Refleksi atas pengalaman menjadi guru volunteer di Waghete
Dulu kukira pertanyaan tentang cita-cita adalah sesuatu yang sederhana. Ketika ada orang yang bertanya padaku, “Apa cita-citamu, Donda?”, aku hanya tinggal menyebutkan satu profesi yang aku sukai, dan selesai. Ternyata, seiring aku tumbuh dewasa, cita-cita tidaklah sesederhana itu. Faktanya, saat seorang manusia menyandang titel “dewasa”, ia dituntut untuk menjadi individu bermakna. Menemukan tujuan dan panggilan hidupnya yang sejati, mampu mandiri menghidupi diri sendiri, dan berguna bagi kehidupan orang lain. Lalu aku paham bahwa pada akhirnya aku tidak hidup hanya untuk diriku sendiri …
Dan inilah aku, perempuan berusia 26 tahun yang hingga hari ini masih terus mencari.
“Aku sebenarnya hidup untuk apa?”
“Apakah Tuhan hanya iseng waktu menciptakanku?”
“Emm.. kayaknya engga deh … harusnya aku diciptakan untuk melakukan ‘sesuatu’, kan?”
Rangkaian pertanyaan dalam pencarian itulah yang kemudian membawaku pada episode hidup yang tak pernah kusangka, menjadi guru volunteer, kolaborator Jesuit yang berkarya di tanah misi Papua.

Dari Ujung Barat ke Ujung Timur
Semesta tidak pernah meminta izinku untuk memulai perjalanan hidup sebagai manusia. Tiba-tiba, aku berada di persimpangan bernama proses menjadi dewasa, di mana aku harus mencari, memilih, dan menemukan jalan hidupku sendiri. Yang jelas, pertanyaan tentang arah dan makna hidup semakin sungguh-sungguh aku seriusi karena sepertinya jawabannya harus segera kutemukan.
Tahun-tahun terakhirku di bangku kuliah kuisi dengan berbagai eksplorasi, terutama dalam kehidupan spiritualku. Aku banyak berdinamika dengan anak-anak dan orang muda, mengisi rekoleksi dan kegiatan semacamnya sebagai fasilitator, serta menjadi formandi hingga Pengurus MAGIS Yogyakarta, komunitas orang muda Katolik yang mempelajari dan menghidupi Spiritualitas Ignasian. Hingga pada suatu momen, setelah mengisi kegiatan Youth Ignatian Sharing Session Goes to de Britto College, aku mendapat kaos Tekol (Temu Kolese) dari Pater Hugo, S.J. Merchandise berwarna biru navy itu memuat logo semua Kolese di Indonesia yang menjadi peserta Tekol waktu itu. Di suatu kesempatan, saat aku memakai kaos itu, aku nyeletuk iseng ke Kak Van, bestie spiritualku yang sering mengajakku mengisi berbagai event Ignasian dan rekoleksi, “Seru kali ya, Kak, kalo aku bisa ke sini juga. Kabarin ya, Kak, kalo ada kesempatan proyekan di sana,” kataku sambil menunjuk logo Kolese Le Cocq d’Armandville, sekolah Jesuit yang terletak di ujung timur Indonesia. Saat itu Kak Van senyum saja, “Aku juga pengen, Don, kalo ada kesempatan lagi, cuma tiketnya itu lohh yang mahal, hahaha.”
Beberapa kali Kak Van bercerita tentang bagaimana pengalamannya berdinamika selama dua minggu di Waghete dan Nabire, Papua Tengah, sangat berdampak bagi kehidupannya sebagai psikolog muda saat itu. Yang tak aku sangka, ternyata kesempatan untuk berangkat ke Papua benar-benar datang kepadaku! Tanggal Yudisium belum keluar, tapi Kak Van sudah memberi tawaran itu: menjadi guru volunteer di Waghete.
Rasa penasaran akan tanah yang jauh itu sesungguhnya sudah menghampiriku sejak lama. Tentang beragam bentuk penjajahan berlapis yang masih dirasakan masyarakatnya, tanah yang kaya namun dikeruk tanpa ampun oleh kerakusan tak berujung, hingga pengabaian hak-hak dasar manusia yang secara sadar terus dilanggengkan hingga kini. Terutama saat aku menjalani kuliah S1 di Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan, Program Studi Kebijakan Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam berbagai mata kuliah, aku mencari dan coba memahami bagaimana ketimpangan akses serta kualitas pendidikan masih menjadi masalah fundamental di Tanah Papua.
Dalam proses diskresi serius yang kulakukan saat menimbang-nimbang keputusan untuk berangkat ke Papua, aku mencoba berefleksi lebih dalam. Gambaran ideal pendidikan yang kuperoleh dari kelas-kelas pedagogi kritis saat kuliah sungguh timpang dengan realitas pendidikan Indonesia di ujung timurnya. Aku sebagai lulusan jurusan pendidikan ini pun makin terbakar hatinya. “Kayaknya aku gak bisa deh berani-beraninya menyebut diri sebagai sarjana pendidikan kalau belum bisa melakukan sesuatu yang nyata di bidang ini,” batinku saat itu. Akses sudah tersedia di depan mata. Terkait isu keamanan dan kekhawatiran serupa pun sudah ada jaring pengamannya: aku tak akan sendirian di sana, aku kolaborator Jesuit. Dan ya, anak tunggal ini pun sudah mengantongi izin dan restu dari mamanya. Ia mungkin yakin aku akan baik-baik saja di tanah yang jauh dari rumah itu karena memang kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru serta mengorganisasi diri sendiri dan orang lain sudah kumiliki. Mama sudah “mengkaderku” untuk itu semua sejak aku kecil, dengan ikut beliau berpindah-pindah kota di Sumatera Utara dan tumbuh di lingkungan LSM tempat beliau bekerja. Pengalaman hidup berorganisasi dan berkomunitas selama SMA dan kuliah juga semakin memperkuat semua itu. Hingga akhirnya, dengan segala harapan dan kekhawatiran yang kumiliki, pada Januari 2026 aku berangkat ke Tanah Papua dari Kota Medan. Bertualang dari ujung barat ke ujung timur Indonesia, “mencari” ke tempat yang jauh.
Waghete, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah
Berada di ketinggian 1700-an meter di atas permukaan laut, Waghete terasa sangat dingin untukku yang tumbuh besar di daerah panas di pantai barat Sumatera Utara. Suhu terendah yang pernah kualami adalah 10°C akibat kondisi geografis Waghete yang berada di tepi Danau Tigi. Syukurlah, hatiku bisa menemukan kehangatan di sini. Kekhawatiran terbesarku sebelum tiba di Waghete adalah apakah aku bisa berbaur dengan baik dalam tim kerjaku di sini. Karena sejak awal sudah ditekankan bahwa hidup berkomunitas adalah bagian dari proses formasi sebagai volunteer di karya misi ini.
Aku diberi rahmat untuk bisa satu tim dengan dua volunteer dari luar Papua, Kak Agnes dan Dinda, serta Manderika Pekei atau yang sering kami panggil Bu Guru Mande, gadis baik hati asli Waghete. Seperti mayoritas masyarakat Papua yang bermukim di Waghete, Mande berasal dari Suku Mee. Awal perjalanan tim kami ditemani oleh Pater Peter Devantara, S.J., yang saat itu merupakan Pastor Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete dan Direktur Asrama, serta Frater Septian Kurniawan, S.J. yang menjalani program Immersion di Nabire dan Waghete.
Tim kami sungguh solid. Kami berusaha saling mengenal dan bersama-sama menyusun visi serta program yang akan kami jalankan. Proses adaptasiku berjalan lancar berkat kawan-kawan seperjalanan yang kooperatif dan terbuka untuk saling berkompromi. Aktivitas harian kami adalah menjalankan Program Pendidikan Dasar dengan berangkat bersama untuk mengunjungi sekolah-sekolah di stasi-stasi Paroki Waghete. Sekolah di stasi memiliki murid dan gedung sekolah, namun proses pembelajarannya kerap terhambat karena guru sering tidak hadir. Para Ibu Guru ditemani Frater mengunjungi Stasi Kigou, Yaba, Meyepa, dan Yagu secara bergantian dengan sepeda motor.
Kami mengajar di gedung SD setiap stasi, mencoba memberikan suplemen untuk mendukung proses belajar mereka. Tidak dalam misi menggantikan posisi dan peran para guru di sekolah, melainkan lebih kepada mencoba memfasilitasi kerinduan anak-anak untuk belajar dengan pendampingan penuh dari sosok guru yang hadir di dekat mereka. Dinamika belajar biasanya kami mulai dengan gerak dan lagu. Setelah bernyanyi bersama, kami berdoa, kemudian dilanjutkan dengan proses pembelajaran di kelas. Seusai belajar, terkadang kami membagikan susu atau telur rebus kepada anak-anak, berkat saluran kasih dari para donatur yang mencintai anak-anak Papua.
Kami mengajar membaca, menulis, berhitung, serta mata pelajaran dasar lainnya untuk anak-anak usia TK dan SD. Tak jarang kami harus belajar di halaman sekolah jika ruangan kelas ternyata belum dibuka sehingga tidak bisa kami akses. Namun demikian, di tengah segala keterbatasan, anak-anak tetap bersemangat belajar dan selalu gembira menyambut kehadiran para ibu guru di sekolah mereka. Gegap gempita, mereka selalu berteriak “Ibuu Guruuu!!!!” ketika sepeda motor kami memasuki pelataran sekolah. Dan itulah yang selalu menjadi sumber nyala api semangat kami para guru untuk terus datang dan mengajar di stasi mereka.

Belajar Hidup Sebagai Manusia: Menemukan Tuhan dalam Keseharian di Asrama
Selain Program Pendidikan Dasar, sebagai guru volunteer, aku bersama Dinda dan Kak Agnes bertanggung jawab menjadi pendamping Asrama Putra St. Fransiskus Xaverius dan Asrama Putri St. Maria, Waghete. Gedung asrama berada di area pastoran tempat kami tinggal. Kami menemani aktivitas anak-anak asrama yang seluruhnya menempuh pendidikan di SMP YPPK St. Fransiskus Xaverius Waghete. Setiap hari, “jam kerja” kami dimulai sejak kami bangun pagi dan berakhir saat kami tidur pada malam hari. Kami bertugas mulai dari membangunkan mereka pukul 5 pagi, mempersiapkan sekolah, hingga mendampingi mereka belajar pada sore dan malam hari. Dalam dinamika harian ini, aku yang seumur hidup tidak pernah mengalami model pendidikan sekolah berasrama banyak sekali memetik pelajaran.
Ternyata, skema pendidikan yang dibutuhkan anak-anak di Papua, setidaknya di daerah Waghete tempat kami tinggal, adalah pendidikan holistik. Suatu bentuk pendidikan yang tidak hanya menyasar capaian akademis, melainkan juga mengajarkan basic life skill hingga ke ranah pengolahan emosional dan spiritual. Mendampingi mereka belajar rutin melakukan Examen harian seusai studi sebelum doa malam, menemani mereka mengatur napas: inhale dan exhale saat sedang sedih, marah, atau kecewa kemudian belajar mengenali, menamai, dan memproses perasaan yang sedang dialami, mengajarkan cara mengucek dan menyikat kerah baju sekolah dengan benar, secara berkala mencuci sprei, sarung bantal, selimut serta menjemur kasur dan bantal, hingga melatih motorik halus dan kesabaran saat menemani mereka masak bersama di dapur adalah warna yang tak pernah kuduga akan menghiasi keseharianku. Overthinking-ku saat masa kuliah, yang berekspektasi harus “menyelamatkan dunia” lewat rancangan kebijakan pendidikan yang idealis dan gigantis, runtuh seketika. Ternyata, yang dunia butuhkan adalah cinta dan kehadiran sepenuhnya. Anak-anak ternyata tidak butuh guru yang pintar luar biasa dan sempurna, melainkan orang dewasa yang dengan rendah hati mau berproses bersama mereka, sepenuhnya. seutuhnya.
Literasi Dasar dan Urgensi Kehadiran Guru di Sekolah
Seiring berjalannya waktu, aku makin menyadari bahwa kehadiran guru yang aktif dan rutin mengajar di sekolah merupakan isu pendidikan yang sangat krusial di Tanah Papua. Berdasarkan hasil observasi dan tes akademik dasar yang kami lakukan pada anak-anak asrama, mereka yang memiliki indeks intelektualitas dan kemampuan literasi dasar yang mumpuni berasal dari satu sekolah yang sama. Kepala Sekolah mereka kompeten dan guru-gurunya pun rajin masuk serta mengajar tidak asal-asalan. Anak-anak ini unggul dalam dinamika belajar di asrama karena kemampuan bahasa Indonesia dan matematika dasarnya sudah lebih baik dibandingkan teman-teman lain yang masih harus berusaha lebih intensif.
Isu ini juga pernah dibahas dan dipresentasikan oleh Kristoforus Tekege, anak asrama kelas VIII saat ia menjadi penampil dalam Sidang Akademi Asrama Waghete. Kristo membahas topik berjudul “Kurangnya Kualitas Pendidikan di Pedalaman Papua.” Dalam kegiatan rutin asrama yang diadakan sekali dua bulan ini, Kristo menceritakan pengalamannya saat bersekolah di kampungnya. Proses belajarnya di sekolah menjadi tidak lancar karena guru jarang masuk. Namun, problem kealpaan guru ini juga diakibatkan oleh isu yang lebih kompleks, yakni tantangan akses jalan dan transportasi ke kampung tersebut serta isu keamanan. Untuk mencapai kampung Kristo, para guru masih harus menggunakan moda transportasi air, yakni kapal motor kecil—yang sering disebut Jongson—untuk mengarungi Danau Paniai. Belum lagi, masih sering terjadi peristiwa pembacokan atau konflik keamanan lainnya yang membuat para guru sering merasa waswas untuk berangkat mengajar ke daerah tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut, Kristo merekomendasikan agar orang tua memasukkan anak-anak mereka ke sekolah berasrama, seperti yang sedang ia jalani sekarang. Karena setidaknya anak akan memperoleh lingkungan yang lebih aman dan stabil untuk belajar, jika sekolahnya berada dekat dengan asrama yang didampingi intensif oleh Pater dan para guru.
Pendidikan yang Dekat: Pedagogi Kritis-Kontekstual-Reflektif dalam Semangat Spiritualitas Ignasian
Aku hanya bisa memberi apa yang aku punya. Sejak awal, aku sudah sadar akan kemampuanku. Walaupun bertitel Sarjana Pendidikan, sesungguhnya jurusanku saat kuliah dulu adalah non-kependidikan. Aku tidak diprogram untuk menjadi guru yang mengajar di kelas. Syukurlah, aku banyak mempelajari teori-teori dan dasar-dasar filosofis pendidikan sehingga setidaknya sudah memiliki bekal teoritis untuk mengajar di Papua. Tim guru volunteer pun memang menyusun rancangan pembelajaran yang menjadi acuan kami dalam mengajar selama satu semester. Kami berangkat dari kurikulum nasional dan buku paket pelajaran dari pemerintah yang bisa diakses secara online. Namun, ketika terjun ke dinamika lapangan, di sinilah segalanya diuji.
Dengan rendah hati, aku harus mau dan mampu menyesuaikan materi, alur, serta media pembelajaran yang kugunakan dengan kemampuan dan kecepatan anak-anak dalam memahami pelajarannya. Seringkali satu topik masih harus diulang di beberapa sesi belajar, demi memastikan anak-anak benar-benar sudah mengerti. Pada akhirnya, setiap kali menyusun bahan ajar, aku selalu memohon rahmat kepada Tuhan: “Tuhan, tolong bantu aku mengajarkan apa yang anak-anak butuhkan, bukan apa yang ingin aku ajarkan kepada mereka.” Aku hanyalah sarana, yang utama adalah bagaimana mencapai tujuan untuk memfasilitasi mereka belajar sesuai konteks kebutuhan mereka akan ilmu pengetahuan.
Berangkat dari realitas ini, aku mencoba menjalankan kelasku dengan nilai-nilai pedagogi kritis-kontekstual. Aku bertanggung jawab mengajar bahasa Indonesia dalam les rutin pada jam studi sore anak-anak asrama. Di kelas ini, anak-anak diajak untuk mendalami literasi dasar dengan mengobservasi tulisan serta lingkungan sekitar, termasuk masalah-masalah sosial yang mereka alami, mencatatnya, lalu mengkritisi dan merefleksikannya bersama-sama. Pengalaman berbahasa Indonesia itu sebisa mungkin tidak terkurung pada target capaian pembelajaran ala buku teks sekolah, melainkan pada dinamika berbahasa yang dapat membantu mereka menyadari dan memahami realitas kehidupan sehari-hari.
Pada pengantar kelas Bahasa Indonesia dan pada berbagai kesempatan saat kami belajar, aku sering menegaskan hal itu. Kita belajar bahasa Indonesia bukan untuk membuat kalian berhenti menjadi orang Suku Mee. Selamanya kalian akan menjadi orang Mee, orang Papua.
Kita belajar bahasa Indonesia justru untuk melindungi tanah ini dan merawat budayanya. Tanah Papua adalah tanah yang sangat kaya. Maka dari itu, anak-anak Papua lah yang harus menjadi garda terdepan untuk menjaganya. Supaya tidak terjadi lagi perampasan tanah adat dengan modus tipu-tipu terhadap mama bapa di kampung yang belum bisa berbahasa Indonesia dan belum bisa baca-tulis. Supaya hutan adat Papua bisa dihindarkan dari pembalak-pembalak liar maupun pembakar hutan berizin yang tidak pernah puas menghisap tanah ini.
Selain itu, ada sangat banyak intelektualitas ulayat, kebijaksanaan yang sudah turun-temurun dirawat oleh orang Suku Mee melalui tradisi lisan. Kekayaan itulah yang perlu dirawat eksistensinya dengan dicatat dalam arsip-arsip tertulis, agar bisa diakses oleh generasi mendatang. Keindahan Noken, Milabai (topi anyaman), Mapega (panah), Waya (mahkota), Koteka, serta Tari Waita, Ama Duwai, dan Yospan merupakan warisan budaya Suku Mee yang patut dibanggakan serta diperkenalkan kepada lebih banyak orang di luar sana. Oleh karena itu, belajar bahasa Indonesia dan memperkuat literasi dasar menjadi modal utama agar anak-anak asrama bisa mewujudkan visi besar ini. Sidang Akademi, les sore, studi malam dengan membuat Catatan Bacaan ketika menemukan kosakata baru saat membaca, dan rutin bergantian menjadi petugas Lektor pada Misa harian asrama merupakan upaya untuk memfasilitasi mereka agar terus mengasah literasi.
Belajar Bahasa Indonesia dan literasi dasar juga menjadi sarana anak-anak asrama untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mengenal dirinya sendiri, teman-teman, lingkungan, serta Tuhan. Aspek reflektif tidak pernah absen dari proses pembelajaran, yang juga semakin dilatih lewat Examen harian. Selain itu, anak-anak asrama juga rutin mengikuti rekoleksi dengan berbagai topik. Rekoleksi asrama membahas mengenai hidup berkomunitas di asrama, komitmen safeguarding warga Asrama yang di dalamnya membahas boundaries, comprehensive sex education, serta bagaimana menjaga tubuh yang adalah Bait Allah. Materi-materi ini sejalan dengan prinsip cura personalis yang kami gunakan dalam menemani proses mereka, dengan berusaha tidak menyamaratakan proses masing-masing anak. Setiap anak unik, setiap anak berharga. Harapannya, anak-anak asrama dapat hidup dengan sehat dan gembira di sini, dengan nalar, rasa, dan kehendaknya yang tumbuh baik secara berkesinambungan.
Cannonball Moment: Resiliensi dan Kepercayaan untuk Berserah
Perjalanan hidup di Waghete makin hari makin menemukan ritmenya. Semuanya berjalan baik hingga intensitas konflik dan isu keamanan di daerah kami meningkat. Program Pendidikan Dasar dengan skema para ibu guru berangkat mengajar ke stasi-stasi harus dihentikan karena alasan keamanan. Pada titik ini, aku sempat sangat kecewa dan marah dengan keadaan. Kenapa anak-anak kami di stasi harus dikorbankan akses pendidikannya karena konflik yang ada? Semua sarana dan rancangan pembelajaran yang sudah kami siapkan, mau tak mau, harus dialihkan. Para Ibu Guru akhirnya harus mengajar di area lingkungan Pastoran, dan anak-anak TK serta SD di sekitar Pastoran lah yang datang untuk belajar. Skema yang kemudian kami jalani adalah les tambahan setelah anak-anak pulang sekolah untuk mendukung proses belajar mereka yang permasalahannya kurang lebih sama dengan sekolah-sekolah di stasi.
Setelah beberapa minggu, akhirnya aku menyadari bahwa ternyata berkarya mulai dari lingkaran terkecil di pastoran juga baik. Karya di tanah misi tidak harus berupa karya yang heroik dan besar, karena toh semua anak masih membutuhkan pendampingan. Proses pembelajaran di Pastoran justru bisa menjadi lebih intensif, efektif, dan berkelanjutan. Les bersama anak-anak di sekitar pastoran dapat dilakukan 4 kali seminggu, tidak harus bergantian seperti di stasi. Media pembelajaran yang kontekstual juga menjadi lebih mudah didapatkan. Kandang ternak dan kebun nota (ubi) Pastoran, serta noken-noken yang digunakan untuk berbelanja kebutuhan dapur Pastoran, dapat kugunakan sebagai sarana belajar observasi, baca, dan tulis bagi anak-anak TK dan SD. Aku juga jadi semakin leluasa berkreasi dengan metode pembelajaran di kelas, di mana aku akhirnya mengombinasikan mazhab pendidikan Montessori, pedagogi kritis-kontekstual-reflektif, dengan intelektualitas ulayat Masyarakat Mee. Sungguh skema pendidikan alternatif yang ideal yang pernah kubayangkan saat kuliah dulu! Beberapa anak dari stasi juga sempat mengikuti les di Pastoran, namun tidak berlanjut karena kendala jarak dan mobilitas orang tua mereka yang tidak bisa rutin mengantarkan anaknya.
Namun, sekali lagi kami semua harus diuji. Pada bulan Maret, Pater Peter mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Pater harus meninggalkan Waghete untuk menjalani pemulihan, ditemani Kak Agnes. Sejak saat itu, selama sebulan aku dan Dinda harus berjibaku berdua menjalankan les TK-SD di Pastoran dan program-program asrama yang telah kami susun. Di tengah rasa panik dan kalut karena harus menjalani semuanya tanpa pendampingan Pater, kami tetap berusaha tegar. Mau tidak mau kami harus tetap tenang agar anak-anak juga bisa belajar dan beraktivitas seperti biasa. Ketakutan serta kekhawatiran kami akan isu keamanan yang coba kami hadapi bersama, dan di titik inilah kami belajar untuk percaya dan berserah. Hingga akhirnya, Kak Agnes kembali ke Waghete, sementara Pater Peter masih menjalani pemulihan di Timika. Kami masih harus menjalani satu bulan lagi berjuang di Waghete bertiga tanpa ditemani Pater.
Dalam masa-masa krisis ini, aku sempat ingin menyerah. Aku merasa kehilangan diriku yang ceria dan bebas karena kerap harus menjadi “bad cops” yang mendisiplinkan anak-anak, peran yang sebelumnya dipegang oleh Pater. Krisis eksistensial karena “takut mati” juga dialami. Rasanya pelik sekali semua ini. Mungkin semuanya akan lebih mudah kalau ada Pater yang memimpin dan melindungi kami. Namun, lagi-lagi, dalam Ibadat Sabda harian bersama anak-anak asrama serta dalam journaling harianku, aku disadarkan. Sesungguhnya tujuan dan penolong utama dalam karya misi ini adalah Yesus sendiri, bukan semata-mata sosok Pater atau pimpinan asrama. Dan aku pun tidak perlu dikuasai oleh rasa takut. Aku hanya perlu lebih beriman, sembari tetap awas terhadap keadaan sekitar. Resiliensi demi diri sendiri dan anak-anakku yang kulayani! Semuanya sulit, Tuhan. Tapi terima kasih, karena akhirnya Kau mampukan kami.

Kunjungan Pater Provinsial: Sebuah Sapaan yang Menguatkan
Aku selalu percaya, seperti dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola, setelah Minggu ke-3, ketika kita ikut mendalami sengsara, penderitaan, dan wafat Yesus Kristus, kita pasti akan mengalami Minggu ke-4, ketika kita ikut bangkit dan bersukacita dalam pengharapan bersama-Nya. Setelah menjalani masa transisi, Pater Devantara akhirnya menyelesaikan masa baktinya di Waghete dan kembali ke Pulau Jawa. Peran beliau sebagai Pastor Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete dan Direktur Asrama Waghete diteruskan oleh Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. atau yang biasa dipanggil Pater Wawan.
Ketika Pater Wawan sudah berada di Waghete, komunitas kami dikunjungi oleh Provincial Pater Bagus Laksana, S.J., dan Superior Lokal Komunitas Nabire, Pater J. Sudrijanta, S.J. Pater Sudri menemani Pater Bagus ke Waghete pada tanggal 5-7 September 2026, setelah sebelumnya mengunjungi Timika untuk bertemu Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, uskup Keuskupan Timika.
Setelah mengarungi bulan-bulan tanpa gembala, kami sungguh bersukacita atas kunjungan Pater Bagus ke Waghete. Aku pribadi merasa disapa dan diteguhkan, terlebih dengan homili Pater Bagus yang mengajak seluruh umat Paroki Waghete untuk saling menjaga di tengah perbedaan yang ada. Umat Paroki Waghete juga merasa gembira dikunjungi oleh pimpinan Jesuit Indonesia. Seperti yang sudah beberapa kali kudengar, umat Paroki Waghete berharap agar karya pelayanan para Pater Jesuit di Waghete terus berlanjut.
Pater Bagus juga mengapresiasi upaya kami dalam menemani proses pertumbuhan akademis dan spiritual anak-anak asrama, serta mendukung penuh karya kami di sini. Semoga dengan kunjungan Pater Bagus, anak-anak semakin semangat untuk belajar dan bertumbuh dalam iman. Amin! Terima kasih untuk kunjungannya Pater. Ide umina!
Pencarian dan Perjalanan: Bergabunglah Kawan, Kita Temukan Jawab Itu Bersama!
Setelah melalui satu semester yang penuh jatuh bangun dan perjuangan di Waghete, ada satu hal yang kuperoleh dan sungguh kusyukuri saat ini. Ternyata, sebagai guru volunteer, bukan aku yang banyak mengajar anak-anakku di sini. Merekalah yang banyak sekali mengajariku, terutama tentang bagaimana menjadi manusia yang hidup seutuhnya. Bersama mereka, aku belajar menakar dan memahami kapasitas diriku, belajar beradaptasi dan rendah hati untuk mengompromikan konsep-konsep “ideal” yang ada di kepalaku, bahkan sesederhana belajar “marah,” bagaimana harus mengomunikasikan ketidaksetujuan ataupun kekesalanku pada sikap mereka yang mungkin kurang tepat. Mereka memang “muridku,” tapi ternyata Ibu Guru malah menjadi orang yang sangat banyak belajar di sini. Terima kasih banyak ya, Nak!
Dengan susunan formasi tim kami yang baru di semester ini, aku punya harapan baik untuk paruh kedua karyaku di sini. Bersama Pater Wawan, Kak Agnes, dan Frater Aldo Mote, Frater Keuskupan Timika yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Waghete. Aku percaya, aku sudah memiliki cukup bekal dan kekuatan sehingga yakin bahwa lima bulan terakhirku di Waghete akan terjalani dengan baik dengan lebih banyak memori indah bersama timku dan anak-anak. Berbagai pengalaman berharga dari semester yang lalu adalah pondasi untuk aku bisa menjadi lebih baik di semester ini.
Bagi teman-teman muda yang membaca tulisanku ini, jika setelah membaca sampai akhir ada sesuatu yang tergerak di hatimu, ada semacam suara yang memanggilmu untuk mengetahui lebih jauh tentang guru volunteer atau karya pelayanan sebagai kolaborator Jesuit di tanah misi Waghete, jangan ragu untuk mengontakku ya. Jawaban atas pencarianku akan panggilan hidupku yang sejati mungkin belum kutemukan saat ini, karena sesungguhnya itu adalah pencarian seumur hidup. Namun, sesuatu yang berharga dan mungkin tak terduga bisa kita temukan di sini dengan berjalan bersama di tanah ini. Atas berbagai pertanyaan yang belum bertemu jawabannya, ayo coba kita telusuri di sini, di Waghete yang indah berseri. Sampai kita berjumpa nanti! AMDG.

