Pilgrims on Christ’s Mission

Dies Natalis ke-57 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Jakarta — Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STF Driyarkara) menggelar Dies Natalis ke-57 dengan tema “Magnis untuk Indonesia,” sebuah rangkaian kegiatan akademik, kebudayaan, dan refleksi publik yang sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-90 Pater Franz Magnis-Suseno, S.J.

Seluruh rangkaian kegiatan yang sudah dimulai sejak bulan Februari, akan berpuncak pada 26 Mei 2026 melalui Perayaan Ekaristi di Katedral Jakarta dan dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para alumni, akademisi, tokoh lintas agama, mahasiswa, serta sahabat STF Driyarkara.

Kompleks Gereja Katedral dipilih sebagai tempat Malam Penutup Dies Natalis karena secara simbolis selaras dengan tiga sumbangan pemikiran Pater Magnis yang diangkat sebagai elaborasi tematik Dies Natalis.

Pertama, kontribusi Pater Magnis dalam bidang etika dan sosial politik di Indonesia. Pemikiran beliau sebagai filsuf yang banyak merefleksikan etika dan keberadaannya sebagai rohaniwan Katolik Jesuit memberikan nuansa khas pada keterlibatannya di bidang sosial-politik di Indonesia. Di satu sisi, Dies Natalis meneropong realitas dan tantangan di bidang sosial politik di Indonesia hari ini, dan di sisi lain, menggali pemikiran Pater Magnis di bidang tersebut melalui filsafat politik dan etika yang dikembangkannya.

Grha Pemuda, yang semula bernama Gedung Katholieke Jongelingenbond (Gedung Pemuda Katolik), di kompleks Katedral menjadi simbol pemikiran Pater Magnis dalam bidang etika dan filsafat politik, serta simbol keterlibatan beliau dalam dinamika sosial-politik di Indonesia.

Gedung tersebut turut berperan dalam proses Sumpah Pemuda karena menjadi tempat sidang pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928. Grha Pemuda juga menjadi simbol keterlibatan Pater Magnis dalam pembentukan intelektual filsafat di STF Driyarkara bagi banyak mahasiswa. Beliau juga turut berperan dalam pendirian STF Driyarkara. Bahkan sampai hari ini, beliau masih terlibat aktif dalam dinamika kampus.

Logo resmi Dies Natalis ke-57 dengan tema “Magnis untuk Indonesia.” (Foto: Instagram @stf.driyarkara)

 

Kedua, kontribusi Pater Magnis dalam bidang teologi. Sebagai rohaniwan Jesuit, beliau juga aktif menulis refleksi tentang teologi dan kehidupan menggereja. Selain itu, selama bertahun-tahun beliau menjadi pengampu mata kuliah Filsafat Ketuhanan di STF Driyarkara. Karena itu, Dies Natalis ini menggali kontribusi khas Pater Magnis dalam bidang teologi dan eklesiologi Gereja Indonesia pasca-Vatikan II.

Gereja Katedral menjadi simbol yang tepat bagi kontribusi Pater Magnis dalam bidang teologi dan eklesiologi. Misa syukur Dies Natalis akan dirayakan di Gereja Katedral Jakarta yang telah berusia 125 tahun, dihitung sejak pemberkatannya pada 21 April 1901. Gereja Katedral menjadi saksi sejarah panjang kehadiran Katolisisme di Indonesia.

Misa syukur akan dipimpin oleh Kardinal Ignatius Suharyo, selaku Ketua Pembina Yayasan STF Driyarkara, didampingi oleh pimpinan Ordo OFM, Pastor Agustinus Laurentius Nggame, OFM, dan pimpinan Ordo Serikat Jesus, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Ketiga lembaga keagamaan Katolik inilah, yakni Serikat Jesus (Jesuit), OFM (Fransiskan), dan Keuskupan Agung Jakarta, yang mendirikan STF Driyarkara 57 tahun yang lalu.

Ketiga, kontribusi Pater Magnis dalam dialog antarumat beragama. Masyarakat Indonesia ditandai oleh berbagai keragaman, termasuk keragaman agama dan kepercayaan. Karena itu, Dies Natalis merefleksikan nilai penting serta tantangan dialog antarumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dies Natalis menggali pemikiran filosofis Pater Magnis dan keterlibatan aktifnya dalam berbagai forum lintas agama sebagai sumbangan bagi kemajuan dialog antarumat beragama.

Terowongan Silaturahim di kompleks Katedral menjadi simbol penting yang menandai dialog antarumat beragama. Terowongan bawah tanah tersebut menghubungkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal. Pada kunjungan apostoliknya ke Indonesia pada 2025, Paus Fransiskus telah mengunjungi terowongan ini dan menandatangani plakat pesan Terowongan Silaturahim. Paus Fransiskus juga bertemu dan berdialog dengan Imam Besar Masjid Istiqlal. Momen historis tersebut semakin memperkuat makna simbolis Terowongan Silaturahim dalam perayaan Dies Natalis STF Driyarkara.

Perayaan ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kontribusi Pater Magnis bagi Indonesia, terutama dalam bidang filsafat, etika politik, demokrasi, hubungan antaragama, pendidikan, dan kemanusiaan. Selama lebih dari setengah abad, Pater Magnis dikenal sebagai salah satu intelektual publik yang sangat konsisten menyuarakan nilai-nilai etis, dialog, dan keberpihakan pada martabat manusia, sekaligus turut mendirikan STF Driyarkara.

Get in Touch With Us

More News