, beliau kembali ditangkap dan dimasukkan ke Kamp Bentang, sebelum akhirnya dipindahkan ke Kamp Cimahi.
Pater Hoof yang saat itu menjadi Rektor Kolese St. Stanislaus Girisonta ditangkap dan dimasukkan ke Kamp Banyubiru, Ambarawa. Beliau tidak pernah dipindahkan dari kamp tersebut hingga meninggal pada 22 September 1944. Makamnya terletak di dalam kapel Kerkhof Ambarawa.
Kisah Pater Cocx dan Pater Berndsen juga sangat menggugah hati. Selama di Indonesia, karya Pater Cocx berfokus pada bidang formasi dan pendidikan. Beliau ditangkap ketika sedang bertugas di Kolese Santo Yusup Ambarawa, lalu ditahan di Kamp Roncalli Salatiga. Pater Cocx kemudian dipindahkan ke Kamp Cimahi dan meninggal di sana. Sementara itu, pada tahun-tahun terakhirnya, Pater Berndsen menjalankan tugas sebagai formator di Seminari Menengah Mertoyudan dan Seminari Tinggi Yogyakarta. Beliau dimasukkan ke Kamp Benteng, lalu dipindahkan ke Kamp Baros 5.
Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu yang mengakhiri Perang Dunia II, para misionaris perlahan-lahan keluar dari berbagai kamp interniran dan sedapat mungkin kembali ke tempat tugas mereka yang terakhir.
Suasana Ereveld Leuwigajah ini jauh dari kata menyeramkan. Sebaliknya, tempat ini terasa begitu menenangkan dan memberikan kesan yang damai. Deretan nisan tertata rapi dengan pemandangan Gunung Salam sebagai latar belakang. Rasanya begitu kontras kala mengingat bahwa tempat setenang ini merupakan peristirahatan terakhir para korban perang.
Seorang petugas mengantar kami ke empat makam yang kami tuju. Di hadapan setiap makam kami meletakkan bunga dan sejenak memanjatkan doa. Pada momen itu saya merasa amat beruntung dapat “bertemu” dengan tiga generasi Jesuit sekaligus, para Jesuit dari masa lalu yang kini hanya bisa saya jumpai melalui makam mereka, Pater Windar sebagai wakil para Jesuit yang berkarya pada masa kini, serta para frater yang kelak akan melanjutkan perjalanan Serikat Jesus di masa depan.

Kami mengakhiri kunjungan di Ereveld Leuwigajah dengan mengunjungi makam para imam, bruder, dan suster di Blok VI yang dipindahkan dari Ereveld Muntok (Bangka) tahun 1960.
Kunjungan ini ternyata tak hanya untuk menemukan makam-makam yang selama ini tersebar, melainkan menjadi kesempatan untuk mengenal dan menyadari bahwa ada karya yang mereka wariskan, dan ada generasi yang akan terus melanjutkan karya-karya itu.
“Bagi sebagian orang, maut datang sebagai jalan pengorbanan.
Bagi yang lain, maut datang tanpa dicari, laksana anak panah takdir.
Apa bedanya?
Dalam keberanian maupun ketakutan, mereka semua tunduk pada titah yang sama.”
(J. C. Bloem)

