Hari Doa Panggilan Sedunia Berselimutkan Nuansa “Kolaborasi”

Date

Hari Doa Panggilan Sedunia tahun ini jatuh pada 8 Mei 2022. Tentunya, hari istimewa ini disambut dengan sangat antusias oleh kebanyakan umat, khususnya di Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Entah kebetulan atau tidak, antusiasme ini juga terasa karena membaiknya situasi paska pandemi. Hal ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan perjumpaan secara langsung sehingga di berbagai paroki perayaan Hari Doa Panggilan Sedunia dapat diselenggarakan bersama-sama. 

Berbicara soal panggilan, kiranya agak out of date jika kata “panggilan” hanya dipahami secara terbatas merujuk pada cara hidup ikut Tuhan melalui tarekat, ordo, atau menjadi imam diosesan tertentu. Paus Fransiskus dalam pesannya memperingati Hari Doa Panggilan Sedunia mengungkapkan, “Setiap orang beriman dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi Kristus, yakni menyatukan kembali umat manusia yang terpecah-pecah.” Beliau pun menambahkan,  “Sebelum bertemu Kristus dan memeluk iman Kristiani, setiap pria dan wanita menerima karunia kehidupan panggilan mendasar: kita masing-masing makhluk yang dikehendaki dan dikasihi oleh Allah karena keunikan kita di hati-Nya.”

Beberapa anak yang mengenakan kostum religius di Paroki Kramat.
Dokumentasi : Prompang SJ

Pada waktu yang bersamaan, Serikat Jesus Provinsi Indonesia turut merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia dengan semangat kolaborasi. Hal itu tercermin dari kerja sama antara para awam, para religius dari tarekat/ordo/imam diosesan, dan para frater Serikat Jesus di beberapa paroki. Di Regio “Joglosemar” (Jogja–Solo–Semarang), terdapat beberapa kegiatan di delapan paroki, yaitu Paroki Mlati, Paroki Brayut, Paroki Bintaran, Paroki Pugeran, Paroki Kotabaru, Paroki Kartasura, Paroki Palur, dan Paroki Atmodirono. Misalnya di Paroki St. Antonius Kotabaru, Hari Doa Panggilan dirayakan dengan  melibatkan anak-anak PIA (Pendampingan Iman Anak) bersama Bruder CSA dan Suster CB dalam Perayaan Ekaristi. Kemudian, acara dilanjutkan dengan lomba fashion show pakaian religius, entah suster, bruder, ataupun imam. Diakon Deo dan Fr. Danang turut serta dalam perayaan tersebut. 

Selain itu, di Paroki Kartasura, Perayaan Ekaristi dimeriahkan dengan arak-arakan lucu dan menggemaskan dari anak-anak yang berperan sebagai uskup, suster, romo, dan bruder. Setelah Perayaan Ekaristi bersama, dilanjutkan acara sharing bersama teman-teman OMK paroki dari Bruder FIC, Suster-suster OP, FSGM, SND, dan Frater-frater Diosesan Makasar, yang dipandu oleh Fr. Barry. 

Berbicara soal sharing panggilan, kegiatan itu juga dilakukan di paroki lainnya. Frater Andre berbagi kisahnya dalam homili di Paroki Bintaran, Frater Doni dan Frater Bagas sharing di salah satu wilayah Paroki Brayut, Frater Adit di Paroki Pugeran, Diakon Wylly dan Diakon Steve di salah satu wilayah Paroki Mlati dan sampai Bruder Marsono serta Bruder David ber-sharing di Paroki Atmodirono Semarang. 

Menurut Frater Adit, bertumbuhnya keinginan hidup religius (menjadi Jesuit) bermula dari kenangan indah dan menggembirakan dari Paroki Pugeran (kedekatan dengan romo paroki dan masa kecil di PIA yang mengesan). Baginya, pondasi yang kuat dan mengesan itu dibutuhkan untuk menumbuh-kembangkan panggilan tersebut, ditambah dengan dukungan dari keluarga. Ibaratnya, pondasi pengalaman itu tanahnya dan panggilan itu sebagai benih yang ditabur. Tentunya untuk menumbuh-kembangkan benih itu diperlukan tanah yang subur. Selain itu, menurut Frater Barry, Perayaan Hari Doa Panggilan itu momen berharga untuk mengumpulkan cinta yang telah diterima dari berbagai pihak. Dalam konteksnya sebagai anak tunggal, hidup panggilan sebagai Jesuit dapat bertumbuh, berkembang, dan berproses di dalamnya karena cinta dan dukungan banyak orang. Momen “mengumpulkan cinta” ini kiranya sejalan dengan panggilan sejati setiap manusia, yang dimaksud oleh Paus Fransiskus dalam suratnya.

Br Marsono, S.J., Br David, S.J. bersama beberapa religius yang lain sharing
di Paroki Atmodirono, Semarang
Dokumentasi : Prompang SJ

Beralih ke Regio Jakarta, Perayaan Hari Doa Panggilan ini dilaksanakan di 3 paroki, yaitu Paroki Kramat, Paroki Blok Q, dan Paroki Pulomas. Nuansa kolaborasi juga terasa. Bermula dari Paroki Kramat, Frater Boni, Suster-suster BKK, CB, dan Frater-frater OFM, SX, bertugas bersama dalam Perayaan Ekaristi. Selain itu, juga ada beberapa anak yang mengenakan kostum religius. Momen homili diganti dengan sharing panggilan hidup membiara dari salah satu frater dan suster dari tarekat tertentu.

Di Paroki Blok Q, acaranya juga dibuka dengan Perayaan Ekaristi dengan nuansa mirip. Namun, ada beberapa frater yang diminta untuk menemani adik-adik PIA dan berdinamika bersama, seperti kegiatan mewarnai dan semacamnya. Selain itu, yang unik di Paroki Blok Q, setiap tarekat atau ordo atau imam diosesan diminta untuk mendirikan pos secara bersama-sama, entah itu pos kopi atau pos musik.Konsep yang diusung ialah adalah para biarawan-biarawati dan imam diosesan ini melakukan promosi panggilan tidak atas nama tarekat, ordo masing-masing, atau diosesan, tapi atas nama kesatuan Gereja. Frater Jesuit yang terlibat ada Frater Cavin, Frater Wibi, Frater Teilhard, Frater Craver, Frater Mikael, Frater Supakchai, Frater Kefas, dan Frater TB. Yang tak kalah serunya adalah para religius ini diajak untuk “berjoget” bersama dengan lagu iringan Mendhung Tanpa Udan yang dipimpin oleh beberapa adik PIA dan pendampingnya. Sepertinya, momen “berjoget” ini bisa jadi salah satu momen ‘klik’ dengan vibes teman-teman muda.

Para religius berjoget bersama dipimpin oleh pendamping PIA Paroki Blok Q, Jakarta.
Dokumentasi : Prompang SJ

Acara merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia di Paroki Pulomas sedikit mengambil bentuk yang berbeda dari Blok Q atau Kramat, yaitu melalui pelayanan tugas koor para frater Serikat Jesus. Setelah melantunkan lagu-lagu dalam perayaan Ekaristi, Frater Bayu, Frater Aryo, Frater Pungkas, Frater Yuris, Frater Ferry, Frater Septian, Frater Alex, dan frater lainnya berjumpa dengan ibu dan bapak beserta teman-teman muda, berdekatan dengan pos kopi SJ. 

Seluruh acara tersebut berjalan dengan lancar karena kerja sama antara kaum religius dan awam yang membentuk suatu kepanitiaan. Ibu, bapak, dan teman-teman muda yang membantu dalam persiapan live-streaming, mempersiapkan tempat dan sound system, hingga menyediakan snack/konsumsi, mempunyai peran sangat penting dalam Perayaan Hari Doa Panggilan Sedunia. Yang terpenting, semoga kolaborasi untuk saling mendukung panggilan masing-masing pribadi tidak hanya berhenti pada perayaan seremonial, tetapi kesatuan Gereja ini bisa terasa dan mengakar dalam kegiatan hidup harian.

Kontributor : Fr. Agustinus Lanang P. Cahyo, S.J. & Fr. Jakobus Aditya C. Manggala S.J. – Prompang SJ

More
articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.