Respons Darurat JRS Indonesia untuk Gempa Flores
“Selamat siang… selamat siang…”
Begitulah sapaan riang yang kami dengar di sepanjang jalan setiap kali mobil melambat saat melewati sekelompok anak-anak. Mereka tersenyum sambil memberi salam kepada kami, orang-orang asing yang melintas di hadapan mereka. Suatu hal sederhana, tetapi terasa begitu berarti.
Tampak senyuman hangat pada wajah anak-anak dan warga yang kami jumpai. Siapa yang tahu, wajah yang sama itu menyimpan pengalaman yang tidak sederhana. Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 dan rangkaian gempa susulan membuat mereka menyaksikan dinding rumah runtuh, plafon sekolah terlepas, serta kepanikan orang-orang di sekitar mereka. Namun, pengalaman mengerikan itu tidak menghilangkan senyum dan keramahan mereka.
Kota Ende menjadi titik awal kehadiran JRS Indonesia dalam tanggap darurat gempa Flores. Kami berkolaborasi dengan JPIC SVD Ende, JPIC Paroki Onekore, dan OMK Paroki Onekore yang sudah lebih dahulu bergerak memberikan bantuan. Kehadiran bersama mereka membuat kami dapat mengikuti ritme kerja yang sudah berjalan sambil melihat siapa saja yang masih membutuhkan bantuan.
Di awal kehadiran kami, beberapa orang sempat bertanya mengapa JRS memilih masuk ke Ende, bukan ke wilayah lain yang terdampak lebih parah. Jawabannya menjadi jelas ketika kami melihat langsung keadaan pemukiman warga.
Dari luar, Kabupaten Ende mungkin terlihat tidak terlalu terdampak. Namun, ketika masuk ke kampung-kampung di atas bukit, kami menemukan cukup banyak rumah yang rusak parah dan warga yang belum menerima bantuan yang memadai. Banyak yang mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda seadanya di depan rumah. Di tempat-tempat seperti inilah kami merasa perlu hadir, membawa apa yang sekiranya paling dibutuhkan, seperti terpal dan selimut.
Pengalaman ini kembali mengingatkan saya bahwa dalam kerja kemanusiaan, tidak selalu mudah untuk melihat siapa yang paling membutuhkan. Ada tempat- tempat yang kerusakannya mudah terlihat dan banyak mendapat perhatian. Namun, ada pula mereka yang tinggal di tempat terpencil, jumlahnya sedikit, atau kesulitan mengakses bantuan. Mereka mungkin tidak banyak terlihat, tetapi itu tidak berarti kebutuhan mereka lebih kecil.

Sekolah-sekolah juga menjadi perhatian kami. Kami menemukan bahwa bantuan yang diterima sekolah masih sangat sedikit, padahal anak-anak harus tetap belajar meskipun gedung sekolah rusak. Terpal dan peralatan belajar kemudian disalurkan ke beberapa sekolah. Wajah gembira anak-anak saat menerima bingkisan mereka menjadi imbalan yang tidak ternilai bagi kami.
Salah satu tempat yang paling berkesan adalah SD Katolik Nirananga di Desa Zozozea, Kecamatan Nangapanda. Sekolah ini hanya memiliki kelas 1, 3, dan 5 dengan total 17 siswa. Meskipun kecil dan berada di wilayah perdesaan terpencil, sekolah ini tetap beroperasi. Pasca gempa, kegiatan belajar dilakukan di teras kelas.
Ketika tim JRS datang membawa buku dan alat tulis untuk semua siswa, serta terpal untuk sekolah, para guru dan siswa tampak terkejut. Kepala sekolah, Ibu Alfonsa Gaudensia Mia, mengatakan bahwa selama itu mereka belum pernah menerima bantuan. Bagi saya, perjumpaan tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian sekecil apa pun dapat berarti besar bagi mereka yang selama ini luput dari perhatian.
Tiga minggu berlalu tanpa terasa, hampir tanpa jeda. Namun, keakraban yang terbangun dengan teman-teman di internal JRS maupun dengan tim posko dari berbagai elemen terasa seperti bersama kawan lama. Terasa semuanya sudah disiapkan dan direncanakan dengan baik. Diterima di Paroki Onekore, di mana pastor parokinya mengenal karya-karya JRS ketika bertugas di Afrika, dan bertemu Pater Provinsial SVD yang mengenal baik mantan Direktur JRS, terasa seperti masuk ke keluarga sendiri. Ada rasa diterima dan ada daya dorong yang sama: mencari mereka yang terpencil, terlupakan, atau belum “disentuh” oleh yang lain karena jumlahnya sedikit atau medannya sulit.
Pengalaman ini juga membuat kami memahami kegelisahan orang-orang yang menyaksikan bencana dari kejauhan. Ketika bencana melanda Sumatera, saya sendiri sedang berada di Papua dan ingin segera terbang ke sana. Ingin menjadi relawan, melakukan apa pun yang masih dibutuhkan. Namun, karena tidak memungkinkan, kegelisahan itu terus terasa.
Kini saya mengerti mengapa orang-orang ingin terlibat, sekecil apa pun bentuk keterlibatannya. Ada yang mengumpulkan buku, mentransfer sejumlah uang, membantu pendataan, atau menawarkan apa pun yang masih bisa mereka sumbangkan. Seolah-olah keterlibatan itu sendiri menjadi obat.
Betul adanya. Ketika kita membantu, sesungguhnya yang kita bantu bukan hanya orang lain. Kita juga dibantu untuk keluar dari rasa tidak berdaya saat melihat saudara kita menderita. Membantu membuat kita tetap merasa bermakna bagi sesama. Bahkan ketika kita hanya menjadi perpanjangan tangan, menyerahkan titipan bantuan dari banyak pihak kepada mereka yang membutuhkan, bantuan itu tetap memiliki arti.
Namun, dari mereka yang mengalami bencana, saya juga belajar bahwa ruang untuk memberi dan merasa bermakna harus tetap terbuka.

Di tengah keterbatasan, kami beberapa kali justru menerima tawaran makanan dan minuman dari warga. Ada yang berkata, “Kawan-kawan sampai malam memperjuangkan kami, di mana kemanusiaan kami kalau membiarkan kalian pulang dalam keadaan lapar?” Kata-kata sederhana itu mengingatkan bahwa mereka bukan hanya penerima bantuan. Mereka tetap memiliki sesuatu untuk diberikan. Mereka masih mampu peduli kepada orang lain.
Mereka juga masih mampu bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, dan karena di tengah bencana, keselamatan tetap mereka rasakan. Pengalaman gempa dan tsunami tahun 1992 yang lebih dahsyat menjadi bagian dari ingatan yang mengajarkan mereka untuk tidak menyepelekan alam, membangun kembali dengan lebih baik, serta menyesuaikan diri dengan ancaman bencana yang mungkin terjadi lagi.
Maka, perjalanan ini bukan hanya tentang bantuan yang kami bawa. Ini tentang perjumpaan. Tentang datang ke tempat yang mungkin tidak banyak dilihat orang, membuka mata bagi mereka yang tinggal jauh, bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan, dan menerima bahwa mereka yang kami datangi pun memiliki sesuatu untuk diberikan kepada kami.
Kehadiran, keakraban, dan kepedulian ternyata dapat membahagiakan, melegakan, bahkan menyembuhkan. Dan mungkin, pada akhirnya, inilah yang kami pelajari dari perjalanan ini: membantu itu menyembuhkan. Bukan karena kita selalu mampu menyelesaikan penderitaan orang lain, tetapi karena dalam keterbatasan kita, kita memilih untuk hadir—melihat, mendengarkan, dan berjalan bersama mereka.

Hingga 21 September 2026, jumlah donasi yang diterima JRS mencapai Rp 1,043,479,343.
Bantuan telah didistribusikan kepada 520 keluarga dengan 1.739 jiwa, 19 sekolah, dan total 1.243 siswa di 4 kecamatan pada 2 kabupaten. Bantuan untuk warga meliputi beras, minyak, abon, sikat dan pasta gigi, sabun cuci, biskuit, minyak urut, terpal, selimut, tilam padang, kursi roda, dan kelambu bayi, disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, untuk komunitas sekolah, JRS menyalurkan alat tulis dan perlengkapan belajar (buku tulis, buku gambar, pensil, pena, penghapus, krayon/pensil warna), serta biskuit dan susu untuk siswa. Setiap kelas juga menerima perlengkapan pendukung seperti spidol, kertas manila, penghapus papan tulis, dan plester luka. Terpal juga diberikan untuk kebutuhan sekolah.
JRS Indonesia mengucapkan terima kasih atas setiap doa, perhatian, dan dukungan dari berbagai institusi dan individu yang terus menguatkan upaya kami untuk hadir, mendampingi, dan berjalan bersama mereka yang terdampak.

