Pilgrims on Christ’s Mission

Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang diselenggarakan oleh Skolastikat Jesuit Unit Johar Baru dalam bertepatan dengan Minggu Komunikasi Sosial Sedunia

Restless World, kiranya frasa tersebut dapat mewakili dunia kaum muda masa kini. Gempuran informasi tak terbatas dari media sosial telah membentuk hidup manusia seakan tiada henti. Kendati tidak bekerja secara fisik, mental orang muda terus tergerus setiap jamnya untuk mengonsumsi konten yang tiada habisnya. Di tengah kebisingan tersebut, Skolastikat Jesuit Unit Johar Baru menawarkan sebuah oase harapan untuk keluar dari jerat dunia maya.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, oase harapan itu hadir dalam Ekaristi Kaum Muda (EKM). Bertepatan dengan perayaan Minggu Komunikasi Sosial Sedunia, isu media sosial diangkat sebagai topik utama dengan judul “Hope in a Restless World.” Kegiatan ini secara khusus menjadi realisasi Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus yang pertama, yaitu menunjukkan jalan menuju Allah melalui latihan rohani dan diskresi. Dengan topik tersebut, kegiatan ini menawarkan harapan bagi sekitar 120 peserta dari pelbagai komunitas seperti Pastoral Mahasiswa KAJ (PMKAJ) Unit Selatan, PMKAJ Unit Barat, PMKRI, Kelompok John Paul II, OMK Paroki Mangga Besar, OMK Paroki Theresia, OMK Katedral Jakarta, OMK Paroki Tangerang, OMK Paroki Kramat, OMK Paroki Matraman, Kelompok Sant’ Egidio, Kelompok Magis Indonesia, hingga para suster dan calon suster FMM.

Rangkaian acara diawali dengan perayaan Ekaristi bersama yang dipimpin oleh Pater Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur, S.J. Dalam homilinya, Pater Effendi menyoroti realitas zaman, seperti mudahnya orang mencari pelarian semu dari beratnya kenyataan hidup yang justru menambah kecemasan. Ia juga menjelaskan bagaimana media sosial senantiasa menampilkan sisi-sisi sempurna penuh filter dari setiap pribadi, sehingga orang kehilangan keberanian untuk tampil apa adanya. Kenyataan tersebut mencerminkan generasi muda yang mulai kehilangan harapan dan senantiasa lelah. Untuk itu, Pater Effendi mengajak kaum muda untuk kembali kepada Sabda Tuhan. Sabda Tuhan tidak menawarkan pelarian semu, melainkan memberikan kekuatan dan pengharapan yang nyata. Dalam kesempatan kali ini, pengharapan tersebut juga dilengkapi oleh keindahan paduan suara dari kelompok disabilitas Paroki Tangerang yang dapat melayani secara maksimal di tengah keterbatasan mereka.

Acara talkshow yang diisi oleh Cecilia Gandes, manajer media sosial Harian Kompas, dan Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras, yang dimoderatori oleh Sch. Feliks Erasmus Arga, S.J. (Foto: Penulis)

 

Tidak berhenti di situ, harapan juga dihadirkan dalam acara talkshow yang diisi oleh Cecilia Gandes, manajer media sosial Harian Kompas, dan Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras, yang dimoderatori oleh Sch. Feliks Erasmus Arga, S.J. Secara khusus, Mbak Gandes membagikan pengalamannya untuk tetap sehat dalam mengelola banyak akun media sosial. Ia banyak menegaskan pentingnya diskresi dalam bermedia sosial, seperti mempersiapkan diksi dalam suatu unggahan dan memperhatikan kebenaran informasi. Henry Manampiring pun melengkapi dengan membagikan tips-tips praktis stoikisme dalam hidup di era media sosial. Menggunakan prinsip stoikisme, ia membagikan metode melalui media sosial, misalnya dengan tidak bereaksi berlebihan terhadap informasi tertentu.

Untuk semakin mendalami setiap harapan yang ditawarkan, para peserta diajak untuk membagikan pengalaman dan harapan mereka dalam kelompok kecil. Secara khusus, para peserta difasilitasi oleh para frater Jesuit melalui metode percakapan tiga putaran. Antusiasme peserta terlihat dari keengganan mereka untuk beranjak dari kelompok karena asyik berbagi pengalaman. Menurut testimoni para peserta, sesi sharing menjadi kesempatan paling menarik karena mereka dapat memperoleh pelbagai sudut pandang baru dan pemahaman bahwa mereka tidak sendirian. Hal ini terungkap lewat kesaksian Suster Agnes, FMM yang memperoleh perspektif penggunaan media sosial di luar biara dan belajar bagaimana caranya mempunyai kuasa atas media sosial. Salah satu rekan dari PMKAJ Unit Selatan, Estevania, mengungkapkan bahwa ia belajar banyak untuk lebih mawas diri dalam mengunggah sesuatu di media sosial dan menanggapi tanggapan dari orang lain.

Sesi ramah tamah sambil menikmati sajian UMKM yang disediakan. (Foto: Penulis)

 

Acara pun dilanjutkan dengan ramah tamah yang disertai pelbagai sajian UMKM. Aneka makanan seperti siomay, batagor, bakso malang, kopi jago, hingga nasi ayam laris dinikmati para peserta. Menariknya, dalam kesempatan kali ini Pater Ignatius Windar Santoso, S.J. ikut meramaikan lapak makanan dengan menyajikan mie chili oil yang dibantu oleh beberapa frater. Meskipun terasa sangat pedas, hidangan ini menjadi yang paling laris di acara ini. Diundangnya UMKM ini juga bertujuan untuk memberikan harapan bagi para pedagang.

Acara akhirnya ditutup dengan pembagian buku pemberian dari Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia dengan sesi kuis singkat dan pemberesan. Menariknya, meski pembagian pemberesan tidak jadi dilakukan dan para peserta dipersilakan pulang, banyak dari mereka berinisiatif untuk membantu melakukan pemberesan. Hal ini mencerminkan api harapan yang terus menyala dalam diri para peserta. Bagi para frater Jesuit Unit Johar Baru, EKM memberikan ruang untuk belajar memaknai harapan yang mereka bagikan. Pelbagai kendala seperti panasnya ruangan tidak boleh mematahkan harapan. Mengikuti nilai dari acara ini, mereka berupaya menjadi lebih mawas diri, tidak reaktif, dan lebih diskret.

Get in Touch With Us

More News