Pilgrims on Christ’s Mission

Jaringan Tersembunyi di Balik Tim Media Jesuit

Sharing atas pertemuan para komunikator dan kolaborator Jesuit dalam kegiatan Jescom Asia Pasifik di Manila

Paradoks yang umumnya muncul saat bekerja di bidang media adalah bahwa kinerja terbaik sering kali berarti menjadi sosok yang tak terlihat. Orang tidak memikirkan juru kamera kecuali jika fotonya bergoyang dan tidak fokus; mereka jarang memikirkan editor kecuali jika ada banyak kesalahan; mereka tidak memikirkan pengelola media sosial, kecuali jika unggahan tersebut benar-benar meleset dari sasaran. Ini adalah bidang yang sangat melibatkan publik, namun tanda profesionalisme yang tinggi justru tampak dalam kemampuan untuk tidak menonjolkan diri dan bekerja di balik layar.

 

Saya merenungkan hal ini saat mengikuti pertemuan Jescom-Asia Pasifik di Manila pada awal Agustus lalu. Meskipun beberapa peserta memiliki peran yang “tampil di depan” dalam media, kami semua memegang peran kunci di balik layar. Walaupun hasil karya kami diharapkan dapat terlihat jelas oleh publik, proses di baliknya—mulai dari perencanaan proyek, kerja sama tim untuk mewujudkannya, hingga peluncurannya ke khalayak—tidak selalu tampak nyata. Padahal, keberhasilan komunikasi sangat bergantung pada keberhasilan pelaksanaan setiap tahapan tersebut dengan tepat.

 

Para peserta rapat Jescom Asia Pasifik di Manila mendengarkan presentasi mengenai kecerdasan buatan dari salah satu pembicara tamu. Foto: JCAP

 

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat berbagai karya inspiratif yang sedang dikerjakan di seluruh konferensi ini. Jescom Filipina saat ini sedang menggarap film layar lebar ketiga mereka, menyusul film-film sebelumnya yang meraih penghargaan—yakni film tentang Santo Ignatius dari Loyola dan tentang para imam Filipina yang gugur sebagai martir. Kantor komunikasi Jesuit Korea memproduksi video dan konten musik yang menarik untuk media sosial, termasuk merilis lagu baru menjelang Hari Orang Muda Sedunia tahun depan. Jesuit Vietnam secara rutin menyajikan konten video dan media sosial yang menjangkau khalayak luas. Berbagai karya hebat sedang dihasilkan di mana-mana, umumnya oleh tim komunikasi yang tergolong kecil.

 

Namun, hal yang mungkin paling menarik adalah mendalamnya perencanaan dan refleksi yang dilakukan untuk merancang kegiatan komunikasi di setiap Provinsi atau Regio di seluruh Asia Pasifik. Setiap konteks memiliki kebutuhan dan tantangan tersendiri. Sebagai contoh, di Regio Malaysia-Singapura, kantor komunikasi berupaya menjangkau komunitas di dua negara—yang satu sangat sekuler dan yang lainnya mayoritas Muslim—dengan karakteristik audiens yang sangat berbeda. Kegiatan mereka harus dirancang sedemikian rupa agar cukup spesifik untuk menjangkau kelompok audiens tertentu, namun juga cukup umum untuk merangkul masyarakat di seluruh regio itu.

 

Di tempat lain, audiens itu sendiri yang menentukan cakupan pekerjaannya. Kantor komunikasi Provinsi Indonesia bekerja di tengah komunitas Katolik yang kuat, namun merupakan kelompok minoritas di negara tersebut. Sementara itu, kantor komunikasi Filipina mengelola rumah produksi musik yang sukses, yang melayani populasi mayoritas Katolik di negara itu. Dalam kedua kasus tersebut, upaya yang dilakukan mencerminkan apa yang dapat dicapai sesuai dengan konteks masing-masing wilayah.

 

Paparan presentasi berjudul “Building the Future of Operational Intelligence” dalam Pertemuan JesCom Asia Pasifik di Manila. Foto: JCAP

 

Salah satu manfaat dari pertemuan ini adalah mempelajari apa yang berhasil diterapkan di tempat lain, serta mempertimbangkan bagaimana hal tersebut dapat diterapkan dalam konteks masing-masing provinsi atau regio. Sebagai contoh, saya tertarik mengetahui upaya kantor komunikasi Provinsi Vietnam dalam mendukung keluarga dan individu yang memiliki kebutuhan terkait kesehatan mental. Ini merupakan bidang yang sangat membutuhkan perhatian di Australia, dan komunikasi daring dapat memberikan dukungan dalam hal tersebut. Di sisi lain, terdapat minat besar terhadap kiprah Jesuit Communications Australia dalam mengembangkan Australian Catholics Education Hub untuk mendukung formasi kaum awam, serta kontribusi Eureka Street dalam menyajikan perspektif berbasis iman atas berbagai isu terkini. Di regio ini, terdapat pula berbagai tempat yang memprioritaskan karya serupa dan dapat saling belajar dari pengalaman satu sama lain.

 

Komunikasi merupakan aspek vital dalam karya Serikat Jesus, namun mungkin rahasia terbesarnya adalah bahwa keberhasilan itu bergantung pada pengembangan relasi. Kita membutuhkan jaringan kontributor ‘tak terlihat’ yang kuat untuk membantu mewujudkan proyek-proyek kita, sebagaimana kita juga membutuhkan jaringan pendukung ‘tak terlihat’ untuk membantu menyebarluaskan dan memperkuat jangkauan karya kita di dunia digital. Selain itu, menjalin hubungan dengan rekan seperjalanan yang memahami tantangan kita serta mampu menginspirasi kita dengan gagasan-gagasan baru juga sangatlah bermanfaat. Inilah salah satu keuntungan besar dari menjadi bagian dari keluarga besar Serikat Jesus di seluruh dunia.

 

Artikel ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari artikel The invisible networks powering Jesuit Media dalam https://jesuit.org.au/the-invisible-networks-powering-jesuit-media/

Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat dan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, pada tanggal 26 Agustus 2026.

Get in Touch With Us

More News