Catatan dari Tahbisan Diakon Wibi di Basilika Santa Maria Maggiore

Selasa, 7 April 2026, Sch. Wibi (Gregorius Agung Satriyo Wibisono, S.J.) bersama 13 skolastik Jesuit dari 12 provinsi menerima tahbisan diakon dari tangan Kardinal Peter Turkson dalam perayaan Ekaristi di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma. Liturgi berlangsung khidmat dan hangat. Di tengah perayaan, lagu “Ambillah dan Terimalah” Onggo Lukito yang disenandungkan terasa seperti doa yang merangkum gerak batin para diakon, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang memanggil dan mengutus.
Perayaan ini dihadiri oleh para sahabat dan mereka yang mendukung perjalanan panggilan para skolastik, termasuk Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Bapak Trias Kuncahyono. Kehadiran Bapak Kuncahyono ini memberi warna tersendiri: dukungan yang akrab sebagai sesama anak bangsa, sekaligus tanda bahwa sukacita gerejawi ini turut menyapa komunitas Indonesia di Roma.

Di akhir Misa, Diakon Wibi menyampaikan ucapan terima kasih dan refleksi singkat mewakili rekan-rekan seangkatannya. Kata-katanya sederhana dan kuat: tahbisan diakon ini merupakan awal dari pelayanan yang lebih nyata. Ada rasa syukur kepada Tuhan, Gereja, para pembimbing, komunitas, dan semua yang telah menyertai mereka dalam doa. Ungkapan terima kasih ini semakin menegaskan bahwa panggilan senantiasa bertumbuh bersama pribadi-pribadi yang setia menemani.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah kehadiran Kardinal Peter Turkson. Kehadirannya tidak hanya sebatas kata, melainkan juga melalui gestur nyata. Kemurahan hati dan kesederhanaan Mgr. Turkson adalah dua hal yang bisa segera dirasakan. Dalam homilinya, ia menekankan pesan yang jelas: pelayanan diakon harus kristosentris. Para diakon diingatkan agar menjadikan Kristus sebagai pusat hidup dan pelayanan. Kristus hendaknya menjadi poros yang mengarahkan cara berpikir, cara berelasi dan cara melayani.

Pesan tersebut terasa semakin kuat karena diterjemahkan dalam tindakan beliau. Setelah penumpangan tangan, Kardinal dengan lembut selalu mengulurkan kedua tangan untuk membantu para diakon bangkit. Tindakan sederhana ini menjadi lambang yang hening dan tegas: seorang pelayan dipanggil untuk menegakkan yang lain, bukan untuk meninggikan diri.
Suasana Misa juga menampakkan karakter kota Roma yang khas, yakni internasional dan kaya akan ekspresi. Umat datang dari pelbagai bangsa, sehingga nyata aneka ragam sukacita dalam satu doa yang sama. Ungkapan syukur terasa begitu kuat. Salah satu yang tak bisa luput dari ingatan adalah ekspresi sukacita khas Afrika yang mewujud dalam teriakan unik spontan, setelah tepuk tangan, ketika para diakon mengenakan dalmatik. Keberagaman ini mengingatkan saya bahwa tahbisan senantiasa bersifat gerejawi: seorang diakon diutus ke dalam Gereja Katolik yang beragam wajahnya dalam hati yang satu.

Sebagai teman komunitas, saya merasakan dimensi yang lebih personal. Pribadi-pribadi yang saya jumpai dalam rutinitas harian (studi, doa, pelayanan, juga dalam kerapuhan manusiawi) sore itu berdiri di hadapan Gereja untuk menerima rahmat tahbisan. Pengalaman ini meneguhkan saya bahwa selain usaha pribadi, tahbisan pada akhirnya adalah semata rahmat Allah: anugerah yang bekerja melalui kesetiaan dalam hal-hal kecil yang sering tak terlihat. Ada nuansa yang semakin menyentuh ketika keluarga para diakon ikut hadir (karena tidak semua keluarga dapat hadir).
Pada kesempatan ini, keluarga diakon Wibi hadir. Sebagai teman sekomunitas, saya sungguh merasakan betapa berarti dukungan itu bagi Wibi: kasih keluarga menjadi penopang nyata, sekaligus pengingat bahwa panggilan tumbuh dalam relasi, doa, dan kesetiaan mereka yang mengasihi dengan tulus dan dari dekat. Oleh karena tahbisan diakon tahun ini dilangsungkan di Basilika Santa Maria Maggiore, kesempatan bagi para Jesuit yang hadir untuk mengucapkan selamat menjadi terbatas.

Perayaan 7 April ini merupakan puncak dari rangkaian persiapan yang panjang. Prosesnya telah dimulai sejak November 2025 melalui kursus ad audiendas confesiones beserta ujiannya pada bulan Desember 2025. Para skolastik juga menjalani latihan mempersembahkan Misa bersama P. Anthony R. Lusvardi S.J., serta mengikuti retret 8 hari sebagai persiapan rohani, dipimpin oleh P. Paul Rolphy Pinto S.J., didampingi oleh Prefek Spiritual Collegio Internazionale del Gesù: P. Leo Agung Sardi S.J. dan P. Mario Alberto S.J. di Oasi Divin Maestro, Camaldoli.
Menjelang Misa tahbisan, kami (komunitas Collegio del Gesù beserta keluarga dan kenalan yang hadir) mengantar keempat belas calon diakon melalui vigili doa di hadapan Sakramen Mahakudus. Dalam keheningan itu, kami meletakkan kegembiraan sekaligus kegentaran di hadapan Tuhan: memohon kemurnian motivasi, kesetiaan, dan hati yang siap melayani.
Perayaan syukur tahbisan ini kemudian dilanjutkan dengan makan malam di komunitas Collegio Internazionale del Gesù. Hadir keluarga para diakon, sahabat, dan kenalan. Kebersamaan semakin kaya karena turut hadir para Jesuit Provindo yang berkarya di Roma, para suster (seorang suster adalah sahabat kuliah ibunda Diakon Wibi, dan dua suster lainnya sedang menempuh studi di Universitas Gregoriana), serta Romo Diosesan Indonesia yang sedang belajar di Roma. Nuansa internasional juga terasa melalui makanan dan minuman khas dari berbagai negara yang menghiasi meja. Secara khusus, P. Sardi bersama tim menyiapkan hidangan yang dekat di hati, yakni nasi goreng ayam, sambal goreng udang, babi kecap dan sop kacang merah babi. Selain hidangan tersebut, kami juga menyiapkan 2 kilogram nasi goreng untuk 4 teman diakon yang merayakan makan malam di komunitas bersama para tamu mereka. Yang paling mengundang sorak gembira bagi kami adalah lemper yang dibawa khusus dari Yogyakarta, makanan sederhana yang sangat homy bagi kami yang beberapa tahun tidak dapat menikmati sajian Indonesia.

Di pengujung hari, pesan Kardinal Turkson kembali menggema: Kristus sebagai pusat. Seolah kami diingatkan bahwa pusat itu tidak hanya tampak di altar, melainkan juga menjalar ke meja makan komunitas. Dari sinilah pelayanan dibentuk, melalui rasa syukur, perhatian kecil, dan kesediaan untuk saling mendukung satu sama lain. Terima kasih atas semua dukungan dan doa yang diberikan sehingga seluruh proses tahbisan diakon berjalan lancar dan khidmat. Dari Roma, kami mengundang seluruh rekan-rekan Jesuit Provindo untuk menyertai diakon Wibi dan para diakon baru dalam doa.


