Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan di Tengah Komunitas Muslim Perdesaan

Sekolah Dasar Kanisius Kaliwinong

Semarang, 1 Agustus 2026 — Pendidikan telah lama menjadi salah satu cara Ignatius untuk mewartakan Injil dan melayani umat manusia. Namun, apa yang dapat kita lakukan ketika mayoritas siswa di sekolah Katolik tersebut beragama Islam? Dapatkah pewartaan Injil tetap dilakukan?

Inilah pertanyaan yang terus dijawab oleh SD Kanisius Kaliwinong, sebuah sekolah Katolik di jantung perdesaan Jawa Tengah, yang melayani para siswa melalui pendampingan. Pertanyaan ini menjadi semakin relevan selama kunjungan Pater Jenderal Arturo Sosa ke lembaga unik ini.

Sambutan oleh para siswa SD Kanisius Kaliwinong atas kunjungan Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. Foto: Mutiara Bena

 

SD Kanisius Kaliwinong bukanlah lembaga baru. Didirikan tahun 1930, sekolah ini hampir berusia seabad dan merupakan sekolah pertama di daerah Kaliwinong, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kini berada di bawah naungan Yayasan Kanisius (milik Keuskupan Agung Semarang) dan dipercayakan kepada Serikat Jesus Provinsi Indonesia, sekolah ini memiliki posisi yang unik dalam masyarakat.

Meskipun merupakan sekolah Katolik, 72% siswanya beragama Islam. Sekolah ini melayani masyarakat perdesaan yang mayoritas orang tuanya bekerja sebagai petani sayur dan bunga atau buruh tani, sehingga mewakili latar belakang sosial ekonomi kelas menengah ke bawah. Di lingkungan dengan tiga sekolah dasar negeri (gratis) dan empat madrasah Islam, keberadaan sekolah Katolik swasta membutuhkan alasan yang jelas dan meyakinkan bagi keluarga untuk memilihnya.

Seragam yang digunakan salah satu siswa SD Kanisius Kaliwinong. Foto: Tim Komunikator Jesuit Indonesia | Bonifasia Amanda

 

Sekolah ini telah menghadapi banyak tantangan sepanjang sejarahnya. Salah satu yang paling signifikan adalah biaya sekolah. Sebagai sekolah swasta, SD Kanisius Kaliwinong bergantung pada pembayaran biaya sekolah untuk mempertahankan operasionalnya. Selama sekitar 20 tahun, yayasan berbasis di Jakarta, Mitra Inigo, memberikan dukungan keuangan penuh bagi 170 siswa dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, serta menyediakan 2 kendaraan untuk transportasi gratis. Kemitraan ini berakhir pada tahun 2024, tetapi semangat kebaikan terus berlanjut. Saat ini, SPM Realino Yogyakarta (salah satu pelayanan sosial Provindo) mendukung enam siswa, dan sebuah bangunan semi-tertutup telah dibangun dengan bantuan Mitra Inigo. Kolaborasi ini merupakan bukti dari jaringan solidaritas yang mendukung misi sekolah.

Kepala sekolah menjelaskan bahwa orang tua memilih SD Kanisius Kaliwinong karena berbagai alasan. Sekolah ini secara aktif mempraktikkan cura personalis, yaitu penemanan yang menyeluruh bagi setiap siswa. Sekolah ini menawarkan lingkungan yang aman dan ramah anak, dengan penekanan yang kuat pada perlindungan. Para guru sangat terintegrasi dalam komunitas, menghadiri acara-acara lokal seperti pemakaman dan pernikahan, yang membangun rasa percaya yang mendalam. “Bahkan doa pun dibagi antara Katolik dan Islam,” kata kepala sekolah. Pada pukul 12 siang, siswa Katolik berdoa Angelus dan membaca Kitab Suci, sementara siswa Muslim diberi kebebasan dan ruang untuk melaksanakan salat. Hal ini dilakukan untuk menghindari persepsi “kristenisasi” terhadap siswa, menghormati iman mereka, sekaligus memberikan pendidikan yang holistik.

Siswa dan Guru SD Kanisius Kaliwinong. Foto: Tim Komunikator Jesuit Indonesia | Bonifasia Amanda

 

Komitmen terhadap pendidikan yang menyeluruh ini juga terlihat dari prestasinya, yaitu menduduki peringkat ke-3 dari 25 sekolah dasar di Kecamatan Bandungan dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang merupakan indikator utama yang digunakan pemerintah untuk mengukur keberhasilan pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler seperti drumband, karawitan, wushu, dan tari tradisional juga menjadi sumber kebanggaan dan prestasi, menunjukkan keterkaitan sekolah dengan akar budayanya.

Sekolah ini juga berkomitmen untuk menerapkan Preferensi Apostolik Universal (UAP) secara kreatif. Selama orientasi siswa baru, kegiatan yang dilakukan meliputi penanaman pohon dan pelepasan benih ikan ke sungai untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan.

Persembahan tarian tradisional untuk menyambut Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. Foto: Mutiara Bena

 

Selama kunjungan Pater Sosa, sekolah mempersiapkan diri dengan membersihkan dan merapikan lingkungan serta membuat video untuk menyajikan kisah sekolah secara visual. Para siswa juga menyiapkan pertunjukan budaya yang sederhana namun menarik yang melibatkan masyarakat setempat. Bagi komunitas sekolah, Pater Sosa telah memberikan kontribusi yang signifikan. Kehadiran Pater Jenderal merupakan momen penegasan yang luar biasa, pengakuan atas karya mereka dalam menyediakan pendidikan yang unggul dan penuh kasih kepada komunitas yang sebagian besar bukan Katolik, dan mewujudkan semangat Jesuit untuk “menemukan Tuhan dalam segala hal” dan melayani sesama dengan kasih.

Para Siswa antusias untuk bersalaman dengan Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. Foto: Mutiara Bena

 

Seperti yang ditunjukkan oleh kisah sekolah tersebut, karya pewartaan Injil tidak selalu tentang kata-kata, tetapi juga tentang kehadiran, menciptakan ruang di mana iman dihormati, dan setiap anak, terlepas dari latar belakangnya, diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Inilah karya keselamatan sejati yang diimpikan Ignatius, keselamatan yang menyertai seluruh pribadi, di mana pun mereka berada dalam perjalanan hidup mereka.

Get in Touch With Us

More News