Pilgrims on Christ’s Mission

Keuangan yang Melayani Perutusan

JCAP Treasurers Meeting 2026 di Bali

Finance serves mission. Keuangan merupakan sarana atau pelayan demi keberlangsungan misi. Demikian tegas Dr. Agustinus Prasetyantoko, salah satu narasumber dalam pertemuan para ekonom Serikat Jesus dari asistensi Asia Pasifik. Penegasan ahli ekonomi senior Universitas Atmajaya Jakarta itu menjadi dasar bagi pentingnya para peserta memahami geopolitik hingga perencanaan berbasis strategi keuangan.

Diselenggarakan pada 7-11 September 2026 di Griya Pastoral Denpasar, Bali, pertemuan bertajuk Jesuit Conference of Asia Pacific (JCAP) Treasurers Meeting 2026 ini memang dikemas agar tidak hanya membahas hal-hal teknis terkait keuangan dan aset Provinsi/Regio peserta. Para peserta, yang terdiri dari para ekonom dan staf ekonomat, juga diajak untuk mempertimbangkan aspek dan situasi yang dapat memengaruhi kinerja keuangan yang mereka kelola. Oleh karena itu, pada hari pertama, selain memperdalam topik mikroekonomi bersama Dr. Prasetyantoko, para peserta juga mendiskusikan situasi geopolitik terkini di Asia Pasifik bersama Pater Klaus Heinrich Raditio, S.J. Pater Klaus membagikan analisisnya mengenai geopolitik di Asia Pasifik, khususnya terkait relasi antarnegara adikuasa: Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

Peran signifikan keuangan untuk mendukung misi kembali ditekankan dalam sambutan Provincial, Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., di hadapan 15 peserta dari Indonesia, Thailand, Myanmar, Vietnam, Timor Leste, Australia, Kamboja, dan Jepang. Pater Bagus memberikan ilustrasi dengan membagikan pengalaman dan gagasan yang muncul saat mengunjungi Nabire dan Waghete. Ia menggarisbawahi pentingnya pendanaan bagi misi rekonsiliasi yang sedang dilakukan Provindo di Papua melalui karya pendidikan dan pastoral.

Intisari pesan Provincial dan penegasan Dr. Prasetyantoko tersebut kembali bergema dalam presentasi dan diskusi para peserta mengenai Arca Praevisionis. Dilaksanakan setelah sambutan Provincial, presentasi dan diskusi tersebut menunjukkan keseriusan Provinsi dan Regio di Asia Pasifik dalam mengelola keuangan yang dikhususkan untuk perawatan para Jesuit senior. Berbagai kemungkinan investasi yang menguntungkan, misalnya, diusahakan untuk mengembangkan Arca Praevisionis. Perhatian juga diberikan melalui pembangunan wisma baru atau renovasi rumah bagi Jesuit senior, seperti yang sedang dilakukan di Indonesia, Vietnam, dan Jepang.

Kesungguhan pengelolaan itu seringkali berhadapan dengan keterbatasan di tempat masing-masing. Vietnam, Myanmar, dan Timor Leste, misalnya, belum memiliki sistem jaminan sosial, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta sehingga bergantung pada kemurahan hati donatur. Mereka berbeda dari Indonesia, Jepang, dan Australia, yang dapat menggunakan dana pensiun dan jaminan sosial sebagai alternatif pendanaan bagi para Jesuit senior. Tantangan lainnya adalah kinerja investasi yang tidak selalu memuaskan, seperti yang dialami Myanmar.

Memperhatikan para Jesuit senior telah disadari sebagai perutusan yang sama pentingnya dengan karya lainnya. Perutusan ini pun membutuhkan kolaborasi untuk mengatasi keterbatasan dan tantangan yang menyertainya. Oleh karena itu, JCAP, seperti disampaikan Pater Vidal “Vids” Gornez, S.J., turut mewadahi komitmen setiap Provinsi dan Regio untuk berkontribusi pada Dana Kesehatan di tingkat asistensi (Common Health Care Funds) selama tiga tahun ke depan. Dana solidaritas yang terpisah dari kontribusi operasional JCAP ini nantinya dapat digunakan sebagai dana darurat (emergency fund) atau untuk memperkuat Arca Praevisionis Provinsi atau Regio. Hasil pembicaraan mengenai Common Health Care Funds, termasuk usulan dari setiap diskusi kelompok, akan dibawa ke ranah pertemuan para Pembesar (Major Superiors Meeting) di lingkup JCAP.

Selain mengangkat topik pemeliharaan kesehatan Jesuit senior, JCAP Treasurers Meeting 2026 juga membahas Solidarity in Formation (SIF) Common Funds. Pater Vids memberikan update seputar pengembangan dan distribusi dana solidaritas bagi formasi para Jesuit muda di lingkup JCAP. Pater Vids juga mengapresiasi komitmen semua provinsi dan regio di wilayah JCAP untuk berkolaborasi demi formasi para Jesuit muda. Melalui pertimbangan bersama, para peserta pertemuan pun melihat kemungkinan SIF Common Funds diperpanjang hingga 2029.

Pertemuan ini juga diperkaya dengan pengenalan budaya lokal Bali serta kegiatan pengakraban antarpeserta. Ada kesempatan bagi para peserta untuk menikmati city tour, pertunjukan Tari Kecak di Pura Uluwatu, serta makan bersama. Di tengah keseriusan pembicaraan mengenai keuangan provinsi dan regio, kebersamaan dan penyegaran semacam ini menumbuhkan rasa syukur serta kebiasaan saling mendukung. Syukur dan siap sedia mendukung tentu saja merupakan disposisi penting bagi seorang ekonom, yang karyanya memang menjadi support system bagi perutusan lainnya.

“Para Jesuit haruslah tetap relevan.” Demikian kata Pater Klaus dalam sesinya. Para Jesuit sendiri hanya dapat relevan sejauh mereka terhubung dengan komunitas dan perutusan. Uang dan aset lainnya, selama dikelola dengan tepat, dapat menjadi pendukung relevansi para Jesuit bersama komunitas dan perutusannya, seperti telah ditegaskan melalui pertemuan dan kolaborasi para ekonom serta staf ekonomat di lingkup JCAP.

Get in Touch With Us

More News