“Frater Bouwens itu siapa, Mbak?”
Setiap kali bercerita tentang hadiah liontin Bunda Maria Bintang Samudra dari keluarga Frater Hermanus Antonius Bouwens, S.J., saya selalu mendapat reaksi serupa dari umat Katolik asal Muntilan, Jawa Tengah—baik saat bertemu di gereja maupun di kerkhof (taman makam). Bagi mereka, nama tersebut sangat familier. Frater Bouwens adalah misionaris yang wafat bersama Romo Richardus Kardis Sandjaja, Pr.—imam asal Sedan, Muntilan, yang dihormati sebagai martir—dalam peristiwa tragis yang sama. Di kompleks pemakaman Muntilan, jasad sang frater beristirahat tepat di bawah makam Romo Sandjaja, sebuah situs peziarahan yang hingga kini tak pernah sepi dikunjungi oleh umat dari berbagai daerah.
Umat Katolik Muntilan meyakini kemartiran Romo Sandjaja dan Frater Bouwens karena keberanian mereka mempertahankan iman saat menghadapi kelompok ekstremis pada peristiwa 1948. Sebagai perwakilan seminari, Romo Sandjaja gugur dalam misi diplomatik tersebut. Namun, porsi narasi Frater Bouwens tidak semasif Romo Sandjaja. Hal ini dapat dimaklumi; selain karena Romo Sandjaja adalah putra asli Muntilan, Frater Bouwens bukanlah calon imam pribumi. Identitasnya sebagai seorang londo serta jarak geografis yang jauh dari keluarga besarnya membuat kedekatan emosional umat lokal dengannya tidak seerat dengan Romo Sandjaja.
Meski narasinya tak semasif Romo Sandjaja, nama Frater Bouwens tidak sepenuhnya dilupakan dalam sejarah Gereja Indonesia; para Jesuit mengabadikannya sebagai pelindung Kolese Hermanum di Jakarta Pusat. Di Belanda, keluarganya yang berasal dari Maastricht juga terus merawat memori sang paman. Melalui perantaraan seorang profesor Belanda, saya berkesempatan mendampingi keluarga ini berziarah ke Bethlehem van Java (Muntilan) pada Agustus 2025 untuk bertemu umat setempat. Momen emosional ini tidak hanya berkesan bagi mereka, tetapi juga memicu refleksi mendalam bagi saya mengenai posisi dan identitas Frater Bouwens di tengah narasi sejarah kolektif masyarakat Indonesia yang cenderung hitam-putih dalam memandang kolonialisme Belanda.

Sang Calon Imam yang Mencintai Tanah Misi
Tidak banyak literatur tentang Frater Bouwens yang bisa saya dapatkan di perpustakaan Kolese St. Ignatius, Yogyakarta maupun secara daring. Sebagian besar laporan yang ditemukan pun ditulis dalam bahasa Belanda atau merupakan sampilan dari penuturan kisah hidup Romo Sandjaja yang sangat lengkap. Saya beruntung karena keluarga Frater Bouwens berkenan berbagi banyak hal dengan saya, sehingga saya bisa saling melengkapi fragmen-fragmen kehidupan sang frater, mulai dari foto-foto masa kecil, surat-surat yang dikirimkan kepada keluarga di kampung halaman, hingga kisah lisan yang masih mereka ingat dari para sesepuh keluarga Bouwens.
Frater Bouwens lahir di Maastricht, Belanda, pada 4 Juni 1920, sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Tumbuh di wilayah mayoritas Katolik dengan tradisi kuat mempersembahkan anak bagi Gereja, ia masuk novisiat Jesuit pada usia 18 tahun di Mariëndaal. Sejak awal, ia memantapkan diri menjadi misionaris hingga akhirnya diutus ke Pulau Jawa pada 1939. Tiba di Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Priok, ia melanjutkan masa pembentukan religiusnya di Girisonta, Semarang. Di sana, kecintaannya pada bahasa dan budaya Jawa membuatnya mudah berbaur dengan masyarakat setempat. Namun, masa studinya terpuruk saat pendudukan Jepang (1942–1945); akibat identitas Eropanya, ia ditawan sebagai interniran di Yogyakarta, Cimahi, hingga Pundong (Bantul).
Pada suatu hari di bulan Agustus 1946, Frater Bouwens memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa ketika teman-temannya kembali ke Belanda karena situasi politik. Ia merasa bahwa dirinya masih dibutuhkan oleh umat Katolik di Jawa dan ingin mewujudkan sepenuhnya keinginan masa mudanya untuk menjadi misionaris. Setelah masa interniran berakhir, ia melanjutkan pendidikan filsafat di Semarang dan tinggal di Paroki Karangpanas (1947), lalu menjalani Tahun Orientasi Karya di Paroki Ganjuran, Bantul (1948). Sebelum wafat, Frater Bouwens diberi tugas menjadi pamong Seminari Muntilan di bawah reksa Romo Th. Van der Putten, S.J. Pada 20 Desember 1948, ia, Romo Sandjaja, dan Bruder Kismadi, S.J., mewakili Rektor Seminari, ditugaskan untuk berunding dengan “kelompok ekstremis” mengenai keamanan seminari. Peristiwa ini akhirnya berujung tragis dengan kematian Frater Bouwens dan Romo Sandjaja. Bruder Kismadi selamat. Frater misionaris berkebangsaan Belanda tersebut wafat di tanah misi yang didambakannya.

Dilema antara Keimanan dan Semangat Keindonesiaan
Sejak tahun 1960-an, upaya pengajuan beatifikasi Romo Sandjaja ke Takhta Suci masih terganjal oleh berbagai pertimbangan. Perdebatan utama berpusat pada motif di balik gugurnya kedua klerus tersebut: apakah murni karena kebencian terhadap iman (odium fidei) atau akibat terjebak dalam pusaran politik nasional. Di satu sisi, “kelompok ekstremis” yang menyasar seminari kerap diidentifikasi dengan sentimen keagamaan tertentu. Di sisi lain, peristiwa tragis ini terjadi tepat sehari setelah Agresi Militer Belanda II dimulai. Sentimen anti-Belanda yang berkelindan dengan euforia nasionalisme pasca-proklamasi memicu gelombang kekerasan horizontal yang tak terhindarkan, sehingga garis batas antara konflik politik dan martir iman menjadi kabur.
Dalam diskursus kemartiran ini, posisi Frater Bouwens sangat kompleks: ia adalah calon imam asal Belanda yang memilih melayani umat Jawa pascakemerdekaan Indonesia. Meski tidak ada pernyataan eksplisit darinya mengenai kedaulatan Indonesia, keputusannya untuk bertahan di tengah situasi genting—padahal ia memiliki kesempatan untuk mengungsi—menjadi bukti nyata cintanya pada umat lokal. Pengorbanan ini tercermin dalam kesaksian Romo J. Groenewoud, S.J. yang mengenang kata-kata terakhir sang frater mengenai kedekatannya dengan para murid: “Ik ben hier voor de jongens, niet voor mijzelf” (Saya di sini untuk para pemuda, bukan untuk diri saya sendiri).
Semasa sekolah, saya diajarkan bahwa kolonialisme Eropa—terutama Belanda—adalah sejarah hitam-putih tentang kesalahan mutlak penjajah. Namun seiring kedewasaan, sudut pandang ini bergeser ketika saya mendalami sejarah misi Katolik di Jawa. Meski Gereja Katolik Indonesia terus berupaya “mengindonesiakan” diri, narasi kehadirannya mustahil dilepaskan dari akar ke-Eropa-an yang dibawa oleh para misionarisnya. Pengorbanan Frater Bouwens dan para religius asing yang rela terpisah dari keluarga demi berkarya di tanah yang jauh—dengan segala risiko maut—membuktikan sisi lain dari relasi historis ini. Di titik inilah, kita ditantang untuk merefleksikan ulang sejarah kehadiran iman kita, alih-alih sekadar memupuknya tanpa pemahaman yang kritis.

Kemartiran, Keluarga, dan Penerimaan yang Pelik
Dalam literatur kemartiran, testimoni dari pihak keluarga sang martir sangat jarang ditemukan. Narasi yang mendominasi justru datang dari umat luar yang meyakini bahwa darah para martir adalah benih yang menyuburkan iman di tempat mereka gugur. Kemartiran kerap dicitrakan sebagai imitasi pengorbanan Kristus di salib untuk menebus dosa dunia dan mewartakan wahyu Allah. Bagi Gereja, narasi ini krusial sebagai kesaksian iman yang nyata. Alhasil, sebagian umat justru “bersyukur” atas kemartiran tersebut; sebab tanpa pengorbanan ekstrem para martir, sabda Allah mungkin tidak akan mengakar kuat dan dikenal secara masif di wilayah mereka.
Interaksi dengan keluarga Frater Bouwens menyadarkan saya akan sisi lain dari kompleksitas ini. Wafatnya sang frater menorehkan luka mendalam bagi keluarganya, yang saat itu juga sedang berjuang bangkit dari kehancuran Eropa pasca-Perang Dunia II. Begitu traumatisnya kehilangan ini, orang tua dan saudara-saudaranya memilih menutup rapat peristiwa tragis tersebut. Akibatnya, para keponakan Frater Bouwens baru mengetahui keberadaan sang paman puluhan tahun kemudian, itu pun setelah tidak sengaja menemukan selembar kartu doa. Kini, generasi muda keluarga Bouwens hanya bisa merajut sosok sang paman dari kepingan memori yang tersisa di rumah keluarga dan di perpustakaan.
Saat mendampingi keluarga Frater Bouwens berziarah ke Kerkhof Muntilan, suasana haru memuncak karena mereka akhirnya bisa mengunjungi makam sang paman yang berada ribuan kilometer dari tanah airnya. Di sana, seorang umat lokal berupaya menyampaikan rasa “terima kasih” atas kemartiran Frater Bouwens—ungkapan syukur yang lazim diberikan umat Muntilan kepada keluarga Romo Sandjaja demi mengapresiasi pertumbuhan iman mereka. Namun, momen ini menjadi rumit karena keluarga Frater Bouwens saat ini bukanlah penganut Katolik; bagi mereka, konsep teologis tentang martir terasa asing, dan rasa duka akibat kehilangan tetap mendominasi. Meski begitu, mereka tetap berupaya memahami bahwa pengorbanan sang paman telah membawa dampak positif bagi masyarakat lokal, sehingga sosoknya dihormati dan dikenang lintas generasi.
Pada akhirnya, keluarga Frater Bouwens mengikhlaskan paman mereka sebagai pahlawan iman bagi umat Katolik di Muntilan dan Indonesia. Ketegangan politik masa lalu antara Belanda dan Indonesia melebur, tidak lagi menjadi sekat bagi keluarga maupun umat lokal untuk merawat ingatan dan memuliakan sang frater. Warisan berharga Frater Bouwens—yang gugur demi melindungi para pemudanya—membuktikan bahwa batas-batas kewarganegaraan, etnis, maupun dogma agama runtuh di hadapan ketulusan. Pada titik tertinggi ini, kemanusiaan universal menjadi pembebas sejati, memungkinkan kita menghormati pengorbanan sesama tanpa sekat identitas maupun tuntutan gelar formal.
i Kisah lengkap peristiwa Romo Sandjaja dan Frater Bouwens pada 20 Desember 1948 dapat ditemukan dalam buku “Rama Sandjaja” (1965) dan “Mengenal & Mengenang Rama R. Sandjaja, Pr.” (1984)
ii Rama Ign. Djanawasana, Pr., “Mengapa Umat Berziarah ke Makam Rama Sandjaja?” dalam Mengenal & Mengenang Rama R. Sandjaja, Pr., ed. J. Hadiwikarta pr (OBOR, 1984), 43-46.
iii 623. A. Soenarja S.J. & J. Groenewoud, S.J., “Twee, die den dood trotseerden. R.D. Richardus Sandjaja en frater Herman Bouwens,” Sub Tutela Matris Mededelingen, 15 Maret, 1949.


