Pilgrims on Christ’s Mission

Kolaborasi yang Menghidupkan Harapan di Kembangan

Senin, 13 April 2026, siang itu terasa sangat panas di kawasan Daan Mogot, Jakarta. Namun bagi kami, hari itu menyimpan makna yang berbeda. Pertemuan yang dihadiri oleh Pater Ch. Kristiono Puspo, S.J. dari ATMI Recycle Studio (ARS), Ibu Monica Aryasetiawan selaku Direktur Canon dari PT Datascrip beserta tim, dan Pater Adrianus Suyadi, S.J. beserta tim dari Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD KAJ), menjadi langkah awal dari sebuah gerakan kolaboratif.Pertemuan terjadi tidak sekadar untuk berkumpul dalam sebuah agenda serah terima atau seremonial, tetapi untuk menghadirkan sesuatu yang berdampak bagi masyarakat. Dalam suasana santap siang, percakapan mengalir hangat, membahas hal-hal teknis sekaligus saling bertukar gagasan mengenai hal-hal yang bisa dikerjakan bersama. Kolaborasi ini berangkat dari kepedulian terhadap persoalan sampah plastik sekaligus kebutuhan fasilitas belajar bagi keluarga prasejahtera.

Pater Ch. Kristiono Puspo, S.J., perwakilan ATMI Recycle Studio (ARS) menjelaskan proses pengolahan meja lipat yang berasal dari sampah plastik. (Foto: PT Datascrip)

 

Setelah sesi briefing teknis, rombongan kami bergerak menuju kampung binaan LDD KAJ di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Setibanya di lokasi, rombongan disambut ramah oleh para ibu pendamping yang telah menanti. Interaksi yang terjalin sejak awal memperlihatkan kedekatannya dengan tim LDD, seolah pertemuan ini merupakan kelanjutan dari relasi yang telah terbangun sebelumnya. Perhatian kemudian tertuju pada puluhan meja lipat yang dibawa dari ATMI Cikarang. Meja lipat tersebut merupakan hasil olahan sampah plastik daur ulang oleh ARS. Meja-meja tersebut diangkut dan dipindahkan secara gotong royong oleh seluruh rombongan. Setiap orang mengangkat tiga hingga lima meja menuju titik kegiatan yang lebih dikenal warga sebagai “Rumah Nenek.”

Di “Rumah Nenek,” anak-anak balita dan beberapa anak TK-SD sudah duduk rapi menanti kedatangan rombongan. Kami melihat wajah-wajah mereka memancarkan rasa ingin tahu sekaligus kegembiraan. Kehadiran meja-meja lipat itu langsung menarik perhatian, bukan hanya sebagai benda baru, tetapi sebagai sesuatu yang akan menjadi bagian dari keseharian mereka. Acara serah terima dipandu oleh Kak Dita dari LDD KAJ dengan suasana hangat. Dalam sambutannya, Ibu Monica Aryasetiawan menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya Canon PT Datascrip dalam mengelola sampah plastik agar bernilai guna. Ia menekankan bahwa meja-meja tersebut diharapkan dapat menunjang proses belajar anak-anak di kampung binaan. Harapan itu sederhana, namun bermakna agar anak-anak memiliki sarana yang lebih layak untuk bertumbuh dan belajar.

Pater Adrianus Suyadi, S.J. mewakili Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD KAJ), Ibu Monica Aryasetiawan selaku Direktur Canon dari PT Datascrip, dan Pater Ch. Kristiono Puspo, S.J. dari ATMI Recycle Studio (ARS) menunjukkan meja-meja lipat olahan sampah plastik yang akan diserahkan kepada anak anak di desa binaan LDD KAJ di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. (Foto: PT Datascrip)

Pater Ch. Kristiono Puspo, S.J. dalam sambutannya mengajak anak-anak untuk mulai melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Ia secara sederhana mengundang mereka untuk mengumpulkan sampah plastik, khususnya tutup botol, sebagai bagian dari proses yang bisa menghasilkan sesuatu yang berguna. Penjelasan ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga membangun kesadaran baru tentang nilai dari hal-hal yang sering dianggap tidak berarti. Sementara itu, Pater Adrianus Suyadi, S.J. menambahkan harapan agar fasilitas yang diberikan dapat semakin mendorong semangat belajar anak-anak. Ia juga menegaskan bahwa kehadiran berbagai pihak dalam kegiatan ini menunjukkan adanya kepedulian yang nyata terhadap perkembangan mereka. Pesan-pesan yang disampaikan cukup menegaskan bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak yang lebih luas.

Setelah prosesi serah terima selesai, sembari menuju parkiran, para perwakilan dari ARS, Canon PT Datascrip, dan LDD KAJ melanjutkan percakapan. Ide-ide baru mulai bermunculan sekaligus membuka peluang untuk kolaborasi berikutnya yang dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Diskusi terkesan santai namun penuh harapan karena berangkat dari pengalaman konkret yang baru saja dilihat dan dialami bersama. Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda satu hari, melainkan bagian dari gerakan kolaboratif yang berkelanjutan. Ada kesadaran bersama bahwa masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk berbuat lebih baik. Langkah kecil yang terjadi di Kembangan dapat menjadi pemantik untuk langkah-langkah berikutnya.

Penyerahan simbolis meja-meja lipat oleh Ibu Monica Aryasetiawan kepada anak anak di desa binaan LDD KAJ di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. (Foto: PT Datascrip)

Di balik meja-meja lipat yang telah diterima, tersimpan proses panjang yang melibatkan banyak tangan. Bapak Leon, staf ATMI Recycle Studio, mengungkapkan bahwa para mahasiswa ATMI turut terlibat dalam proses pembuatan meja tersebut. Proses ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran bagi mahasiswa tentang kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ada waktu, tenaga, dan perhatian yang dicurahkan dalam setiap meja yang dihasilkan. Oleh karena itu, ketika meja-meja tersebut akhirnya digunakan oleh anak-anak di kampung binaan, muncul perasaan haru sekaligus bangga. Apa yang awalnya berupa sampah kini berubah menjadi sarana yang bermanfaat. Transformasi ini menjadi simbol bahwa hal kecil pun dapat memberi dampak besar ketika dikerjakan bersama. Hal tersebut kembali menegaskan tujuan berdirinya ARS.

Peristiwa di Kembangan ini menghadirkan refleksi tentang makna kolaborasi dan kepedulian. Meja-meja lipat yang dihasilkan bukan hanya produk daur ulang, tetapi juga simbol perjumpaan berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama. Dari sampah plastik yang sering diabaikan, lahir sesuatu yang membawa manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar, tetapi dapat berangkat dari langkah sederhana yang dilakukan bersama. Pengalaman ini juga menjadi pengingat bahwa harapan dapat tumbuh dari tempat yang tak terduga. Dari Kembangan, terdapat sebuah pesan sederhana yang menegaskan bahwa kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata selalu memiliki daya untuk menghidupkan. Ad Maiorem Dei Gloriam.

Get in Touch With Us

More News